Maternal Musing

blink!
and they walk.

blink!
and they run.

blink!
and they grow.

up
up
up
and wide.

next thing you know,
graduation!

next thing you know,
first pay check!

next thing you know,
“I hereby pronounce you…”

And then there’s three,
if you’re lucky.

And then there’s more,
if you’re really lucky.

Then back to two,
basking in the remaining sunrise.
and sunset too.

Later…

it’s just a roll of dice
who would go earlier
who would go later

To Earth you shall return.

but not right now.

Now let’s savour
now let’s enjoy
now let’s feel

because,
blink!
it’s all gone.

dia.lo.gue. 1/11/14

20141101-132756.jpg

Stiker Ngobrol dan Makan Gratis

Demam chatting akhirnya menjangkiti Papah saya. Tadinya beliau berpendapat bahwa smartphonenya membuat pusing namun tetap dipakai karena suka dengan layar besarnya. Menulis dan membaca SMS jadi jelas, katanya. Sampai suatu siang Papah bertanya,
“Line itu apa ya?”
“Garis Pah.”
Papahku mendelik.
“Itu katanya bisa ngobrol pake stiker maksudnya apa?”
Oalaah… rupanya, temannya Papah ‘diracuni’ oleh cucunya untuk memasang Line karena, “BBM sudah gak jaman Eyang!” kemudian beliau juga ‘meracuni’ teman-temannya untuk ‘nge-line’ juga supaya bisa bikin grup biar bisa tukeran stiker! Lucunya ketika ditanya bagaimana cara memasangnya, teman Papah ini juga tidak tahu karena yah, yang kutak-katik hpnya cucunya. Beliau tinggal tau beres. Bisa ditebak kan selanjutnya gimana?

Pertama tentunya beli paket internet dulu. Untung sedang ada program bunet dari telkomsel, sehingga bisa coba berinternetan dengan terjangkau. Kemudian unduh line, registrasi dll, baru deh hp eh smartphonenya Papah kembali ke tangannya.
“Nih Pah, sudah aku pasang appsn ya di layar depan ya. Tinggal klik kalau mau buka, yuk coba line temennya Papah,”

Waow, ternyata sudah berderet temannya Papah yang pakai Line. Minimal yang memasang di hpnya masing-masing. Karena konon tujuan utamanya untuk tuker-tukeran stiker, maka sekalian diunduh beberapa paket stiker yang gratisan. Ketika beliau melihat daftar stikernya,
“Ini yang ini gambar-gambarnya lucu, kamu nggak unduh?”
“Yang itu nggak gratis Pah. Mau beli?”
“Nggak. Kamu nggak mau bayarin?”
Err…

Setelah beberapa kali trial dan error, akhirnya Papah bisa juga chatting (dan kirim-kiriman stiker, jangan lupakan stikernya) sama teman-temannya. Sampai kemudian,
“Katanya bisa dapat voucher makan gratis? Itu gimana caranya?”
“Kata siapa Pah?”
“Ya katanya temen Papah, tapi dia juga nggak tau gimana dapatnya, tau-tau udah ada aja…”
“Mau makan dimana sih Pah? Udah sini aku traktir aja,”
“Oh itu lebih bagus lagi, yuk, kita ke PIM aja ya sekalian ke Gramed. Maaah… diajak makan nih!”

Jyaaah… okeh deh Papahku sayang 😄😄😄

20141029-223623.jpg

Ada yang asyik ngobrol nih kayaknya 😀

Mamah Main FB

Tanpa ada hujan angin atau wangsit sebelumnya, tiba-tiba suatu pagi ibu saya menelepon dan bilang, “Kamu hari ini sibuk apa? Ayo temenin Mamah cari hp baru.” Heh? Sebagai anak yang baik tentu saya menjawab, “Baiklah, nanti aku jemput ya.”

Kemudian pergilah kami ke rumah kedua kami, PIM, atau Pondok Indah Mall. Penasaran saya tanya, kenapa tiba-tiba ingin ganti hp? Ada masalah apakah? Hp seperti apa yang diinginkan?

