Drive Bebe, Drive part 2

Pleasant, is not a word one would use to describe Jakarta‘s traffic. Horrid is more like it. The roads are not exactly wide, there are way too many private vehicles and not enough public transportation to alleviate the traffic. To makes matters worse, there are literally tens of thousands of motorcyclist crowding the streets at every hour of everyday. Not exactly something that would entice anyone to drive and join in the throngs. So I don’t. I was quite content to use taxis and drivers to get me from point A to point B. Until I have children.

One can't take pictures like this if behind the wheel 🙂

Actually I didn’t immediately start driving as soon as I have kids, (for a history of my driving read here) I started driving after we move house and Babeh got a new city car for us. We moved a bit further back to the suburbs, in fact our house is right on the city border between Jakarta and Cirendeu; just cross the bridge and I’m in another province altogether. As such, Babeh thinks it is high time we got another car just to complete the white picket fence type family with 3 cats instead of dogs.

I was still quite reluctant since we have a driver, but the longer distance between our house and Babeh’s office plus his busier schedule, force me to drive myself and the kids around. Since we just love the traffic, we manage to carve our kids lives as close to home as possible so all their schools and extra curricular are still within the 10-15 minutes driving from home. But there is this one place that’s about 45 minutes away. Now, the furthest I drive was to our local mall, about 20-30 minutes away.  This place is a little bit beyond the mall.  On this particular day, Babeh needs the car and it is silly to use taxi when there’s a perfectly good city car sitting on the driveway. So I packed the kids, say a little prayer, and off we go.

To say I was nervous was understatement. White knuckles gripping the steering wheel tight. Then something happened. I passed the mall, wait for the light to turns green, and turns to the adjoining street leaving the Pondok Indah area, entering Radio Dalam. As I was driving the somewhat long stretch of road something clicks. There’s really nothing to driving, just a matter of confidence and familiarity and I was pretty familiar with the area. I spend over half of my live living in South Jakarta in particular the Blok-M – Lebak Bulus area, so it’s not like I’m venturing into a brave new world. It’s an old world I pass everyday just now with me behind the wheels.

Just like that, my fear of driving dissipates. I can not let my fear of Jakarta’s traffic rule over me. My children need me. I need to be able to step up when needed. My parents did not raise me to be a dependent person, they raise me to be independent. Driving is one way to prove it. Interesting how I need my children to points that out to me, around 9 years after I moved back home to Jakarta. It’s amazing how proud my kids can get when I pick them from school myself.

But as they say, better late than never 🙂 Although the furthest I got so far is to my work place – still within South Jakarta – it is good enough for now. So thank you kids, for trusting and believing that your mommy can! Love you lots!!!

Advertisements

Cerita Jumat: Hakikat Rezeki

Allah in stone in Rohtas Fort, District Jhelum...

Syukuri yang sedikit 

Dengan itu, Allah akan memantaskanmu menerima yang banyak 

Berlapang dadalah terhadap ketidak sesuaian 
Dengan itu Allah akan mempersempit perbedaan  

Hati yang mampu bersyukur dan lapang pada perbedaan, 
Adalah hati yang selamanya bahagia.

-Sayyidah Djauhar Murtafiah-

Ibu saya selalu mengingatkan untuk bersyukur, bersyukur atas segala rizki dan karunia yang sudah Allah limpahi selama ini. Tetapi apa sebenarnya rizki itu? Dalam bahasa Indonesia rizki diadaptasi menjadi rezeki yang menurut KBBI artinya adalah:

rezeki re.ze.ki
[n] (1) segala sesuatu yg dipakai untuk memelihara kehidupan (yg diberikan oleh Tuhan); makanan (sehari-hari); nafkah; (2) ki penghidupan; pendapatan (uang dsb untuk memelihara kehidupan); keuntungan; kesempatan mendapat makan

