Cerita Jumat : Apa yang Menghalangimu Berjilbab?

10 Alasan Mengapa Wanita Tidak Mau Berhijab (Jilbab)

dari: Majalah Qiblati Edisi 2 Tahun I

Qiblati,

Allah telah mewajibkan hijab atas setiap wanita demi melindungi kesuciannya dan menjaga kehormatannya serta menjadi pertanda bagi keimanannya. Oleh karena itu masyarakat yang jauh dari manhaj Allah dan menyimpang dari jalan-Nya yang lurus adalah masyarakat yang sakit, memerlukan pengobatan yang dapat mengantarkannya kepada kesembuhan dan kebahagiaan. Diantara bentuk penyakit yang sangat menyedihkan adalah tersebarnya fenomena sufur (keberadaan wanita keluyuran diluar rumah) dan tabarruj (terbukanya aurat wanita, rambut, leher, wajah, lengan, kaki dan segala perhiasan dan dandanannya). Sangat disayangkan, fenomena tidak sehat ini telah menjadi ciri khas masyarakat Islam, meskipun pakaian Islami masih tersebar didalamnya. Maka pertanyaannya adalah: mengapa masyarakat sampai pada penyimpangan seperti ini? Mengapa kaum muslimah memilih untuk tidak berhijab, menutup aurat dan melindungi harga diri, kesucian dan kehormatan?

Untuk menjawab pertanyaan yang kami lontarkan kepada beberapa kelompok remaja putri ini ternyata hasilnya ada sepuluh alasan pokok, yang kalau kita cermati ternyata kesepuluh alasan itu sangat rapuh dan lemah.

Berikut ini kesepuluh alasan mereka beserta tanggapannya.

Alasan pertama. Kelompok pertama mengatakan, ‘Saya belum yakin dengan hijab.’

Maka kita ajukan dua pertanyaan:

Pertama: Apakah mereka secara mendasar telah yakin dengan keberadaan Islam? Jawabannya pasti “Ya”, karena ia mengucapkan لا إله إلا الله. Ini berarti mereka telah yakin dengan aqidah Islam. Dan mereka juga telah mengucapkan محمد رسول الله, ini berarti mereka telah yakin dengan  syariat Islam. Jadi mereka telah menerima syariat Islam sebagai aqidah, syariat dan jalan hidup.

Kedua: Apakah hijab termasuk bagian dari syariat Islam dan kewajibannya?

Seandainya mereka ikhlas dan mencari kebenaran dalam masalah ini tentu mereka akan mengatakan “Ya”, karena Allah yang kita imani sebagai satu-satunya sesembahan yang benar telah memerintahkan hijab didalam kitab suci-Nya, dan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang kita imani sebagai utusan Allah telah memerintahkan hijab didalam sunnahnya.

Alasan kedua. Wanita kedua mengatakan: “Saya telah yakin dan menerima kewajiban syariat hijab, akan tetapi ibu saya melarang saya untuk memakainya, kalau saya mendurhakainya pasti saya masuk neraka.”

Alasan ini telah dijawab oleh makhluk Allah yang paling mulia yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam ungkapannya yang sangat singkat dan bijak :

« لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ »

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal mendurhakai sang pencipta.”

Kedudukan kedua orang tua terutama ibu adalah sangat tinggi dan luhur, bahkan Allah menyandingkannya dengan perkara yang paling agung yaitu ibadah menyembah kepada-Nya dan bertauhid kepada-Nya, dalam banyak ayat sebagaimana firman Allah :

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak.” (al-Nisa`: 36)

Jadi taat kepada kedua orangtua tidak dibatasi oleh apapun kecuali satu hal yaitu jika keduanya memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلىَ أَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti kedunya.” (Luqman: 15)

Dan ketidak taatan kepada keduanya dalam hal maksiat tidak menjadi penghalang bagi anak untuk berbuat baik kepada keduanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَصَاحِبْهُمَا فِيْ الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا

“Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Luqman: 15)

Alasan ketiga. Wanita ketiga mengatakan: “Udara panas di negeri kami, saya tidak tahan, bagaimana  jika saya memakai hijab?!

Kepada orang-orang seperti ini Allah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan :

قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُوْنَ

“Katakanlah: “Api nereka Jahannam itu lebih sangat panas(nya) jikalau mereka mengetahui.” (At-Taubah: 81)

Bagaimana bila engkau bayangkan antara panasnya negerimu dengan panasnya api jahannam?

Ketahuilah bawa setan telah membelitmu dengan salah satu tipu dayanya yang rapuh agar kamu terbebas dari panasnya dunia menuju panasnya neraka. Selamatkanlah dirimu dari jerat-jerat setan, jadikanlah teriknya matahari sebagai nikmat bukan sebagai siksa, karena ia mengingatkanmu kepada dahsyatnya adzab Allah pada hari dimana panasnya melebihi penasnya dunia dengan berlipat-lipat ganda.

