Kilas Balik Mengajar

Partners in Crime

Waktu kuliah dulu, saya harus mengambil satu mata kuliah yg menurut prof saya akan berguna kalau nanti kami mengajar. Pada waktu itu kita -saya dan seorang teman- sih cuma angguk2 aja. Mengajar? No way! Kami sekolah lagi bukan untuk jadi guru. Kami akan menjadi produser tivi yang paling top! Program kami akan ditonton masyarakat sedunia! Lebih terkenal dari Baywatch!!!

Setelah lulus, kami pun pulang. Dia ke Kuala Lumpur, saya ke Jakarta. Mulailah kami bekerja, di Astro TV dan RCTI, stasiun televisi yang top di negara masing-masing. Sungguh masa yang sangat menyenangkan, bisa terjun langsung, mengaplikasikan apa yang selama ini hanya kami pelajari. Pertama kali melihat nama terpampang di layar kaca oh rasanya! Senaaang tak terkira ๐Ÿ˜€

Namun hidup tak selamanya berjalan sesuai rencana. Pada satu titik saya harus memilih, bekerja atau berhenti. Tak ada jalan tengah di produksi. Sedih, senang, kecewa, kesal, semua campur aduk. Tidak ada yang perlu disesali, namun jujur saja, kadang terpikir ah pastilah saya sudah menjadi ini dan itu kalau jalan lain yang saya pilih.

Meskipun demikian, saya berusaha untuk menjaga hubungan dengan industri yang saya tinggalkan. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi kan? Benarlah, suatu hari datang telepon singkatnya mencari trainer di bidang media, tertarikkah?

Melalui persiapan dan degdegan, kelas pertama pun hadir. Rasanya gak karuan. Untung ditemani dua sahabat yang sudah berpengalaman mengajar. Dan berjalanlah kelas itu sampai selesai.

Ah profesorku benar sekali. Mengajar memang suatu pilihan yg layak untuk dipertimbangkan. Mungkin tidak se’glamour’ bekerja di industri tapi ada kepuasan lain. Nama saya tidak terpampang di layar kaca, tapi saya memberikan sesuatu yang baru bagi murid-muridku. Ilmu baru yang semoga berguna untuk mereka nantinya. Seperti yang dilakukan oleh para guru2ku dahulu.

Tol JORR 5/2/10
Prof. Murray-Brown, forever indebted to you. Thank you. xxx

Advertisements

Demi Anak?

Kapasitas cinta seorang anak pada orang tuanya itu sungguh luar biasa. Mereka percaya sepenuhnya dan mencintai seutuhnya.

Anak juga sangat cerdas dan sensitif. Hanya sedikit hal yang bisa disembunyikan orang tua dari anak. Perasaan mereka sangat peka. Mereka mungkin tidak tau apa dan mengapa, tapi mereka bisa merasakan dan memancarkan berkali lipat.

Berhati-hatilah dalam mengatakan,”Demi anak.” Benarkah demi kesejahteraan anak? Ataukah hanya demi ego kita? Demi menjaga muka? Apa kata orang? Well, orang akan tetap berkata apa saja sesuka hati mereka.

Jujurlah. Sebetulnya demi siapa? Anak adalah cerminan. Anak menyerap juga meniru dan kebanyakan anak akan meniru orang tuanya. Alam bawah sadarnya akan mencari pasangan yang mirip seperti ayah atau ibunya.

Jujurlah, apa yang ingin diwariskan ke anak kita?

Putus rantai kekerasan.

Putus rantai kekerasan.

Putus rantai kekerasan.

*tol dalam kota 15/5/10*