Cerita Jum’at: Sepintas Tentang Menjadi Muslim Yang Shaleh

A green version of http://commons.wikimedia.or...

Image via Wikipedia

“Laki-laki sholeh, tidak karena dia beragama, tapi juga harus berakhlak baik, meneladani Rasululloh SAW, agar dia bisa memuliakan keluarganya, menjaganya dari siksa api neraka, sebelum dia keluar mendakwahi orang lain. Wallohu a’lam bishshowaab..

Begitu juga dengan muslimah.. Shalihah tidak semata karena kerudungnya saja, tapi bagaimana dia sanggup menjaga lahir-bathin anak-anaknya dari hal-hal yang meragukan. Suksesnya seorang muslimah adalah ketika anak-anaknya tidak saja pintar, tapi juga cerdas menghadapi zamannya, sehat raganya dan tangguh akidahnya.. SubhaanAllah ..

Jadi, Muslim seutuhnya adalah yg bisa melakoni 2 hal dlm hidupnya;

1. Ruhbaanun fil-Lail

2. Fursaatun fin-Nahaar.

Malamnya bagaikan Rahib (ibadahnya) dan siangnya bagaikan kuda (kerja keras). That’s d Real Moslem! 🙂 Setujuu? Alhamdulillah…”

Kenapa sepintas? Karena ini asalnya dari renungan atau muhasabah status fb bu guru Moenk, tapi karena sepasang rasanya lebih cocok bila disatukan agar pemahaman saya lebih jelas.

Bagaimana Allah tidak adil? Masing-masing sudah diberi ‘job desk’nya dengan jelas. Selama kewajibannya dilaksanakan dengan baik maka seyogianya kerukunan dan keharmonisan mengikuti namun dasar manusia kadang-kadang kurang bersyukur masih saja suka mencari-cari kekurangan atau ketika ada suatu masalah, bukannya memperbaikinya terlebih dahulu malah membuat masalah baru yang bisa jadi malah merusak yang sudah ada.

Karena itu, mari kita perbanyak syukur, introspeksi dan terus-menerus berusaha memperbaiki diri agar termasuk orang-orang yang sholeh dan sholehah. Aamiien…

*terima kasih kak Moenk atas sharingnya*

Advertisements

One thought on “Cerita Jum’at: Sepintas Tentang Menjadi Muslim Yang Shaleh

  1. 😀 alhamdulillah .. sejatinya seperti itulah ..
    karena tidak ada kebaikan, jika harus meninggalkan kebaikan yang lain.
    Tidak ada dakwah jika harus mengorbankan keluarga, Kuu anfusakum wa ahliikum naaro

    ketika Ayah sibuk berdakwah keluar, maka semestinya, sebelum keluar pintu rumah, anak dan istrinya terlebih dahulu menerima nasihatnya.

    ketika ibu berharap dipatuhi anak-anaknya, hendaknya terlebih dulu ia mematuhi suaminya ..

    Ketika Ayah, ibu .. dan anak-anak hendak menjalankan kewajiban sesuai peranan mereka masing-masing, .. hendaknya, terlebih dulu mereka menjalankan peranannya sebagai hamba-hamba Allah dengan ketaatan yang sebaik-baiknya ..

    ushiikum wa nafsii bi takwAllah .. wallahul musta’an

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s