Langit Biru Chika

IMG_2570

 

 

 

 

 

 

 

Di bawah langit biru Australia
tetiba teringat aku padamu, Chika
bercerita tentang berjuta cita-citamu

Tentang keinginanmu
untuk bepergian ke berbagai negara
termasuk Amerika, tuk bekerja disana

Dan aku, sangat bisa membayangkanmu
bekerja dan tinggal disana
mungkin di Williamsburg, Queens, atau TriBeCa

Aku bisa melihatmu,
dengan boots dan scarf berwarna
berjalan dari blok ke blok bersama para warga

Commuters, New Yorkers, Manhattanites,
you’ll blend right in!
Of that I’m sure  😉

Ah, aku rasa
tempatmu saat ini lebih ok ya?
lebih keren dari penthouse di Upper East Side

Hanya saja,
sangat jauh dari kita semua

Tuhan menentukan, sementara manusia
hanya bisa berencana…

Sangat jelas langit di Australia
gumpalan awan putih dan langit biru
sejelas daftar cita-citamu

Dalam naungan cakrawala biru
secerah lebarnya senyummu
apa kabarmu disana?

Doa pelipur duka
bahagia di nirwana ya

 

IMG_2202

 

 

 

*between Canberra-Lakes Entrance, Dec 2013*

Advertisements

Duaaar!!!

Apa sebenarnya yang dicari?
Apa sebenarnya yang diinginkan?
Protes?
Mencari nama?
Jangan bawa-bawa nama Tuhan. Tak pantas!

Apa sebenarnya tujuannya?
Mengoyak status quo?
Mengguncangkan stabilitas?
Pengecut!

Kenapa harus kau korbankan orang lain?
Untuk apa kau bawa-bawa mereka?

Senangkah kau melihat kami berduka?
Sukakah kau melihat kami terpuruk?

Kau kira engkau siapa?
Cuih!

Kau tak kan bisa lari dariNya
Kau tak kan bisa bersembunyi padaNya

Suatu hari
Suatu saat
Kau akan menjawabNya
Semoga kau siap.

*turungunungsore* sas 170709

Nu Ku Abdi Dipikanyaah

Aki saya seorang Polisi
Seorang penyidik
kepala bagian forensik

Membuat saya penasaran
dengan serial CSI
karena Aki adalah Grissom

Bahkan lebih, karena Aki kadang menyamar
untuk menyelesaikan kasus
bila dibutuhkan

Grissom dan Mac
sedikit banyak
mengobati kerinduan hati

Seperti inikah kasus-kasus Aki?
Beginikah cara menyelesaikan investigasi?
Dapatkah penjahatnya selalu Aki penjarakan?

Aki Tata yang bangga dengan institusi kepolisian
bersemangat memindahkan ilmu
untuk generasi baru

Apakah Aki akan paham dengan situasi sekarang?
Apakah Aki akan bangga dengan citra buaya?
Apakah Aki akan paham, yang namanya tidak ada di kertas pemilihan justru lebih ‘sakti’?

Alhamdulillah Aki sudah nyaman
bersama Nini disana
Tidak perlu merasakan
Lalakon nu pikasebeuleun

Cukup kami saja
Insya Allah kami bisa
menghadapi
Lalakon nu geuleuh

Sujud syukur berserta doa
untuk Aki dan Nini
Suatu hari nanti
kita bertemu lagi

Hormat dan cinta
dari incu yang rindu

tol lingkar dalam kota 20/11/09

Tentang Salma

Salma datang
Dari pulau seberang
dengan tas kecil dan segenggam harapan

Salma datang
Lewat telepon tetangga
Mengatakan, “Ambillah anak ini, aku tak mau menganiaya,”

Salma datang
Dengan daya pas-pasan
Menguji iman dan kesabaran

Dia jujur
Meski bebal
Dia lugu
Sehingga mudah tertipu

Pelan-pelan,
Salma mulai terprogram
Layaknya robot
Mengerjakan tugas-tugasnya
Meski berkala
Harus didefrag
Agar tidak melenceng

