Cerita Jumat : Mencari Surga

Saya selalu percaya pada Allah. Percaya pada kebesaranNya. Semakin kita mempelajari bumi dan seisinya semakin kagum pada ciptaanNya. Tapi apakah itu cukup?

Sebagai manusia, percaya pada Allah memang menjadi basis keimanan. Tetapi sebagai seorang muslimah, percaya saja tidak cukup. Percaya perlu disertai beriman, yaitu mematuhi dan menjalankan perintahNya serta menjauhi laranganNya. Sederhana? Sebetulnya iya, tapi kehidupan itu menjadi menarik dengan adanya tantangan. Tantangan terbesar adalah ya mematuhi dan menjalankan rukun Islam, terutama yang nomer 2; shalat 5 waktu, dasar dari segalaNya.

Lahir dan besar di Jakarta saya beruntung dibesarkan dalam lingkungan serta masyarakat Islami. Berpuasa di bulan Ramadhan adalah bagian dari kehidupan. Idul Fitri dan Idul Adha adalah waktu libur yang ditunggu-tunggu. Masjid dan mushalla bertebaran dimana-mana, adzan pun bisa dengan mudah didengar setidaknya sekali sehari. Lain halnya ketika kita tinggal di tempat yang mayoritasnya adalah non-muslim.

Lepas dari segala masjid dan adzan mampukah kita terus menjalankan perintahnya? Tentu ada yang bisa. Banyak malah. Sayangnya saya waktu itu termasuk dalam minoritas yang tidak/belum berhasil. Oh saya bisa menjalankan puasa dan tidak tergiur dengan hadiah Natal. Namun, ketika adzan tidak terdengar maka shalat pun lewat begitu saja.  Hmm…  Sungguh bukan contoh yang baik.

Lalu 9/11 terjadi. Ironis. Perlu suatu kejadian besar yang membangunkan keimanan saya. Sebegitu tak terduganya kejadian itu, menyulut banyak pertanyaan di benak. Benarkah karena Islam? Rasanya agama saya tidak mengajarkan kekerasan. Tapi, apakah agama saya itu? Bagaimana saya bisa membelanya kala saya sendiri tidak menjalankannya? Pelajaran SD pelan-pelan merangkak keluar, memberi kesadaran… Yep. Belum beriman! Tetapi, sebagai seorang yang percaya pada Allah, saya pun percaya pada rukun Iman. Lha, pegimane mau masuk Surga ente kalau begini caranya?

Allah pun memberikan tanda-tandanya. Pertama, Indhie datang mengunjungi saya sebelum pulang kampung. Jalan-jalanlah kita, ngobrol panjang lebar. Indhie yang mulai membangunkan saya untuk kembali mengerjakan perintahnya. Dengan gayanya yang bossy itu dia bilang, “Sita, misalnya kamu pake jilbab, hari ini kamu dapat +1. Trus kamu gak shalat, jadi -1. Tapi karena berjilbab hitungannya jadi 0. Sementara kalau enggak, hitungannya jadi -2. Tetap lebih untung kan?” Ya saya yakin hitungan pahala tidak semudah itu. Namun disederhanakan seperti itu membuat saya berpikir. Kemudian saya bertemu temannya Indhie, Ahmad*, seorang yang mengaku sebagai ‘born-again Muslim.’ Eh? Maksudnya?  Jadi Ahmad ini African-American alias kulit hitam. Keluarganya keturunan Muslim. Namun karena mereka lahir dan besar di Amerika, Islam hanya menjadi bagian dari sejarah keluarga, bukan sesuatu yang dijalankan. Sampai ayah ibunya mendapatkan hidayah. Bagaimana caranya saya nggak ingat pastinya setelah itu ayah ibunya pergi haji, kemudian mempelajari Islam kembali. Hal ini menular kepada Ahmad. Melihat orang tuanya serius mendalami Islam, dia pun turut mempelajari dan menjalankannya. Ahmad begitu serius sampai ia mengganti namanya, dari nama Barat ke nama Islam. Ia pun fasih menyitir hadits dan ayat dalam bahasa Arab. Saya tertegun. Kok bisa? Saya ‘kalah’ dari dia. Tanpa bantuan adzan, Ahmad menyimpan jadwal shalat di agendanya. Ketika waktunya tiba, iapun mencari tempat shalat. “Dimana saja kita boleh shalat kok, nggak harus di masjid,” demikian tegasnya ketika menggelar koran sebagai alas shalat di taman.