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/rezeki#ixzz1qKDidLtO

nafkah naf.kah
[n] (1) belanja untuk hidup; (uang) pendapatan: suami wajib memberi — kpd istrinya; (2) bekal hidup sehari-hari; rezeki: terasa sulit mencari — di negeri yg tandus itu; mencari — di rantau

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/nafkah#ixzz1qKDsKP5H

Rezeki ternyata berhubungan erat dengan nafkah. Kebetulan pas pengajian kita membahas hal ini. Kalau menurut Al-Quran, rizki adalah apa yang dapat digunakan bagi yang memilikinya. Sementara nafkah adalah sebagian rizki dari Allah yang diberikan melalui perantara (dalam hal ini maksudnya suami).

Karena memberi nafkah adalah kewajiban seorang suami maka jangan sampai seorang istri ‘menuhankan’ suaminya. Maksudnya apabila ada istri yang tidak turut membantu mencari nafkah atau membantu tapi hasilnya tidak sebesar suaminya jangan sampai merasa kecil hati karena mencari nafkah adalah kewajiban suami, bukan istri.

Rezeki itu sendiri terbagi dalam 2 waktu:

  1. Sekarang: meliputi apa yang kita makan, pakai, gunakan, tempati, rasakan, pada saat ini. Misalnya, siang ini kita makan sepiring nasi dengan 1 tempe goreng, 1 telur dadar dan semangkuk sayur bayam, itulah rezeki siang ini. Malam nanti belum tentu kita makan yang sama, belum tentu juga bisa makan meski tentunya jangan sampai ya…
  2. Nanti/akan datang: meliputi hal di masa tua , anak dan cucu, terhindar dari musibah, dan tentunya, akhirat.

Yang perlu diingat, apa yang kita kerjakan hari ini adalah rezeki untuk besok. Setiap hari kita diberi kesempatan untuk menabung rezeki untuk dituai di masa datang; kita bekerja-menghasilkan uang-bisa membeli makanan. Kalau bermalasan-tidak akan menghasilkan uang-tidak ada makanan. Demikian juga ibadah, apa yang kita kerjakan hari ini, ‘buah’nya baru akan kita nikmati nanti di hari akhirat.

Benarlah apa kata ibu, “Banyak-banyaklah bersyukur atas segala rizki dan karunia yang kau dapatkan hari ini, besok dan seterusnya,” karena ternyata rizki bukan saja apa yang kita dapat sekarang, namun kita juga harus menabung rizki untuk masa depan. Hal mudah yang kadang kita lupakan. Jadi, yuk kita teruskan tabungan yang satu ini, jangan sampai lalai mengisinya 🙂

ps: Ayat rujukan untuk bahasan ini adalah QS Al-Baqarah : 233 

walwaalidaatu yurdhi’na awlaadahunna hawlayni kaamilayni liman araada an yutimma rradaa‘ata wa’alaa lmawluudi lahu rizquhunna wakiswatuhunna bilma’ruufi laa tukallafu nafsun illaawus’ahaa laa tudaarra waalidatun biwaladihaa walaa mawluudun lahu biwaladihi wa’alaa lwaaritsi mitslu dzaalika fa-in araadaa fishaalan ‘an taraadin minhumaa watasyaawurin falaa junaaha ‘alayhimaa wa-in aradtum an tastardhi’uu awlaadakum falaa junaaha ‘alaykum idzaa sallamtum maa aataytum bilma’ruufi wattaquullaaha wa’lamuu annallaaha bimaa ta’maluuna bashiir

http://alquran.babinrohis.esdm.go.id/mp3player.swf[2:233] Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Kamis Menulis: WOM & Penjual Parfum

Note: ini harusnya dipublish beberapa minggu yang lalu tapi gara-gara anakku sakit jadi kelupaan. But anyway, here it is 🙂 

