Mamah Main FB

Tanpa ada hujan angin atau wangsit sebelumnya, tiba-tiba suatu pagi ibu saya menelepon dan bilang, “Kamu hari ini sibuk apa? Ayo temenin Mamah cari hp baru.” Heh? Sebagai anak yang baik tentu saya menjawab, “Baiklah, nanti aku jemput ya.”

Kemudian pergilah kami ke rumah kedua kami, PIM, atau Pondok Indah Mall. Penasaran saya tanya, kenapa tiba-tiba ingin ganti hp? Ada masalah apakah? Hp seperti apa yang diinginkan?

Ibu saya ini lama berkecimpung di dunia LSM dan masih aktif sampai sekarang. Rupanya banyak teman-teman LSMnya, yang mayoritas anak muda (karena mereka sekarang memanggil ibu saya, ‘Eyang’) , yang memiliki smartphone dan suka mengirimi ibu saya foto kegiatan dan keluarga mereka. Mereka pun sebenarnya suka menegur ibu saya lewat facebook. Karena Ibu saya bunet, alias buta internet, Ibu saya merasa sedikit bersalah karena sangat jarang membuka facebook (perlu bantuan cucunya untuk membukanya lewat pc di rumah) dan tidak bisa membuka foto-foto yang dikirim ke hpnya yang biasa-biasa saja itu. Yang membuat ibu saya lebih merasa bersalah adalah karena kadang-kadang beliau yang meminta foto tersebut. Contoh percakapan (sms) mereka:
“Eyang… anakku sudah lahir!”
“Oh ya? Selamat ya. Laki-laki atau perempuan? Lihat dong fotonya…”
“Ini Eyang.”
Tentunya dengan bangga teman ibu saya mengirimkan foto bayinya… yang kemudian tidak bisa dilihat sama sekali oleh ibu saya.

Setelah menentukan budget, fitur yang diinginkan, serta melihat-lihat aneka hp yang ada, pilihan pun jatuh kepada merek yang sama seperti telepon lamanya dengan jaminan bisa memindahkan semua data dari hp lama ke hp baru. Data selesai dipindahkan, SIM Telkomsel diaktifkan, mulailah proses belajar menggunakan smartphonenya yang baru.

“Jadi Mah, ini kartunya sudah aktif, tapi untuk menggunakan internetnya perlu beli paket internet lagi, kalau tidak pulsanya kemakan banyak. Nah ini paket internetnya sudah aku aktifkan lewat program bunetnya telkomsel, kalau kuotanya sudah habis, bilang nanti aku isi lagi,”
“Ok. Jadi sekarang sudah bisa lihat foto?”
“Bisa banget! Mamah juga bisa buka fb, chatting lewat bb, wa…”
“Tunggu… satu-satu dulu, jadi kalau mau lihat foto di fb bagaimana?”

Rupanya sudah tidak sabar ibuku melihat foto teman-temannya. Mulailah proses cara membuka fb di hp baru Mamah. Cara login, timefeed itu apa, cara membuat status, memberi komentar, mencari teman, membuka foto album (dan melihat-lihat aneka foto bayi serta anak-anak temannya) dan sebagainya.

“Paham Mah?”
“Kayaknya paham,”
“Ya udah tanya aja lagi ya kalau masih bingung.”

Lama tidak terlihat ada aktifitas. Sampai suatu hari, kejutan! Dapat notifikasi, “Fatimah memberikan komentar” Waks! Mamahku serius fban?
Yep. Dibawah foto yang saya pajang tertera komentar dari ibuku. Waow, Mamah sudah bisa main fb sekarang. Ups, harus lebih hati-hati berstatus dong sekarang 🙂

20141029-213951.jpg

Waooo… udah bisa komen di fb Mamah akoooh 😀

Cerita Jumat: Hakikat Rezeki

Allah in stone in Rohtas Fort, District Jhelum...

Syukuri yang sedikit 

Dengan itu, Allah akan memantaskanmu menerima yang banyak 

Berlapang dadalah terhadap ketidak sesuaian 
Dengan itu Allah akan mempersempit perbedaan  

Hati yang mampu bersyukur dan lapang pada perbedaan, 
Adalah hati yang selamanya bahagia.

-Sayyidah Djauhar Murtafiah-

Ibu saya selalu mengingatkan untuk bersyukur, bersyukur atas segala rizki dan karunia yang sudah Allah limpahi selama ini. Tetapi apa sebenarnya rizki itu? Dalam bahasa Indonesia rizki diadaptasi menjadi rezeki yang menurut KBBI artinya adalah:

rezeki re.ze.ki
[n] (1) segala sesuatu yg dipakai untuk memelihara kehidupan (yg diberikan oleh Tuhan); makanan (sehari-hari); nafkah; (2) ki penghidupan; pendapatan (uang dsb untuk memelihara kehidupan); keuntungan; kesempatan mendapat makan

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/rezeki#ixzz1qKDidLtO

nafkah naf.kah
[n] (1) belanja untuk hidup; (uang) pendapatan: suami wajib memberi — kpd istrinya; (2) bekal hidup sehari-hari; rezeki: terasa sulit mencari — di negeri yg tandus itu; mencari — di rantau

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/nafkah#ixzz1qKDsKP5H

Rezeki ternyata berhubungan erat dengan nafkah. Kebetulan pas pengajian kita membahas hal ini. Kalau menurut Al-Quran, rizki adalah apa yang dapat digunakan bagi yang memilikinya. Sementara nafkah adalah sebagian rizki dari Allah yang diberikan melalui perantara (dalam hal ini maksudnya suami).

Karena memberi nafkah adalah kewajiban seorang suami maka jangan sampai seorang istri ‘menuhankan’ suaminya. Maksudnya apabila ada istri yang tidak turut membantu mencari nafkah atau membantu tapi hasilnya tidak sebesar suaminya jangan sampai merasa kecil hati karena mencari nafkah adalah kewajiban suami, bukan istri.