‘Ceramah’ Indhie, pertemuan dengan Ahmad, membulatkan keputusan untuk pulang kampung. Ya, saya juga masih kepingin masuk surga. Hal itu rasanya sulit didapat kalau saya terus merantau. Teman-teman saya orang baik-baik, boss saya malah sudah siap untuk membantu mengajukan visa tinggal kalau saya mau. Namun, masih ada dunia setelah dunia. Saya harus belajar kembali, mencari guru, mencari teman, mencari lingkungan yang bisa menolong. Bagi saya itu artinya kembali ke tempat asal. Dimana adzan berkumandang setiap saat, bila arah anginnya tepat maka kita bisa mendengar 2-3 adzan secara bersamaan.

Maka, ke Jakarta saya kembali. Mencari surga untuk 2 dunia. Insya Allah bisa!

 

*bukan nama sebenarnya

Cerita Jumat : Mudahnya Bersedekah

Oleh Drs. H.A. Hasan Ridwan, M.Ag.

Sedekah adalah pemberian dari seorang Muslim secara sukarela dan ikhlas tanpa dibatasi waktu dan jumlah (haul dan nishab) sebagai kebaikan dengan mengharap rida Allah. Dari segi bentuknya, sedekah sesungguhnya tidak dibatasi dalam bentuk uang, tetapi sejumlah amal kebaikan yang dilakukan seorang Muslim, termasuk sedekah.

Hadis dari Abu Musa r.a. berkata bahwa nabi saw. bersabda, ”Tiap Muslim wajib bersedekah.” Sahabat bertanya, ”Jika tidak dapat?” Nabi menjawab, ”Bekerjalah dengan tangannya yang berguna bagi dirinya dan ia dapat bersedekah.” Sahabat bertanya lagi, ”Jika tidak dapat,” jawab Nabi, ”Membantu orang yang sangat membutuhkan.” Sahabat bertanya lagi, ”Jika tidak dapat?” Jawab Nabi, ”Menganjurkan kebaikan..” Sahabat bertanya lagi, ”Jika tidak dapat?” Nabi menjawab, ”Menahan diri dari kejahatan, maka itu sedekah untuk dirinya sendiri.”

Hadis tersebut menggambarkan 4 tingkatan dalam bersedekah.

Pertama, bekerja dan berusaha dengan kemampuannya sehingga ia mendapat keuntungan dan dari keuntungan itu ia dapat bersedekah. Keutamaan seorang Muslim jika ia bekerja dengan tekun penuh keikhlasan, ia akan kuat secara ekonomi yang dipandang oleh Allah lebih baik dan lebih dicintai. Kepada Muslim yang diberi rezeki oleh Allah kemudian ia menyedekahkannya di jalan Allah kita patut meneladaninya.

Hadis dari Abdullah bin Mas’ud riwayat Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah bersabda, tidak ada iri hati yang diperbolehkan, selain terhadap dua hal, yaitu, terhadap seorang Muslim yang dianugerahi harta benda dari Allah, lalu tergeraklah hatinya untuk menghabiskannya menurut jalan yang hak dan terhadap seorang Muslim yang telah diberi ilmu yang bermanfaat oleh Allah, lalu ia menggunakannya untuk mengadili manusia dan mengajarkannya.”

Kedua, membantu orang yang sangat butuh bantuan. Sangat dianjurkan sebagai salah satu bentuk kepedulian kemanusiaan.

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 280, ”Dan jika orang yang berutang itu dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia memiliki kelapangan dan kemampuan. Dan bersedekahlah sebagian atau seluruh piutangnya itu lebih baik bagimu jika kamu betul-betul tahu.”

Ketiga, menyuruh kepada kebaikan. Kebaikan yang dilakukan oleh seseorang karena perintah dari seorang Muslim akan menjadi sedekah karena siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka seolah-olah ia melakukan kebaikan sebagaimana seseorang melakukan kebaikan.

Keempat, menahan diri dari perbuatan yang buruk yang dapat menjerumuskan seseorang pada kezaliman sebagai bentuk sedekah, karena menahan diri adalah sikap yang cukup sulit untuk dilakukan dan hanya orang yang sudah terlatih saja yang akan mampu menahan diri dari segala bentuk kejelekan. Sedangkan latihan menahan diri hanya dapat dilakukan oleh orang yang sedang berpuasa.