Kelas Kak Sesek atau @sheque di Akademi Berbagi Jakarta kemaren berbicara tentang Word of Mouth (WOM) di Social Media dan dampaknya di dunia periklanan. Menurut beliau, ketika konten yang diciptakan suatu brand relevan dengan bagi konsumennya atau punya share value maka konsumen akan dengan senang hati menyebarkannya dengan sukarela. Apabila tepat maka branding lewat WOM di SocMed bisa sukses berat karena masih banyak konsumen yang lebih percaya pada WOM, rekomendasi teman atau orang yang mereka percayai ketimbang apa kata iklan.  Misalnya contoh kasus Heineken yang lewat WOM bisa memaksa penggemar bola untuk nonton konser ga jelas ketimbang nonton bola di rumah.

Melihat contoh si Heineken ini pikiranku malah terbawa ke hal lain; pentingnya mencari teman yang benar (dan baik) karena peer pressure itu ternyata terus saja ada sepanjang hidup kita. Tadinya kupikir kepentingan tentang memilih teman tu cuma pas sekolah aja, biasa kan pasti kita dijejeli aneka nasihat, “Cari temen yang pinter, yang rajin, jangan yang nakal, tukang bolos…” dan lain sebagainya. Karena yah namanya remaja pasti kita adalah main-main pas malam hari 😉 Inget banget sama Jou, Luci atau Mel, klo malem libur kita suka nongkrong dulu di cafe, ngobrol, update gossip, sebelum pindah ke tempat joget. Abis joget laper kan, mampir dulu tempat makan, baru pulang. Kadang-kadang udah terang baru pulang. Bedanya sama neng Xenia, aku dan teman-temanku gak konsumsi miras, rokok dan narkoba. Setidaknya klo perginya bareng aku ya kita bersih-bersih aja, karena geng aku suka joget – Jou itu penari prof – dan kita gak bisa joget okeh klo ‘under influence’ oklah kadang Jou merokok tapi dikiiit. Pulangnya emang rodo ‘sempoyongan.’ Dikata ga pegel apa joget-joget! Yah if only…Klo lagi trolling fb liat temen-temen jaman itu rata-rata dah jadi emak dan bapak, geli juga mikirin pas jadulsnya kita seperti apa. Pas dah tuwir, baru ibuku cerita kalau waktu SMA dulu, ibu suka telpon-telponan sama ibu temen-temenku. Ternyata mereka saling curhat yang intinya duh, semoga anak-anak kita ga terkena narkoba. Maklumlah di Amsterdam apa aja ada dan mudah aksesnya bow. Tapi ya Alhamdulillah saya dan teman-teman selamat, sehat, sejahtera melampaui masa-masa itu.

Kirain dah beres dong, umur segini masa iya masih pengen coba-coba narkoba dan miras? Childish banget. Ternyata enggak loh. Peer pressure tetap aja ada dalam berbagai bentuk. Dari yang bentuknya seperti perpanjangan masa sekolah (tas kudu brand tertentu, arisan kudu yang begini begitu, dll) sampai ke yang sepertinya mengajak ke kebaikan padahal menjerumuskan. Bedanya klo narkoba kita berjudi dengan nyawa, klo yang ini kita berjudi dengan akidah. Ga tau deh mana yang lebih parah. Sama aja kayaknya.  Apaan sih? Itu lho ikut pertemuan tertentu yang ternyata adalah aliran sesat. Alih-alih jadi manusia yang lebih baik malah menjauhkan diri dari Allah. Weks! Dan itu awalnya kan dari diajak temen, “Eh ikut yuk ke acara ini, keren lho…” atau, “Eh menurut si anu kamu sekarang boleh lho ikutan ama kita, ini kan kumpulan yang eksklusif…” Astagfirullah…

Makin tuwir tetep aja rempong!