Rezeki itu sendiri terbagi dalam 2 waktu:

  1. Sekarang: meliputi apa yang kita makan, pakai, gunakan, tempati, rasakan, pada saat ini. Misalnya, siang ini kita makan sepiring nasi dengan 1 tempe goreng, 1 telur dadar dan semangkuk sayur bayam, itulah rezeki siang ini. Malam nanti belum tentu kita makan yang sama, belum tentu juga bisa makan meski tentunya jangan sampai ya…
  2. Nanti/akan datang: meliputi hal di masa tua , anak dan cucu, terhindar dari musibah, dan tentunya, akhirat.

Yang perlu diingat, apa yang kita kerjakan hari ini adalah rezeki untuk besok. Setiap hari kita diberi kesempatan untuk menabung rezeki untuk dituai di masa datang; kita bekerja-menghasilkan uang-bisa membeli makanan. Kalau bermalasan-tidak akan menghasilkan uang-tidak ada makanan. Demikian juga ibadah, apa yang kita kerjakan hari ini, ‘buah’nya baru akan kita nikmati nanti di hari akhirat.

Benarlah apa kata ibu, “Banyak-banyaklah bersyukur atas segala rizki dan karunia yang kau dapatkan hari ini, besok dan seterusnya,” karena ternyata rizki bukan saja apa yang kita dapat sekarang, namun kita juga harus menabung rizki untuk masa depan. Hal mudah yang kadang kita lupakan. Jadi, yuk kita teruskan tabungan yang satu ini, jangan sampai lalai mengisinya 🙂

ps: Ayat rujukan untuk bahasan ini adalah QS Al-Baqarah : 233 

walwaalidaatu yurdhi’na awlaadahunna hawlayni kaamilayni liman araada an yutimma rradaa‘ata wa’alaa lmawluudi lahu rizquhunna wakiswatuhunna bilma’ruufi laa tukallafu nafsun illaawus’ahaa laa tudaarra waalidatun biwaladihaa walaa mawluudun lahu biwaladihi wa’alaa lwaaritsi mitslu dzaalika fa-in araadaa fishaalan ‘an taraadin minhumaa watasyaawurin falaa junaaha ‘alayhimaa wa-in aradtum an tastardhi’uu awlaadakum falaa junaaha ‘alaykum idzaa sallamtum maa aataytum bilma’ruufi wattaquullaaha wa’lamuu annallaaha bimaa ta’maluuna bashiir

http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/mp3player.swf[2:233] Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Cerita Jumat : Mengurus Keuangan ala Kak Jum

Lagi ngobrol tentang mengurus keuangan rumah tangga, salah satu eyang internet saya Eyang Ning, kemudian berbagi cerita tentang bagaimana beliau belajar sama Kak Jum tentang hal tersebut.  Menurut saya sangat menarik karena itu saya minta izin untuk saya post kesini. Semoga bermanfaat.

Mengurus Keuangan ala Kak Jum

oleh Eyang Nening

Dulu, ketika saya ngenger (ndherek = numpang= ikut) di rumah Kak Jum, kalau disuruh belanja (waktu itu masih remaja kecil), harus tahu harga, harus dicatat : dikasih uang berapa, dipakai berapa, sisanya berapa, kembali harus pas. Saya perhatikan tiap menjelang tidur Kak Jum menulis dalam sebuah buku. Saya sangat penasaran, buku apa itu?

Suatu hari pas Kak Jum pergi, saya buka bukunya. Judulnya : Buku Kas Keluarga. Isinya,  seperti yang saya pelajari kemudian, yaitu pembukuan keuangan. Debet. Kredit. Saldo. Tapi yang punya Kak Jum sederhana.  Oya, Kak Jum hanya punya ijazah SD, karena ketika sekolah di SKP Kelas 2 beliau menikah. Suaminya Guru Agama SD, anak mereka 4. 

Suatu hari Kak Jum menderngar ada rumah dijual. Diam-diam dia melihat rumah itu. Tertarik.  Dia ajak suaminya melihat rumah itu. Lalu Kak Jum ingin membeli rumah itu.  Suaminya sangat terkejut! Mana mungkin?  Sangat tidak mungkin.  Tapi Kak Jum bilang : saya punya uang.  Ha?? Uang dari mana? Lalu ia menunjukan sebuah kantung dan mengeluarkan isinya.  Ternyata perhiasan dalam berbagai bentuk dan ukuran berat! Ada yang 500 mlg, 300 mlg, 400, paling berat 1 gram.  Semuanya emas 24 karat.  Keesokan harinya semua perhiasan itu dijual. Kak Jum dan suaminya membayar rumah itu dengan hasil penjualan emas tersebut. 

Kak Jum sangat senang bersedekah. Di mana pun di toko, di pasar, di RS, di stasiun, kalau ada pengemis pasti diberinya uang. Setiap akan mencuci beras, selalu diambilnya beras 1 cawuk (1 cidukan dengan 4 jari tangan = satu jimpitan), lalu disimpan di cepon. Kak Jum sangat pandai mengelola keuangan, walaupun suaminya hanya seorang guru SD (pada jaman dahulu, gaji guru sangatlah kecil).  Keadaan ekonominya terbatas, tapi setiap bulan selalu bisa ‘ngirim’ ibu mertua yang sudah janda sejak suaminya kecil.  Dan setiap tahun bisa membelikan pakaian (kain, kebaya, kerudung, sandal). Kak Jum sendiri yang memilih dan menyerahkan kepada ibu  mertuanya. Mungkin karena itu, mertuanya sangat sayang, dan melimpaihnya dengan restu untuk rumah tangganya.