Alasan keempat. Wanita keempat mengatakan: “Saya takut bila saya berhijab sekarang maka suatu saat nanti saya akan melepaskannya sebab saya melihat banyak yang melakukan seperti itu.”

Kepadanya kita katakan: “Seandainya semua manusia berfikir dengan logika seperti ini tentu mereka meninggalkan agama ini secara total, tentu mereka telah meninggalkan shalat, karena sebagian mereka khawatir meninggalkannya. Tentu mereka juga tidak mau berpuasa karena banyak dari mereka khawatir jika suatu saat akan meninggalkannya … dst. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana sekali lagi setan menjeratmu dengan jaring-jaringnya yang rapuh agar kamu meninggalkan cahaya hidayah?

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling langgeng meskipun sedikit.” Mengapa engkau tidak mencari faktor-faktor yang membuat mereka itu menanggalkan hijabnya, supaya engkau dapat mengatasi dan menanggulanginya?”

Alasan kelima. Wanita kelima mengatakan: “Saya khawatir, jika saya mengenakan pakaian syar’i, saya akan dicap sebagai kelompok tertentu, sedangkan saya tidak suka tahazzub (berpecah belah atas dasar fanatisme golongan).”

Sesungguhya didalam Islam itu hanya ada dua hizib (kelompok) tidak ada yang lain. Keduanya disebutkan oleh Allah didalam kitab sucinya. Hizib pertama disebut dengan hizbullah. Yaitu orang yang ditolong oleh Allah kerena ia mentaati perintah-perintah-Nya dan manjauhi larangan-larangan-Nya. Kelompok kedua disebut hizbusysyaithon yaitu orang yang mendurhakai Allah, mentaati setan dan banyak berbuat kerusakan dimuka bumi. Ketika engkau mematuhi perintah Allah yang diantaranya adalah hijab maka engkau tergabung dalam hizbullah yang beruntung. Dan ketika engkau bertabarruj menampakkan kecantikanmu maka engkau suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar telah naik diatas perahu setan bersama rombongan mereka dari kelompok munafiqin dan kuffar. Sungguh mereka adalah seburuk-buruk teman.

Alasan keenam. Wanita keenam mengatakan: “Ada yang mengatakan kepada saya, jika kamu berhijab maka tidak ada laki-laki yang menikahimu, oleh karena itu saya tanggalkan dulu masalah hijab ini hingga saya menikah.”

Ukhti, sesungguhnya suami yang menginginkanmu keluar rumah dengan membuka aurat, dan bermaksiat kepada Allah adalah suami yang tidak layak untukmu, suami yang tidak cemburu atas kehormatan Allah, tidak cemburu atas dirimu, dan tidak menolongmu untuk dapat memasuki surga dan selamat dari neraka.

Sesungguhnya rumah tangga yang dibangun diatas dasar maksiat kepada Allah dan diatas kemurkaan-Nya adalah pantas bagi Allah untuk menulisnya sebagai keluarga yang sengsara di dunia dan akhirat. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَمَنْ أعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَإِنَّ لَهُ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yag sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Thaha: 124)

Setelah itu, sesungguhnya pernikahan itu adalah nikmat dari Allah yang dianugerahkan kepada siapapun yang Dia kehendaki, betapa banyak wanita berhijab yang menikah, betapa banyak wanita yang safirah (sering keluar rumah) mutabarrijah (membuka aurat, kecantikannya) tidak menikah. Apabila kamu mengatakan, bahwa sufurku dan tabarrujku adalah sarana bagi tujuan yang suci yaitu pernikahan, maka tujuan yang suci tidak menghalalkan cara-cara yang rusak dan maksiat dalam Islam. Apabila tujuan mulia maka saranapun harus mulia karena kaedah dalam Islam:

الْوَسَائِلُ لَهَا حُكْمُ الْمَقَاصِدِ : “Washilah (sarana) itu memiliki hukum seperti hukum maksud (tujuan)

Alasan ketujuh. Wanita ketujuh mengatakan: Saya mengetahui bahwa hijab itu wajib, akan tetapi saya akan komitmen dengannya setelah Allah memberikan hidayah nanti.”

Tanyakan kepada ukhti ini, apa langkah-langkah yang ia tempuh agar mendapatkan hidayah dari Allah ini?!