Bedanya kalau sekarang mikirnya bisa agak panjangan dikit berkat pengalaman hidup. Sebetulnya simpel aja, seperti yang sering diutarakan, bertemanlah dengan penjual parfum, kutipan dari HR Bukhari dan Muslim ini bener banget kok. Kerasa banget waktu berteman sama Rob dan Matt, karena mereka berdua anak pinter – Matt itu straight A student – mereka dipilih jadi TA atau teaching assistant. Aku satu-satunya yang enggak dan aku pengen banget jadi TA. Alasannya simpel banget; Rob sama Matt jadi TA masa aku enggak? Mulailah diriku ‘mengemis’ ke para prof supaya jadi TA. Berhasil! Meskipun di BU itu ada 2 jenis TA, yang beneran membantu ngajar macam si Rob dan Matt, sama yang jadi asisten administratif (semacam aspri gituh). Guess which one I am?  But no matter. Yang penting jadi TA 😉

The wonderful mba Nunik aka @pasarsapi

Sama juga seperti keikutsertaan dalam Akademi Berbagi. Kalau ga temenan sama mba Nunik, mungkin ga tau atau nggak ngeh Akber itu apa trus ga bakal bertambah deh ilmunya, bertemu dengan guru-guru hebat macam pak Bi, kak Sesek, Pidi Baiq, dan banyak lagi guru-guru yang sukarela hati membagi ilmunya. Dan tentunya  dapat dengan teman-teman nan keren seperti duo Danny/Dhani, mba Mell, Nume, Wulan, Chika, mas Suryo, Aan, Umar, yang punya segudang aktifitas selain Akber seperti program Satu Buku Satu Saudara, Toilet Higienis, KGG, yang semuanya program komunitas; your life is more than just you! Bahkan besok aku malah mau ikutan LLD atau Local Leadership Days yaitu rapat akbar dan workshop untuk relawan-relawan Akber seantero Indonesia. So excited!! Pastinya bakalan seru banget ketemu temen-temen baru dan tentunya dapat banyak ilmu baru 🙂

Ah, emang ga salah deh kalau dalam hidup kita tu berpegang pada Quran dan hadits.  Sudah terbukti kok. Just remember, WOM dari penjual parfum insya Allah aman.

Ps: Kutipan lengkapnya:

Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamubisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium bau wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap“. (HR.Bukhari & Muslim)

My Mama’s Porch

Image

With a steaming cup of tea or warm chocolate milk, it is the perfect spot to enjoy the rain.

I lost count how many rainy afternoons and nights I spent sitting on this porch. Almost always with my mom next to me. When I was younger she’d make me a cup of chocolate milk, particularly on rainy nights. Now that I am way older I usually make us a pot of tea to enjoy. And it really is bliss. Just sitting there, enjoying the view and the rain.

We moved to this house when I was 11 and couple year later my dad was offered a job abroad which he accepted and off we move. We didn’t sell the house, my older sibs live and took care of it while we were away. As it turned out, our little adventure abroad took just a bit longer than expected. My parents returned a few years earlier than me. Still, I leave the house as an 8th grader, I moved back in permanently after I got my Master. Though we returned there almost every summer holidays I really didn’t spend a lot of years there, particularly since I got married less than I year after I returned.

But one thing that I cherish the most about my parents house is the porch. It is not big, in fact compared to say the Desperate Housewives’s type of house it is positively tiny but it is large enough to hold 3 chairs and a small table. And that’s where my mom and I like to perch with our teas.

Porch conversation ranges from trivia to serious stuff, whatever we feel like talking about at that particular time. Sometimes we don’t talk at all, simply enjoying each other’s company. The rain never last long, even if it did, my mom always have a tons of thing to do. I used to get annoyed. That is until I became a mom myself. Then I cherish whenever we got the chance to have our sit-down time.

