Cerita Jumat : Antara Natural Hazard dan Natural Disaster

*Nemu tulisan lama, tapi kok ya ternyata masih relevan sama musim hujan extra lama dan panjang kali ini…*

Kata guru geografi saya waktu SMP (apakah ini hari mengenang kembali masa SMP? dari tadi rasanya pangkal pikiran bermuara pada waktu SMP terus), Mr. Wright, hanya beda tipis antara natural hazard ama disaster. Kalau ‘hazard’ artinya kejadian alam tanpa korban manusia sementara natural disaster artinya bencana alam dengan korban manusia.

Saat itu kami sedang membahas kejadian alam seperti gempa bumi, gunung meletus dan tsunami, persis seperti apa yang sedang terjadi di Indonesia sekarang ini. Menurut Mr. Wright, kejadian alam itu sebetulnya tidak perlu berubah menjadi alam karena semua hal itu bisa diprediksi. Sebagai contoh, kita bisa mengetahui dimana lokasi 2 lempeng bumi akan saling bertemu, geolog bisa meriset dan mengetahui dimana gempa bumi akan terjadi. Yang tidak bisa diprediksi adalah kapan gempa itu terjadi. Tapi bahwa itu akan terjadi geolog sudah bisa memastikan, tidak peduli apakah di lokasi tersebut ada populasi manusianya atau tidak.

Sehingga seharusnya dengan pengetahuan tersebut efek kejadian alam tersebut terhadap manusia bisa dikurangi. Waktu itu Mr. Wright memberi contoh Jepang dan California. Kedua tempat tersebut rawan gempa dan Jepang sering sekali mendapat badai ombak besar sehingga istilah tersebut mereka yang menamakan : Tsunami. Belajar dari pengalaman, kedua tempat tersebut menerapkan kebijakan yang efeknya bisa meminimalisir korban apabila terjadi gempa dan tsunami. Misalnya dari SD mereka dilatih tentang bahaya gempa dan apa yang harus mereka perbuat seperti mengamankan diri dibawah meja. Di Los Angeles yang juga sering gempa secara periodik ada pengumuman di tivi tentang tata cara peringatan gempa, pengamanan dan evakuasinya. Sirine pertanda gempa dibunyikan agar penduduk bisa mengenalinya. Bangunan, baik publik maupun pribadi harus dibuat tahan gempa sampai skala richter sekian, dll.

Karena ini pelajaran geografi bukan agama, apalagi Mr. Wright seorang non-muslim, maka kami sama sekali tidak menyentuh persoalan agama. Namun setelah saya pikirkan kembali, inti dari perkataan Mr. Wright adalah kita harus mengetahui dan mengurus bumi alias menjadi khalifahnya. Apabila hal itu kita jalankan maka Insya Allah apabila ada kejadian alam atau natural hazard tidak akan menjadi natural disaster yang besar.

Kalau saja kita tidak menggunduli hutan, mengubah daerah resapan air menjadi gedung belanja, buang sampah sembarangan sampai menutupi got dan kali, tentunya tidak akan terjadi banjir setiap ada hujan. Tidak seperti sekarang, di satu daerah kelelep air, sementara di daerah lain megap-megap kekurangan air. Untuk bencana seperti gempa, apabila terjadinya di lokasi berpenduduk memang jatuhnya korban tidak bisa dihindari, tetapi apakah korbannya 10 atau 1000 itulah yang seharusnya bisa diantisipasi.

Mr. Wright mungkin tidak bisa mengutip Al-Quran dan hadits, namun dari kecintaannya terhadap alam beliau memperkuat apa yang kita (saya) pelajari dari agama. Bahwa selama kita tidak menjalankan tugas kita sebagai khalifah bumi dan merawatnya dengan baik maka selama itu pulalah natural hazard akan terus menjadi natural disaster yang merugikan kita sendiri.

Baru setinggi paha orang dewasa aja kok…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s