Ibu saya ini lama berkecimpung di dunia LSM dan masih aktif sampai sekarang. Rupanya banyak teman-teman LSMnya, yang mayoritas anak muda (karena mereka sekarang memanggil ibu saya, ‘Eyang’) , yang memiliki smartphone dan suka mengirimi ibu saya foto kegiatan dan keluarga mereka. Mereka pun sebenarnya suka menegur ibu saya lewat facebook. Karena Ibu saya bunet, alias buta internet, Ibu saya merasa sedikit bersalah karena sangat jarang membuka facebook (perlu bantuan cucunya untuk membukanya lewat pc di rumah) dan tidak bisa membuka foto-foto yang dikirim ke hpnya yang biasa-biasa saja itu. Yang membuat ibu saya lebih merasa bersalah adalah karena kadang-kadang beliau yang meminta foto tersebut. Contoh percakapan (sms) mereka:
“Eyang… anakku sudah lahir!”
“Oh ya? Selamat ya. Laki-laki atau perempuan? Lihat dong fotonya…”
“Ini Eyang.”
Tentunya dengan bangga teman ibu saya mengirimkan foto bayinya… yang kemudian tidak bisa dilihat sama sekali oleh ibu saya.

Setelah menentukan budget, fitur yang diinginkan, serta melihat-lihat aneka hp yang ada, pilihan pun jatuh kepada merek yang sama seperti telepon lamanya dengan jaminan bisa memindahkan semua data dari hp lama ke hp baru. Data selesai dipindahkan, SIM Telkomsel diaktifkan, mulailah proses belajar menggunakan smartphonenya yang baru.

“Jadi Mah, ini kartunya sudah aktif, tapi untuk menggunakan internetnya perlu beli paket internet lagi, kalau tidak pulsanya kemakan banyak. Nah ini paket internetnya sudah aku aktifkan lewat program bunetnya telkomsel, kalau kuotanya sudah habis, bilang nanti aku isi lagi,”
“Ok. Jadi sekarang sudah bisa lihat foto?”
“Bisa banget! Mamah juga bisa buka fb, chatting lewat bb, wa…”
“Tunggu… satu-satu dulu, jadi kalau mau lihat foto di fb bagaimana?”

Rupanya sudah tidak sabar ibuku melihat foto teman-temannya. Mulailah proses cara membuka fb di hp baru Mamah. Cara login, timefeed itu apa, cara membuat status, memberi komentar, mencari teman, membuka foto album (dan melihat-lihat aneka foto bayi serta anak-anak temannya) dan sebagainya.

“Paham Mah?”
“Kayaknya paham,”
“Ya udah tanya aja lagi ya kalau masih bingung.”

Lama tidak terlihat ada aktifitas. Sampai suatu hari, kejutan! Dapat notifikasi, “Fatimah memberikan komentar” Waks! Mamahku serius fban?
Yep. Dibawah foto yang saya pajang tertera komentar dari ibuku. Waow, Mamah sudah bisa main fb sekarang. Ups, harus lebih hati-hati berstatus dong sekarang 🙂

20141029-213951.jpg

Waooo… udah bisa komen di fb Mamah akoooh 😀

And Off They Grow…

You always think of your child as babies. I think that’s one undeniable thing about being a parent. That’s what my dad says when my sister was getting married. He says, “Are you sure you want to get married? Aren’t you a little young to be married?” Well dad, considering at that time she was over 25, she is most certainly not anymore 😉

Baby no 1 saying hello to a plant

So now I have babies of my own. I have 2 little babies who are on their way not being a baby no more. But you know, you live with your kids, taking care of them day in-day out, manage their sibling fights and what nots, and somehow they stay babies in your mind. Until you take them to school.

Baby no 2 enjoying Granny time

Once your kids enter school… that’s it, no turning back. Every time you see their friends you’re reminded how fast they are growing. You may deny it at home, but at school it is harder. They get taller, chattier, more independent. Why can’t they just stay young forever?

Ah but they can’t though can they? Nor can you. Yes you 😉 Not much you can do about it, I’m afraid. So you know, just enjoy the time you have with them. Enjoy being with them, reading them stories, dropping and picking them up from school. Enjoy mealtimes together. Take family trips, have birthdays or whatever it is that you want to celebrate together. Have fun, have memories.

