KBE : Miss Billy

Kalau lagi sibuk beruntun segala hal sampai gak bisa ngeblog. Anyway, mau laporan KBE bulan Juli alhamdulillah berhasil ketemuan setelah beberapa kali sempat ketar-ketir bubar.

Bulan ini KBE in the mood for romance jadi kita memilih buku Miss Billy oleh Eleanor H. Porter. Bukunya menarik, chick-lit jaman dulu tentang Billy yang sebatang kara pindah untuk tinggal bersama teman ayahnya, Paman William. William mengira Billy adalah laki-laki sehingga konflik pun berlangsung seputar kesalahan identitas, bagaimana mereka beradaptasi dengan Billy yang ternyata perempuan dan kemudian berlanjut ke konflik percintaannya lah.

Karena buku ini ditulisnya tahun 1910an, 1913 kalau tidak salah, maka meskipun settingnya di Amerika tapi gaya pacarannya masih sopan banget. Ga ada deh yang namanya bobo2 bareng sebelum menikah jadi refreshing juga sih. Sebenernya bisa toh gak usah buru2 bobo bareng? Hehe…

Kali ini KBE kedatangan bintang tamu mba Rahmadiyanti, CEO LPPH dan Orange Books. Kami mengundang mba Dee karena kita sudah beberapa kali membaca Orange Books, kebetulan Eleanor H Porter semua lagi yaitu Pollyanna dan Pollyanna Grows Up. Sehingga kami penasaran apa sih yang membuat Orange Books memilih tante Eleanor?

Mba Dee yang ramah, baik hati serta tidak sombong mengupas kiat-kiat memilih buku untuk diterbitkan. Pertama, cek rights atau hak cipta dari karya tersebut. Ini penting untuk proses pembayaran royalti. Setelah itu cek resensi buku tersebut, apakah sambutannya baik di manca negara. Kemudian baru diputuskan apakah buku tersebut akan diterjemahkan.

Setelah itu mulai proses ‘audisi’ penerjemah. Ada yang mengirim sampel karyanya, ada juga yang diminta untuk mengirim. Mereka akan diminta untuk menerjemahkan 1-2 bab pertama buku tersebut. Kemudian dilihat apakah terjemahannya sehati dengan textnya. Kalau semua oks baru lanjut. Terjemahan selesai, masuk proses editing, lalu kemudian layout, cover, dll. Seluruh proses ini makan waktu sekitar 6 bulanan, bisa lebih. Waow! Ternyata panjang juga ya perjalanannya 🙂

Mbak Dee juga sharing bahwa memilih buku juga gak ada formula pastinya. Ada buku yang populer di manca negara tapi ternyata gak populer disini. Sebagai publisher harus siap dengan risiko ini meski tentunya sebisa mungkin diminimalisir. Meskipun demikian Orange Books gak akan asal pilih buku laris untuk diterjemahkan, kriteria dasarnya tetap ada antara lain: menghibur, bersih, bermanfaat. Sejauh yang KBE baca buku2nya memang memenuhi kriteria tersebut ya.

Acara ditutup dengan pembagian doorprize bagi 2 peserta yang beruntung (bukan saya 😉 Terima kasih banyak mba Dee telah bersedia jadi bintang tamu KBE kali ini. Sukses terus dengan Orange Booksnya yaaa.

Terima kasih juga kepada mba Ifa selaku tuan rumah yang sukses mengenyangkan perut lewat martabak dan nasi bebeknya. Hmm… Nyaaam. Memang bukan KBE kalau gak ada sentuhan kulinernya 😉

Buku berikutnya adalah Garis Batas oleh Agustinus Wibowo. Namun kabarnya beliau bekerja di Cina. Well, kita lihat saja nanti ya 🙂 sampai jumpa di KBE berikutnya!

Advertisements

Pluralisme vs Toleransi – kuliah singkat (banget)


Pertemuan Klub Buku Emak edisi April kemarin seperti menghadiri kuliah yang singkat namun padat. Sayang kalau nggak ditulis. Mumpung masih ingat di otak 😀

Sesuai waktu yang disepakati, kami bertemu di Citos jam 10. Tapi yang namanya ibu2 ada aja molornya sehingga ‘clubbing’ baru dimulai sekitar jam 10.30 dengan acara berganti lokasi pulak. But eniwei, setelah introduksi singkat dimana kami menjelaskan apa dan bagaimana KBE, Ust. Adian langsung sharing tentang mengapa beliau menulis buku ini. Rupanya beliau khawatir akan kenyataan bahwa paham liberal dan pluralisme semakin lama semakin menyebar dan banyak jemaah beliau yang tidak sadar akan hal itu atau yang sadar tidak paham bagaimana menangkisnya. Meskipun sudah ada 2 buku yang ditulis mengenai hal ini, namun karena bukunya akademis, jemaah biasa ie. ibu2 macam emak2 KBE, banyak yang tidak sadar akan keberadaannya. Karena itu ditulislah novel Kemi dengan bahasa yang ringan dan diskusi serta teorinya sudah jauuh dipadatkan, hanya esensinya saja, agar mudah dipahami.