Pelajaran yang dapat saya petik ketika ngenger di rumah Kak Jum adalah :
1. Isteri adalah bendahara, harus tanggung jawab dalam bentuk buku catatan keluar masuknya keuangan dalam rumah tangga.
2. Menabung tidak cukup, tidak menabung juga tidak cukup. Sama-sama tidak cukup jadinya  wajib nabung!
3. Beras adalah makanan pokok. Ora ilok, (pamali) sebuah rumah tangga kehabisan beras. Minyak goreng, teh, gula pasir boleh kehabisan, tapi beras jangan sampai habis, karena  itu merupakan simbol.
4. Jadi isteri harus gemi, nastiti, ngati-ati, aja medhit.  Gemi = hemat; nastiti = cermat; ngati-ati = hati-hati. aja medhit = jangan pelit.
5. Jujur adalah aset yang sangat penting.

Kak Jum adalah guru saya! 

Kami tinggal di rumah yang dibelinya dengan menjual perhiasan itu.  Ketika sudah bekerja, pertama kalinya saya menerima gaji saya praktrek ‘pembukuan’ seperti yang Kak Jum ajarkan sampai sekarang. Sama sekali tidak berat, tidak capek, mungkin karena sudah sangat terbiasa nyatet-nyatet, apalagi anak-anak dan suami mendukung (misalnya anak-anak sejak kecil kalau disuruh belanja/beli sesuatu, selalu menyerahkan catatan belanja/kembalian…

Setidak-tidaknya, ilmu pembukuannya itulah yang saya praktekkan.. Begitulah ceritanya…

Salam sayang,

Yang Ning

Cerita Jumat : Bersyukur itu Mudah

A green version of http://commons.wikimedia.or...

Image via Wikipedia

Ibu saya selalu mengajarkan kami untuk mensyukuri segala nikmat yang kami terima. Seperti dalam surat Ar-Rahmaan, “Fabi ayyi aalaa irobbikumaa tukadzdzibaan .. ” Apalagi karena beliau bekerja di LSM yang menangani anak-anak difabel, YPAC (Yayasan Pembinaan Anak Cacat) sangat banyak nikmat Allah yang telah diberikan kepada beliau dan kami, anak-anaknya. Alhamdulillah kita semua lahir normal, tidak kurang suatu apapun. Otak mungkin bukan yang paling moncer, tapi juga nggak payah. Pokoknya oks semua, berjalan baik sebagaimana mestinya. Rezeki keluarga juga Alhamdulillah ada, makan yang enak, tidurnya di kamar nyaman, sekolah bisa. Pokoknya nggak kekurangan deh.

Tapi yang namanya orang usil, ada aja yang suka nyinyir ke ibu. Segala rumahnya dibilang kecil banget, anak-anaknya nggak ada yang juara, dan lain-lain. Ibu saya paling cuma senyum-senyum aja. Kata beliau, “Buat apa marah? Buat dia rumahku kecil, buat orang lain rumahku besar. Gak masalah, yang penting kalian semua ada kamarnya sendiri, kalau hujan nggak bocor…”  Ya bener juga ya. Ngapain juga dipikirin. Ketika masih ada orang-orang yang tinggalnya di kolong jembatan, buat apa marah?

Apakah trus ibu saya tidak dapat masalah? Oh tentu ada. Yang namanya hidup pastilah penuh masalah. Namun ya itu, dengan prinsip bersyukurnya, ibu saya selalu terlihat cerah ceria. Nanti kalau sudah di rumah, diantara orang-orang tercinta, baru deh keliatan klo lagi kusut. Sehingga gak heran pernah ada yang komentar, “Kamu tu hidupnya enak bener, gak pernah susah…” Lagi-lagi ibu saya cuma senyum-senyum aja. Yah, buat apa juga masalah diumbar-umbar? Emang artis, bentar-bentar kudu ngadu ke inpohtenmen?

Jadi ya bersyukur itu memang mudah. Baik dalam keadaan bahagia maupun susah jangan pernah lupa bersyukur. Hidup sudah susah. Untuk apa dibuat tambah susah? Kalau kita merasa susah maka beneran dikasih susah sama Allah. Tapi kalau kita berusaha, berikhtiar mencari jalan keluar dari permasalahan hidup, insya Allah akan diberikan jalannya. Mungkin tidak sekejap, mungkin kesabaran perlu diuji, yang penting kita selalu husnudzon sama Allah. Kadang memang mungkin sulit ya kala persoalan membelit, tapi nikmat itu disyukuri dari yang kecil-kecil. Kalau orang Jawa bilang, “Untung…” Untung mata masih bisa lihat, untuk jari masih bisa menulis, untung kaki maih bisa jalan, untung telinga masih bisa mendengar. Ya iya kan? Coba kalau mata diambil, pendengaran diambil, apa enak? Bersyukur ternyata mudah kan? Gak perlu tunggu sakit atau ada musibah dulu baru bisa bersyukur. Kapanpun selalu bersyukur, karena nikmat mana lagi yang kau dustakan?

 

Tips Pernikahan dari Ustad Yuke

Dulu, biasanya ulang tahun pernikahan orang tua saya hanya dirayakan diantara kita saja, isinya paling doa bersama dan makan-makan. Kecuali kalau ulang tahunnya yang agak besar misalnya 25 tahun, 30, baru agak ramai. Namun setelah mencapai 45th perkawinan, ibu saya jadi senang mengadakan acara apalagi kebetulan hari pernikahan kami juga tanggal 5 Mei jadilah dirayakan bersama-sama. Acaranya sih gak aneh-aneh, hanya mengundang ustad atau ustadzah untuk memberikan kajian, shalat berjamaah dan makan bersama. Kata ibu saya, mumpung bisa dan masih ada umur kenapa tidak?

Jadi begini hadirin sekalian...

Tahun ini pengisi acara jatuh kepada Ustadz Yuke. Lulusan PTIQ, beliau salah satu favorit ayah saya karena gaya membawakannya santai, mudah dipahami, suka bercanda, tapi dalam. Kali ini beliau memberikan pesan-pesan berikut:

Untuk membina pernikahan, seyogianya kita tidak hanya membaca tapi memahami Al-Quran, yang disediakan bagi mereka yang berpikir.