One day they will be out of your hair, they’ll move on and have family of their own. Gasp! My baby having their own babies! Not anytime soon I hope. But as my dad has shown, no matter how old you get, you’re still their baby. You may be out of your parents hair, but not of their minds. Never.

So here’s to parents and babies! Have love, have faith in this one big unstoppable journey.

Tada! Baby 1 and baby 2 slowly easing out of babyhood.

Cheers!

 

 

 

 

Noda Kenangan dalam Cerita di Balik Noda

Fira Basuki - Cerita di Balik NodaSebagai salah satu penggemar Fira Basuki, saya tertarik melihat buku Cerita di Balik Noda. Mengingat ini bekerja sama dengan Rinso, tadinya saya kira ini isinya mengenai kenakalan anak-anak yang lucu-lucu seperti iklannya berani kotor itu baik. Ternyata malah sunggu di luar dugaan. Ada aneka kisah di buku ini, yang haru, lucu, suka dan duka, semuanya. Membaca cerita demi cerita, tak terasa jadi teringat salah satu pengalaman berkotor-kotoran sendiri.

Dari sekian banyak kenangan masa kecil, ada satu yang cukup membekas.  Waktu kecil, saya praktis tidak punya tetangga yang seumuran, sementara kakak-kakak saya usianya jauh di atas saya. Pulang sekolah mainnya hanya bisa sama kucing kesayangan. Tapi agak susah karena kucingnya suka kabur kalau diajak main boneka atau (pura-pura) minum teh sore.  Sampai akhirnya sepupu saya, Etta, pindah ke rumah yang lebih dekat dengan rumah saya. Sejak itu, sebisa mungkin kami main bareng, entah saya yang kesana atau dia yang ke rumah saya.  Kami hanya berjarak 2 tahun, sehingga suka permainan yang sama, dan yang terpenting, gak akan kabur kalau main piknik atau rumah-rumahan.

Saat libur sekolah, kadang-kadang kami saling menginap. Suatu liburan ketika saya tiba di rumahnya Etta, tada! Ada kolam ikan! Manino (Om Tino, ayahnya Etta, entah kenapa waktu kecil karena masih cadel saya memanggil beliau ‘Manino’ dan keterusan) kepingin punya ikan, jadilah beliau membangun kolam kecil berbentuk hati di depan rumahnya. Wauw keren!

Sebagai paman yang bertanggung jawab, tentunya ada sederetan peringatan untuk kami. Peringatan macam, “Awas, licin, hati-hati kepleset, nanti jatuh…” dan lain sebagainya. Karena pada dasarnya saya hanya suka kucing, tak lama kolam ikan baru ini kehilangan pesonanya dibanding jejeran boneka yang sudah disiapkan Etta. Namun lain hari, lain lagi ceritanya…

Besoknya, dari pagi saya dan Etta sudah sibuk. Menemani Tante ke pasar, muter-muter pakai becak, main sepeda, sampai kita harus pulang untuk makan siang. Selesai makan, leyeh-leyah di teras ngobrol sama Manino dan Tante, menikmati panasnya siang hari, kok ya lama-lama kolam ikan itu menarik sekali ya? Awalnya cuma mencelupkan jempol. Kemudian kakinya, yang kanan, trus kiri. Melihat gelagat ini Manino rupanya tidak sampai hati, akhirnya beliau bertanya, “Mau main di kolam?” Mauuu!!!

Tadinya kita mau langsung nyemplung, tapi kata Manino ikan-ikannya harus diselamatkan dulu. Jadilah kita menunggu Manino memindahkan ikan-ikannya ke bak. Setelah kosong, barulah saya dan Etta bebas nyemplung – dengan kaos dan celana pendek -di kolam. Sebetulnya kolam itu nggak besar-besar amat, tapi karena kitanya kecil jadi terasa besaaar. Padahal mainnya juga cuma kecipak-kecipuk aja, duduk-duduk macam orang Jepang di pemandian air panas. Namun ditengah teriknya siang, alamak nikmatnya berendam di kolam ikan berbentuk hati itu.

