Tips Cerdas Bermedia Untuk Anak

Kemarin sekolah anak saya mengadakan forum belajar dengan tajuk Menyikapi Pengaruh Kemajuan Dunia Digital Terhadap Pola Asuh Ananda. Sebagian besar saya live twit dengan hashtag #sdga karena saya nggak ngeh kalau ternyata Gemala Ananda punya twitter. Salah satu yang mengikuti live twitnya mba @umnad ย minta hasilnya diposting ulang di blog. Tadinya emang mau copas aja semua yang saya kasih #sdga tapi pas dibaca ulang kok alurnya rada kurang asik gituh. Ya eyalah, live twit gituh jelas rada patah-patah alurnya. So ini saya coba rangkum ulang yaaa ๐Ÿ™‚

Jadi ya di forum ini kita membahas tentang kemajuan teknologi masa kini dan bagaimana menyikapinya. Pertama tentu pola asuh. Hari gini udah ga jaman lagi pola asuh yang otoriter ala kakek-kakek kita dulu, tapi juga jangan memanjakan banget macam ย paman-paman kita sebagai balasan dari pola asuh otoriter. Yang lebih baik ya diantara keduanya. Ada kalanya kita harus tegas, ada saatnya kita harus mendengarkan anak. Kita harus sadar tanggung jawab kita sebagai orang tua tu apa, menyadari hak anak, dan menyeimbangkan keduanya. Apa harapan kita pada anak? Bagaimana mencapainya? Misalnya, kita ingin anak kita tumbuh menjadi anak yang beriman dan bertanggung jawab ย maka terlebih dulu kita harus menjadi orang tua yang beriman dan bertanggung jawab. Aneh dong kita minta anak kita shalat sementara kita sendiri shalatnya bolong-bolong. Ga konsisten kan? ย So apapun yang menjadi harapan kita untuk anak, coba deh kita ngaca dulu. Kita sendiri sudah menjadi atau belum? Anak belajar dari mencontoh sekitarnya. Mau gak mau kitalah panutan pertama anak. Owkey…

Nah klo soal pola asuh pastilah masih banyak materi dan seminar tentang ini sekarang kita bahas tentang dunia digitalnya yaaa…

Pembicara untuk segmen dunia digital adalah Pak Rahardian P. Paramita atau @prajnamu. Pak Praj ini adalah aktivis melek media, dosen (lupa dimana) dan juga aktif di Saling Silang, pokoknya beliau udah ga asing lagi deh sama yang namanya dunia maya. ย So Pak Praj bilang sebetulnya Dunia Digital itu sudah dimulai dengan adanya televisi. Hanya kalau televisi itu interaksinya satu arah saja, dari broadcaster sebagai produsen konten, ย ke kita sebagai konsumen. Sementara dengan perkembangan internet atau dunia maya maka interaksinya sekarang 2 arah. Kita gak lagi menjadi penonton pasif tapi juga produsen konten dan konsumennya. Meskipun demikian, sebetulnya untuk anak-anak media yang paling banyak mereka konsumsi sampai saat ini tetap televisi. Seiring dengan usia baru mereka kemudian mulai mengkonsumsi media digital yang lain i.e. the internet atau merambah dunia maya.

Sebelum mereka mulai aktif mengkonsumsi media selain televisi tugas kita sebagai orang tua untuk lebih dulu mengetahui apa sih media lain itu? Pak Praj menyimpulkan hal ini sebagai:

Media 2.0:ย baca, lihat, dengar, terlibatย #sdga

Melek media: kemampuan mengakses, menganalisa, menilai dan mengembangkan media dlm berbagai bentukย #sdga

