Cerita Jumat: Tirai Puasa

Belakangan ini sering terdengar seruan, “Hormatilah yang tidak puasa.” Tinggal di Indonesia yang majemuk tentunya butuh toleransi yang besar, ada beberapa yg masuk akal, ada juga yang buat saya rada lebay. Apa aja sih?

1. Berisiknya masjid kami.
Di bulan Ramadhan, speaker-speaker masjid memang sepertinya disetel pada volume maximus. Dari bacaan tarawih sampai tadarusan menanti Subuh. Apalagi disertai panggilan untuk sahur.
Kalau kata guru saya, memang harus lihat-lihat suasana. Adzan tentu harus kencang, namanya juga penanda waktu. Tapi tadarus? Apalagi maaf maaf, kalau yang melantunkannya tidak merdu. Alih2 terhibur kuping guru saya juga gatel mendengar pelafalan yang kurang tepat. Jadi ada baiknya dipikirkan untuk mengecilkan volumenya dan pilihlah yang lafalnya bagus kalau memang mau pakai mic.
Perlu gak sih dibangunin sahur? Di satu sisi memang benar kita punya weker bisa setel sendiri. Di sisi lain kalau memang penduduk atau warga setempat mayoritas Muslim kenapa tidak? Siapa tau ada yg lupa setel wekernya? Caranya saja yang diperhalus. Juga mungkin tidak perlu dibangunkan pagi-pagi banget, setengah jam sebelum imsak saja. Sekedar menggetarkan tiang listrik tidak terlalu intrusif kan?

2. Larangan menjual makanan di siang hari.
Kalau ini rasanya agak lebay ya mengingat ritme kehidupan berjalan biasa saja selama Ramadhan, tidak dibalik seperti di Saudi. Kalau mereka dilarang berjualan, bagaimana mereka mencari uang?

Kalau klub malam? Yah rasanya lucu aja mereka buka 11 bulan dalam setahun. Trus selama sebulan itu pegawainya gimana? Apa gak lebih baik tutup aja selamanya? Tapi ya balik lagi, kan majemuk la haiii. Entahlah yang ini ntar aja klo jadi gubernur baru dipikirkan. As if ๐Ÿ˜‰

3. Pemasangan pembatas di tempat makan.
Hmm… Memang sih seyogianya kita udah pada kuat semua menahan lapar jadi gak usah ditutup. Klo niatnya kuat ada yang makan di depan kita juga gak kepingin kok.

Cuma… Nah kalau ini sih lebih ke pendapat pribadi ya. Kalau semuanya dituruti, speaker masjid dimatiin, tempat makan nblas aja, jadi gak kerasa puasanya. Garing! Tinggal bertahun-tahun di negeri non-muslim asli kangen sama tirai-tirai penutup itu. Buat saya jadi kerasa beda. Ini bulan Ramadhan. Bulan yang spesial. Oh tentu kalau mau disingkap silahkan saja, tapi rasanya gimana gitu. Ketika tirai-tirai itu dipasang, sepertinya seluruh kota ikut merayakan, bukan hanya saya sebagai individu. Apalagi mendengar tadarus subuh. Kalau arah anginnya tepat, saya bisa mendengar lantunan dari 2-3 masjid. Meski gak terlalu jelas, tapi lamat terdengar. Nikmatnya diberi karunia pendengaran.

Saya bukannya gila hormat, yo gw lagi puasa nih jangan makan dong lu. Enggak. Alhamdulillah badan sehat dan udah menuju tuwir pulak jadi insya Allah bisalah mengatasi godaan fisik. Tapi rasa puasanya itu lho yang saya cari. Asli garing deh puasa di negeri non-muslim. Idul Fitri gak libur pulak malah kudu tes. Jadi kalau sekarang saya sudah berada di negara yang mayoritasnya Muslim trus Ramadhan masih enggak dirayakan/dibedakan, rasanya kok gimanaaa gitu.

Yah mudah-mudahan toleransi bisa terus terjaga agar ciri khas ini tidak hilang. Mari kita saling tepa selira agar ritual ibadah kita tetap bisa dilakukan tanpa harus mengganggu atau merepotkan yang lain.

๐Ÿ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s