Kita mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan segala sesuatu itu ada sebabnya. Oleh karena itu orang yang sakit minum obat supaya sembuh, seorang musafir naik kereta atau kendaraan supaya sampai ketempat tujuan dst. Apakah ukhti ini benar-benar jujur telah mengikuti jalan hidayah dan mengerahkan kemampuannya untuk sebab-sebab yang dapat mengantarkan kepada hidayah? Seperti berdo’a kepada Allah secara ikhlash sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

إاِهْدِنَا الصِّراطَ الْمُسْتَقِيْمَ

“Tujukilah kami kepada jalan lurus.” (Al-Fatihah: 6)

Seperti berteman dengan wanita-wantia shalihah, kerena mereka adalah sebaik-baik penolong untuk mendapatkan hidayah dan mempertahankannya, sehingga ia betul-betul komitmen dengan perintah-perintah Allah, dan memakai hijab yang diperintahkan oleh Allah kepada wanita-wanita beriman.

Alasan kedelapan. “Wanita kedelapan mengatakan: “Belum waktunya saya memakai hijab, karena saya masih kecil, nanti kalau saya sudah besar dan sudah haji saya akan berhijab.”

Ketahuilah ada satu malaikat yang berdiri didepan  pintumu sedang menunggu perintah Allah. Dia akan bertindak cepat dan tepat kapan saja dari detik-detik kehidupanmu jika ketentuan Allah telah tiba.

فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُوْنَ

“Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula memajukannya.” (al-A’raf: 34)

Kemudian tidak pandang bulu, besar ataupun kecil. Bisa saja ajal menjemputmu ketika kamu masih bermaksiat kepada Allah dengan maksiat besar seperti ini; kamu melawan Allah dengan sufur dan tabarrujmu.

Alasan kesembilan. Wanita kesembilan mengatakan: “Kemampuan finansialku terbatas, sehingga aku tidak mempu mengganti baju-bajuku dengan pakaian-pakaian yang syar’i.

Kepada ukhti ini kita katakan: “Untuk mendapatkan ridha Allah dan untuk mendapatkan surga-Nya, semua yang mahalpun terasa tidak ada harganya; harta dan jiwa tidak ada nilainya. Dan ingat Allah pasti menolong hamba-hamba-Nya yang taat. Barangsiapa yang bertakwa pasti Allah berikan jalan keluar dan kemudahan.

Alasan kesepuluh. Akhirnya wanita kesepuluh mengatakan: “Saya tidak berhijab karena mengamalkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (al-Dhuha: 11)

Bagaimana saya harus menyembunyikan nikmat kecantikan yang telah Allah berikan kepada saya seperti rambut yang lembut, paras yang cantik dan kulit yang indah?!

Kita katakan: Ukhti ini bersedia mengikuti firman Allah dan komitmen dengan perintah Allah, tetapai sayang selama itu sesuai dengan hawa nafsunya dan menurut pemahaman yang semaunya. Dan meninggalkan perintah-perintah dari sumber yang sama ketika tidak bernafsu kepadanya. Jika tidak mengapa tidak mematuhi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (An-Nur: 31)

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيْبِهِنَّ

“Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka (keseluruh tubuh mereka).” (al-Ahzab: 59)

Sesungguhnya nikmat Allah yang terbesar adalah nikmat iman dan hidayah. Lalu mengapa engkau tidak menampakkan dan memperbincangkan nikmat Allah yang terbesar ini yang diantaranya adalah hijab syar’i.

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Allah, janganlah Engkau simpangkan hati kami ini setelah Engkau berikan hidayah kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami dari sisi-Mu sebuah rahmat, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi.”

(Majalah Qiblati Edisi 2 Tahun I)

Diperbolehkan mengcopy artikel ini dengan syarat:
menjaga Amanah ilmiah dan mencantumkan link berikut:

Advertisements

That ‘W’ Problem

I used to think being fat doesn’t matter as long as I’m healthy. Wrong! Being overweight is opening an invite to a host of diseases. There’s this saying,  “A moment on the lips, forever on the hips!” that’s not a lie you know. It’s too easy loading up on calories; the cakes, the snacks, the butters and co. But unloading it is frankly a b*tch!

Looking at old photos, I wasn’t a fat kid. Wasn’t the skinniest on the block either, just happily middle ground. Then college kicks in. The  fresher’s blues, cured by turning to food but not doing regular sports.  Now that was smart. Lemon chicken and Orange Duck were my vice. How sweet it was! I could do worse, but yeah, food is the drug of my choice (and yes, I’ve watched too many Oprah episodes to count). And I bet, even after more than 10 years, I’m still paying for those luscious crispy fat fowl skins coated in those yummy sauces.

It’s not like I wake up suddenly 3 sizes bigger, but never underestimate the power of denial. I don’t like dramas so when clothes don’t fit, I don’t fret. I don’t sweat it, I just get a what fits.

Then I got married, got pregnant and my warped brain screams, “Yay! A valid reason NOT to lose weight. Yippee!!!” The birth of a baby doesn’t downplay it. Heidi Klum can lose all her pregnancy weight in 2 weeks for all I care. I’m breastfeeding. I need nutrients so warped brain says, “Triple yay to mindless eating! Yay yay yay!!!” Is it any wonder I continue to be big? Yes of course I could eat healthily, food combining and all that. Denial. Remember?