ย Yep, ortu kudu melek media dulu bisa bisa mendampingi anak-anak bermedia. Ini dimulai dari membatasi akses anak ke media sesuai umur; anak jangan dilepas begitu saja dalam mengkonsumsi media. Dibawah 5 tahun Pak Praj sama sekali tidak merekomendasi anak untuk mengkonsumsi media. Menurutnya, lebih baik anak-anak mengembangkan kemampuan motoriknya secara maksimal dulu dengan banyak bermain, lari-lari dll. ย Setelah mereka lebih besar kata kuncinya adalah batasan dan pendampingan,ย misalnya, anak boleh aja nonton tivi tapi dipilih dulu acara apa yang mereka boleh tonton, jangan gebyar uyah semua dibuka. Trus dampingi anak ketika menonton, selain kita tau dengan pasti apa yang mereka tonton, apabila ada hal-hal yang mereka tidak mengerti kita bisa langsung memberi penjelasan kepada mereka.
Mau ga mau anak kita akan berinteraksi dengan komputer dan dunia digital. Sekali lagi batasan dan pendampingan. Misalnya, tau nggak kalau batas umur fb itu 13 tahun? Yang artinya anak dibawah usia 13 tahun belum boleh membuka akun facebook sendiri. Rata-rata socmed juga punya batasan umur berapa boleh menggunakan servis mereka. Itu dibuat bukan tanpa alasan. ย Apapun yang kita utarakan di media maya akan selalu ada meskipun sudah kita hapus dari komputer kita. Kita harus bisa bertanggung jawab atas apapun yang kita tulis. Apakah anak yang baru saja lancar membaca dan menulis mampu? Bukan hanya pada apa yang dia tulis, tapi reaksi yang mungkin muncul atas apa yang dia tulis. Beban besar yang orang dewasa saja belum tentu mampu. Buat yang sering bertwitter pasti tau dong soal twitwar dan twitbully. Anak SD apa siap menghadapi itu?
Tapi tapi anak kita kan ga akan SD selamanya? Bener, oleh karena itu Pak Praj memberi tips selanjutnya:

Raise Media Smart Kids; Batasi, patuhi, kritisi, diskusi, nikmatiย #sdga

Batasi : seperti yang sudah kita bahas tadi, harus ada batasan dan aturan tentang konsumsi media, apalagi pas SD mereka kan harus belajar, bikin peer, nggak bisa dong main games dan nonton tivi sepanjang waktu. Harus dibuat jadwal untuk aktifitas mereka. Jangan sampai waktu mereka untuk tidur, main dan belajar berkurang.

Patuhi : aturan yang sudah dibuat, sepakati dan patuhi. Tegakkan. Kalau dilanggar harus ada konsekuensinya. Ini semua tentu bisa didiskusikan bersama. Kalau sudah SD mereka bisa kok diajak ngobrol, misalnya berapa jam mereka boleh nonton tivi, jam berapa harus belajar dan bikin peer, dll. Contoh, kalau hari sekolah tidak boleh main PS, bolehnya pas libur.

Kritisi :ย It’s not enough to know how to press buttons on technological equipment; thinking is even more important – medialit.org.

Nah ini nih penting banget. Kita kudu, harus bin musti kritis terhadap media yang kita konsumsi. Jangan telen bulet-bulet apa yang kita lihat, baca, dengar. Tapi kudu dipikirkan juga, diskusikan. Buka percakapan tentang apa yang anak baca, dengar, tonton, mainkan. Apalagi sekarang anak akses media tidak hanya lewat tv dan komputer saja tapi juga lewat hp dan smartphone. ย Ajak anak memikirkan apa yang mereka konsumsi. Ini akan membuat mereka lebih awas dan kritis terhadap media. Which means, ortunya kudu kritis dulu yee… ๐Ÿ˜‰

Oya, soal hp, pikir lagi deh perlu gak sih anak dikasih hp? Klo SD anak saya sih dengan tegas melarang muridnya memakai hp. Apapun yang perlu disampaikan ke anak telpon ke sekolah. Kebetulan SD anak saya juga cukup kecil jadi memang gak perlu juga berhp ria. Kalau mas @donnybu dari internetsehat bilang sampai SMA anak hanya perlu hp yang bisa telpon dan sms. Itu saja. Lain2nya gak perlu. Kalau sudah kuliah nah itu baru deh rada gemana getoo… tapi karena anakku masih SD sekian saja uraian tentang hp. Klo dah SMP ntar kita terusin lagi. heh heh.

Oh pak Praj pesan kalau kita menggunakan smartphone macam bb, iphone, sebaiknya dikunci kalau dalam jangkauan anak untuk menghindari anak mengakses hal-hal yang gak perlu. Klo gak dikonci ya kudu yakin banget ga ada isi smartphone kita bener-bener bersih dan aman. Bisa yakin gak?