We don’t just sit there during the rain of course. We’d sit there even when there’s no rain. Usually on holiday mornings or rare afternoons. We were lounging there when my sister’s then boyfriend suddenly made an appearance and got to be grilled by us before my sister show up. He pass the test just fine. He went on to be my brother-in-law.  Another memorable moment was the time that a total stranger come out of a becak selling his homemade layered cake door-to-door. My mom invited him to the porch, he told us he originally came from Bangka, then he moved to Jakarta and now starting a cake business. He proceed to tell us about his layered cake, how it is made using traditional methods and recipe handed down from his mom’s family. Then he cut a small slice for us to taste. Man it was delicious! My mother instantly knew he was telling the truth. You see my mom used to live in Bangka when she was young and the cake taste of her childhood. She’d come to her friends’ house and their mom would offer her their version of the layered cake.  My mom sign on to became a lifelong customer immediately.

Every year he would come to our house to deliver the cakes for Eid. We witness his business grow from his mode of transport, he started with the humble becak, then bajaj, until finally he has a minivan to transport his goods. His daughter now handles the order but every now and then he would come out himself to deliver our cakes. Our family is such a longtime customer that there are certain cakes that are now off the menu except for us. How can we not love them?

I visit my parents a lot, and I do have dates with my mom, so it’s not like I don’t see them at all. Even so, opportunity to sit at the porch is not as much as it used to be. What better way to preserve the memory then? How about you? Do you have a porch that you love?

Changing Looks, Changing Directions

For whatever reasons I’ve been disconnected from myself for the last few months. I didn’t feel like writing anything. My commitment to write once-a-week slipped and completely gone towards the end of last year. Everytime I sat down to write something my mind wanders off and cleaning the house seems much more fun that writing. Bad bad case of mental block. Not sure why I got unmotivated like that.

I didn’t cancel my blog subscription though and while I was cleaning my inbox I notice their ever-present new themes notice. Intrigued, I click on one of them. Of course when you’re looking through themes you can’t just look at one, you just have to click on several, sent it to new tabs and pretty soon my screen is full of preview tabs. I poke through each one. Ping! Why not just change the theme? I like how my blog looks, it took me ages to find one that suits but it just seems so last year. The person who created that was this bubbly cheerful gal and now I feel darker, I just don’t feel like her right now.

Once I finally choose a theme – took me a good few days to settle upon one – I though of heck why not revamp it altogether? Why not have my cats grace the blog? After all it is called Metro Kitmom, time to put the kitties on display methinks! This of course requires editing some pics as in their original state it is way too big. So I look for a free, legal, photo editing software – I don’t need much, just resizing and cropping – and poke through my library of Bebel’s Family photos and hey, I actually have an edited photo of all three cats together! This would be great for the background tile! I also toyed with the idea of having a photo header, but if I already use the cats as background I think header would be a bit overkill. In the end I just resized the Bebel Family photo and use that as tile background. Voila!

The tone is somewhat darker now. But strangely, it fits. Let’s hope this burst of enthusiasm will carry me through 😉

Bebel Bella

Kitmom, don't be lazy, go write about me!

Lessons from the Supermarket

Note: This is actually an old note that for whatever reason didn’t get posted. I nearly didn’t post it but with all the craziness that’s going on right now I feel it is still relevant, it still express my feelings whenever I go to a supermarket even today. So here it is. 

"The New Fred Meyer on Interstate on Lomb...

Image via Wikipedia

Have you ever burst into tears upon seeing rows and rows of fully stacked goods in a supermarket? Last week I nearly did just that. I was already planning to do my grocery shopping after work at the supermarket near my home. But because my last class was cancelled – the student called in sick and it was a class of one – I decided to go to the one near the college instead. I just finished reading an update of the Somalia famine in the  Time Magazine during my lunch break. Then I went to the supermarket. Big mistake.

The supermarket near the college was a huge hangar style supermarket.  It has a large selection of fresh fruits, vegetables, a fully stocked meat and poultry sections, frozen goods and all the usual supermarket stuff.  Not only local brands, it also has a huge selection of imported goods, I could just as well be in the middle of Ralph’s or Star Market, and of course it is stacked full from top to bottom with assorted goodies. And I nearly cried.

