Langit Biru Chika

IMG_2570

 

 

 

 

 

 

 

Di bawah langit biru Australia
tetiba teringat aku padamu, Chika
bercerita tentang berjuta cita-citamu

Tentang keinginanmu
untuk bepergian ke berbagai negara
termasuk Amerika, tuk bekerja disana

Dan aku, sangat bisa membayangkanmu
bekerja dan tinggal disana
mungkin di Williamsburg, Queens, atau TriBeCa

Aku bisa melihatmu,
dengan boots dan scarf berwarna
berjalan dari blok ke blok bersama para warga

Commuters, New Yorkers, Manhattanites,
you’ll blend right in!
Of that I’m sure  😉

Ah, aku rasa
tempatmu saat ini lebih ok ya?
lebih keren dari penthouse di Upper East Side

Hanya saja,
sangat jauh dari kita semua

Tuhan menentukan, sementara manusia
hanya bisa berencana…

Sangat jelas langit di Australia
gumpalan awan putih dan langit biru
sejelas daftar cita-citamu

Dalam naungan cakrawala biru
secerah lebarnya senyummu
apa kabarmu disana?

Doa pelipur duka
bahagia di nirwana ya

 

IMG_2202

 

 

 

*between Canberra-Lakes Entrance, Dec 2013*

Cerita Jumat : Mencari Surga

Saya selalu percaya pada Allah. Percaya pada kebesaranNya. Semakin kita mempelajari bumi dan seisinya semakin kagum pada ciptaanNya. Tapi apakah itu cukup?

Sebagai manusia, percaya pada Allah memang menjadi basis keimanan. Tetapi sebagai seorang muslimah, percaya saja tidak cukup. Percaya perlu disertai beriman, yaitu mematuhi dan menjalankan perintahNya serta menjauhi laranganNya. Sederhana? Sebetulnya iya, tapi kehidupan itu menjadi menarik dengan adanya tantangan. Tantangan terbesar adalah ya mematuhi dan menjalankan rukun Islam, terutama yang nomer 2; shalat 5 waktu, dasar dari segalaNya.

Lahir dan besar di Jakarta saya beruntung dibesarkan dalam lingkungan serta masyarakat Islami. Berpuasa di bulan Ramadhan adalah bagian dari kehidupan. Idul Fitri dan Idul Adha adalah waktu libur yang ditunggu-tunggu. Masjid dan mushalla bertebaran dimana-mana, adzan pun bisa dengan mudah didengar setidaknya sekali sehari. Lain halnya ketika kita tinggal di tempat yang mayoritasnya adalah non-muslim.

Lepas dari segala masjid dan adzan mampukah kita terus menjalankan perintahnya? Tentu ada yang bisa. Banyak malah. Sayangnya saya waktu itu termasuk dalam minoritas yang tidak/belum berhasil. Oh saya bisa menjalankan puasa dan tidak tergiur dengan hadiah Natal. Namun, ketika adzan tidak terdengar maka shalat pun lewat begitu saja.  Hmm…  Sungguh bukan contoh yang baik.

Lalu 9/11 terjadi. Ironis. Perlu suatu kejadian besar yang membangunkan keimanan saya. Sebegitu tak terduganya kejadian itu, menyulut banyak pertanyaan di benak. Benarkah karena Islam? Rasanya agama saya tidak mengajarkan kekerasan. Tapi, apakah agama saya itu? Bagaimana saya bisa membelanya kala saya sendiri tidak menjalankannya? Pelajaran SD pelan-pelan merangkak keluar, memberi kesadaran… Yep. Belum beriman! Tetapi, sebagai seorang yang percaya pada Allah, saya pun percaya pada rukun Iman. Lha, pegimane mau masuk Surga ente kalau begini caranya?