Nikmati : Media gak perlu dilarang. Dibatasi iya tapi nikmati jugalah. Nonton bareng, main bareng. Spend time with your kids. Supaya bisa tau sudah sejau mana sih pengertian dan pengetahuan mereka? Masih taraf Pocoyo apa sudah mulai menikmati Waktu Rehat? Shaun the Sheep tu lucu banget lhoo ๐Ÿ™‚

Karena diriku pernah sejenak berkecimpung di media, setuju banget dengan poin terakhir. Ya iyalah, media dibuat memang untuk dikonsumsi dan dinikmati kok. Lagian aneh banget gak sih klo mama dan papanya nonton tivi tapi anaknya ga boleh? Anak lihat kita asyik cetak cetik di bb pasti penasaran dong pengen tau. Wajar. Makdarit kudu dibekali biar anak ga sekedar jadi konsumen, tapi juga mengerti apa yang dikonsumsi sehingga pada saatnya dia juga mengerti apa yang dia produksi.

Beberapa situs yang jadi rujukan Pak Praj:

www.commonsensemedia. org ย – ada artikel2 tentang tips n trick menghadapi dunia digital, serta rating games, apps yang sesuai dengan umur anak

www.medialit.org – serba serbi melek media dari organisasi di Amriki sono

melekmedia.org – kata taglinenya, “Peta bagi Anda yang tersesat di dunia pencitraan oleh media” hehehe.. ini buat para ortu nih ๐Ÿ™‚ twitternya @melekmedia

Oks deh, sekian laporan hasil forum diskusinya. Klo ada pertanyaan tanya aja langsung ke pak Praj yaa…


Demi Anak?

Kapasitas cinta seorang anak pada orang tuanya itu sungguh luar biasa. Mereka percaya sepenuhnya dan mencintai seutuhnya.

Anak juga sangat cerdas dan sensitif. Hanya sedikit hal yang bisa disembunyikan orang tua dari anak. Perasaan mereka sangat peka. Mereka mungkin tidak tau apa dan mengapa, tapi mereka bisa merasakan dan memancarkan berkali lipat.

Berhati-hatilah dalam mengatakan,”Demi anak.” Benarkah demi kesejahteraan anak? Ataukah hanya demi ego kita? Demi menjaga muka? Apa kata orang? Well, orang akan tetap berkata apa saja sesuka hati mereka.

Jujurlah. Sebetulnya demi siapa? Anak adalah cerminan. Anak menyerap juga meniru dan kebanyakan anak akan meniru orang tuanya. Alam bawah sadarnya akan mencari pasangan yang mirip seperti ayah atau ibunya.

Jujurlah, apa yang ingin diwariskan ke anak kita?

Putus rantai kekerasan.

Putus rantai kekerasan.

Putus rantai kekerasan.

*tol dalam kota 15/5/10*

Bukan Bayi Lagi

Waktu kakak bayi, kalau sakit sering saya timang-timang. Apalagi kalau dia panas, saya dekap, beri asi, timang-timang lagi, sampai panasnya turun.

Hari ini kakak panas lagi. Jadi sekolahnya kakak ikut suatu pagelaran bersama sekolah2 lain, nah latihan gabungannya diadakan pada malam hari. Sebetulnya pihak sekolah sudah mengantisipasi dengan memulai sekolah siang hari supaya anak2 punya waktu istirahat. Kakak juga sudah dapat vitamin, buah, susu namun sepertinya kakak nggak kuat menghadapi latihan bersama sampai malam hari. Akhirnya kakak malah gak bisa ikut pentas. Padahal udah semangat banget mau pentas lagi ๐Ÿ˜ฆ

Tapi ya sudahlah, yang mau saya ceritakan, di perjalanan ke dokter kakak kan mau bermanja-manja, namanya juga lagi atit. Ya sudah saya pangku dengan pikiran masih kayak jaman dulu. Ternyata… Aih berat bow! Begitu kakak duduk dipangkuan langsung emaknya susah napas. Kudu atur posisi biar gak megap2.

Duh kak, emang mamah nih suka ‘in denial’ ya kalau kamu tu pelan-pelan tambah besar. Rasanya masih kayak dulu aja kamu tuh. Akhirnya kakak ngglesor bobo, cuma kepalanya aja yang muat. Tepok2 pantatnya deh kayak dulu sambil elus2 rambutnya.

Ah kakak, sampai kapanpun kamu tetap bayinya mamah. Cepat sembuh ya kakak sayang. Kiss kiss.

Tips Parenting dari Kakak-kakakku

Sebagai anak bungsu, kadang enaknya sudah banyak contoh di depan pas giliran saya tinggal pilah pilih mana yang bagus mana yang tidak dan inilah beberapa tips yang saya dapat dari kakak2 saya:

1) Waktu kecil antar jemput anak setiap hari.