Kunci pernikahan yang langgeng sebetulnya sederhana saja:

1. Sakinah.
Maknanya apabila ada masalah, cepat selesaikan. Tidak ada pernikahan yang tanpa masalah, tinggal bagaimana mengurusnya. Apabila masalah sudah beres jangan diungkit-ungkit lagi. Ingat, Allah Maha Mengetahui dan Allah bersama orang yg sabar.

2. Mawadah.
Semangat. Adalah penting untuk bermesraan bersama pasangan kita.

3. Rahmah.
Adalah mudah untuk bersemangat sebagai pasangan muda. Namun bagaimana 9, 16 atau 48 tahun kedepan? Disinilah perlunya kasih sayang. Tidak ada manusia sempurna, namun ketika melihat pasangan lihatlah kebaikannya maka dia akan selalu indah dimata kita.

Untuk mendapatkan kunci-kunci tersebut maka kita perlu hidayah. Yang perlu kita ingat, hidayah itu aktif, bukan pasif. Kita harus minta kepada Allah untuk diberikan hidayah. Siapa yang diberikan hidayah oleh Allah? Mereka yang mencoba dan berusaha!

Bagaimana usahanya? Jadikan Allah prioritas! Caranya:
1. Segerakan shalat (dan fokus).
2. Sediakan waktu untuk membaca Quran beserta artinya.
3. Berkata benar.
4. Sedekah dengan rutin.
Kerjakan dan tingkatkan ibadah kita. Jangan kalau sempat! Allah tidak mau dinomor duakan.

Ayat rujukan 2:186, dimana dikatakan antara lain; penuhi perintah dan beriman kepadaKu. Ingat, ketaatan kita padaNya yang menentukan.

Kemudian Ustad Yuke menerangkan bahwa menjadi istri shalihah itu mudah. Lakukan diantaranya:
1.Jangan memotong ucapan suami.
2. Jangan mengeraskan suara pada suami.
3. Bermuka manis setiap saat dan bersyukur atas penghasilan suami, berapapun itu.

Mana tips suami shalehnya nih?

Kayaknya asyik amat ya kita melulu yang kudu nurut. Tapi sebelum ngambek, ingatlah bahwa suami bertanggung jawab atas kita, sementara istri tidak. Sebagai pemimpin, suami yang akan ditanya mengapa istri dan anak-anaknya begini atau begitu. Sementara kalau suami kita -amit-amit- berlaku aneh-aneh, kita sebagai istri tidak akan ditanyakan. Tentunya kita perlu percaya dulu bahwa nantinya kita akan dihisab 😉

Wah tapi ternyata dulunya saya begana-begini gimana dong? Ya gak masalah. Selama kita mau bertobat (tobat nasuha) dan serius kembali ke jalan yang benar maka tidak ada kata terlambat bagi Allah.

Biasanya istri kan demen marah-marah, nah salah satu cara menangkalnya, sebelum marah sama suami coba pikirkan 11 alasan mengapa dia berbuat demikian. Bukan berarti kalau ada masalah tidak dibahas, tapi tunggu reda dulu agar ketika dibahas moodnya sudah enakan.

Ayat rujukan:
16:99 – Syetan tidak akan berpengaruh pada orang yang beriman dan tawakal. Iman padaNya harus yakin dan mantap.
Tawakal adalah berusaha di jalan Allah dan menerima apapun hasilnya.

33: 70-71 untuk orang-orang yang beriman, bertaqwalah pada Allah, berkata yg benar.

Sekali lagi, untuk memperbaiki diri:
-baca quran
-shalat
-tidak bohong
-sodaqoh

Meski demikian, ada 3 bohong yg dibolehkan:
1. Untuk mendamaikan pasangan yang bertengkar
2. Sedang berperang
3. Untuk menyenangkan pasangan.

Tips shalat dari ust. Yuke:
1. Fokus. Jangan tergoda.
2. Pahami. Doa diantara kedua sujud itu sudah mencakup semua permintaan kita.
3. Perbanyak rakaat Tahajud. Itu lebih baik ketimbang shalat 2 rakaat tapi doanya sampai subuh.

Sebetulnya masih banyak hal lain yang disampaikan beserta ayat rujukannya. Namun karena diselingi tugas sebagai tuan rumah beberapa hal saya kelewatan. Oleh karena itu kebenaran adalah milik Allah semata dan kesalahan sepenuhnya ada pada saya. Kalau ada diantara catatan ini yg salah/saya salah mengerti, mohon koreksi ya 🙂

Makasih yaa sudah datang 🙂

Kudu yang lebih muda yaks?

Cowok itu emang kadang aneh. Menyangkut masalah perkawinan, giliran kawin lagi mau, tapi coba ditawarkan yang lebih tua, meski masih canti pasti langsung ogah. Pegimane seeh?

Contohnya ya seperti yang dibawah ini:

T (teman) : Mba, cariin dong. yg cantik, soleh, dan lain-lain

S : yang lain-lainnya itu apa?

T : terserah Mbak, yg penting setia

S : kalau usianya lebih tua gimana?

T : waw jangan dong

S : kamu umurnya berapa sih?

T : 22 tahun, mau nyari selisih 3 tahunan gitu

S : Padahal teman-teman saya ada lho yang menurut saya sih masuk kriteria kamu, gak jauh banget kok, 30an.

T : waw. kalo 30, waduh jauh amat

S : Khadijah lebih tua dari Rasulullah

T : itu jaman dulu

S : yeee… alasannya basi amat! kalo niru beristri banyak mau giliran menikah ama yang lebih tua nggak mau

T : bukan nggak mau ini soal masa depan juga dan kelanggengan berkeluarga

S : lho perempuan kan usianya relatif lebih panjang dari cowok

T : siapa bilang

S : secara statistic perempuan umurnya lebih panjang dari laki2, lebih banyak nenek2 janda daripada kakek2 duda.