Allah pun memberikan tanda-tandanya. Pertama, Indhie datang mengunjungi saya sebelum pulang kampung. Jalan-jalanlah kita, ngobrol panjang lebar. Indhie yang mulai membangunkan saya untuk kembali mengerjakan perintahnya. Dengan gayanya yang bossy itu dia bilang, “Sita, misalnya kamu pake jilbab, hari ini kamu dapat +1. Trus kamu gak shalat, jadi -1. Tapi karena berjilbab hitungannya jadi 0. Sementara kalau enggak, hitungannya jadi -2. Tetap lebih untung kan?” Ya saya yakin hitungan pahala tidak semudah itu. Namun disederhanakan seperti itu membuat saya berpikir. Kemudian saya bertemu temannya Indhie, Ahmad*, seorang yang mengaku sebagai ‘born-again Muslim.’ Eh? Maksudnya?  Jadi Ahmad ini African-American alias kulit hitam. Keluarganya keturunan Muslim. Namun karena mereka lahir dan besar di Amerika, Islam hanya menjadi bagian dari sejarah keluarga, bukan sesuatu yang dijalankan. Sampai ayah ibunya mendapatkan hidayah. Bagaimana caranya saya nggak ingat pastinya setelah itu ayah ibunya pergi haji, kemudian mempelajari Islam kembali. Hal ini menular kepada Ahmad. Melihat orang tuanya serius mendalami Islam, dia pun turut mempelajari dan menjalankannya. Ahmad begitu serius sampai ia mengganti namanya, dari nama Barat ke nama Islam. Ia pun fasih menyitir hadits dan ayat dalam bahasa Arab. Saya tertegun. Kok bisa? Saya ‘kalah’ dari dia. Tanpa bantuan adzan, Ahmad menyimpan jadwal shalat di agendanya. Ketika waktunya tiba, iapun mencari tempat shalat. “Dimana saja kita boleh shalat kok, nggak harus di masjid,” demikian tegasnya ketika menggelar koran sebagai alas shalat di taman.

‘Ceramah’ Indhie, pertemuan dengan Ahmad, membulatkan keputusan untuk pulang kampung. Ya, saya juga masih kepingin masuk surga. Hal itu rasanya sulit didapat kalau saya terus merantau. Teman-teman saya orang baik-baik, boss saya malah sudah siap untuk membantu mengajukan visa tinggal kalau saya mau. Namun, masih ada dunia setelah dunia. Saya harus belajar kembali, mencari guru, mencari teman, mencari lingkungan yang bisa menolong. Bagi saya itu artinya kembali ke tempat asal. Dimana adzan berkumandang setiap saat, bila arah anginnya tepat maka kita bisa mendengar 2-3 adzan secara bersamaan.

Maka, ke Jakarta saya kembali. Mencari surga untuk 2 dunia. Insya Allah bisa!

 

*bukan nama sebenarnya

Kudu yang lebih muda yaks?

Cowok itu emang kadang aneh. Menyangkut masalah perkawinan, giliran kawin lagi mau, tapi coba ditawarkan yang lebih tua, meski masih canti pasti langsung ogah. Pegimane seeh?

Contohnya ya seperti yang dibawah ini:

T (teman) : Mba, cariin dong. yg cantik, soleh, dan lain-lain

S : yang lain-lainnya itu apa?

T : terserah Mbak, yg penting setia

S : kalau usianya lebih tua gimana?

T : waw jangan dong

S : kamu umurnya berapa sih?

T : 22 tahun, mau nyari selisih 3 tahunan gitu

S : Padahal teman-teman saya ada lho yang menurut saya sih masuk kriteria kamu, gak jauh banget kok, 30an.

T : waw. kalo 30, waduh jauh amat

S : Khadijah lebih tua dari Rasulullah

T : itu jaman dulu

S : yeee… alasannya basi amat! kalo niru beristri banyak mau giliran menikah ama yang lebih tua nggak mau

T : bukan nggak mau ini soal masa depan juga dan kelanggengan berkeluarga

S : lho perempuan kan usianya relatif lebih panjang dari cowok

T : siapa bilang

S : secara statistic perempuan umurnya lebih panjang dari laki2, lebih banyak nenek2 janda daripada kakek2 duda.

T : ooooo tapi itu kan bukan alasan yg kuat

S: Lah itu kan yang kamu bilang kenapa kamu suatu saat ingin beristri lebih dari 1? Karena lebih banyak perempuan daripada laki-laki di dunia?

T: Iya sih tapi…

S: Nah ini sekarang mba mau mengenalkan kamu sama perempuan cantik, shalatnya rajin, baca Quran lancar, pribadinya juga keren. Tapi langsung kamu tolak karena umurnya 30?

T: yah kan aku juga punya kriteria ideal mba…

S: emang kayak apa?

T: ya itu tadi, cantik, sholihah, lebih muda, kalau bisa lebih pendek….

S: Jyaaaaaah….

T: emang cantik gak perlu mba?

S: ya perlulah. Cantik kan subyektif, yang penting nyambung dan agamanya bener. Klo dua itu dapet, insya Allah dimata kita dia akan selalu cantik.

T: Berarti suami mba ganteng dong…

S: Pasti!

T: Cinta pada pandangan pertama ya?

S: Enggak

T: Lho? kok enggak sih mba? Katanya ganteng?

S: Hehehe….

T: trus kok jadinya sama dia?

S: Karena ngobrol sama dia menyenangkan.