Lebaran demi lebaran
Salma endud pulang
Salma kurus datang

Salma yang sederhana
Bermimpi menjadi penjaga toko
Mengenakan kemeja putih
Celana panjang hitam
Dan sepatu hitam

Sampai hadir seorang pria
Memberinya mimpi yang berbeda
Disambut dengan sukacita

Salma pulang
Dengan senyum cemerlang
Tas di tangan kiri, kekasih di tangan kanan

Salma pulang
Dengan sejuta harapan
Disertai haru dan doa

***

Lebaran datang
Lebaran selesai
Mendadak ada Salma
Kurus dan hitam
Memohon tuk kembali
Tuk kelangsungan janinnya

Salma bekerja extra keras
Untuk membuktikan ia pantas
Bergabung kembali

Tapi,
ada yang merengek memerlukan istri
Dengan berat hati
ditarik kembali

Salma pulang
Dalam bimbang
Tas kecil di kiri, suami di kanan, dan bayi berkembang

***

Salma pulang
Lewat ketokan tetangga,
“Pendarahan, bayi sungsang, tak ada pertolongan…”

Ah Salma!

Salma pulang
Membawa kenangan
Tertawanya yang sederhana
Masakannya yang (akhirnya) enak
Suka membuat deg-degan
kalau ke pasar naik angkot sendirian

Salma pulang
Kalah berjuang
Di pulau seberang

Terima kasih Salma
Apabila…
Kalau saja…
Seandainya saja…

Terima kasih Salma
Dari pulau seberang
Damailah sekarang

61209 lb bulus – happy women’s day

Joyyo si Ogo

Mama Bella dan Stella

Waktu Bella lahiran, 3 anak yang pertama dia lahirkan sendiri. Tapi karena melihat dia kok sepertinya masih rada gimana gitu, sepertinya masih ada anak lagi. Daku jadi bidan dadakan deh, ngelus2 perutnya trus kasih semangat supaya si Bella punya tenaga buat mendorong. Dan benar… keluarlah sebundelan kucing kecil yang diberi nama Stella.

Mungkin karena lahirannya aku bantu, jadi sama si Stella ini ada rasa sayang yang agak lebih dikit gitu. Dibanding sodara2nya, si Stella ini yang paling kalem tapi ‘ganas’. Klo udah bercokol mimi sama emaknya pasti nggak bisa diganggu gugat ama yang lain. Gak heran dia paling ndud dibanding sodara2nya, the Little Lempers.

Menjadi Stello

Seiring dengan membesarnya the little lempers, lama2 jelaslah klo si Stella itu…. Stello! Dah, ganti nama. Eh, pas babenya anak2 pulang haji, melihat si Stello matanya kayak pake topeng item gitu berkomentarlah, “Stello kok kayak Zorro ya?” Wah si kakak girang banget berubah lagilah namanya jadi Zorro.

Trus biasalah sama kakak kan dimanja-manja jadi ada nama kecilnya misal Bella jadi Bebel, so Zorro jadi Joyyo. Tapi si ade nggak mau kalah, emang kakak doang yang bisa ganti2 nama kucing? Menurut Ade, daripada Joyyo lebih bagus…. Jokko!!!

Zorro kemudian Jokko

Tapi sejak diganti jadi Jokko emang dia jadi lebih kolokan. Lari sana lari sini, ganggu Lila, ganggu Bella, sampai sekarang hobinya yang terbaru adalah… gigit kaki! Semua dah pernah jadi ‘korban’, kaki kakak, ade, babeh, aku… Jiaah… Selain gigit kaki, dia juga demen ngintil. Kek pagi ini aku diintilin kemana-mana sampai ke kamar mandi. Waktu mau ngaji aja masih itu kaki mau digigit-gigit.