I look at the rows upon rows of goodies and the pictures from the Somalia famine flashed into my mind. I go to the meat section and remembered the village, not very far from us who needs to chip in collectively for a kilo or two of meat. Here I am standing in the middle of a gleaming fresh supermarket, populated with well off shoppers, in a capital city of a developing country. A country so rich that some of its population need to save up for a year to eat meat.  Then across the continent there are people who are starving to death. Babies and infants that has no chance of survival. How could they when their mother don’t have any food? I nearly didn’t shop.

I wander around the aisles, taking in all. Sorting out my thoughts. How can one shop when others are in misery? But why should I not shop? My family certainly needs to eat. Do they need to starve too?

Then something my Quran teacher always told me came floating back, “Things happen in pairs. Bad things happen so you can appreciate the good ones.” Of course! If all you know are good stuff, good things, how can you learn to truly be thankful and grateful for all the blessing that you got? If you never got sick, how can you appreciate being healthy? How could you learn moderation when you lead a life of excess?

Yes bad things happen. Yes it sucks. No it does not mean you should break down in despair, it merely meant as a challenge to yourself. So the world is fucked up. What are you going to do about it?

I am reminded by yet another advice from a friend I nicknamed Gus. He said that you may not be able to save the world right now, but you can certainly still do something. If you can save the world, that’s great, go and do it. But if not, go save locally. Whatever it is, do something don’t just mope about feeling depressed. That’s not gonna help anything or anyone.

I took a deep breath. I can’t starve my family, what good would it do? Not to mention gross negligence like that would be criminal actually. Keywords; be grateful, be mindful. One thing at a time. I have to do grocery shopping, so do that now but be mindful, buy only what’s needed. When that’s done, be grateful and help others. And that’s exactly what I’m gonna do.

Tips Cerdas Bermedia Untuk Anak

Kemarin sekolah anak saya mengadakan forum belajar dengan tajuk Menyikapi Pengaruh Kemajuan Dunia Digital Terhadap Pola Asuh Ananda. Sebagian besar saya live twit dengan hashtag #sdga karena saya nggak ngeh kalau ternyata Gemala Ananda punya twitter. Salah satu yang mengikuti live twitnya mba @umnad  minta hasilnya diposting ulang di blog. Tadinya emang mau copas aja semua yang saya kasih #sdga tapi pas dibaca ulang kok alurnya rada kurang asik gituh. Ya eyalah, live twit gituh jelas rada patah-patah alurnya. So ini saya coba rangkum ulang yaaa 🙂

Jadi ya di forum ini kita membahas tentang kemajuan teknologi masa kini dan bagaimana menyikapinya. Pertama tentu pola asuh. Hari gini udah ga jaman lagi pola asuh yang otoriter ala kakek-kakek kita dulu, tapi juga jangan memanjakan banget macam  paman-paman kita sebagai balasan dari pola asuh otoriter. Yang lebih baik ya diantara keduanya. Ada kalanya kita harus tegas, ada saatnya kita harus mendengarkan anak. Kita harus sadar tanggung jawab kita sebagai orang tua tu apa, menyadari hak anak, dan menyeimbangkan keduanya. Apa harapan kita pada anak? Bagaimana mencapainya? Misalnya, kita ingin anak kita tumbuh menjadi anak yang beriman dan bertanggung jawab  maka terlebih dulu kita harus menjadi orang tua yang beriman dan bertanggung jawab. Aneh dong kita minta anak kita shalat sementara kita sendiri shalatnya bolong-bolong. Ga konsisten kan?  So apapun yang menjadi harapan kita untuk anak, coba deh kita ngaca dulu. Kita sendiri sudah menjadi atau belum? Anak belajar dari mencontoh sekitarnya. Mau gak mau kitalah panutan pertama anak. Owkey…

Nah klo soal pola asuh pastilah masih banyak materi dan seminar tentang ini sekarang kita bahas tentang dunia digitalnya yaaa…