Di perjalanan adalah saat tempat mengutarakan segala macam keluh-kesah tentang keseharian anak-anak. Bahkan untuk anak perempuannya sampai SMA masih diantar ke sekolah, pulang baru dikasih pakai kendaraan umum (kata anaknya, “Asiikk… bisa ke Blok-M dulu…”)

2) Baca apa yang anak baca.

Kakak saya turut membaca dulu semua bacaan anak2nya. Sebetulnya mereka dibebaskan untuk membaca apa saja tapi khusus komik Jepang dia sensor. Yang sekiranya patut untuk umur mereka baru mereka boleh baca.

3) Dengar apa yang mereka dengar.

Musik keponakan dengan musik kakak saya nggak sama tapi dengan turut menaruh perhatian akan kesukaan mereka obrolan tetap nyambung. Anak merasa benar2 diperhatikan. Mereka kan sering mencari infonya di internet, meski nggak surfing bareng paling enggak kakak saya aware situs apa aja yang anaknya suka datangi.

4) Tonton apa yang mereka tonton.

Sama seperti bacaan, kadang2 kakak saya bergadang demi melihat dulu film2 pilihan anaknya. Mereka juga suka ke bioskop bareng. Waktu masih kecil kakak-kakak saya juga selektif dalam memilih tontonan di televisi. Sebisa mungkin mereka selalu menonton bersama. Kalau tidak bisa, sudah dipilih dulu apa yang bisa mereka tonton dan apa yang tidak boleh.

5) Terlibat dalam POMG/PTA/Komite sekolah.

Sebenarnya sih nggak ada pilihan wong soalnya salah satu kakak saya ortu tunggal. Tapi dengan terlibat jadi dia gak hanya tau teman2 anaknya tapi juga kenal ortu2nya. Saling jagalah gitu.

6) Menerima anak apa adanya dan memaksimalkan kemampuan anak.

Salah satu ponakan saya berkebutuhan khusus (dyslexia) jadi dia sempat masuk sekolah khusus sewaktu SD. Setelah lulus, dicarikan sekolah yang bisa dan mau menerima anak dengan kebutuhan khusus. Kemudian kakak saya memperhatikan kemampuan/hobi anaknya itu apa dan diarahkan kesana. Dia hobi gambar jadi dikasih les gambar dan dibebaskan dari tuntutan harus jadi sarjana (klo kakak sama adiknya yang normal tetap dituntut demikian). Alhamdulillah dengan demikian justru ponakan saya lebih semangat belajar dan tertantang untuk mencoba universitas. Alhamdulillah dia berhasil masuk salah satu universitas yang bagus disini dan sangat menikmati hari-harinya sebagai mahasiswa.

7) Makanlah bersama.

Setidaknya sekali dalam sehari kakak2nya makan bareng sama anak2nya. Biasanya saat makan malam. Ini juga menjadi ajang diskusi terbuka dan saling catch-up dengan berita masing2 jadi semua anggota keluarga tau pada ngapain aja mereka.

Hasilnya sejauh ini (sekarang mereka dah sma dan kuliah) anak2nya blum ada yang pacaran, sekolahnya bener, punya kegiatan mendukung, sayang banget sama Ayahnya (kakak saya) dan satu sama lain.

Soal antar sekolah ini sudah dibuktikan sama kakak saya yang lain. Tiap pagi diantar ayahnya dan memang menjadi ajang bonding ayah dan anak. Hal2 yang tidak diceritakan ke kakak saya (ibunya) dia ceritakan ke ayahnya. Untuk kemudian nanti ayahnya laporan ke ibunya lagi. hehehe…
Anak2 saya juga gitu, karena si abah harus siap ngalong di kantor sebisa mungkin kalau pagi dia yang mengantar sekolah.

Sebetulnya beberapa hal sih turunan dari kebiasaan keluarga kami. Hal seperti makan bareng atau baca buku itu kebiasaan yang ditularkan oleh orang tua kami yang disesuaikan dengan jaman. Tentunya ini semua ditambah dengan banyak berdoa minta perlindungan kepada Allah agar kita semua selalu sehat,selamat dan dalam lindungannya. Aaamiin.