Aku dan Etta berendam sampai jempol kami keriput. Sesudah itu langsung mandi dan menunggu jemputan pulang. Sementara itu Manino terpaksa membersihkan kolamnya sebelum mengembalikan para ikan kedalamnya, padahal belum jadwalnya untuk membersihkan kolam. Sampai di rumah, ibu saya bingung mendapati baju saya kotor, basah dan bau ikan, kamu ngapain aja disana? Saya cuma cengar-cengir senang.

Sayangnya sekarang Manino sudah berpulang, kolam ikan bentuk hati itu sudah lama dibongkar. Kadang rinduu sekali sama paman saya yang baik hati itu, yang merelakan keponakannya belepotan main di kolam ikannya karena Berani Kotor itu Baik. Etta pun sudah pindah ke luar kota mengikuti suaminya. Memang kemajuan teknologi memudahkan kami untuk terus berkomunikasi, namun tetaplah beda. Untunglah masih ada kenangan-kenangan manis ini, seperti halnya para pembagi kenangan di Cerita di Balik Noda.

The Saga of my Mummy’s Tummy

Having lived abroad, one of the thing I miss is universal health care. Though when I ceased being a student that doesn’t apply either but that’s another story. So, Indonesia, my wonderful and lovely home country doesn’t yet have a comprehensive health plan like the NL or UK has. If you’re sick you gotta pay. No money, no doctor. Or as the general public would say, “Poor people are not allowed to be sick over here!” Or so the conventional wisdom goes. Well in practice it is not as cold as that, hospitals do help people without money, there is some form of medical help for those without insurance but it is sealed thick with bureaucratic tape etc etc etc. Well, as it turned out, not going to the doctor when sick is not just the poor’s domain, but also lots of other better off people. For example : my mom.

Now, my mom. Ok, we’re not terribly rich but, Alhamdulillah, better off than most people. We have roof over our head, 3 square meals per day, etc. So we could afford a simple doctor’s appointment when needed plus she does have insurance courtesy of my dad’s work. But my mom, she is not one to cry pain at a moments notice so if she felt something is wrong, most of the time she brush it off. When she’s sick and I offered to take her to the gp, she mostly refused. She’d said it’s nothing let’s have lunch instead. Well, most of the time it is nothing, until this time, it is not.

My mom had felt some pain during the week, but as usual brush it off as stomach flu or ate bad food. Come Wednesday she felt really ill so very early morning she went to the ER because of massive stomach pain. We all got called, that dreaded early morning call. After arranging our household affairs, my sister and I were promptly at the ER around 8 am. Then with the three of us there (my brother was the one to take my mom to the ER) the doctor proceed to explain their action plan. Initial tests result from the ER doc requires him to consult the Internist. The Internists suspected they might need to operate, thus he consulted with a surgeon. Due to her age, the surgeon then proceed to order ever more tests just to be sure.

My mom undergoes a series of blood test, USG, x-rays, and finally, CT Scan of the abdomen. She also got checked by a cardio doctor (is that what you called a heart specialist?) and lung doctor. After all the results came in, the team of doctors don’t actually know what was wrong with my mom. They suspect it could be appendicitis, but it could be something else since the tests were inconclusive – it’s just conclusive that something is seriously wrong. The only way to figure out what’s really wrong is surgery.

The surgeon and the internists (there’s 2, abdomen and lung, remember?) came up with a plan, first they are going to do a laparoscopy, it’s minimally invasive and would let them take a peek to find out the problem. If it is appendicitis, it would only take around 30 min to fix. If its something else, they ask permission to do laparotomy or actual cut open surgery which they estimate would take around 2 hours. We agreed, signed the consent form and pray for the best.

Around 6pm, my mom is wheeled into OR. As it turned out, the appendicitis were ok. It was her stomach (I sure hope I got the translation right). It was ruptured/punctured/holey 1cm in diameter and was oozing out puss. Her entire abdomen was covered in it. Before they venture with the laparotomy they asked a member of the family to be present to see it, has to be someone who can stomach blood and gore. Good thing one of my aunt is a dentist, off she goes into the OR to see my mom’s abdomen. It was just as the surgeon described. Filled with puss. It made the organs sticky and that’s what been hurting. He also said that these kind of infection takes time, more like months, not days. As my aunt is a doctor, they offered her to stay for the whole operation process but she declined. Seeing the first part was enough for my aunt. After she left, they proceed to suck out the puss, So clean it up and fix the hole in the stomach. All in all the whole operation took 3 hours.