T : ooooo tapi itu kan bukan alasan yg kuat

S: Lah itu kan yang kamu bilang kenapa kamu suatu saat ingin beristri lebih dari 1? Karena lebih banyak perempuan daripada laki-laki di dunia?

T: Iya sih tapi…

S: Nah ini sekarang mba mau mengenalkan kamu sama perempuan cantik, shalatnya rajin, baca Quran lancar, pribadinya juga keren. Tapi langsung kamu tolak karena umurnya 30?

T: yah kan aku juga punya kriteria ideal mba…

S: emang kayak apa?

T: ya itu tadi, cantik, sholihah, lebih muda, kalau bisa lebih pendek….

S: Jyaaaaaah….

T: emang cantik gak perlu mba?

S: ya perlulah. Cantik kan subyektif, yang penting nyambung dan agamanya bener. Klo dua itu dapet, insya Allah dimata kita dia akan selalu cantik.

T: Berarti suami mba ganteng dong…

S: Pasti!

T: Cinta pada pandangan pertama ya?

S: Enggak

T: Lho? kok enggak sih mba? Katanya ganteng?

S: Hehehe….

T: trus kok jadinya sama dia?

S: Karena ngobrol sama dia menyenangkan.

T: Lebih muda ya?

S: Enggak…

T: Nah tuh mba sendiri milihnya yang lebih tua!

S: girang kamu ya? Lho klo perempuan itu hanya bisa memilih dari yang menawarkan dirinya. Masa mba ngejar2 brondong?

T: Ya tapi kan..

S: tapi2 apa?

T: Hehehe…

S: eh udah adzan tuh, udahan dulu ya.

T: baik mba.

Nu Ku Abdi Dipikanyaah

Aki saya seorang Polisi
Seorang penyidik
kepala bagian forensik

Membuat saya penasaran
dengan serial CSI
karena Aki adalah Grissom

Bahkan lebih, karena Aki kadang menyamar
untuk menyelesaikan kasus
bila dibutuhkan

Grissom dan Mac
sedikit banyak
mengobati kerinduan hati

Seperti inikah kasus-kasus Aki?
Beginikah cara menyelesaikan investigasi?
Dapatkah penjahatnya selalu Aki penjarakan?

Aki Tata yang bangga dengan institusi kepolisian
bersemangat memindahkan ilmu
untuk generasi baru

Apakah Aki akan paham dengan situasi sekarang?
Apakah Aki akan bangga dengan citra buaya?
Apakah Aki akan paham, yang namanya tidak ada di kertas pemilihan justru lebih ‘sakti’?

Alhamdulillah Aki sudah nyaman
bersama Nini disana
Tidak perlu merasakan
Lalakon nu pikasebeuleun

Cukup kami saja
Insya Allah kami bisa
menghadapi
Lalakon nu geuleuh

Sujud syukur berserta doa
untuk Aki dan Nini
Suatu hari nanti
kita bertemu lagi

Hormat dan cinta
dari incu yang rindu

tol lingkar dalam kota 20/11/09

Tips Parenting dari Kakak-kakakku

Sebagai anak bungsu, kadang enaknya sudah banyak contoh di depan pas giliran saya tinggal pilah pilih mana yang bagus mana yang tidak dan inilah beberapa tips yang saya dapat dari kakak2 saya:

1) Waktu kecil antar jemput anak setiap hari.

Di perjalanan adalah saat tempat mengutarakan segala macam keluh-kesah tentang keseharian anak-anak. Bahkan untuk anak perempuannya sampai SMA masih diantar ke sekolah, pulang baru dikasih pakai kendaraan umum (kata anaknya, “Asiikk… bisa ke Blok-M dulu…”)

2) Baca apa yang anak baca.

Kakak saya turut membaca dulu semua bacaan anak2nya. Sebetulnya mereka dibebaskan untuk membaca apa saja tapi khusus komik Jepang dia sensor. Yang sekiranya patut untuk umur mereka baru mereka boleh baca.

3) Dengar apa yang mereka dengar.

Musik keponakan dengan musik kakak saya nggak sama tapi dengan turut menaruh perhatian akan kesukaan mereka obrolan tetap nyambung. Anak merasa benar2 diperhatikan. Mereka kan sering mencari infonya di internet, meski nggak surfing bareng paling enggak kakak saya aware situs apa aja yang anaknya suka datangi.

4) Tonton apa yang mereka tonton.

Sama seperti bacaan, kadang2 kakak saya bergadang demi melihat dulu film2 pilihan anaknya. Mereka juga suka ke bioskop bareng. Waktu masih kecil kakak-kakak saya juga selektif dalam memilih tontonan di televisi. Sebisa mungkin mereka selalu menonton bersama. Kalau tidak bisa, sudah dipilih dulu apa yang bisa mereka tonton dan apa yang tidak boleh.

5) Terlibat dalam POMG/PTA/Komite sekolah.

Sebenarnya sih nggak ada pilihan wong soalnya salah satu kakak saya ortu tunggal. Tapi dengan terlibat jadi dia gak hanya tau teman2 anaknya tapi juga kenal ortu2nya. Saling jagalah gitu.

6) Menerima anak apa adanya dan memaksimalkan kemampuan anak.

Salah satu ponakan saya berkebutuhan khusus (dyslexia) jadi dia sempat masuk sekolah khusus sewaktu SD. Setelah lulus, dicarikan sekolah yang bisa dan mau menerima anak dengan kebutuhan khusus. Kemudian kakak saya memperhatikan kemampuan/hobi anaknya itu apa dan diarahkan kesana. Dia hobi gambar jadi dikasih les gambar dan dibebaskan dari tuntutan harus jadi sarjana (klo kakak sama adiknya yang normal tetap dituntut demikian). Alhamdulillah dengan demikian justru ponakan saya lebih semangat belajar dan tertantang untuk mencoba universitas. Alhamdulillah dia berhasil masuk salah satu universitas yang bagus disini dan sangat menikmati hari-harinya sebagai mahasiswa.