Pembicara untuk segmen dunia digital adalah Pak Rahardian P. Paramita atau @prajnamu. Pak Praj ini adalah aktivis melek media, dosen (lupa dimana) dan juga aktif di Saling Silang, pokoknya beliau udah ga asing lagi deh sama yang namanya dunia maya.  So Pak Praj bilang sebetulnya Dunia Digital itu sudah dimulai dengan adanya televisi. Hanya kalau televisi itu interaksinya satu arah saja, dari broadcaster sebagai produsen konten,  ke kita sebagai konsumen. Sementara dengan perkembangan internet atau dunia maya maka interaksinya sekarang 2 arah. Kita gak lagi menjadi penonton pasif tapi juga produsen konten dan konsumennya. Meskipun demikian, sebetulnya untuk anak-anak media yang paling banyak mereka konsumsi sampai saat ini tetap televisi. Seiring dengan usia baru mereka kemudian mulai mengkonsumsi media digital yang lain i.e. the internet atau merambah dunia maya.

Sebelum mereka mulai aktif mengkonsumsi media selain televisi tugas kita sebagai orang tua untuk lebih dulu mengetahui apa sih media lain itu? Pak Praj menyimpulkan hal ini sebagai:

Media 2.0: baca, lihat, dengar, terlibat #sdga

Melek media: kemampuan mengakses, menganalisa, menilai dan mengembangkan media dlm berbagai bentuk #sdga

 Yep, ortu kudu melek media dulu bisa bisa mendampingi anak-anak bermedia. Ini dimulai dari membatasi akses anak ke media sesuai umur; anak jangan dilepas begitu saja dalam mengkonsumsi media. Dibawah 5 tahun Pak Praj sama sekali tidak merekomendasi anak untuk mengkonsumsi media. Menurutnya, lebih baik anak-anak mengembangkan kemampuan motoriknya secara maksimal dulu dengan banyak bermain, lari-lari dll.  Setelah mereka lebih besar kata kuncinya adalah batasan dan pendampingan, misalnya, anak boleh aja nonton tivi tapi dipilih dulu acara apa yang mereka boleh tonton, jangan gebyar uyah semua dibuka. Trus dampingi anak ketika menonton, selain kita tau dengan pasti apa yang mereka tonton, apabila ada hal-hal yang mereka tidak mengerti kita bisa langsung memberi penjelasan kepada mereka.
Mau ga mau anak kita akan berinteraksi dengan komputer dan dunia digital. Sekali lagi batasan dan pendampingan. Misalnya, tau nggak kalau batas umur fb itu 13 tahun? Yang artinya anak dibawah usia 13 tahun belum boleh membuka akun facebook sendiri. Rata-rata socmed juga punya batasan umur berapa boleh menggunakan servis mereka. Itu dibuat bukan tanpa alasan.  Apapun yang kita utarakan di media maya akan selalu ada meskipun sudah kita hapus dari komputer kita. Kita harus bisa bertanggung jawab atas apapun yang kita tulis. Apakah anak yang baru saja lancar membaca dan menulis mampu? Bukan hanya pada apa yang dia tulis, tapi reaksi yang mungkin muncul atas apa yang dia tulis. Beban besar yang orang dewasa saja belum tentu mampu. Buat yang sering bertwitter pasti tau dong soal twitwar dan twitbully. Anak SD apa siap menghadapi itu?
Tapi tapi anak kita kan ga akan SD selamanya? Bener, oleh karena itu Pak Praj memberi tips selanjutnya:

Raise Media Smart Kids; Batasi, patuhi, kritisi, diskusi, nikmati #sdga

Batasi : seperti yang sudah kita bahas tadi, harus ada batasan dan aturan tentang konsumsi media, apalagi pas SD mereka kan harus belajar, bikin peer, nggak bisa dong main games dan nonton tivi sepanjang waktu. Harus dibuat jadwal untuk aktifitas mereka. Jangan sampai waktu mereka untuk tidur, main dan belajar berkurang.

