Bukan Bayi Lagi

Waktu kakak bayi, kalau sakit sering saya timang-timang. Apalagi kalau dia panas, saya dekap, beri asi, timang-timang lagi, sampai panasnya turun.

Hari ini kakak panas lagi. Jadi sekolahnya kakak ikut suatu pagelaran bersama sekolah2 lain, nah latihan gabungannya diadakan pada malam hari. Sebetulnya pihak sekolah sudah mengantisipasi dengan memulai sekolah siang hari supaya anak2 punya waktu istirahat. Kakak juga sudah dapat vitamin, buah, susu namun sepertinya kakak nggak kuat menghadapi latihan bersama sampai malam hari. Akhirnya kakak malah gak bisa ikut pentas. Padahal udah semangat banget mau pentas lagi ๐Ÿ˜ฆ

Tapi ya sudahlah, yang mau saya ceritakan, di perjalanan ke dokter kakak kan mau bermanja-manja, namanya juga lagi atit. Ya sudah saya pangku dengan pikiran masih kayak jaman dulu. Ternyata… Aih berat bow! Begitu kakak duduk dipangkuan langsung emaknya susah napas. Kudu atur posisi biar gak megap2.

Duh kak, emang mamah nih suka ‘in denial’ ya kalau kamu tu pelan-pelan tambah besar. Rasanya masih kayak dulu aja kamu tuh. Akhirnya kakak ngglesor bobo, cuma kepalanya aja yang muat. Tepok2 pantatnya deh kayak dulu sambil elus2 rambutnya.

Ah kakak, sampai kapanpun kamu tetap bayinya mamah. Cepat sembuh ya kakak sayang. Kiss kiss.

Advertisements

Tips Parenting dari Kakak-kakakku

Sebagai anak bungsu, kadang enaknya sudah banyak contoh di depan pas giliran saya tinggal pilah pilih mana yang bagus mana yang tidak dan inilah beberapa tips yang saya dapat dari kakak2 saya:

1) Waktu kecil antar jemput anak setiap hari.

Di perjalanan adalah saat tempat mengutarakan segala macam keluh-kesah tentang keseharian anak-anak. Bahkan untuk anak perempuannya sampai SMA masih diantar ke sekolah, pulang baru dikasih pakai kendaraan umum (kata anaknya, “Asiikk… bisa ke Blok-M dulu…”)

2) Baca apa yang anak baca.

Kakak saya turut membaca dulu semua bacaan anak2nya. Sebetulnya mereka dibebaskan untuk membaca apa saja tapi khusus komik Jepang dia sensor. Yang sekiranya patut untuk umur mereka baru mereka boleh baca.

3) Dengar apa yang mereka dengar.

Musik keponakan dengan musik kakak saya nggak sama tapi dengan turut menaruh perhatian akan kesukaan mereka obrolan tetap nyambung. Anak merasa benar2 diperhatikan. Mereka kan sering mencari infonya di internet, meski nggak surfing bareng paling enggak kakak saya aware situs apa aja yang anaknya suka datangi.

4) Tonton apa yang mereka tonton.

Sama seperti bacaan, kadang2 kakak saya bergadang demi melihat dulu film2 pilihan anaknya. Mereka juga suka ke bioskop bareng. Waktu masih kecil kakak-kakak saya juga selektif dalam memilih tontonan di televisi. Sebisa mungkin mereka selalu menonton bersama. Kalau tidak bisa, sudah dipilih dulu apa yang bisa mereka tonton dan apa yang tidak boleh.

5) Terlibat dalam POMG/PTA/Komite sekolah.

Sebenarnya sih nggak ada pilihan wong soalnya salah satu kakak saya ortu tunggal. Tapi dengan terlibat jadi dia gak hanya tau teman2 anaknya tapi juga kenal ortu2nya. Saling jagalah gitu.

6) Menerima anak apa adanya dan memaksimalkan kemampuan anak.

Salah satu ponakan saya berkebutuhan khusus (dyslexia) jadi dia sempat masuk sekolah khusus sewaktu SD. Setelah lulus, dicarikan sekolah yang bisa dan mau menerima anak dengan kebutuhan khusus. Kemudian kakak saya memperhatikan kemampuan/hobi anaknya itu apa dan diarahkan kesana. Dia hobi gambar jadi dikasih les gambar dan dibebaskan dari tuntutan harus jadi sarjana (klo kakak sama adiknya yang normal tetap dituntut demikian). Alhamdulillah dengan demikian justru ponakan saya lebih semangat belajar dan tertantang untuk mencoba universitas. Alhamdulillah dia berhasil masuk salah satu universitas yang bagus disini dan sangat menikmati hari-harinya sebagai mahasiswa.

7) Makanlah bersama.

Setidaknya sekali dalam sehari kakak2nya makan bareng sama anak2nya. Biasanya saat makan malam. Ini juga menjadi ajang diskusi terbuka dan saling catch-up dengan berita masing2 jadi semua anggota keluarga tau pada ngapain aja mereka.

Hasilnya sejauh ini (sekarang mereka dah sma dan kuliah) anak2nya blum ada yang pacaran, sekolahnya bener, punya kegiatan mendukung, sayang banget sama Ayahnya (kakak saya) dan satu sama lain.

Soal antar sekolah ini sudah dibuktikan sama kakak saya yang lain. Tiap pagi diantar ayahnya dan memang menjadi ajang bonding ayah dan anak. Hal2 yang tidak diceritakan ke kakak saya (ibunya) dia ceritakan ke ayahnya. Untuk kemudian nanti ayahnya laporan ke ibunya lagi. hehehe…
Anak2 saya juga gitu, karena si abah harus siap ngalong di kantor sebisa mungkin kalau pagi dia yang mengantar sekolah.

Sebetulnya beberapa hal sih turunan dari kebiasaan keluarga kami. Hal seperti makan bareng atau baca buku itu kebiasaan yang ditularkan oleh orang tua kami yang disesuaikan dengan jaman. Tentunya ini semua ditambah dengan banyak berdoa minta perlindungan kepada Allah agar kita semua selalu sehat,selamat dan dalam lindungannya. Aaamiin.