Kucing cowok kali ya? Jadi jail bin konyol gitu. Emang si Joyyo ini menggemaskan sih, patut untuk di kremus. Mungkin juga karena sering dikremus ya jadi kolokan? Entahlah yang pasti kita semua sayaaang sama Joyyo si Ogo 😀  (kecuali babeh)

Joyyo si Ogo

Kartu Setan?

Belakangan ini saya membaca entah blog atau sekedar postingan milis tentang kartu kredit. Rata2 menyatakan bahwa mereka tidak sudi memiliki kartu kredit karena tidak ingin hidup dalam hutang. Ternyata anggapan ini masih subur dan berlaku toh?

Tsk tsk tsk…. punya kartu kredit tidak otomatis mendapat vonis hidup dalam hutang lah yaw… sama seperti semua teknologi, kartu kredit itu semata-mata untuk memudahkan transaksi tanpa harus membawa uang tunai dalam jumlah banyak. Kalau pernah mengalami kecopetan atau kehilangan dompet seperti saya baru terasa kalau punya kartu kredit cukup menolong. Telpon, blok semua kartu, apply baru. Selesai. Kehilangan diminimalisir. Tapi coba kalau kita pas lagi mau belanja jadi sedang membawa uang tunai agak banyak. Gak bakal balik tu duit. ABCDE gak seh….

Yang harus kita sadari adalah, JANGAN MEMBELI DILUAR KEMAMPUAN!!! Semua yang kita gesek itu harus dibayar. Sebelum digesek coba pikir, tanpa kartu kredit bisa nggak kita membayar ini tunai? Kalau tidak bisa, jangan gesek!

Ketika tagihan datang, langsung bayar full jadi kita tidak kena tagihan tambahan. Kartu kredit nggak akan menagih lebih dari harga kok. Kalau kita beli barang seharga 100rb, ya dia menagihnya 100rb juga asal kita bayarnya sebelum tenggat waktu. Kalau kita telat bayar baru kita kena denda atau kena bunga. Wajarlah karena berarti pembelian kita dibayarkan terlebih dahulu. Ini baru kita ngutang beneran. Makanya, kembali lagi ke poin semula, kalau pada akhir bulan nggak bisa dibayar, ya jangan beli!!!

Ada yang bilang kan udah ada kartu debit, ngapain lagi punya kartu kredit? Ya itu memang pilihan masing2 ya. Tapi beberapa kartu kredit memberi servis tambahan seperti aneka diskon di tempat makan, bioskop, buku, dll. Trus biasanya ada program point reward atau cashback yang nantinya bisa dibelanjakan kembali.

Kalau buat saya juga penting kalau harus ke rumah sakit. Asuransi kesehatan kami menerapkan sistem reimburse, yang berarti bayar dimuka, diganti belakangan. Padahal tau sendiri biaya kesehatan pan cihuy juga. Nah setidaknya kartu kredit menjamin kita bisa masuk dan dirawat. Syukur2 pas tagihan datang reimbursenya juga dah keluar. Kalau belum ya bayar saja semampu kita. Kan trus kena denda? Lha ya namanya juga sakit, siapa sih yang minta? Toh ketika asuransi mengganti tagihan yang tersisa trus lunas.

Betul, saya juga suka baca kadang ada penerbit kartu kredit yang error yang salah biling, suka meneror klien, dll. Well, itu kan pegawainya yang ngaco. Nyebelin sih kalau bulak-balik terima lelepon dari tukang tagih. Udah dibilangin ntu orang dah gak tinggal disini n gw kagak tau dia ada dimana masih aja pada nilpun. Ih mbok ya kamu tu sebelum ciao dari rumah ini bayar dulu lho utang2nya… ah curcol deh 😀

Jadi ngaca liat diri sendiri, dah bisa mengontrol nafsu belanja belum? Kalau belum jangan salahkan kartunya. Okeh!

originally posted on March 2010

Tips Parenting dari Kakak-kakakku

Sebagai anak bungsu, kadang enaknya sudah banyak contoh di depan pas giliran saya tinggal pilah pilih mana yang bagus mana yang tidak dan inilah beberapa tips yang saya dapat dari kakak2 saya:

1) Waktu kecil antar jemput anak setiap hari.