7) Makanlah bersama.

Setidaknya sekali dalam sehari kakak2nya makan bareng sama anak2nya. Biasanya saat makan malam. Ini juga menjadi ajang diskusi terbuka dan saling catch-up dengan berita masing2 jadi semua anggota keluarga tau pada ngapain aja mereka.

Hasilnya sejauh ini (sekarang mereka dah sma dan kuliah) anak2nya blum ada yang pacaran, sekolahnya bener, punya kegiatan mendukung, sayang banget sama Ayahnya (kakak saya) dan satu sama lain.

Soal antar sekolah ini sudah dibuktikan sama kakak saya yang lain. Tiap pagi diantar ayahnya dan memang menjadi ajang bonding ayah dan anak. Hal2 yang tidak diceritakan ke kakak saya (ibunya) dia ceritakan ke ayahnya. Untuk kemudian nanti ayahnya laporan ke ibunya lagi. hehehe…
Anak2 saya juga gitu, karena si abah harus siap ngalong di kantor sebisa mungkin kalau pagi dia yang mengantar sekolah.

Sebetulnya beberapa hal sih turunan dari kebiasaan keluarga kami. Hal seperti makan bareng atau baca buku itu kebiasaan yang ditularkan oleh orang tua kami yang disesuaikan dengan jaman. Tentunya ini semua ditambah dengan banyak berdoa minta perlindungan kepada Allah agar kita semua selalu sehat,selamat dan dalam lindungannya. Aaamiin.

Dekatilah Anakmu…

baca status temen pagi ini yang ngasih link ke suatu berita kok ya ngenes to, lagi-lagi bukannya introspeksi tapi menyalahkan faktor luar sebagai penyebabnya. Biasalah masih masalah pornografi dan anak. Iya bener, dengan adanya internet sekarang akses memang lebih mudah dan gampang tapi ya jangan melulu salahkan internet dong. Pemblokiran juga menurut saya bukan jawabannya meski banyak yang ngotot demikian dengan memberikan Cina sebagai contoh. Iya, tapi di Cina juga… ah sudahlah… saya nggak pengen membandingkan negara.

Bagi saya, adalah tugas kita sebagai orang tua untuk mendekati anak, mengajarkan yang baik dan menjauhi yang salah. Tidak bisa kita limpahkan ke sekolah, tidak bisa menyalahkan kerjaan, teman, tetangga, warnet, dll. Anak sudah dikasih perhatian cukup belum? Sudah membuat rambu2 yang disepakati bersama belum? Misalnya nih:

1. Aduuh gimana ya sekarang gampang bener akses video pake hp.
Lha, anaknya kenapa dikasih hape yang canggih? Ya abis kan sekarang semua hp gprs.
Nah, emang udah perlu pake hp? SD anak saya termasuk yang ketat soal hape, aih jangankan SD, SMP keponakan saya aja masih nggak membolehkan hp. Orang tua kalau perlu apa2 telpon ke sekolah! Titip pesan ke wali kelas nanti diteruskan. Secara gitu rata2 anak2 ini masih sd dan smp. Seberapa perlunya mereka ber hape ria? apalagi ber bb?

2. Abis mereka kerjanya main internet/nonton video/nonton tipik terus.
Udah dikasih batasan belum? Tivi misalnya. Kontrol dong berapa jam anak boleh nonton tivi atau apa yang mereka boleh tonton. Libatkan orang rumah dalam proses kontrol ini.
Saya memang termasuk orang tua yang membolehkan anak nonton tivi. Tapi saya berulang kali menegaskan channel apa saja yang boleh mereka lihat. Kalau mereka ingin nonton sama mbaknya, hanya beberapa program yang mereka bisa nonton bareng – musik dan kuis. Selainnya nggak boleh.
Secara nih ya, saya nggak punya duit buat bikin program tivi sendiri, gak punya akses ke yang punya saluran tipik, dan belum ada waktu untuk jadi aktifis tipik, ya saya pragmatis aja. Saya nggak mungkin menonton sama anak setiap saat, jadi saat punya rezeki lebih, ambil tivi langganan yang jauuuh lebih aman.

Tapi tivi berbayar kan mahal? Konsekuensinya? ya harus nonton bareng anak. Percayalah, sebelum tivi berbayar masuk rumah entah berapa jam saya habiskan menonton Dora, Spongebob dan teman2. Spongebob? kan kasar? lho justru, saat yang tepat untuk mengajari anak jangan berperilaku seperti itu yaaa itu nakal, nggak baik :p hehehe… aye mantan anak tipik siy

3. Ya elu enak di rumah, gw kan kerja cape…
emang ibu bekerja hanya dikau seorang? Tuh temen aye singel fighter! Kagak ade lakinya. Malah suka bikin aku malu karena doi lebih canggih ngurus anak ketimbang aku yang ibu rt.

Kalau kayak gini saya jadi ingat masa SMA dimana rata2 ibu temen2ku tu ibu rt, hampir nggak ada yang ibu bekerja tapi toh hasilnya variatif. Ada yang anaknya tetap nge-drugs, ada yang enggak. Jadi nggak efek apakah ibunya kerja atau tidak. Karena dalam semua situasi ada yang anaknya baik-baik saja, ada yang anaknya kacau balau. Semua kembali pada orang tuanya masing2.

So pada intinya, dan ini sebenernya jari nunjuk diri sendiri juga, dekatilah anakmu. Kenali dan sayangi mereka. Practice what you preach – nah ini gw banget nih, kadang2 masih bersalah do as I say not as I do. Bad mom.

Saya nggak bilang ini gampang. Buat saya juga susah. Setiap hari harus ingat untuk ikhlas dan sabar, supaya nggak cepet marah, nggak cepet ngambek. Setiap hari harus ingat bahwa anak itu mahluk individu. Kadang kan suka loncer membandingan adik dan kakak, padahal yaa mereka kan beda. Ya emang gak ada yang bilang jadi ortu itu gampang kok. Tapi ini kan konsekuensi dari perbuatan diri sendiri. Sapa suruh menikah dan punya anak?