T: Lebih muda ya?

S: Enggak…

T: Nah tuh mba sendiri milihnya yang lebih tua!

S: girang kamu ya? Lho klo perempuan itu hanya bisa memilih dari yang menawarkan dirinya. Masa mba ngejar2 brondong?

T: Ya tapi kan..

S: tapi2 apa?

T: Hehehe…

S: eh udah adzan tuh, udahan dulu ya.

T: baik mba.

Mencari Yang Benar dan Yang Baik

Satu hal yang guru saya sering ulang adalah pentingnya berdoa. Pertama adalah membiasakan diri untuk meminta kepada Allah, tidak pada yang lain. Kedua, meski kita bebas meminta dan memohon apa saja, ada beberapa hal yang sering beliau ingatkan supaya saya jangan lupa. Beberapa hal ini:
1. Mohon ampun – manusia pasti sering berbuat salah
2. Mendoakan orang tua – wajib dan jangan sampai lupa.

Sekarang setelah saya berkeluarga dan mempunyai anak (saya sudah belajar sama guru yang ini dari SD) guru saya juga menambahkan beberapa hal ini:
3. Mendoakan suami – agar selamat dan mencari rizki yang halal
4. Mendoakan anak – doa ibu matih
5. Mendapatkan guru yang benar
6. Mendapatkan teman-teman yang benar
(Yang kedua terakhir ini juga berlaku untuk suami dan anak-anak.)

Dulu mungkin karena saya hanya mengaji pada beliau dan masih lajang, cukup bahwa saya ingat untuk mohon ampun dan orang tua. Namun sekarang saya sudah dewasa dan mulai melakukan aktifitas layaknya ibu-ibu lainnya yaitu ikut pengajian, maka mungkin -karena saya juga nggak pernah tanya kenapa- beliau merasa perlu untuk menambahkan hal-hal yang harus saya minta kepada Allah. Tadinya saya tidak terlalu mengerti namun setelah mendengar cerita dari teman-teman, baru saya memahami maksud guru saya.

Sebagai seorang yang ilmunya rendah, adalah wajar saya mencari guru untuk menambah ilmu. Namun ternyata kalau kita mendapat guru yang salah, alih-alih tambah beriman bisa jadi kita malah murtad! Yang ilmunya sebenarnya juga nggak banyak sehingga tidak bijaksana dalam memberi nasihat, yang tidak bisa memberi rujukan hadits atau ayat dalam memberi pendapatnya, yang memutar balikkan fakta, yang menafsirkan secara bebas, yang amat cinta pada otak dan logika sehingga tidak bisa menerima hal-hal diluar logika dan membolehkan yang tidak boleh, sampai yang pada akhirnya mengajak kita beriman bukan kepada Nabi Muhammad melainkan pada sang Guru itu tersebut sehingga kita harus tunduk pada segala kehendak sang guru meskipun itu adalah tindakan kriminal.

Kenapa setelah guru kita kemudian minta teman-teman yang benar dan baik karena kedua hal tersebut terkait erat. Ketika mencari sesuatu kita seringkali meminta rujukan atau rekomendasi teman. Dari yang sepele seperti beli sepatu yang murah dan bagus dimana, sampai sekolah yang bagus dan terjangkau. Seperti pepatah bertemanlah dengan tukang parfum maka engkau akan kena wanginya, berteman dengan yang benar dan baik juga Insya Allah akan membawa kita pada kebaikan.

Saya yakin guru saya pasti juga turut mendoakan saya karena selama saya bersekolah di luar negeri Alhamdulillah saya dikelilingi orang-orang baik. Bahkan karena teman-teman saya juga saya memberanikan diri melamar menjadi asisten dosen. Alasannya sederhana banget, si Rob dan Matt jadi TA masa aku enggak? Meskipun saya jadi asisten murni alias menjawab telpon masuk, bikin fotokopi, dan boleh ikutan duduk di kelasnya gratis. Sementara kalau teman-teman saya ya membantu mengajar di kelas. Gak masalah. Yang penting pernah jadi asdos. hehe.

Sekarang hal ini ya terbukti lagi. Alhamdulillah sejauh ini mendapat guru-guru lain yang mempunyai aura positif, ilmunya tinggi dan mengajak ke kebaikan. Untuk selalu memperbaiki diri. Karena itulah judulnya mencari yang benar dan baik. Orang-orang yang benar biasanya baik, sementara yang sebaliknya belum tentu. Semoga saya tidak lupa.