Di perjalanan adalah saat tempat mengutarakan segala macam keluh-kesah tentang keseharian anak-anak. Bahkan untuk anak perempuannya sampai SMA masih diantar ke sekolah, pulang baru dikasih pakai kendaraan umum (kata anaknya, “Asiikk… bisa ke Blok-M dulu…”)

2) Baca apa yang anak baca.

Kakak saya turut membaca dulu semua bacaan anak2nya. Sebetulnya mereka dibebaskan untuk membaca apa saja tapi khusus komik Jepang dia sensor. Yang sekiranya patut untuk umur mereka baru mereka boleh baca.

3) Dengar apa yang mereka dengar.

Musik keponakan dengan musik kakak saya nggak sama tapi dengan turut menaruh perhatian akan kesukaan mereka obrolan tetap nyambung. Anak merasa benar2 diperhatikan. Mereka kan sering mencari infonya di internet, meski nggak surfing bareng paling enggak kakak saya aware situs apa aja yang anaknya suka datangi.

4) Tonton apa yang mereka tonton.

Sama seperti bacaan, kadang2 kakak saya bergadang demi melihat dulu film2 pilihan anaknya. Mereka juga suka ke bioskop bareng. Waktu masih kecil kakak-kakak saya juga selektif dalam memilih tontonan di televisi. Sebisa mungkin mereka selalu menonton bersama. Kalau tidak bisa, sudah dipilih dulu apa yang bisa mereka tonton dan apa yang tidak boleh.

5) Terlibat dalam POMG/PTA/Komite sekolah.

Sebenarnya sih nggak ada pilihan wong soalnya salah satu kakak saya ortu tunggal. Tapi dengan terlibat jadi dia gak hanya tau teman2 anaknya tapi juga kenal ortu2nya. Saling jagalah gitu.

6) Menerima anak apa adanya dan memaksimalkan kemampuan anak.

Salah satu ponakan saya berkebutuhan khusus (dyslexia) jadi dia sempat masuk sekolah khusus sewaktu SD. Setelah lulus, dicarikan sekolah yang bisa dan mau menerima anak dengan kebutuhan khusus. Kemudian kakak saya memperhatikan kemampuan/hobi anaknya itu apa dan diarahkan kesana. Dia hobi gambar jadi dikasih les gambar dan dibebaskan dari tuntutan harus jadi sarjana (klo kakak sama adiknya yang normal tetap dituntut demikian). Alhamdulillah dengan demikian justru ponakan saya lebih semangat belajar dan tertantang untuk mencoba universitas. Alhamdulillah dia berhasil masuk salah satu universitas yang bagus disini dan sangat menikmati hari-harinya sebagai mahasiswa.

7) Makanlah bersama.

Setidaknya sekali dalam sehari kakak2nya makan bareng sama anak2nya. Biasanya saat makan malam. Ini juga menjadi ajang diskusi terbuka dan saling catch-up dengan berita masing2 jadi semua anggota keluarga tau pada ngapain aja mereka.

Hasilnya sejauh ini (sekarang mereka dah sma dan kuliah) anak2nya blum ada yang pacaran, sekolahnya bener, punya kegiatan mendukung, sayang banget sama Ayahnya (kakak saya) dan satu sama lain.

Soal antar sekolah ini sudah dibuktikan sama kakak saya yang lain. Tiap pagi diantar ayahnya dan memang menjadi ajang bonding ayah dan anak. Hal2 yang tidak diceritakan ke kakak saya (ibunya) dia ceritakan ke ayahnya. Untuk kemudian nanti ayahnya laporan ke ibunya lagi. hehehe…
Anak2 saya juga gitu, karena si abah harus siap ngalong di kantor sebisa mungkin kalau pagi dia yang mengantar sekolah.