But, here they are now. Saya sudah menjadi orang terpilih, terpilih untuk menjadi ibu. Mau nggak mau, suka nggak suka harus bertanggung jawab. Klo jatuh, ya bangun lagi. Klo marah ya minta maaf. Peluk anak. Percayalah, I’m far from being an ideal mom, bukan materi Ummi Award, paling enggak saat ini. hehe…

Jadi orang tua, jangan salahkan ini itu yaa. Dekati anaknya. Memang nggak ada jaminan, tapi insya Allah, orang tua yang dekat dengan anaknya akan membuat anaknya lebih sayang dan menghargai dirinya sendiri. Semoga.

Tentang Feminisme

Disclaimer: ini adalah hutang tulisan pendapat, bukan dicanangkan sebagai tulisan ilmiah sehingga tidak mencantumkan referensi layaknya sebuah tulisan Opini untuk media.

Bismillah,

Sependek yang saya mengerti, gerakan feminisme adalah mencari kesetaraan gender yang intinya adalah persamaan hak untuk perempuan dan laki-laki sementara feminis adalah orang yang menganut pahamnya. Gerakan ini memang dimulai dari Barat dari sekitar abad 18an. Sekarang feminisme seringkali mendapat konotasi buruk, seolah-olah seorang yang mengaku feminis artinya melarikan diri dari kodratnya sebagai perempuan, seolah-olah emansipasi itu menjadi jawaban bagi para pria untuk juga lari dari kodratnya. Padahal bukan itu maksud awalnya.

Membaca ulang beberapa artikel tentang feminisme dan dengan pemahaman saya sekarang ini maka tidak heran kalau gerakan ini adalah dari Barat karena disana tidak ada tokoh/panutan yang secara jelas dan gamblang membela kaum perempuan. Tidak ada definisi yang jelas kalau mengacu pada gereja. Gereja hanya punya 10 Commandments (perintah) yang menjabarkan peraturan hidup secara garis besar (tidak boleh membunuh, mencuri, menyeleweng, dll) namun tidak ada keterangan yang detail tentang hak dan kewajiban ayah, suami, istri, ibu, anak, dll. Gereja tertentu bahkan melarang perceraian apapun alasan dan situasinya. Jadi nggak heran kalau para perempuan Barat itu akhirnya harus berteriak meminta persamaan hak mereka. Hak untuk belajar, untuk memilih, untuk hidup tanpa bergantung pada pria karena pada kenyataannya perempuan kadang harus hidup sendiri. Tidak selamanya ada laki-laki yang bisa menopang dan melindungi mereka. Ini, hemat saya, adalah inti dari gerakan feminisme.

Bandingkan dengan panutan kita, Nabi Muhammad SAW. Dengan minimnya pengetahuan agama saya, yang lebih pandai bisa menjelaskan bahwa sebelum Islam tiba, status perempuan di Jazirah Arab sama atau malah mungkin lebih rendah dari unta. Bayi perempuan dianggap aib, dikubur hidup-hidup. Tidak punya hak waris, bisa dialih tangan sesuka hati, tidak bisa memilih jodohnya, singkat kata tidak ada perlindungan sama sekali terhadap perempuan. Datanglah Nabi Muhammad SAW dan Islam dimana perempuan dan laki-laki mempunyai hak dan kewajiban masing-masing yang apabila dikerjakan dan dilakukan sebagaimana mestinya niscaya perempuan tidak merasakan apa-apa selain kedamaian dan ketentraman. Islam, sebagaimana yang diajarkan kepada saya, sangat memperhatikan dan membela perempuan. Islam tidak misoginis. Dalam hal keimanan, laki-laki dan perempuan adalah setara. Dari ayat pertama yang turun saja, sudah jelas ini agama yang egaliter. “Iqra!” Bacalah! siapa? semua penganut Islam harus membaca. Bukan, bacalah hai laki-laki atau hanya laki-laki yang harus membaca. Hanya satu kata yang berlaku untuk semua, “Iqra!”

Perintah membaca ini bagi saya maknanya sangat luas. Kita, lelaki dan perempuan Muslim, haruslah belajar, harus membaca, harus terus mengasah otak, menimba ilmu sampai ajal menjelang. Belum lagi ajaran, anjuran dan perintah-perintah yang datang belakangan mengenai perempuan a.l. berhak atas hak waris, berhak menolak jodoh, dan berhak menggugat cerai. Memang mereka yang suka mencela sering mencibir dan berkata, lah warisannya kan 2:1, cowok dapat 2, cewek dapat 1. Betul, tapi 1 yang didapat perempuan benar-benar milik dia untuk dipakai sesuka hatinya. Mau dia beli es krim, emas, eye shadow atau mau dia bakar semua kek itu hak dia. Sementara dengan 2 yang didapat laki-laki dia masih harus menghidupi anaknya, istrinya, ibunya dan juga membantu saudara-saudaranya termasuk saudara perempuannya yang dapat 1 itu. Ada hak mereka dalam 2 yang didapat.