Patuhi : aturan yang sudah dibuat, sepakati dan patuhi. Tegakkan. Kalau dilanggar harus ada konsekuensinya. Ini semua tentu bisa didiskusikan bersama. Kalau sudah SD mereka bisa kok diajak ngobrol, misalnya berapa jam mereka boleh nonton tivi, jam berapa harus belajar dan bikin peer, dll. Contoh, kalau hari sekolah tidak boleh main PS, bolehnya pas libur.

KritisiIt’s not enough to know how to press buttons on technological equipment; thinking is even more important – medialit.org.

Nah ini nih penting banget. Kita kudu, harus bin musti kritis terhadap media yang kita konsumsi. Jangan telen bulet-bulet apa yang kita lihat, baca, dengar. Tapi kudu dipikirkan juga, diskusikan. Buka percakapan tentang apa yang anak baca, dengar, tonton, mainkan. Apalagi sekarang anak akses media tidak hanya lewat tv dan komputer saja tapi juga lewat hp dan smartphone.  Ajak anak memikirkan apa yang mereka konsumsi. Ini akan membuat mereka lebih awas dan kritis terhadap media. Which means, ortunya kudu kritis dulu yee… 😉

Oya, soal hp, pikir lagi deh perlu gak sih anak dikasih hp? Klo SD anak saya sih dengan tegas melarang muridnya memakai hp. Apapun yang perlu disampaikan ke anak telpon ke sekolah. Kebetulan SD anak saya juga cukup kecil jadi memang gak perlu juga berhp ria. Kalau mas @donnybu dari internetsehat bilang sampai SMA anak hanya perlu hp yang bisa telpon dan sms. Itu saja. Lain2nya gak perlu. Kalau sudah kuliah nah itu baru deh rada gemana getoo… tapi karena anakku masih SD sekian saja uraian tentang hp. Klo dah SMP ntar kita terusin lagi. heh heh.

Oh pak Praj pesan kalau kita menggunakan smartphone macam bb, iphone, sebaiknya dikunci kalau dalam jangkauan anak untuk menghindari anak mengakses hal-hal yang gak perlu. Klo gak dikonci ya kudu yakin banget ga ada isi smartphone kita bener-bener bersih dan aman. Bisa yakin gak?

Nikmati : Media gak perlu dilarang. Dibatasi iya tapi nikmati jugalah. Nonton bareng, main bareng. Spend time with your kids. Supaya bisa tau sudah sejau mana sih pengertian dan pengetahuan mereka? Masih taraf Pocoyo apa sudah mulai menikmati Waktu Rehat? Shaun the Sheep tu lucu banget lhoo 🙂

Karena diriku pernah sejenak berkecimpung di media, setuju banget dengan poin terakhir. Ya iyalah, media dibuat memang untuk dikonsumsi dan dinikmati kok. Lagian aneh banget gak sih klo mama dan papanya nonton tivi tapi anaknya ga boleh? Anak lihat kita asyik cetak cetik di bb pasti penasaran dong pengen tau. Wajar. Makdarit kudu dibekali biar anak ga sekedar jadi konsumen, tapi juga mengerti apa yang dikonsumsi sehingga pada saatnya dia juga mengerti apa yang dia produksi.

Beberapa situs yang jadi rujukan Pak Praj:

www.commonsensemedia. org  – ada artikel2 tentang tips n trick menghadapi dunia digital, serta rating games, apps yang sesuai dengan umur anak

www.medialit.org – serba serbi melek media dari organisasi di Amriki sono

melekmedia.org – kata taglinenya, “Peta bagi Anda yang tersesat di dunia pencitraan oleh media” hehehe.. ini buat para ortu nih 🙂 twitternya @melekmedia

Oks deh, sekian laporan hasil forum diskusinya. Klo ada pertanyaan tanya aja langsung ke pak Praj yaa…