Dari penjelasan hadis di atas, sedekah tidak mesti dengan hanya mengeluarkan sejumlah materi atau uang, tetapi semua amal kebajikan yang dilakukan seorang Muslim, seperti menciptakan kebersihan lingkungan, bersikap santun, memberikan pendidikan agama kepada anak dan istri dan bahkan memberikan senyuman pun adalah sedekah (H.R. Baihaqi).

*terima kasih atas sharingnya kak Moenk*

Cerita Jum’at: Sepintas Tentang Menjadi Muslim Yang Shaleh

A green version of http://commons.wikimedia.or...

Image via Wikipedia

“Laki-laki sholeh, tidak karena dia beragama, tapi juga harus berakhlak baik, meneladani Rasululloh SAW, agar dia bisa memuliakan keluarganya, menjaganya dari siksa api neraka, sebelum dia keluar mendakwahi orang lain. Wallohu a’lam bishshowaab..

Begitu juga dengan muslimah.. Shalihah tidak semata karena kerudungnya saja, tapi bagaimana dia sanggup menjaga lahir-bathin anak-anaknya dari hal-hal yang meragukan. Suksesnya seorang muslimah adalah ketika anak-anaknya tidak saja pintar, tapi juga cerdas menghadapi zamannya, sehat raganya dan tangguh akidahnya.. SubhaanAllah ..

Jadi, Muslim seutuhnya adalah yg bisa melakoni 2 hal dlm hidupnya;

1. Ruhbaanun fil-Lail

2. Fursaatun fin-Nahaar.

Malamnya bagaikan Rahib (ibadahnya) dan siangnya bagaikan kuda (kerja keras). That’s d Real Moslem! 🙂 Setujuu? Alhamdulillah…”

Kenapa sepintas? Karena ini asalnya dari renungan atau muhasabah status fb bu guru Moenk, tapi karena sepasang rasanya lebih cocok bila disatukan agar pemahaman saya lebih jelas.

Bagaimana Allah tidak adil? Masing-masing sudah diberi ‘job desk’nya dengan jelas. Selama kewajibannya dilaksanakan dengan baik maka seyogianya kerukunan dan keharmonisan mengikuti namun dasar manusia kadang-kadang kurang bersyukur masih saja suka mencari-cari kekurangan atau ketika ada suatu masalah, bukannya memperbaikinya terlebih dahulu malah membuat masalah baru yang bisa jadi malah merusak yang sudah ada.

Karena itu, mari kita perbanyak syukur, introspeksi dan terus-menerus berusaha memperbaiki diri agar termasuk orang-orang yang sholeh dan sholehah. Aamiien…

*terima kasih kak Moenk atas sharingnya*

Tentang Feminisme

Disclaimer: ini adalah hutang tulisan pendapat, bukan dicanangkan sebagai tulisan ilmiah sehingga tidak mencantumkan referensi layaknya sebuah tulisan Opini untuk media.

Bismillah,

Sependek yang saya mengerti, gerakan feminisme adalah mencari kesetaraan gender yang intinya adalah persamaan hak untuk perempuan dan laki-laki sementara feminis adalah orang yang menganut pahamnya. Gerakan ini memang dimulai dari Barat dari sekitar abad 18an. Sekarang feminisme seringkali mendapat konotasi buruk, seolah-olah seorang yang mengaku feminis artinya melarikan diri dari kodratnya sebagai perempuan, seolah-olah emansipasi itu menjadi jawaban bagi para pria untuk juga lari dari kodratnya. Padahal bukan itu maksud awalnya.

Membaca ulang beberapa artikel tentang feminisme dan dengan pemahaman saya sekarang ini maka tidak heran kalau gerakan ini adalah dari Barat karena disana tidak ada tokoh/panutan yang secara jelas dan gamblang membela kaum perempuan. Tidak ada definisi yang jelas kalau mengacu pada gereja. Gereja hanya punya 10 Commandments (perintah) yang menjabarkan peraturan hidup secara garis besar (tidak boleh membunuh, mencuri, menyeleweng, dll) namun tidak ada keterangan yang detail tentang hak dan kewajiban ayah, suami, istri, ibu, anak, dll. Gereja tertentu bahkan melarang perceraian apapun alasan dan situasinya. Jadi nggak heran kalau para perempuan Barat itu akhirnya harus berteriak meminta persamaan hak mereka. Hak untuk belajar, untuk memilih, untuk hidup tanpa bergantung pada pria karena pada kenyataannya perempuan kadang harus hidup sendiri. Tidak selamanya ada laki-laki yang bisa menopang dan melindungi mereka. Ini, hemat saya, adalah inti dari gerakan feminisme.