Masalah jodoh, adalah hak perempuan untuk menolak seorang pria yang diajukan padanya apabila dirasa pria itu tidak cocok baginya. Perempuan berhak mendapat seorang suami yang menghargai dan menghormati dia apa adanya. Soal cerai, tentu saya tidak menganjurkan perceraian, ini adalah hal yang sangat dibenci Allah, tapi, lagi-lagi Allah membuktikan bahwa dalam perjalanan hidup manusia bisa berubah, yang tadinya baik menjadi jahat. Yang tadinya mimi lan mintuna tiba-tiba merasa sangat asing dan tidak bisa memahami lagi pasangannya. Tentu yang paling baik adalah berusaha memperbaiki, tapi ada kalanya situasi sedemikian rupa sehingga bertahan menikah mungkin lebih banyak mudharatnya ketimbang berpisah. Misalnya, suami menjadi pelaku KDRT. Hidup dalam kecemasan, ketakutan, hari ini digebukin gak ya? tentunya bukan merupakan kehidupan yang sehat nan waras. Belum lagi kalau ada anak dalam pernikahan itu. Ayah yang seharusnya melindungi malah mengajari kekerasan. Bukan itu yang dimaksud dengan kehidupan pernikahan! Lagi-lagi para pencibir dan pencela itu kadang berkata, ah perempuan Islam tidak boleh menikah dengan non-Muslim, menghalangi cinta, atau, cowok Islam mah kerjanya kawin melulu. Tapi ya sudahlah itu kita bahas kapan-kapan saja, nanti melencengnya kejauhan.

Waktu kecil, saya tidak merasakan perlunya punya ‘faham feminisme’ karena Islam yang pada dasarnya sudah feminis ini diterapkan di keluarga saya. Ayah saya bertanggung jawab atas keluarganya, menyekolahkan semua anaknya, menyanyangi kami, tidak melakukan KDRT, meloloskan hampir semua permintaan yang berkaitan dengan pendidikan misalnya sering membelikan buku, membolehkan ikut les ini-itu, dll. Tidak perlu saya sebagai anak perempuan menuntut persamaan hak dengan abang saya karena orangtua saya sudah memperlakukan kami dengan adil. Kami tidak merasa dibedakan, semua diberi kesempatan yang sama, tinggal bagaimana kita menyikapi hal ini. Tidak ada standar ganda. Semua anak tidak boleh merokok. Semua anak tidak boleh naik motor. Semua anak hanya boleh menyetir setelah ada SIM. Semua anak boleh bersekolah dimana saja selama terjangkau. Bahwa kemudian abang saya lebih sering memakai mobil daripada kakak perempuan saya itu hal lain lagi. Itu masalah kecakapan negosiasi dan penjadwalan 😉

Setelah besar dan berjalan-jalan, baru saya ngeh bahwa tidak semua anak perempuan tumbuh besar dengan situasi seperti itu, apapun agamanya. Ada yang orangtuanya suka melarang dengan alasan, “Kamu anak perempuan!” sementara saudara laki-lakinya melenggang santai karena yaa dia kan anak laki-laki. Jujur saya kaget ada yang berpendapat bahwa perempuan tidak boleh sekolah, perempuan tidak boleh bekerja, tidak boleh ini-itu, pokoke harus dirumah! Iya klo ada ayah atau suami. Lha klo janda gimana? Emang segampang itu menikah lagi? Klo janda anak tunggal nggak ada abang, paman, sepupu laki2 trus gimana? Suruh ikutan dikubur bareng suami? Atau yatim-piatu anak tunggal? Ikutan dikubur bareng ortu? Atau ‘favorit’ saya, “Cowok itu ibarat teko, isinya boleh berceceran dimana-mana asal tekonya balik ke rumah. Cewek mah terima ajalah.” Halaah… Jijay bajaj! Ini terjadi dimana-mana, agama apa saja, negara mana saja. Belum lagi distorsi-distorsi yang dilakukan lelaki atas nama agama demi mempertahankan kekuasaan. “Perempuan tidak boleh keliaran diatas jam sekian, yang masih di jalan pasti pelacur!” Dyeileee… gigi lu gendut! Suudzon amat sih!!!

Saya yang tadinya nyaman dan cuek menjadi peduli. Nurani saya terusik sementara saya enak-enak kuliah ada saudara saya yang sedang diperdagangkan untuk menjadi entah apa dimana tanpa tau haknya apa, tanpa tau apakah akan kembali lagi secara utuh atau tinggal nama. Ketika belum semua perempuan disini mendapatkan pendidikan sampai setidaknya SMP seperti yang dicanangkan Diknas? Ketika perempuan bekerja belum mendapat jatah cuti hamil selama 6 bulan atau tempat yang layak untuk menyusui/memompa ASI di tempat kerjanya? Ketika seorang perempuan mengeluh ingin berhenti bekerja tapi tidak ingin dilecehkan suaminya karena hanya ‘diam di rumah’? Ingat, tidak semua perempuan bekerja karena lari dari kodrat. Banyak yang harus dan banyak pula profesi yang membutukan perempuan sebagai profesional. Atau di ranah pribadi, ketika perempuan yang menjadi korban KDRT belum mendapat perlindungan dan dilindungi sebagaimana mestinya tanpa harus takut dikucilkan atau malah dicemooh oleh polisi dan masyarakat, bagaimana saya bisa nyaman mengatakan saya bukan feminis? Butuh lebih dari 1 dekade untuk korps kepolisian Amerika untuk merubah sikap dan pendekatan mereka terhadap KDRT, bahwa ini adalah tindakan kriminal.

Apakah hal-hal diatas bertentangan dengan agama? Bertentangan dengan contoh Nabi? Bagaimana kita bisa bilang bahwa feminisme bertentangan dengan Islam ketika jelas-jelas Islam mempromosikan kesetaraan gender dengan jelas dan tegas? Bahwa pelaku-pelakunya kemudian memelintirkan ayat untuk kepentingan mereka, yah itulah kehidupan. Orangnya yang gendheng agamanya yang kena. Dus, tabayyun. Cari guru lebih dari satu. Baca tafsir lebih dari satu. Iqra.

Selama perempuan masih merasakan ketimpangan dan ketidakadilan, sebetulnya justru mendorong perempuan menjadi radikal. Apalagi kalau pelintiran-pelintiran itu dilestarikan, tidak usah heran. Siapa yang nyaman hidup dalam ketidak-adilan? Selama ketimpangan itu masih terjadi, bagaimana saya bisa tidak merangkul paham feminisme dan mendeklarasi diri seorang feminis?