Kemudian saya bertanya, meski saya tidak setuju atas ungkapan semua agama itu sama, saya masih rancu apa sebenarnya pluralisme itu dan mengapa itu bertentangan dengan Islam. Bukankah kita mengenal toleransi beragama? Ternyata, menurut penelitian ust. Adian, makna asli Pluralisme bukanlah menghormati agama yang berbeda, tetapi meyakini bahwa semua agama itu sama. Untuk mengerti mengapa hal ini bisa terjadi, kita harus melihat balik ke sejarah Liberalisme.

Liberalisme berakar di Eropa, diawali oleh gerakan Freemason. Freemason ini adalah semacam organisasi pemecah batu yang lintas agama. Pada prakteknya, tidak hanya pemecah batu yang ikut organisasi ini tapi semua warga yang non-kristen. Mereka mencari perlindungan atas kejaran gereja karena paham mereka yang berbeda. Dari sini kemudian berkembanglah ide ‘liberal’ atau bebas, membebaskan diri dari agama. Mengapa? Karena mereka merasa terikat dalam kungkungan gereja. Pada masa itu, negara2 Eropa menganut teocracy atau agama diatas negara. Para raja harus diangkat oleh persetujuan Paus sebagai wakil Tuhan di bumi. Namun para rakyat toh pada akhirnya melihat bahwa banyak dari pada ‘wakil Tuhan’ ini berperilaku berbeda dengan ajarannya sendiri. Harus selibat namun mempunyai ‘istri’, berkonspirasi dengan pemerintah, tidak berpihak pada rakyat, dll. Banyak yang merasa sesak atas intrusi gereja pada kehidupan mereka sehingga lahirlah paham Liberte, Egalite, Fraternite yang dijadikan simbol Perancis. Bebas, setara, sepersaudaraan. Paham ini kemudian menjalar ke negara-negara lain termasuk Amerika. Bukan tanpa alasan salah satu simbol Amerika adalah patung Lady Liberty dari Perancis.

Dalam perjalanan si Liberte ini, banyak yang kemudian berjalan-jalan keluar dari negaranya sendiri. Mereka mendapati bahwa ternyata ada ras dan kepercayaan lain selain kulit putih dan Kristen. kepercayaan Kristen tidak mengakui adanya agama/kepercayaan lain. Hanya orang Kristen saja yang bisa masuk surga. Beberapa yang kritis mulai mempertanyakan benarkah mereka yang tidak mengetahui Yesus tidak bisa masuk surga? Padahal ternyata mereka juga sama baiknya dengan wong Kristen. Setelah para pemikir ini bertemu dengan orang2 Muslim, Buddha, Hindu, dll mereka menyimpulkan bahwa sebenarnya kita ini mencari tuhan yang sama, hanya caranya saja yang berbeda. Ada yang memanggilnya Allah, Tuhan Bapa, Yahweh, God, dll. Secara visual, teori ini berbentuk segitiga dimana aneka agama dan kepercayaan itu ada didasar segitiga tersebut dan mengerucut ke puncak pencarian yaitu tuhan. Ada juga versi lingkaran, yang kalau tidak salah dikembangkan oleh Cak Nur, dimana semua kepercayaan berada dalam lingkaran menuju ke tengah, menuju tuhan. Inilah yang dimaksud dengan Pluralisme Agama dan ini sangat sangat berbeda dengan toleransi.

Islam adalah satu-satunya agama yang sedari awal lahirnya mengenal prinsip toleransi yaitu mengetahui dan menghormati bahwa ada kepercayaan lain selain Islam. Bedanya, kita tidak mengaanggap kepercayaan lain itu sama dengan kita. Tuhan dalam Islam hanya Allah. Tidak ada tuhan selain Allah. Kamu boleh tidak percaya pada Allah, terserah saja, tapi tuhanmu tidak sama dengan Tuhanku. Agamamu agamamu. Agamaku agamaku. Ust. Adian memberi contoh sewaktu Ratu Isabella memerintah Spanyol, rakyatnya diberikan 3 pilihan, masuk Kristen, keluar dari Spanyol, atau mati. Sementara Nabi Muhammad SAW, hidup berdampingan dengan warga Kristen dan Yahudi. Kepercayaan dan rumah ibadah mereka tidak diganggu, namun mereka juga jangan mengganggu/mengusik warga Muslim. Semua diberi hak dan kewajiban yang sama sebagai rakyat dibawah pemerintahan Nabi. Islam mengakui adanya agama lain dan menghormati perbedaan. Inilah esensi dari toleransi. Menghormati dan menjaga kerukunan. Bukan kemudian menganggap bahwa semua agama adalah sama.

