Cerita Jumat : Mengurus Keuangan ala Kak Jum

Lagi ngobrol tentang mengurus keuangan rumah tangga, salah satu eyang internet saya Eyang Ning, kemudian berbagi cerita tentang bagaimana beliau belajar sama Kak Jum tentang hal tersebut.  Menurut saya sangat menarik karena itu saya minta izin untuk saya post kesini. Semoga bermanfaat.

Mengurus Keuangan ala Kak Jum

oleh Eyang Nening

Dulu, ketika saya ngenger (ndherek = numpang= ikut) di rumah Kak Jum, kalau disuruh belanja (waktu itu masih remaja kecil), harus tahu harga, harus dicatat : dikasih uang berapa, dipakai berapa, sisanya berapa, kembali harus pas. Saya perhatikan tiap menjelang tidur Kak Jum menulis dalam sebuah buku. Saya sangat penasaran, buku apa itu?

Suatu hari pas Kak Jum pergi, saya buka bukunya. Judulnya : Buku Kas Keluarga. Isinya,  seperti yang saya pelajari kemudian, yaitu pembukuan keuangan. Debet. Kredit. Saldo. Tapi yang punya Kak Jum sederhana.  Oya, Kak Jum hanya punya ijazah SD, karena ketika sekolah di SKP Kelas 2 beliau menikah. Suaminya Guru Agama SD, anak mereka 4. 

Suatu hari Kak Jum menderngar ada rumah dijual. Diam-diam dia melihat rumah itu. Tertarik.  Dia ajak suaminya melihat rumah itu. Lalu Kak Jum ingin membeli rumah itu.  Suaminya sangat terkejut! Mana mungkin?  Sangat tidak mungkin.  Tapi Kak Jum bilang : saya punya uang.  Ha?? Uang dari mana? Lalu ia menunjukan sebuah kantung dan mengeluarkan isinya.  Ternyata perhiasan dalam berbagai bentuk dan ukuran berat! Ada yang 500 mlg, 300 mlg, 400, paling berat 1 gram.  Semuanya emas 24 karat.  Keesokan harinya semua perhiasan itu dijual. Kak Jum dan suaminya membayar rumah itu dengan hasil penjualan emas tersebut. 

Kak Jum sangat senang bersedekah. Di mana pun di toko, di pasar, di RS, di stasiun, kalau ada pengemis pasti diberinya uang. Setiap akan mencuci beras, selalu diambilnya beras 1 cawuk (1 cidukan dengan 4 jari tangan = satu jimpitan), lalu disimpan di cepon. Kak Jum sangat pandai mengelola keuangan, walaupun suaminya hanya seorang guru SD (pada jaman dahulu, gaji guru sangatlah kecil).  Keadaan ekonominya terbatas, tapi setiap bulan selalu bisa ‘ngirim’ ibu mertua yang sudah janda sejak suaminya kecil.  Dan setiap tahun bisa membelikan pakaian (kain, kebaya, kerudung, sandal). Kak Jum sendiri yang memilih dan menyerahkan kepada ibu  mertuanya. Mungkin karena itu, mertuanya sangat sayang, dan melimpaihnya dengan restu untuk rumah tangganya.

Pelajaran yang dapat saya petik ketika ngenger di rumah Kak Jum adalah :
1. Isteri adalah bendahara, harus tanggung jawab dalam bentuk buku catatan keluar masuknya keuangan dalam rumah tangga.
2. Menabung tidak cukup, tidak menabung juga tidak cukup. Sama-sama tidak cukup jadinya  wajib nabung!
3. Beras adalah makanan pokok. Ora ilok, (pamali) sebuah rumah tangga kehabisan beras. Minyak goreng, teh, gula pasir boleh kehabisan, tapi beras jangan sampai habis, karena  itu merupakan simbol.
4. Jadi isteri harus gemi, nastiti, ngati-ati, aja medhit.  Gemi = hemat; nastiti = cermat; ngati-ati = hati-hati. aja medhit = jangan pelit.
5. Jujur adalah aset yang sangat penting.

Kak Jum adalah guru saya! 

Kami tinggal di rumah yang dibelinya dengan menjual perhiasan itu.  Ketika sudah bekerja, pertama kalinya saya menerima gaji saya praktrek ‘pembukuan’ seperti yang Kak Jum ajarkan sampai sekarang. Sama sekali tidak berat, tidak capek, mungkin karena sudah sangat terbiasa nyatet-nyatet, apalagi anak-anak dan suami mendukung (misalnya anak-anak sejak kecil kalau disuruh belanja/beli sesuatu, selalu menyerahkan catatan belanja/kembalian…

Setidak-tidaknya, ilmu pembukuannya itulah yang saya praktekkan.. Begitulah ceritanya…

Salam sayang,

Yang Ning
Advertisements

One thought on “Cerita Jumat : Mengurus Keuangan ala Kak Jum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s