Sebetulnya beberapa hal sih turunan dari kebiasaan keluarga kami. Hal seperti makan bareng atau baca buku itu kebiasaan yang ditularkan oleh orang tua kami yang disesuaikan dengan jaman. Tentunya ini semua ditambah dengan banyak berdoa minta perlindungan kepada Allah agar kita semua selalu sehat,selamat dan dalam lindungannya. Aaamiin.

Dekatilah Anakmu…

baca status temen pagi ini yang ngasih link ke suatu berita kok ya ngenes to, lagi-lagi bukannya introspeksi tapi menyalahkan faktor luar sebagai penyebabnya. Biasalah masih masalah pornografi dan anak. Iya bener, dengan adanya internet sekarang akses memang lebih mudah dan gampang tapi ya jangan melulu salahkan internet dong. Pemblokiran juga menurut saya bukan jawabannya meski banyak yang ngotot demikian dengan memberikan Cina sebagai contoh. Iya, tapi di Cina juga… ah sudahlah… saya nggak pengen membandingkan negara.

Bagi saya, adalah tugas kita sebagai orang tua untuk mendekati anak, mengajarkan yang baik dan menjauhi yang salah. Tidak bisa kita limpahkan ke sekolah, tidak bisa menyalahkan kerjaan, teman, tetangga, warnet, dll. Anak sudah dikasih perhatian cukup belum? Sudah membuat rambu2 yang disepakati bersama belum? Misalnya nih:

1. Aduuh gimana ya sekarang gampang bener akses video pake hp.
Lha, anaknya kenapa dikasih hape yang canggih? Ya abis kan sekarang semua hp gprs.
Nah, emang udah perlu pake hp? SD anak saya termasuk yang ketat soal hape, aih jangankan SD, SMP keponakan saya aja masih nggak membolehkan hp. Orang tua kalau perlu apa2 telpon ke sekolah! Titip pesan ke wali kelas nanti diteruskan. Secara gitu rata2 anak2 ini masih sd dan smp. Seberapa perlunya mereka ber hape ria? apalagi ber bb?

2. Abis mereka kerjanya main internet/nonton video/nonton tipik terus.
Udah dikasih batasan belum? Tivi misalnya. Kontrol dong berapa jam anak boleh nonton tivi atau apa yang mereka boleh tonton. Libatkan orang rumah dalam proses kontrol ini.
Saya memang termasuk orang tua yang membolehkan anak nonton tivi. Tapi saya berulang kali menegaskan channel apa saja yang boleh mereka lihat. Kalau mereka ingin nonton sama mbaknya, hanya beberapa program yang mereka bisa nonton bareng – musik dan kuis. Selainnya nggak boleh.
Secara nih ya, saya nggak punya duit buat bikin program tivi sendiri, gak punya akses ke yang punya saluran tipik, dan belum ada waktu untuk jadi aktifis tipik, ya saya pragmatis aja. Saya nggak mungkin menonton sama anak setiap saat, jadi saat punya rezeki lebih, ambil tivi langganan yang jauuuh lebih aman.

Tapi tivi berbayar kan mahal? Konsekuensinya? ya harus nonton bareng anak. Percayalah, sebelum tivi berbayar masuk rumah entah berapa jam saya habiskan menonton Dora, Spongebob dan teman2. Spongebob? kan kasar? lho justru, saat yang tepat untuk mengajari anak jangan berperilaku seperti itu yaaa itu nakal, nggak baik :p hehehe… aye mantan anak tipik siy

3. Ya elu enak di rumah, gw kan kerja cape…
emang ibu bekerja hanya dikau seorang? Tuh temen aye singel fighter! Kagak ade lakinya. Malah suka bikin aku malu karena doi lebih canggih ngurus anak ketimbang aku yang ibu rt.