Bandingkan dengan panutan kita, Nabi Muhammad SAW. Dengan minimnya pengetahuan agama saya, yang lebih pandai bisa menjelaskan bahwa sebelum Islam tiba, status perempuan di Jazirah Arab sama atau malah mungkin lebih rendah dari unta. Bayi perempuan dianggap aib, dikubur hidup-hidup. Tidak punya hak waris, bisa dialih tangan sesuka hati, tidak bisa memilih jodohnya, singkat kata tidak ada perlindungan sama sekali terhadap perempuan. Datanglah Nabi Muhammad SAW dan Islam dimana perempuan dan laki-laki mempunyai hak dan kewajiban masing-masing yang apabila dikerjakan dan dilakukan sebagaimana mestinya niscaya perempuan tidak merasakan apa-apa selain kedamaian dan ketentraman. Islam, sebagaimana yang diajarkan kepada saya, sangat memperhatikan dan membela perempuan. Islam tidak misoginis. Dalam hal keimanan, laki-laki dan perempuan adalah setara. Dari ayat pertama yang turun saja, sudah jelas ini agama yang egaliter. “Iqra!” Bacalah! siapa? semua penganut Islam harus membaca. Bukan, bacalah hai laki-laki atau hanya laki-laki yang harus membaca. Hanya satu kata yang berlaku untuk semua, “Iqra!”

Perintah membaca ini bagi saya maknanya sangat luas. Kita, lelaki dan perempuan Muslim, haruslah belajar, harus membaca, harus terus mengasah otak, menimba ilmu sampai ajal menjelang. Belum lagi ajaran, anjuran dan perintah-perintah yang datang belakangan mengenai perempuan a.l. berhak atas hak waris, berhak menolak jodoh, dan berhak menggugat cerai. Memang mereka yang suka mencela sering mencibir dan berkata, lah warisannya kan 2:1, cowok dapat 2, cewek dapat 1. Betul, tapi 1 yang didapat perempuan benar-benar milik dia untuk dipakai sesuka hatinya. Mau dia beli es krim, emas, eye shadow atau mau dia bakar semua kek itu hak dia. Sementara dengan 2 yang didapat laki-laki dia masih harus menghidupi anaknya, istrinya, ibunya dan juga membantu saudara-saudaranya termasuk saudara perempuannya yang dapat 1 itu. Ada hak mereka dalam 2 yang didapat.

Masalah jodoh, adalah hak perempuan untuk menolak seorang pria yang diajukan padanya apabila dirasa pria itu tidak cocok baginya. Perempuan berhak mendapat seorang suami yang menghargai dan menghormati dia apa adanya. Soal cerai, tentu saya tidak menganjurkan perceraian, ini adalah hal yang sangat dibenci Allah, tapi, lagi-lagi Allah membuktikan bahwa dalam perjalanan hidup manusia bisa berubah, yang tadinya baik menjadi jahat. Yang tadinya mimi lan mintuna tiba-tiba merasa sangat asing dan tidak bisa memahami lagi pasangannya. Tentu yang paling baik adalah berusaha memperbaiki, tapi ada kalanya situasi sedemikian rupa sehingga bertahan menikah mungkin lebih banyak mudharatnya ketimbang berpisah. Misalnya, suami menjadi pelaku KDRT. Hidup dalam kecemasan, ketakutan, hari ini digebukin gak ya? tentunya bukan merupakan kehidupan yang sehat nan waras. Belum lagi kalau ada anak dalam pernikahan itu. Ayah yang seharusnya melindungi malah mengajari kekerasan. Bukan itu yang dimaksud dengan kehidupan pernikahan! Lagi-lagi para pencibir dan pencela itu kadang berkata, ah perempuan Islam tidak boleh menikah dengan non-Muslim, menghalangi cinta, atau, cowok Islam mah kerjanya kawin melulu. Tapi ya sudahlah itu kita bahas kapan-kapan saja, nanti melencengnya kejauhan.