Later my aunt say, she actually wouldn’t mind looking at the operation, she is a doctor after all so always fascinated with the human organs, but because it was my mom, her sister, she couldn’t. She said it was a good thing they covered my mom’s face otherwise even she probably couldn’t see just the first bit of the procedure.

What caused it? According to the surgeon it is usually due to excessive drinking, partying, drugs, or cancer. Since my mom is not a drinker nor a party-goer, it only left drugs and cancer. To figure out what cause it, they took some tissue samples. Thank God it was not cancerous! Which means… drugs!!! Apparently for some time now my mom has experienced some leg pain and been taking some pills to help ease the pain… which would be fine if she was under doctor supervision. Which of course she was not. I’m not sure what this drug is, apparently it’s some sort of pain-killer? It made the leg pain go away so she can go on with her myriad activities but it’s not supposed to be used long-term because one of the side effect is well.. she just proved it.

Anyway, operation is a success, mom is recovering well and slightly ahead of schedule. Having to lay in the hospital for 2 weeks really makes my mom rethinking her health plan. It now exists! Because she was seen by tons of doctors, she’d like to follow-up with one of them to discuss her asthma and the surgeon recommends some doctors to see about her leg pain. No more self medicating! Proper doctor guidance only from now! The surgeon was amazed at my mom’s high threshold of pain. He said usually people would be crying pain when the stomach wall was scraped. Here it is not only scraped, it’s puncture and ripped to boot! 1 cm diameter is no small thing when it comes to stomach wall.

Now my mom is already discharged from the hospital, safe and sound with the comfort of home. Recovery is slow, she’s not allowed (nor able) to really get up and about yet, but it’s getting there. With patience, she’ll be up and running walking, attending to her work and hobbies as usual.

Alhamdulillah.

So remember, if you feel persistent pain, perhaps it is time to visit your gp. If it keeps coming back, do not brush it off, go get second, third, even fourth or fifth opinion if you have to. More importantly, don’t self medicate! We’re lucky to be able to treat my mom in time. Other people may not have the same story.

Stay healthy peeps 🙂

Dekatilah Anakmu…

baca status temen pagi ini yang ngasih link ke suatu berita kok ya ngenes to, lagi-lagi bukannya introspeksi tapi menyalahkan faktor luar sebagai penyebabnya. Biasalah masih masalah pornografi dan anak. Iya bener, dengan adanya internet sekarang akses memang lebih mudah dan gampang tapi ya jangan melulu salahkan internet dong. Pemblokiran juga menurut saya bukan jawabannya meski banyak yang ngotot demikian dengan memberikan Cina sebagai contoh. Iya, tapi di Cina juga… ah sudahlah… saya nggak pengen membandingkan negara.

Bagi saya, adalah tugas kita sebagai orang tua untuk mendekati anak, mengajarkan yang baik dan menjauhi yang salah. Tidak bisa kita limpahkan ke sekolah, tidak bisa menyalahkan kerjaan, teman, tetangga, warnet, dll. Anak sudah dikasih perhatian cukup belum? Sudah membuat rambu2 yang disepakati bersama belum? Misalnya nih:

1. Aduuh gimana ya sekarang gampang bener akses video pake hp.
Lha, anaknya kenapa dikasih hape yang canggih? Ya abis kan sekarang semua hp gprs.
Nah, emang udah perlu pake hp? SD anak saya termasuk yang ketat soal hape, aih jangankan SD, SMP keponakan saya aja masih nggak membolehkan hp. Orang tua kalau perlu apa2 telpon ke sekolah! Titip pesan ke wali kelas nanti diteruskan. Secara gitu rata2 anak2 ini masih sd dan smp. Seberapa perlunya mereka ber hape ria? apalagi ber bb?