4Er 5 Sempurna ;)

Sewaktu saluran televisi masih hanya TVRI, tiap malam Jumat ada acara bernama “Mimbar Agama Islam” isinya kadang fragmen, drama atau ceramah keagamaan. Sewaktu SMP saya harus menonton acara ini untuk kemudian dirangkum dan dikumpulkan sebagai pr pelajaran Agama. Dari sekian banyak drama dan ceramah yang saya tonton hanya satu yang sampai sekarang masih saya ingat, yaitu ceramah Almarhum Bpk. Dahlan tentang mencari jodoh. Mungkin, dasar abg, giliran perjodohan aja langsung serius mendengarkannya. Tentunya kriteria utama adalah mereka yang seagama, terutama untuk muslimah, dan beragama Islam dengan baik. Tapi selain itu Pak Dahlan juga menjabarkan kriteria karakter yang saya formulasikan menjadi 4 Er + 5 Sempurna. Apa sajakah itu?

1. Cageur = Sehat
Orang yang fisiknya sehat juga mempunyai peluang reproduksi lebih tinggi, harapannya bisa mendapatkan anak-anak yang juga sehat. Selain sehat secara fisik, sebaiknya mentalnya juga sehat, tidak mempunyai penyakit jiwa misalnya bipolar atau OCD yang bisa memberatkan kehidupan. Hidup sudah berat, jangan diberat-beratkan.

2. Bageur = Baik

Orang yang baik insya Allah akan menjadi suami atau istri yang baik serta orang tua yang baik pula. Ya dong, siapa juga sih yang pengen dapat pasangan yang jahat? Baik disini maksudnya bisa berkomunikasi, tidak memaksakan kehendak secara sepihak (Pokoknya harus punya anak 10!), kalau ada masalah hendaknya dibicarakan nggak main tangan melayang-layang. Mudah-mudahan sih emang beneran baik, nggak cuma pura-pura baik eh setelah akad selesai keluar belangnya…

3. Pinter

Pinter mah tau ya artinya. Paling enggak sama pintarnya dengan kita kalau tidak sedikit lebih pintar. Dan nggak hanya akademik lho ya, disini maksudnya pintar hidup, jadi nggak cepat depresi kalau ada yang tidak berjalan sesuai keinginan. Tidak cepat putus asa, pantang menyerah dalam menghadapi kehidupan, mau bekerja keras.

4. Bener

Bener disini artinya jalan pikirannya benar, sesuai dengan ajaran agama Islam, bukan atheis atau kriminal misalnya. Benarnya juga sebaiknya cocok dan sejalan dengan kepercayaan dan prinsip kita sendiri. Kalau berbeda bisa repot, misalnya kita maunya anak kita masuk sekolah Islam, sementara pasangan kita lebih suka homeschooling ya beda jauh kan? Nah, hal-hal seperti ini, pendidikan anak, jumlah anak, pengaturan keuangan keluarga, dll yang harus diketahui sebelumnya jangan pas sudah punya anak baru ketahuan. Kalau dari awal sudah tidak sejalan bisa susah nantinya untuk menyamakan persepsi.

Ibu saya yang orang Sunda langsung setuju sepenuh hati dengan 4 Er ini. Malah beliau menambahkan bahwa keluarga calon juga dilihat apakah masuk ke 4 Er ini. Maksud ibu saya, supaya kita punya gambaran jelas dia berasal dari keluarga seperti apa. Apakah secara keseluruhan kita kompak nggak sama mereka, dari yang kecil-kecil semisal apa keluarganya juga rajin shalat sampai kalau ngobrol sama adik dan kakaknya nyambung nggak pembicaraannya. Bisa aja kan seseorang tu beda banget sama keluarganya, tujuannya lagi-lagi supaya nanti tidak terlalu kaget pas sudah menjadi bagian dari keluarganya dia. Perbedaan itu pasti ada, tapi kalau sekiranya sudah ada gambarannya mudah-mudahan tidak terlalu sulit adaptasinya.

Nah untuk yang 5 Sempurna sih sebetulnya tambahan saya sendiri. Pak Dahlan bilang, boleh-boleh saja meminta jodoh yang cantik dan kaya. Masalah cantik atau ganteng, saya pikir itu kan subyektif ya dan pastilah kita akan memilih orang yang menarik untuk kita. Kalau pada awalnya dia terlihat biasa-biasa saja, setelah kita ngobrol ternyata nyambung biasanya dia akan terlihat lebih menarik. Jadi jangan sampai deh kejadian seperti di bukunya mba Asma Nadia, ada seorang suami yang sudah punya 4 anak tapi tidak merasa cinta sama istrinya karena istrinya menurut dia istrinya tidak atau kurang cantik. Ih enggak banget!!! 4 anak dan suami kita nggak cinta sama kita? Hiy! Tonjok!!!