Waktu kecil, saya tidak merasakan perlunya punya ‘faham feminisme’ karena Islam yang pada dasarnya sudah feminis ini diterapkan di keluarga saya. Ayah saya bertanggung jawab atas keluarganya, menyekolahkan semua anaknya, menyanyangi kami, tidak melakukan KDRT, meloloskan hampir semua permintaan yang berkaitan dengan pendidikan misalnya sering membelikan buku, membolehkan ikut les ini-itu, dll. Tidak perlu saya sebagai anak perempuan menuntut persamaan hak dengan abang saya karena orangtua saya sudah memperlakukan kami dengan adil. Kami tidak merasa dibedakan, semua diberi kesempatan yang sama, tinggal bagaimana kita menyikapi hal ini. Tidak ada standar ganda. Semua anak tidak boleh merokok. Semua anak tidak boleh naik motor. Semua anak hanya boleh menyetir setelah ada SIM. Semua anak boleh bersekolah dimana saja selama terjangkau. Bahwa kemudian abang saya lebih sering memakai mobil daripada kakak perempuan saya itu hal lain lagi. Itu masalah kecakapan negosiasi dan penjadwalan 😉

Setelah besar dan berjalan-jalan, baru saya ngeh bahwa tidak semua anak perempuan tumbuh besar dengan situasi seperti itu, apapun agamanya. Ada yang orangtuanya suka melarang dengan alasan, “Kamu anak perempuan!” sementara saudara laki-lakinya melenggang santai karena yaa dia kan anak laki-laki. Jujur saya kaget ada yang berpendapat bahwa perempuan tidak boleh sekolah, perempuan tidak boleh bekerja, tidak boleh ini-itu, pokoke harus dirumah! Iya klo ada ayah atau suami. Lha klo janda gimana? Emang segampang itu menikah lagi? Klo janda anak tunggal nggak ada abang, paman, sepupu laki2 trus gimana? Suruh ikutan dikubur bareng suami? Atau yatim-piatu anak tunggal? Ikutan dikubur bareng ortu? Atau ‘favorit’ saya, “Cowok itu ibarat teko, isinya boleh berceceran dimana-mana asal tekonya balik ke rumah. Cewek mah terima ajalah.” Halaah… Jijay bajaj! Ini terjadi dimana-mana, agama apa saja, negara mana saja. Belum lagi distorsi-distorsi yang dilakukan lelaki atas nama agama demi mempertahankan kekuasaan. “Perempuan tidak boleh keliaran diatas jam sekian, yang masih di jalan pasti pelacur!” Dyeileee… gigi lu gendut! Suudzon amat sih!!!

Saya yang tadinya nyaman dan cuek menjadi peduli. Nurani saya terusik sementara saya enak-enak kuliah ada saudara saya yang sedang diperdagangkan untuk menjadi entah apa dimana tanpa tau haknya apa, tanpa tau apakah akan kembali lagi secara utuh atau tinggal nama. Ketika belum semua perempuan disini mendapatkan pendidikan sampai setidaknya SMP seperti yang dicanangkan Diknas? Ketika perempuan bekerja belum mendapat jatah cuti hamil selama 6 bulan atau tempat yang layak untuk menyusui/memompa ASI di tempat kerjanya? Ketika seorang perempuan mengeluh ingin berhenti bekerja tapi tidak ingin dilecehkan suaminya karena hanya ‘diam di rumah’? Ingat, tidak semua perempuan bekerja karena lari dari kodrat. Banyak yang harus dan banyak pula profesi yang membutukan perempuan sebagai profesional. Atau di ranah pribadi, ketika perempuan yang menjadi korban KDRT belum mendapat perlindungan dan dilindungi sebagaimana mestinya tanpa harus takut dikucilkan atau malah dicemooh oleh polisi dan masyarakat, bagaimana saya bisa nyaman mengatakan saya bukan feminis? Butuh lebih dari 1 dekade untuk korps kepolisian Amerika untuk merubah sikap dan pendekatan mereka terhadap KDRT, bahwa ini adalah tindakan kriminal.

Apakah hal-hal diatas bertentangan dengan agama? Bertentangan dengan contoh Nabi? Bagaimana kita bisa bilang bahwa feminisme bertentangan dengan Islam ketika jelas-jelas Islam mempromosikan kesetaraan gender dengan jelas dan tegas? Bahwa pelaku-pelakunya kemudian memelintirkan ayat untuk kepentingan mereka, yah itulah kehidupan. Orangnya yang gendheng agamanya yang kena. Dus, tabayyun. Cari guru lebih dari satu. Baca tafsir lebih dari satu. Iqra.

Selama perempuan masih merasakan ketimpangan dan ketidakadilan, sebetulnya justru mendorong perempuan menjadi radikal. Apalagi kalau pelintiran-pelintiran itu dilestarikan, tidak usah heran. Siapa yang nyaman hidup dalam ketidak-adilan? Selama ketimpangan itu masih terjadi, bagaimana saya bisa tidak merangkul paham feminisme dan mendeklarasi diri seorang feminis?