Kalau kayak gini saya jadi ingat masa SMA dimana rata2 ibu temen2ku tu ibu rt, hampir nggak ada yang ibu bekerja tapi toh hasilnya variatif. Ada yang anaknya tetap nge-drugs, ada yang enggak. Jadi nggak efek apakah ibunya kerja atau tidak. Karena dalam semua situasi ada yang anaknya baik-baik saja, ada yang anaknya kacau balau. Semua kembali pada orang tuanya masing2.

So pada intinya, dan ini sebenernya jari nunjuk diri sendiri juga, dekatilah anakmu. Kenali dan sayangi mereka. Practice what you preach – nah ini gw banget nih, kadang2 masih bersalah do as I say not as I do. Bad mom.

Saya nggak bilang ini gampang. Buat saya juga susah. Setiap hari harus ingat untuk ikhlas dan sabar, supaya nggak cepet marah, nggak cepet ngambek. Setiap hari harus ingat bahwa anak itu mahluk individu. Kadang kan suka loncer membandingan adik dan kakak, padahal yaa mereka kan beda. Ya emang gak ada yang bilang jadi ortu itu gampang kok. Tapi ini kan konsekuensi dari perbuatan diri sendiri. Sapa suruh menikah dan punya anak?

But, here they are now. Saya sudah menjadi orang terpilih, terpilih untuk menjadi ibu. Mau nggak mau, suka nggak suka harus bertanggung jawab. Klo jatuh, ya bangun lagi. Klo marah ya minta maaf. Peluk anak. Percayalah, I’m far from being an ideal mom, bukan materi Ummi Award, paling enggak saat ini. hehe…

Jadi orang tua, jangan salahkan ini itu yaa. Dekati anaknya. Memang nggak ada jaminan, tapi insya Allah, orang tua yang dekat dengan anaknya akan membuat anaknya lebih sayang dan menghargai dirinya sendiri. Semoga.

Tentang Salma

Salma datang
Dari pulau seberang
dengan tas kecil dan segenggam harapan

Salma datang
Lewat telepon tetangga
Mengatakan, “ambillah anak ini, aku tak mau menganiaya,”

Salma datang
Dengan daya pas-pasan
Menguji iman dan kesabaran

Dia jujur
Meski bebal
Dia lugu
Sehingga mudah tertipu

Pelan-pelan,
Salma mulai terprogram
Layaknya robot
Mengerjakan tugas-tugasnya
Meski berkala
Harus di defrag
Agar tidak melenceng

Lebaran demi lebaran
Salma endud pulang
Salma kurus datang

Salma yang sederhana
Bermimpi menjadi penjaga toko
Mengenakan kemeja putih
Celana panjang hitam
Dan sepatu hitam

Sampai hadir seorang pria
Memberinya mimpi yang berbeda
Disambut dengan sukacita

Salma pulang
Dengan senyum cemerlang
Tas di tangan kiri, kekasih di tangan kanan

Salma pulang
Dengan sejuta harapan
Disertai haru dan doa

***

Lebaran datang
Lebaran selesai
Mendadak ada Salma
Kurus dan hitam
Memohon tuk kembali
Tuk kelangsungan janinnya

Salma bekerja extra keras
Untuk membuktikan ia pantas
Bergabung kembali

Tapi,
ada yang merengek memerlukan istri
Dengan berat hati
ditarik kembali

Salma pulang
Dalam bimbang
Tas kecil di kiri, suami di kanan, dan bayi berkembang

***

Salma pulang
Lewat ketokan tetangga,
“Pendarahan, bayi sungsang, tak ada pertolongan…”

Ah Salma!

Salma pulang
Membawa kenangan
Tertawanya yang sederhana
Masakannya yang (akhirnya)enak
Suka membuat deg-degan
kalau ke pasar naik angkot sendirian

Salma pulang
Kalah berjuang
Di pulau seberang

Terima kasih Salma
Apabila…
Kalau saja…
Seandainya saja…

Terima kasih Salma
Dari pulau seberang
Damailah sekarang

61209 lb bulus – happy women’s day