Jadi 5 Sempurnanya itu adalah… Kaya! Kesannya matre amat yaks. Kaya disini sebetulnya lebih ke arah orang yang berani bekerja dan bertanggung jawab. Apalagi disini kan kalau ‘miskin’ nggak boleh sakit dan sekolah. Jadi ya harus kaya Tapi harus lihat-lihat dulu kayanya yang seperti apa. Kalau bawaannya Mercedez tapi ternyata itu punya ayahnya ya berarti dia nggak kaya. Yang kaya bapaknya. Kaya karena korupsi ya berarti maling dong.

Kenapa perlu kaya? Karena perintahnya adalah mengeluarkan zakat, bukan meminta zakat dan karena hidup di dunia perlu uang. Sepiring berdua kedengarannya romantis, tapi kalau tiap hari begitu deuu… mendingan sendiri aja deh. Maksudnya jadi carilah orang yang seimbang, taat beribadah dan rajin bekerja. Hanya di masjid saja tapi nggak kerja-kerja sampai anak istrinya keteteran ya nggak bener. Kerja melulu nggak pernah beribadah, sama juga nggak benarnya. Hidup kan tidak hanya di dunia ini saja tapi masih ada dunia berikutnya yang lebih kekal dan abadi. Sehingga mudah-mudahan mendapat surga dunia dan akhirat. Amin.

Masih ada lagi sih hal-hal yang Pak Dahlan bahas, misalnya siapa saja yang boleh kita nikahi dan siapa yang tidak boleh kita nikahi tapi yang paling saya ingat ya 5 hal diatas ini. Mudah-mudahan langgeng, dan bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan wa rahmah.

Tentang Feminisme

Disclaimer: ini adalah hutang tulisan pendapat, bukan dicanangkan sebagai tulisan ilmiah sehingga tidak mencantumkan referensi layaknya sebuah tulisan Opini untuk media.

Bismillah,

Sependek yang saya mengerti, gerakan feminisme adalah mencari kesetaraan gender yang intinya adalah persamaan hak untuk perempuan dan laki-laki sementara feminis adalah orang yang menganut pahamnya. Gerakan ini memang dimulai dari Barat dari sekitar abad 18an. Sekarang feminisme seringkali mendapat konotasi buruk, seolah-olah seorang yang mengaku feminis artinya melarikan diri dari kodratnya sebagai perempuan, seolah-olah emansipasi itu menjadi jawaban bagi para pria untuk juga lari dari kodratnya. Padahal bukan itu maksud awalnya.

Membaca ulang beberapa artikel tentang feminisme dan dengan pemahaman saya sekarang ini maka tidak heran kalau gerakan ini adalah dari Barat karena disana tidak ada tokoh/panutan yang secara jelas dan gamblang membela kaum perempuan. Tidak ada definisi yang jelas kalau mengacu pada gereja. Gereja hanya punya 10 Commandments (perintah) yang menjabarkan peraturan hidup secara garis besar (tidak boleh membunuh, mencuri, menyeleweng, dll) namun tidak ada keterangan yang detail tentang hak dan kewajiban ayah, suami, istri, ibu, anak, dll. Gereja tertentu bahkan melarang perceraian apapun alasan dan situasinya. Jadi nggak heran kalau para perempuan Barat itu akhirnya harus berteriak meminta persamaan hak mereka. Hak untuk belajar, untuk memilih, untuk hidup tanpa bergantung pada pria karena pada kenyataannya perempuan kadang harus hidup sendiri. Tidak selamanya ada laki-laki yang bisa menopang dan melindungi mereka. Ini, hemat saya, adalah inti dari gerakan feminisme.

Bandingkan dengan panutan kita, Nabi Muhammad SAW. Dengan minimnya pengetahuan agama saya, yang lebih pandai bisa menjelaskan bahwa sebelum Islam tiba, status perempuan di Jazirah Arab sama atau malah mungkin lebih rendah dari unta. Bayi perempuan dianggap aib, dikubur hidup-hidup. Tidak punya hak waris, bisa dialih tangan sesuka hati, tidak bisa memilih jodohnya, singkat kata tidak ada perlindungan sama sekali terhadap perempuan. Datanglah Nabi Muhammad SAW dan Islam dimana perempuan dan laki-laki mempunyai hak dan kewajiban masing-masing yang apabila dikerjakan dan dilakukan sebagaimana mestinya niscaya perempuan tidak merasakan apa-apa selain kedamaian dan ketentraman. Islam, sebagaimana yang diajarkan kepada saya, sangat memperhatikan dan membela perempuan. Islam tidak misoginis. Dalam hal keimanan, laki-laki dan perempuan adalah setara. Dari ayat pertama yang turun saja, sudah jelas ini agama yang egaliter. “Iqra!” Bacalah! siapa? semua penganut Islam harus membaca. Bukan, bacalah hai laki-laki atau hanya laki-laki yang harus membaca. Hanya satu kata yang berlaku untuk semua, “Iqra!”