2. Abis mereka kerjanya main internet/nonton video/nonton tipik terus.
Udah dikasih batasan belum? Tivi misalnya. Kontrol dong berapa jam anak boleh nonton tivi atau apa yang mereka boleh tonton. Libatkan orang rumah dalam proses kontrol ini.
Saya memang termasuk orang tua yang membolehkan anak nonton tivi. Tapi saya berulang kali menegaskan channel apa saja yang boleh mereka lihat. Kalau mereka ingin nonton sama mbaknya, hanya beberapa program yang mereka bisa nonton bareng – musik dan kuis. Selainnya nggak boleh.
Secara nih ya, saya nggak punya duit buat bikin program tivi sendiri, gak punya akses ke yang punya saluran tipik, dan belum ada waktu untuk jadi aktifis tipik, ya saya pragmatis aja. Saya nggak mungkin menonton sama anak setiap saat, jadi saat punya rezeki lebih, ambil tivi langganan yang jauuuh lebih aman.

Tapi tivi berbayar kan mahal? Konsekuensinya? ya harus nonton bareng anak. Percayalah, sebelum tivi berbayar masuk rumah entah berapa jam saya habiskan menonton Dora, Spongebob dan teman2. Spongebob? kan kasar? lho justru, saat yang tepat untuk mengajari anak jangan berperilaku seperti itu yaaa itu nakal, nggak baik :p hehehe… aye mantan anak tipik siy

3. Ya elu enak di rumah, gw kan kerja cape…
emang ibu bekerja hanya dikau seorang? Tuh temen aye singel fighter! Kagak ade lakinya. Malah suka bikin aku malu karena doi lebih canggih ngurus anak ketimbang aku yang ibu rt.

Kalau kayak gini saya jadi ingat masa SMA dimana rata2 ibu temen2ku tu ibu rt, hampir nggak ada yang ibu bekerja tapi toh hasilnya variatif. Ada yang anaknya tetap nge-drugs, ada yang enggak. Jadi nggak efek apakah ibunya kerja atau tidak. Karena dalam semua situasi ada yang anaknya baik-baik saja, ada yang anaknya kacau balau. Semua kembali pada orang tuanya masing2.

So pada intinya, dan ini sebenernya jari nunjuk diri sendiri juga, dekatilah anakmu. Kenali dan sayangi mereka. Practice what you preach – nah ini gw banget nih, kadang2 masih bersalah do as I say not as I do. Bad mom.

Saya nggak bilang ini gampang. Buat saya juga susah. Setiap hari harus ingat untuk ikhlas dan sabar, supaya nggak cepet marah, nggak cepet ngambek. Setiap hari harus ingat bahwa anak itu mahluk individu. Kadang kan suka loncer membandingan adik dan kakak, padahal yaa mereka kan beda. Ya emang gak ada yang bilang jadi ortu itu gampang kok. Tapi ini kan konsekuensi dari perbuatan diri sendiri. Sapa suruh menikah dan punya anak?

But, here they are now. Saya sudah menjadi orang terpilih, terpilih untuk menjadi ibu. Mau nggak mau, suka nggak suka harus bertanggung jawab. Klo jatuh, ya bangun lagi. Klo marah ya minta maaf. Peluk anak. Percayalah, I’m far from being an ideal mom, bukan materi Ummi Award, paling enggak saat ini. hehe…

Jadi orang tua, jangan salahkan ini itu yaa. Dekati anaknya. Memang nggak ada jaminan, tapi insya Allah, orang tua yang dekat dengan anaknya akan membuat anaknya lebih sayang dan menghargai dirinya sendiri. Semoga.

Nu Ku Abdi Dipinkanyaah

Aki saya seorang Polisi
Seorang penyidik
kepala bagian forensik

Membuat saya penasaran
dengan serial CSI
karena Aki adalah Grissom

Bahkan lebih, karena Aki kadang menyamar
untuk menyelesaikan kasus
bila dibutuhkan

Grissom dan Mac
sedikit banyak
mengobati kerinduan hati

Seperti inikah kasus-kasus Aki?
Beginikah cara menyelesaikan investigasi?
Dapatkah penjahatnya selalu Aki penjarakan?

Aki Tata yang bangga dengan institusi kepolisian
bersemangat memindahkan ilmu
untuk generasi baru

Apakah Aki akan paham dengan situasi sekarang?
Apakah Aki akan bangga dengan citra buaya?
Apakah Aki akan paham, yang namanya tidak ada di kertas pemilihan justru lebih ‘sakti’?