Dekatilah Anakmu…

baca status temen pagi ini yang ngasih link ke suatu berita kok ya ngenes to, lagi-lagi bukannya introspeksi tapi menyalahkan faktor luar sebagai penyebabnya. Biasalah masih masalah pornografi dan anak. Iya bener, dengan adanya internet sekarang akses memang lebih mudah dan gampang tapi ya jangan melulu salahkan internet dong. Pemblokiran juga menurut saya bukan jawabannya meski banyak yang ngotot demikian dengan memberikan Cina sebagai contoh. Iya, tapi di Cina juga… ah sudahlah… saya nggak pengen membandingkan negara.

Bagi saya, adalah tugas kita sebagai orang tua untuk mendekati anak, mengajarkan yang baik dan menjauhi yang salah. Tidak bisa kita limpahkan ke sekolah, tidak bisa menyalahkan kerjaan, teman, tetangga, warnet, dll. Anak sudah dikasih perhatian cukup belum? Sudah membuat rambu2 yang disepakati bersama belum? Misalnya nih:

1. Aduuh gimana ya sekarang gampang bener akses video pake hp.
Lha, anaknya kenapa dikasih hape yang canggih? Ya abis kan sekarang semua hp gprs.
Nah, emang udah perlu pake hp? SD anak saya termasuk yang ketat soal hape, aih jangankan SD, SMP keponakan saya aja masih nggak membolehkan hp. Orang tua kalau perlu apa2 telpon ke sekolah! Titip pesan ke wali kelas nanti diteruskan. Secara gitu rata2 anak2 ini masih sd dan smp. Seberapa perlunya mereka ber hape ria? apalagi ber bb?

2. Abis mereka kerjanya main internet/nonton video/nonton tipik terus.
Udah dikasih batasan belum? Tivi misalnya. Kontrol dong berapa jam anak boleh nonton tivi atau apa yang mereka boleh tonton. Libatkan orang rumah dalam proses kontrol ini.
Saya memang termasuk orang tua yang membolehkan anak nonton tivi. Tapi saya berulang kali menegaskan channel apa saja yang boleh mereka lihat. Kalau mereka ingin nonton sama mbaknya, hanya beberapa program yang mereka bisa nonton bareng – musik dan kuis. Selainnya nggak boleh.
Secara nih ya, saya nggak punya duit buat bikin program tivi sendiri, gak punya akses ke yang punya saluran tipik, dan belum ada waktu untuk jadi aktifis tipik, ya saya pragmatis aja. Saya nggak mungkin menonton sama anak setiap saat, jadi saat punya rezeki lebih, ambil tivi langganan yang jauuuh lebih aman.

Tapi tivi berbayar kan mahal? Konsekuensinya? ya harus nonton bareng anak. Percayalah, sebelum tivi berbayar masuk rumah entah berapa jam saya habiskan menonton Dora, Spongebob dan teman2. Spongebob? kan kasar? lho justru, saat yang tepat untuk mengajari anak jangan berperilaku seperti itu yaaa itu nakal, nggak baik :p hehehe… aye mantan anak tipik siy

3. Ya elu enak di rumah, gw kan kerja cape…
emang ibu bekerja hanya dikau seorang? Tuh temen aye singel fighter! Kagak ade lakinya. Malah suka bikin aku malu karena doi lebih canggih ngurus anak ketimbang aku yang ibu rt.

Kalau kayak gini saya jadi ingat masa SMA dimana rata2 ibu temen2ku tu ibu rt, hampir nggak ada yang ibu bekerja tapi toh hasilnya variatif. Ada yang anaknya tetap nge-drugs, ada yang enggak. Jadi nggak efek apakah ibunya kerja atau tidak. Karena dalam semua situasi ada yang anaknya baik-baik saja, ada yang anaknya kacau balau. Semua kembali pada orang tuanya masing2.

So pada intinya, dan ini sebenernya jari nunjuk diri sendiri juga, dekatilah anakmu. Kenali dan sayangi mereka. Practice what you preach – nah ini gw banget nih, kadang2 masih bersalah do as I say not as I do. Bad mom.

Saya nggak bilang ini gampang. Buat saya juga susah. Setiap hari harus ingat untuk ikhlas dan sabar, supaya nggak cepet marah, nggak cepet ngambek. Setiap hari harus ingat bahwa anak itu mahluk individu. Kadang kan suka loncer membandingan adik dan kakak, padahal yaa mereka kan beda. Ya emang gak ada yang bilang jadi ortu itu gampang kok. Tapi ini kan konsekuensi dari perbuatan diri sendiri. Sapa suruh menikah dan punya anak?