Perintah membaca ini bagi saya maknanya sangat luas. Kita, lelaki dan perempuan Muslim, haruslah belajar, harus membaca, harus terus mengasah otak, menimba ilmu sampai ajal menjelang. Belum lagi ajaran, anjuran dan perintah-perintah yang datang belakangan mengenai perempuan a.l. berhak atas hak waris, berhak menolak jodoh, dan berhak menggugat cerai. Memang mereka yang suka mencela sering mencibir dan berkata, lah warisannya kan 2:1, cowok dapat 2, cewek dapat 1. Betul, tapi 1 yang didapat perempuan benar-benar milik dia untuk dipakai sesuka hatinya. Mau dia beli es krim, emas, eye shadow atau mau dia bakar semua kek itu hak dia. Sementara dengan 2 yang didapat laki-laki dia masih harus menghidupi anaknya, istrinya, ibunya dan juga membantu saudara-saudaranya termasuk saudara perempuannya yang dapat 1 itu. Ada hak mereka dalam 2 yang didapat.

Masalah jodoh, adalah hak perempuan untuk menolak seorang pria yang diajukan padanya apabila dirasa pria itu tidak cocok baginya. Perempuan berhak mendapat seorang suami yang menghargai dan menghormati dia apa adanya. Soal cerai, tentu saya tidak menganjurkan perceraian, ini adalah hal yang sangat dibenci Allah, tapi, lagi-lagi Allah membuktikan bahwa dalam perjalanan hidup manusia bisa berubah, yang tadinya baik menjadi jahat. Yang tadinya mimi lan mintuna tiba-tiba merasa sangat asing dan tidak bisa memahami lagi pasangannya. Tentu yang paling baik adalah berusaha memperbaiki, tapi ada kalanya situasi sedemikian rupa sehingga bertahan menikah mungkin lebih banyak mudharatnya ketimbang berpisah. Misalnya, suami menjadi pelaku KDRT. Hidup dalam kecemasan, ketakutan, hari ini digebukin gak ya? tentunya bukan merupakan kehidupan yang sehat nan waras. Belum lagi kalau ada anak dalam pernikahan itu. Ayah yang seharusnya melindungi malah mengajari kekerasan. Bukan itu yang dimaksud dengan kehidupan pernikahan! Lagi-lagi para pencibir dan pencela itu kadang berkata, ah perempuan Islam tidak boleh menikah dengan non-Muslim, menghalangi cinta, atau, cowok Islam mah kerjanya kawin melulu. Tapi ya sudahlah itu kita bahas kapan-kapan saja, nanti melencengnya kejauhan.

Waktu kecil, saya tidak merasakan perlunya punya ‘faham feminisme’ karena Islam yang pada dasarnya sudah feminis ini diterapkan di keluarga saya. Ayah saya bertanggung jawab atas keluarganya, menyekolahkan semua anaknya, menyanyangi kami, tidak melakukan KDRT, meloloskan hampir semua permintaan yang berkaitan dengan pendidikan misalnya sering membelikan buku, membolehkan ikut les ini-itu, dll. Tidak perlu saya sebagai anak perempuan menuntut persamaan hak dengan abang saya karena orangtua saya sudah memperlakukan kami dengan adil. Kami tidak merasa dibedakan, semua diberi kesempatan yang sama, tinggal bagaimana kita menyikapi hal ini. Tidak ada standar ganda. Semua anak tidak boleh merokok. Semua anak tidak boleh naik motor. Semua anak hanya boleh menyetir setelah ada SIM. Semua anak boleh bersekolah dimana saja selama terjangkau. Bahwa kemudian abang saya lebih sering memakai mobil daripada kakak perempuan saya itu hal lain lagi. Itu masalah kecakapan negosiasi dan penjadwalan 😉