Alhamdulillah Aki sudah nyaman
bersama Nini disana
Tidak perlu merasakan
Lalakon nu pikasebeuleun

Cukup kami saja
Insya Allah kami bisa
menghadapi
Lalakon nu geuleuh

Sujud syukur berserta doa
untuk Aki dan Nini
Suatu hari nanti
kita bertemu lagi

Hormat dan cinta
dari incu yang rindu

mencari sekolah

Kakak sekarang sudah TK B. Tahun depan masuk SD. Dibilang ribet enggak. Dibilang enggak ya ribet juga. Dalam arti, SD, 6 tahun dimana anak akan menerima pendidikan dasar yang menentukan sikapnya terhadap pendidikan di masa depan. Sampai salah masuk, anak bisa trauma sekolah. Memang tentu saja selalu bisa pindah sekolah, tpi kan ya kalau nggak karena memang mau pindah serombongan rasanya kan males lah pindah2. Kalau bisa dari awal dapat yang cocok kenapa tidak?

Kata teman yang tahun lalu jadi ibu TK B, mencari SD seperti mencari jodoh. Melihat checklist mencari sekolah dari suatu lembaga di Australia mengkonfirmasikan hal tersebut. Pada dasarnya ada beberapa hal yang perlu diingat ketika mencari sekolah :

– kenali anak kita.
Kenali seperti apa kepribadiannya. Apakah yang tipe klasik, senang belajar sendiri, membaca buku dan mengerjakan soal2, ataukah yang suka bongkar2 sesuatu untuk diperhatikan cara kerjanya, senang kerja sendiri atau kelompok dll.

– cocokkan dengan filosofi kita
Hal-hal apa yang menurut kita belum ada, untuk melengkapi anak kita. Misalnya kita merasa lemah dalam mengajarkan agama tapi menganggap penting anak kita tau agama, ya mungkin sebaiknya masuk ke sekolah yang berbasis agama. Setiap keluarga tentu berbeda prinsipnya, jadi kenali juga apa hal yang penting buat kita. Yang buat saya penting belum tentu buat anda sama.

Setelah kira2 kita tau kedua hal tersebut mari kita survey sekolah. Sekarang yang diingat ketika melihat sekolahnya :

– kurikulum yang diajarkan
Mengacu pada kurikulum nasional yang dikeluarkan diknas atau menggunakan kurikulum lain? Bisakah anak kita meneruskan sekolah disini setelah lulus? Kalau penting lho ya, kalau lulus sd mau dikirim ke luar negeri ya lain perkara lah.

– prinsip dan filosofi sekolah
apakah hanya memikirkan sisi akademis, keseluruhan, menjadikan anak individu atau seragam? Cara mengajarnya klasik atau siswa aktif? Kalau murid ada kesulitan atau masalah, bagaimana cara menanganinya? Ada buku penghubung atau tidak? karya murid dipajang di dinding sekolah atau tidak?

– fisik sekolah
bangunannya terawat atau tidak? Bersih dan resik? ada ruang untuk anak bergerak dan lari2? Toiletnya wangi apa tidak? ada tempat ibadah atau tidak?

– harganya 😉
biasanya sih kita suka langsung tanya harga. mampu nggak sekolah disitu? Harganya sebanding nggak dengan kualitasnya?

Kalau setelah melalui tahapan awal ini sekolahnya lolos seleksi, baru kita liat lagi bareng anak kita. Kalau bisa ketemuan sama kepala sekolahnya jadi jelas visi dan misi serta cara belajar-mengajar di sekolah itu bagaimana. Trus liat deh anak kita nyamannya dimana, ikut tes nya, berdoa supaya anak kita diterima di sekolah yang paling cocok buat dia.

Phew. Dan nanti pas anak kelas 6 SD mulai lagi kita ribet cari SMP…. hehehe….. dulu emak kita ribet kayak gini gak ya tentang kita?

Sukses ya semua ibu2 TK B 😀

with thanks to Wiwiet, Ika and bu Dessy – may we find the best school for our kids.