But, here they are now. Saya sudah menjadi orang terpilih, terpilih untuk menjadi ibu. Mau nggak mau, suka nggak suka harus bertanggung jawab. Klo jatuh, ya bangun lagi. Klo marah ya minta maaf. Peluk anak. Percayalah, I’m far from being an ideal mom, bukan materi Ummi Award, paling enggak saat ini. hehe…

Jadi orang tua, jangan salahkan ini itu yaa. Dekati anaknya. Memang nggak ada jaminan, tapi insya Allah, orang tua yang dekat dengan anaknya akan membuat anaknya lebih sayang dan menghargai dirinya sendiri. Semoga.

mencari sekolah

Kakak sekarang sudah TK B. Tahun depan masuk SD. Dibilang ribet enggak. Dibilang enggak ya ribet juga. Dalam arti, SD, 6 tahun dimana anak akan menerima pendidikan dasar yang menentukan sikapnya terhadap pendidikan di masa depan. Sampai salah masuk, anak bisa trauma sekolah. Memang tentu saja selalu bisa pindah sekolah, tpi kan ya kalau nggak karena memang mau pindah serombongan rasanya kan males lah pindah2. Kalau bisa dari awal dapat yang cocok kenapa tidak?

Kata teman yang tahun lalu jadi ibu TK B, mencari SD seperti mencari jodoh. Melihat checklist mencari sekolah dari suatu lembaga di Australia mengkonfirmasikan hal tersebut. Pada dasarnya ada beberapa hal yang perlu diingat ketika mencari sekolah :

– kenali anak kita.
Kenali seperti apa kepribadiannya. Apakah yang tipe klasik, senang belajar sendiri, membaca buku dan mengerjakan soal2, ataukah yang suka bongkar2 sesuatu untuk diperhatikan cara kerjanya, senang kerja sendiri atau kelompok dll.

– cocokkan dengan filosofi kita
Hal-hal apa yang menurut kita belum ada, untuk melengkapi anak kita. Misalnya kita merasa lemah dalam mengajarkan agama tapi menganggap penting anak kita tau agama, ya mungkin sebaiknya masuk ke sekolah yang berbasis agama. Setiap keluarga tentu berbeda prinsipnya, jadi kenali juga apa hal yang penting buat kita. Yang buat saya penting belum tentu buat anda sama.

Setelah kira2 kita tau kedua hal tersebut mari kita survey sekolah. Sekarang yang diingat ketika melihat sekolahnya :

– kurikulum yang diajarkan
Mengacu pada kurikulum nasional yang dikeluarkan diknas atau menggunakan kurikulum lain? Bisakah anak kita meneruskan sekolah disini setelah lulus? Kalau penting lho ya, kalau lulus sd mau dikirim ke luar negeri ya lain perkara lah.

– prinsip dan filosofi sekolah
apakah hanya memikirkan sisi akademis, keseluruhan, menjadikan anak individu atau seragam? Cara mengajarnya klasik atau siswa aktif? Kalau murid ada kesulitan atau masalah, bagaimana cara menanganinya? Ada buku penghubung atau tidak? karya murid dipajang di dinding sekolah atau tidak?

– fisik sekolah
bangunannya terawat atau tidak? Bersih dan resik? ada ruang untuk anak bergerak dan lari2? Toiletnya wangi apa tidak? ada tempat ibadah atau tidak?

– harganya ๐Ÿ˜‰
biasanya sih kita suka langsung tanya harga. mampu nggak sekolah disitu? Harganya sebanding nggak dengan kualitasnya?

Kalau setelah melalui tahapan awal ini sekolahnya lolos seleksi, baru kita liat lagi bareng anak kita. Kalau bisa ketemuan sama kepala sekolahnya jadi jelas visi dan misi serta cara belajar-mengajar di sekolah itu bagaimana. Trus liat deh anak kita nyamannya dimana, ikut tes nya, berdoa supaya anak kita diterima di sekolah yang paling cocok buat dia.

Phew. Dan nanti pas anak kelas 6 SD mulai lagi kita ribet cari SMP…. hehehe….. dulu emak kita ribet kayak gini gak ya tentang kita?

Sukses ya semua ibu2 TK B ๐Ÿ˜€

with thanks to Wiwiet, Ika and bu Dessy – may we find the best school for our kids.