Setelah besar dan berjalan-jalan, baru saya ngeh bahwa tidak semua anak perempuan tumbuh besar dengan situasi seperti itu, apapun agamanya. Ada yang orangtuanya suka melarang dengan alasan, “Kamu anak perempuan!” sementara saudara laki-lakinya melenggang santai karena yaa dia kan anak laki-laki. Jujur saya kaget ada yang berpendapat bahwa perempuan tidak boleh sekolah, perempuan tidak boleh bekerja, tidak boleh ini-itu, pokoke harus dirumah! Iya klo ada ayah atau suami. Lha klo janda gimana? Emang segampang itu menikah lagi? Klo janda anak tunggal nggak ada abang, paman, sepupu laki2 trus gimana? Suruh ikutan dikubur bareng suami? Atau yatim-piatu anak tunggal? Ikutan dikubur bareng ortu? Atau ‘favorit’ saya, “Cowok itu ibarat teko, isinya boleh berceceran dimana-mana asal tekonya balik ke rumah. Cewek mah terima ajalah.” Halaah… Jijay bajaj! Ini terjadi dimana-mana, agama apa saja, negara mana saja. Belum lagi distorsi-distorsi yang dilakukan lelaki atas nama agama demi mempertahankan kekuasaan. “Perempuan tidak boleh keliaran diatas jam sekian, yang masih di jalan pasti pelacur!” Dyeileee… gigi lu gendut! Suudzon amat sih!!!

Saya yang tadinya nyaman dan cuek menjadi peduli. Nurani saya terusik sementara saya enak-enak kuliah ada saudara saya yang sedang diperdagangkan untuk menjadi entah apa dimana tanpa tau haknya apa, tanpa tau apakah akan kembali lagi secara utuh atau tinggal nama. Ketika belum semua perempuan disini mendapatkan pendidikan sampai setidaknya SMP seperti yang dicanangkan Diknas? Ketika perempuan bekerja belum mendapat jatah cuti hamil selama 6 bulan atau tempat yang layak untuk menyusui/memompa ASI di tempat kerjanya? Ketika seorang perempuan mengeluh ingin berhenti bekerja tapi tidak ingin dilecehkan suaminya karena hanya ‘diam di rumah’? Ingat, tidak semua perempuan bekerja karena lari dari kodrat. Banyak yang harus dan banyak pula profesi yang membutukan perempuan sebagai profesional. Atau di ranah pribadi, ketika perempuan yang menjadi korban KDRT belum mendapat perlindungan dan dilindungi sebagaimana mestinya tanpa harus takut dikucilkan atau malah dicemooh oleh polisi dan masyarakat, bagaimana saya bisa nyaman mengatakan saya bukan feminis? Butuh lebih dari 1 dekade untuk korps kepolisian Amerika untuk merubah sikap dan pendekatan mereka terhadap KDRT, bahwa ini adalah tindakan kriminal.

Apakah hal-hal diatas bertentangan dengan agama? Bertentangan dengan contoh Nabi? Bagaimana kita bisa bilang bahwa feminisme bertentangan dengan Islam ketika jelas-jelas Islam mempromosikan kesetaraan gender dengan jelas dan tegas? Bahwa pelaku-pelakunya kemudian memelintirkan ayat untuk kepentingan mereka, yah itulah kehidupan. Orangnya yang gendheng agamanya yang kena. Dus, tabayyun. Cari guru lebih dari satu. Baca tafsir lebih dari satu. Iqra.

Selama perempuan masih merasakan ketimpangan dan ketidakadilan, sebetulnya justru mendorong perempuan menjadi radikal. Apalagi kalau pelintiran-pelintiran itu dilestarikan, tidak usah heran. Siapa yang nyaman hidup dalam ketidak-adilan? Selama ketimpangan itu masih terjadi, bagaimana saya bisa tidak merangkul paham feminisme dan mendeklarasi diri seorang feminis?

Tentang Salma

Salma datang
Dari pulau seberang
dengan tas kecil dan segenggam harapan

Salma datang
Lewat telepon tetangga
Mengatakan, “ambillah anak ini, aku tak mau menganiaya,”

Salma datang
Dengan daya pas-pasan
Menguji iman dan kesabaran

Dia jujur
Meski bebal
Dia lugu
Sehingga mudah tertipu

Pelan-pelan,
Salma mulai terprogram
Layaknya robot
Mengerjakan tugas-tugasnya
Meski berkala
Harus di defrag
Agar tidak melenceng

Lebaran demi lebaran
Salma endud pulang
Salma kurus datang

Salma yang sederhana
Bermimpi menjadi penjaga toko
Mengenakan kemeja putih
Celana panjang hitam
Dan sepatu hitam

Sampai hadir seorang pria
Memberinya mimpi yang berbeda
Disambut dengan sukacita

Salma pulang
Dengan senyum cemerlang
Tas di tangan kiri, kekasih di tangan kanan

Salma pulang
Dengan sejuta harapan
Disertai haru dan doa

***

Lebaran datang
Lebaran selesai
Mendadak ada Salma
Kurus dan hitam
Memohon tuk kembali
Tuk kelangsungan janinnya

Salma bekerja extra keras
Untuk membuktikan ia pantas
Bergabung kembali

Tapi,
ada yang merengek memerlukan istri
Dengan berat hati
ditarik kembali

Salma pulang
Dalam bimbang
Tas kecil di kiri, suami di kanan, dan bayi berkembang

***

Salma pulang
Lewat ketokan tetangga,
“Pendarahan, bayi sungsang, tak ada pertolongan…”

Ah Salma!

