Cerita Jumat: Hakikat Rezeki

Allah in stone in Rohtas Fort, District Jhelum...

Syukuri yang sedikit 

Dengan itu, Allah akan memantaskanmu menerima yang banyak 

Berlapang dadalah terhadap ketidak sesuaian 
Dengan itu Allah akan mempersempit perbedaan  

Hati yang mampu bersyukur dan lapang pada perbedaan, 
Adalah hati yang selamanya bahagia.

-Sayyidah Djauhar Murtafiah-

Ibu saya selalu mengingatkan untuk bersyukur, bersyukur atas segala rizki dan karunia yang sudah Allah limpahi selama ini. Tetapi apa sebenarnya rizki itu? Dalam bahasa Indonesia rizki diadaptasi menjadi rezeki yang menurut KBBI artinya adalah:

rezeki re.ze.ki
[n] (1) segala sesuatu yg dipakai untuk memelihara kehidupan (yg diberikan oleh Tuhan); makanan (sehari-hari); nafkah; (2) ki penghidupan; pendapatan (uang dsb untuk memelihara kehidupan); keuntungan; kesempatan mendapat makan

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/rezeki#ixzz1qKDidLtO

nafkah naf.kah
[n] (1) belanja untuk hidup; (uang) pendapatan: suami wajib memberi — kpd istrinya; (2) bekal hidup sehari-hari; rezeki: terasa sulit mencari — di negeri yg tandus itu; mencari — di rantau

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/nafkah#ixzz1qKDsKP5H

Rezeki ternyata berhubungan erat dengan nafkah. Kebetulan pas pengajian kita membahas hal ini. Kalau menurut Al-Quran, rizki adalah apa yang dapat digunakan bagi yang memilikinya. Sementara nafkah adalah sebagian rizki dari Allah yang diberikan melalui perantara (dalam hal ini maksudnya suami).

Karena memberi nafkah adalah kewajiban seorang suami maka jangan sampai seorang istri ‘menuhankan’ suaminya. Maksudnya apabila ada istri yang tidak turut membantu mencari nafkah atau membantu tapi hasilnya tidak sebesar suaminya jangan sampai merasa kecil hati karena mencari nafkah adalah kewajiban suami, bukan istri.

Rezeki itu sendiri terbagi dalam 2 waktu:

  1. Sekarang: meliputi apa yang kita makan, pakai, gunakan, tempati, rasakan, pada saat ini. Misalnya, siang ini kita makan sepiring nasi dengan 1 tempe goreng, 1 telur dadar dan semangkuk sayur bayam, itulah rezeki siang ini. Malam nanti belum tentu kita makan yang sama, belum tentu juga bisa makan meski tentunya jangan sampai ya…
  2. Nanti/akan datang: meliputi hal di masa tua , anak dan cucu, terhindar dari musibah, dan tentunya, akhirat.

Yang perlu diingat, apa yang kita kerjakan hari ini adalah rezeki untuk besok. Setiap hari kita diberi kesempatan untuk menabung rezeki untuk dituai di masa datang; kita bekerja-menghasilkan uang-bisa membeli makanan. Kalau bermalasan-tidak akan menghasilkan uang-tidak ada makanan. Demikian juga ibadah, apa yang kita kerjakan hari ini, ‘buah’nya baru akan kita nikmati nanti di hari akhirat.

Benarlah apa kata ibu, “Banyak-banyaklah bersyukur atas segala rizki dan karunia yang kau dapatkan hari ini, besok dan seterusnya,” karena ternyata rizki bukan saja apa yang kita dapat sekarang, namun kita juga harus menabung rizki untuk masa depan. Hal mudah yang kadang kita lupakan. Jadi, yuk kita teruskan tabungan yang satu ini, jangan sampai lalai mengisinya 🙂

ps: Ayat rujukan untuk bahasan ini adalah QS Al-Baqarah : 233 

walwaalidaatu yurdhi’na awlaadahunna hawlayni kaamilayni liman araada an yutimma rradaa‘ata wa’alaa lmawluudi lahu rizquhunna wakiswatuhunna bilma’ruufi laa tukallafu nafsun illaawus’ahaa laa tudaarra waalidatun biwaladihaa walaa mawluudun lahu biwaladihi wa’alaa lwaaritsi mitslu dzaalika fa-in araadaa fishaalan ‘an taraadin minhumaa watasyaawurin falaa junaaha ‘alayhimaa wa-in aradtum an tastardhi’uu awlaadakum falaa junaaha ‘alaykum idzaa sallamtum maa aataytum bilma’ruufi wattaquullaaha wa’lamuu annallaaha bimaa ta’maluuna bashiir

http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/mp3player.swf[2:233] Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Advertisements

Cerita Jumat: Sepintas tentang Mencari Nafkah

Sobat, bg Anda yg menjd imam bg keluarga bersemangatlah mencari nafkah demi mencukupi kebutuhan keluarga. Amat berat tanggung jawab seorg suami yg menyia-nyiakan hidup keluarganya di akhirat kelak. Ketahuilah bhw stp suap nafkah yg diberi kpd keluarga akn menjd kebaikan bg kita.

Diriwayatkan dari Abu Mas’ud RA bahwa Rasulullah SAW. bersabda,
إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ نَفَقَةً وَهُوَ يَحْتَسِبُهَا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً
“Apabila seorang laki-laki menafkahi keluarganya dengan tulus karena mengharap ridha Allah, nafkah itu menjadi shadaqah untuknya.” (HR. Bukhari)

Bersemangatlah utk mencari nafkah, sobat! Lakukan itu karena Allah… Smg stp cucur keringat yg menetas demi mencari nafkah akn mendtgkan ampunan Allah Swt bt Anda.
Cintai keluarga dgn menafkahi mereka dgn nafkah yg halal!

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُ.

*diceritakan ulang oleh Lulung El Djauhar*