Tips Cerdas Bermedia Untuk Anak

Kemarin sekolah anak saya mengadakan forum belajar dengan tajuk Menyikapi Pengaruh Kemajuan Dunia Digital Terhadap Pola Asuh Ananda. Sebagian besar saya live twit dengan hashtag #sdga karena saya nggak ngeh kalau ternyata Gemala Ananda punya twitter. Salah satu yang mengikuti live twitnya mba @umnad  minta hasilnya diposting ulang di blog. Tadinya emang mau copas aja semua yang saya kasih #sdga tapi pas dibaca ulang kok alurnya rada kurang asik gituh. Ya eyalah, live twit gituh jelas rada patah-patah alurnya. So ini saya coba rangkum ulang yaaa 🙂

Jadi ya di forum ini kita membahas tentang kemajuan teknologi masa kini dan bagaimana menyikapinya. Pertama tentu pola asuh. Hari gini udah ga jaman lagi pola asuh yang otoriter ala kakek-kakek kita dulu, tapi juga jangan memanjakan banget macam  paman-paman kita sebagai balasan dari pola asuh otoriter. Yang lebih baik ya diantara keduanya. Ada kalanya kita harus tegas, ada saatnya kita harus mendengarkan anak. Kita harus sadar tanggung jawab kita sebagai orang tua tu apa, menyadari hak anak, dan menyeimbangkan keduanya. Apa harapan kita pada anak? Bagaimana mencapainya? Misalnya, kita ingin anak kita tumbuh menjadi anak yang beriman dan bertanggung jawab  maka terlebih dulu kita harus menjadi orang tua yang beriman dan bertanggung jawab. Aneh dong kita minta anak kita shalat sementara kita sendiri shalatnya bolong-bolong. Ga konsisten kan?  So apapun yang menjadi harapan kita untuk anak, coba deh kita ngaca dulu. Kita sendiri sudah menjadi atau belum? Anak belajar dari mencontoh sekitarnya. Mau gak mau kitalah panutan pertama anak. Owkey…

Nah klo soal pola asuh pastilah masih banyak materi dan seminar tentang ini sekarang kita bahas tentang dunia digitalnya yaaa…

Pembicara untuk segmen dunia digital adalah Pak Rahardian P. Paramita atau @prajnamu. Pak Praj ini adalah aktivis melek media, dosen (lupa dimana) dan juga aktif di Saling Silang, pokoknya beliau udah ga asing lagi deh sama yang namanya dunia maya.  So Pak Praj bilang sebetulnya Dunia Digital itu sudah dimulai dengan adanya televisi. Hanya kalau televisi itu interaksinya satu arah saja, dari broadcaster sebagai produsen konten,  ke kita sebagai konsumen. Sementara dengan perkembangan internet atau dunia maya maka interaksinya sekarang 2 arah. Kita gak lagi menjadi penonton pasif tapi juga produsen konten dan konsumennya. Meskipun demikian, sebetulnya untuk anak-anak media yang paling banyak mereka konsumsi sampai saat ini tetap televisi. Seiring dengan usia baru mereka kemudian mulai mengkonsumsi media digital yang lain i.e. the internet atau merambah dunia maya.

Sebelum mereka mulai aktif mengkonsumsi media selain televisi tugas kita sebagai orang tua untuk lebih dulu mengetahui apa sih media lain itu? Pak Praj menyimpulkan hal ini sebagai:

Media 2.0: baca, lihat, dengar, terlibat #sdga

Melek media: kemampuan mengakses, menganalisa, menilai dan mengembangkan media dlm berbagai bentuk #sdga

 Yep, ortu kudu melek media dulu bisa bisa mendampingi anak-anak bermedia. Ini dimulai dari membatasi akses anak ke media sesuai umur; anak jangan dilepas begitu saja dalam mengkonsumsi media. Dibawah 5 tahun Pak Praj sama sekali tidak merekomendasi anak untuk mengkonsumsi media. Menurutnya, lebih baik anak-anak mengembangkan kemampuan motoriknya secara maksimal dulu dengan banyak bermain, lari-lari dll.  Setelah mereka lebih besar kata kuncinya adalah batasan dan pendampingan, misalnya, anak boleh aja nonton tivi tapi dipilih dulu acara apa yang mereka boleh tonton, jangan gebyar uyah semua dibuka. Trus dampingi anak ketika menonton, selain kita tau dengan pasti apa yang mereka tonton, apabila ada hal-hal yang mereka tidak mengerti kita bisa langsung memberi penjelasan kepada mereka.
Mau ga mau anak kita akan berinteraksi dengan komputer dan dunia digital. Sekali lagi batasan dan pendampingan. Misalnya, tau nggak kalau batas umur fb itu 13 tahun? Yang artinya anak dibawah usia 13 tahun belum boleh membuka akun facebook sendiri. Rata-rata socmed juga punya batasan umur berapa boleh menggunakan servis mereka. Itu dibuat bukan tanpa alasan.  Apapun yang kita utarakan di media maya akan selalu ada meskipun sudah kita hapus dari komputer kita. Kita harus bisa bertanggung jawab atas apapun yang kita tulis. Apakah anak yang baru saja lancar membaca dan menulis mampu? Bukan hanya pada apa yang dia tulis, tapi reaksi yang mungkin muncul atas apa yang dia tulis. Beban besar yang orang dewasa saja belum tentu mampu. Buat yang sering bertwitter pasti tau dong soal twitwar dan twitbully. Anak SD apa siap menghadapi itu?
Tapi tapi anak kita kan ga akan SD selamanya? Bener, oleh karena itu Pak Praj memberi tips selanjutnya:

Raise Media Smart Kids; Batasi, patuhi, kritisi, diskusi, nikmati #sdga

Batasi : seperti yang sudah kita bahas tadi, harus ada batasan dan aturan tentang konsumsi media, apalagi pas SD mereka kan harus belajar, bikin peer, nggak bisa dong main games dan nonton tivi sepanjang waktu. Harus dibuat jadwal untuk aktifitas mereka. Jangan sampai waktu mereka untuk tidur, main dan belajar berkurang.

Patuhi : aturan yang sudah dibuat, sepakati dan patuhi. Tegakkan. Kalau dilanggar harus ada konsekuensinya. Ini semua tentu bisa didiskusikan bersama. Kalau sudah SD mereka bisa kok diajak ngobrol, misalnya berapa jam mereka boleh nonton tivi, jam berapa harus belajar dan bikin peer, dll. Contoh, kalau hari sekolah tidak boleh main PS, bolehnya pas libur.

KritisiIt’s not enough to know how to press buttons on technological equipment; thinking is even more important – medialit.org.

Nah ini nih penting banget. Kita kudu, harus bin musti kritis terhadap media yang kita konsumsi. Jangan telen bulet-bulet apa yang kita lihat, baca, dengar. Tapi kudu dipikirkan juga, diskusikan. Buka percakapan tentang apa yang anak baca, dengar, tonton, mainkan. Apalagi sekarang anak akses media tidak hanya lewat tv dan komputer saja tapi juga lewat hp dan smartphone.  Ajak anak memikirkan apa yang mereka konsumsi. Ini akan membuat mereka lebih awas dan kritis terhadap media. Which means, ortunya kudu kritis dulu yee… 😉

Oya, soal hp, pikir lagi deh perlu gak sih anak dikasih hp? Klo SD anak saya sih dengan tegas melarang muridnya memakai hp. Apapun yang perlu disampaikan ke anak telpon ke sekolah. Kebetulan SD anak saya juga cukup kecil jadi memang gak perlu juga berhp ria. Kalau mas @donnybu dari internetsehat bilang sampai SMA anak hanya perlu hp yang bisa telpon dan sms. Itu saja. Lain2nya gak perlu. Kalau sudah kuliah nah itu baru deh rada gemana getoo… tapi karena anakku masih SD sekian saja uraian tentang hp. Klo dah SMP ntar kita terusin lagi. heh heh.

Oh pak Praj pesan kalau kita menggunakan smartphone macam bb, iphone, sebaiknya dikunci kalau dalam jangkauan anak untuk menghindari anak mengakses hal-hal yang gak perlu. Klo gak dikonci ya kudu yakin banget ga ada isi smartphone kita bener-bener bersih dan aman. Bisa yakin gak?

Nikmati : Media gak perlu dilarang. Dibatasi iya tapi nikmati jugalah. Nonton bareng, main bareng. Spend time with your kids. Supaya bisa tau sudah sejau mana sih pengertian dan pengetahuan mereka? Masih taraf Pocoyo apa sudah mulai menikmati Waktu Rehat? Shaun the Sheep tu lucu banget lhoo 🙂

Karena diriku pernah sejenak berkecimpung di media, setuju banget dengan poin terakhir. Ya iyalah, media dibuat memang untuk dikonsumsi dan dinikmati kok. Lagian aneh banget gak sih klo mama dan papanya nonton tivi tapi anaknya ga boleh? Anak lihat kita asyik cetak cetik di bb pasti penasaran dong pengen tau. Wajar. Makdarit kudu dibekali biar anak ga sekedar jadi konsumen, tapi juga mengerti apa yang dikonsumsi sehingga pada saatnya dia juga mengerti apa yang dia produksi.

Beberapa situs yang jadi rujukan Pak Praj:

www.commonsensemedia. org  – ada artikel2 tentang tips n trick menghadapi dunia digital, serta rating games, apps yang sesuai dengan umur anak

www.medialit.org – serba serbi melek media dari organisasi di Amriki sono

melekmedia.org – kata taglinenya, “Peta bagi Anda yang tersesat di dunia pencitraan oleh media” hehehe.. ini buat para ortu nih 🙂 twitternya @melekmedia

Oks deh, sekian laporan hasil forum diskusinya. Klo ada pertanyaan tanya aja langsung ke pak Praj yaa…


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s