Salma pulang
Membawa kenangan
Tertawanya yang sederhana
Masakannya yang (akhirnya)enak
Suka membuat deg-degan
kalau ke pasar naik angkot sendirian

Salma pulang
Kalah berjuang
Di pulau seberang

Terima kasih Salma
Apabila…
Kalau saja…
Seandainya saja…

Terima kasih Salma
Dari pulau seberang
Damailah sekarang

61209 lb bulus – happy women’s day

Soal Ibu Depresi

Hari ini Ibuku datang ke rumah menjenguk cucunya yang agak sakit plus ngobrol-ngobrol sama anaknya. Ngobrol kiri-kanan akhirnya sampai juga kita ke masalah ibu yang di Bandung itu. Saya tanya, kenapa ya padahal ibu itu berpendidikan kok dia nggak bisa mengutarakan problem yang dia hadapi?
 
Menurut Ibuku, kalau terkena depresi itu bukan masalah apakah kita berpendidikan atau tidak, melainkan karakter kita. Setinggi atau serendah apapun pendidikan kita, kalau karakter kita adalah orang yang terbuka maka kita akan bisa sharing masalah yang kita hadapi. Sementara kalau kita tertutup, akan susah untuk menceritakan problema kita apalagi kalau misalnya kita punya image tentang diri kita yang ingin kita pertahankan alias Jaim. Jaim bagaimana? Ya mungkin mereka merasa mereka adalah ibu yang cekatan dalam mengurus keluarganya sehingga ketika pada kenyataannya mereka tidak mampu/tidak kuat, mereka tidak bisa/mau mengakui hal tersebut.
 
Trus saya tanya lagi, kenapa para suami mereka tidak menyadari kalau istrinya depresi? Yah, kata Ibu saya lagi, kalau kita tidak cerita, bagaimana dia bisa tau? Yang para suami rasakan, mereka sudah kerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, trus mungkin dia lihat anak2nya tumbuh baik, istrinya nggak ngeluh, ya sudah dia pikir nggak ada masalah.
 
Saya jadi teringat salah satu episode Desperate Housewife, ketika Lynette, ibu dengan 3 putra yang bandel-bandel itu minum obat ADHD anaknya supaya dia bisa jadi “Super Mom” sehingga ketika obat anaknya habis dia ‘terpaksa’ mencuri obat dari teman-teman anaknya. Sampai akhirnya dia putus asa dan kabur ke taman. Untung Lynette punya sahabat-sahabat baik yang mencari dia dan menceritakan bahwa mereka pun pernah frustrasi ketika anak-anak mereka masih kecil. Bree yang tampaknya a “perfect mom” mengaku bahwa dulu ketika anak-anaknya tidur siang dia sering menangis karena merasa nggak kuat mengurus 2 anak kecil sendirian. Yang saya ingat adalah komentar Lynette ketika mendengar pengakuan sobat-sobatnya, “Why didn’t you tell me?” Kenapa kamu nggak bilang?
 
Saya pikir memang nggak sehat ya memendam masalah sendirian. Meski bukan berarti kita harus sharing semua masalah kita, tapi saya pikir kita harus bisa memilah masalah apa yang harus dibagi dan kepada siapa kita berbagi. Apalagi di jaman internet seperti sekarang, paling enggak buat kita yang punya akses internet sebetulnya makin mudah mencari outlet curhat. Ada aneka milis yang bisa kita ikuti, aneka blog-blog pribadi dan situs-situs tentang masalah Setidaknya kita bisa membaca curhatan orang lain dan mengetahui kalau kita nggak sendirian dalam menghadapi masalah baik tentang anak, suami, kerjaan, keluarga besar, tetangga, dsb dll…
 
Akhirnya saya pikir, saya harus lebih banyak lagi bersyukur kepada Allah bahwa saya punya tempat berbagi di dunia nyata dan maya. Saya harap saya juga bisa menjadi teman yang baik sehingga kalau ada teman yang kesulitan mereka tidak segan-segan untuk berbagi.