Secara visual, Islam adalah garis lurus, hanya ada 1 cara menuju Allah. Bahwa kemudian ada variasi dalam Islam, selama prinsip dasarnya masih sama maka garisnya tetap tegak. Bukan bercabang. Bukan berbentuk pohon dengan cabang dan ranting. Hanya 1 garis tegak lurus. Variasi dalam Islam misalnya ada yang shalat dengan membaca Qunut ada yang tidak, ada yang tahlilan ada yang tidak. Namun shalatnya orang Islam semua sama, 5x sehari dan bebas shalat dimana saja, di masjid apa saja. Bebas menjadi imam dan makmum ketika berjamaat. Maksudnya, kita tidak perlu ragu untuk masuk mesjid dan ikut shalat berjamaah dimanapun. tidak perlu kita bertanya siapa Imamnya, apa kepercayaannya. Tidak perlu juga bertanya dari mana jemaahnya, mengapa mau ikutan shalat disini. Ketika itu sudah dilanggar, ketika kita hanya boleh shalat di masjid tertentu dan berjamaah dengan Imam tertentu maka itu sudah bukan Islam lagi meskipun tata caranya sangat mirip.

Islam juga mengakui bahwa fitrah manusia adalah berbeda. Sehingga kewajiban seorang Muslim hanyalah menyampaikan, memberi kabar. Bukan memaksa. Satu hal lagi, Islam tidak menafikkan dan juga tidak memuja dunia. Manusia memang hidup di dunia dimana isinya berbeda satu sama lain sehingga memang harus berbaur dan menjalin kerukunan dengan tetangga, bukan mengasingkan diri menjadi eksklusif. Menurut ust. Adian, kita harus pandai memilah bagaimana kerukunan bisa terjalin tanpa harus mengorbankan akidah. Contohnya, ada jemaah yang tinggal di luar negeri dimana dia minoritas. Agar bisa berbaur salah satunya dengan mengucapkan Selamat untuk perayaan agama lain. Saran Ust. Adian, apabila perlu, beri selamat dan istigfar. Perbanyak istigfar setiap saat karena toh nggak perlu jauh-jauh ke negara lain, disini saja banyak hal yang kita lakukan yang sebetulnya bertentangan dengan agama. Contoh sedehana, kalau ditilang polisi, ke pengadilan apa bayar ditempat? Masih banyak kan yang bayar di tempat karena kalau ikut pengadilan banyak waktu terbuang percuma. Atau ya bayar2 hal lain untuk melancarkan urusan semisal KTP, paspor, dll.

Masih banyak lagi hal yang dipaparkan oleh Ust. Adian dan sebenarnya beliau selalu memberikan referensi serta tahun terutama saat membahas sejarah paham Liberte. Sayang catatannya ada di Kak Moenk bukan di saya jadi nggak bisa disertakan deh. Tanya kak Moenk aja ya kalau penasaran siapa yang mencetuskan ide2 dan buku2 tentang liberte. Oh ya, Ust. Adian juga mengingatkan bahwa ketika Ulama dan Ustad2 juga mulai menunjukkan perilaku menyimpang dari ajaran itu juga bisa mengakibatkan umatnya berpaling ke paham liberte. Jadi waspada juga para Ulama.

Ust. Adian juga bercerita asal muasal beliau menulis. Menulis bagi ust, Adian merupakan panggilan. Sejak SD beliau sudah suka membaca buku sehingga ketika sekolah ditunjuk untuk mengurus buletin sekolah. Kebiasaan membaca dan menulis ini mengantar beliau menjadi wartawan. Beliau sempat menjadi wartawan untuk Republika dan mendapat desk istana. Tidak heran pergaulan beliaupun menjadi sangat luas. Beliau kenal dan sering berinteraksi dengan berbagai teman, tokoh lintas agama dan aliran, juga dengan orang2 pemerintahan. Sebelum akhirnya beliau kembali ke dunia akademis, belajar lagi, menulis berbagai buku dan sekarang berbagi ilmu dengan menjadi dosen di Univ. Ibnu Chaldun di Bogor.

Ke depannya, Ust Adianmengungkapkan karena banyak yang protes sama Kemi secara novel, termasuk anaknya protes kenapa Rahmat nggak jadian dengan Siti, maka beliau sedang menyusun lanjutannya Kemi. Ketika kita tanya, Rahmat akhirnya akan menikah dengan siapa pak? Dengan Siti yaa… Beliau hanya tersenyum dan berkata, nanti sedang dipikirkan jalan ceritanya bagaimana.

Tak terasa waktu Dzuhur telah tiba. Saatnya untuk menutup pertemuan dengan Ustad Adian Husaini. Foto bersama trus pulang deh ustadnya. Terima kasih banyak pak, terima kasih telah bersedia datang ke pertemuan Klub Buku dan berbagi banyak sekali ilmu dengan kami. Kalau nanti sambungannya Kemi sudah ada, bapak datang lagi yaaa..