And before you know it, those cute fab outfits don’t fit no more. But even when I could no longer shopping for clothes off the peg, that still doesn’t make me convert. I just make my own clothes.  “I have 2 kids!” and the world nods understandingly. Worse still, some friends were turning into making and selling clothes so they cater to my size. Suddenly I can still have new, chic clothes. Problems solved!

But you can’t keep abusing your body and not paying for it. Nu’uh! No way, no how.  My right knee gives way. It hurts for a whole week before I finally get it checked to the doctor. One MRI later… I’ve damaged my knee. It’s a bit torn, or was it ruptured? Forgot the medical terms, but as seen on the MRI result, a bit of my knee is not where it should be hence the pain. The culprit? Overweight excerbated by high heels. The funniest thing? I don’t even wear sky-high heels anymore! Not since I got pregnant the first time round which was over 5 years ago. But the damage is done.

Still wanna be in denial now? I have to lose weight. I just have to. Unless I want to start saving up for a knee surgery down the line which is a very real probability should I can not reduce the weight down. Oh it’s hell. It’s not easy breaking out of that comfort zone. I have to make time for exercise. I have to truly watch what I eat. It’s a lot of work!

The thought of a knee operation is seriously scary. But my repressed vanity is also screaming out. Dammit I like looking good!  I like to have the option to wear heels if I want to. I want to be able to buy clothes off the peg from a mall! And, most importantly, none of my children are called Gilbert Grape.

It’s a struggle. I haven’t won yet. I have a long way to go. But the way I see it, if I really am grateful for what has been given to me, then I have to stop abusing it and start respecting my system. I need to give my health a chance.

The ‘W’ problem. It’s an ongoing battle. One that I aim to win. Good luck, me.

Armand Maulana goes to my gym! Yay! Gorgeous guy 😀

The View from the 33rd floor

I’m inspired by ms. Carla and her love of New Orleans. As I’m going through my photo file I realised that Babeh (my nickname for my darling husband) took a fair amount of photos about whatever took his fancy really. Upon reading this I thought why not start now? So this morning is my first attempt at photo-blogging his photos. These were all taken using his DSLR camera. I have no idea of the technical details. Hope you like it.

A cloudy morning in the office

Smog creates the grey clouds. On the rare chance of a bright blue sky it is actually very pretty.

A concert hall in a mall near his office

We’ve been to a concert a few times here. The acoustic is good and the location is not too far from our house. The mall is a different story. I wish they didn’t create the mall, just the concert hall and a food court.

The bridge to and from the TransJakarta, a mass public transit bus, connecting from various stops

Haven’t use it myself, have this innate fear of wanting to jump upon crossing bridges. Not cool.

A collection of shiny glossy skyscraper on Sudirman, the premium CBD in Jakarta

I think this one was taken in the afternoon, the sky looks grayer.

Everyday traffic through Sudirman, not at its peak.

The famous Semanggi or Clover bridge. Was build in the 60’s I think.

Joyyo, lounging enjoying life , doing what cat does best 😀

Well, I took this pic on my nifty little Blackberry camera. Can’t really have a photo blog without any of my cats making an appearance now can we?

Have a great weekend everyone 🙂

Cerita Jum’at: Doa Unta Yang Membuat Nabi Menangis

Ketika Rasululloh saw membebaskan seekor unta yang memohon perlindungan pada Nabi SAW karena akan disembelih oleh tuannya, unta itu bersuara dan Nabi SAW meng”amin”kannya. Hingga ketika unta itu bersuara untuk ke4 kalinya, Nabi SAW menangis dan bertanya pada sahabat, “Tahukah kalian, apa yg dikatakan Unta ini?” Sahabat pun menjawab, “Allah dan Rasulnya lebih mengetahui.”

Rasulullah kemudian menjelaskan, “Unta itu mengatakan, ‘Semoga Allah membalas jasamu terhadap Islam, wahai Nabi.’ Aku katakan Amiien. Lalu unta itu berkata, ‘Semoga Allah menentramkan ketakutan umatmu pada hari kiamat, sebagaimana engkau menentramkan hatiku.’ Aku katakan ‘Amiien’. Lalu unta itu berkata lagi, ‘ Semoga Allah melindungi umatmu dari musuh – musuh mereka, sebagaimana engkau melindungi nyawaku. Aku katakan ‘Amiin’. Selanjutnya unta itu berkata, ‘ Semoga umatmu tidak saling membunuh dan berperang.’ Mendengar doa terakhirnya aku menangis. Permohonannya itu sudah pernah ku mintakan kepada Allah dan Dia mengabulkannya, kecuali permohonan yang terakhir. Jibril memberitahuku dari Allah bahwa umatku hancur karena saling berperang sesama mereka. Semuanya sudah tertulis…. Semuanya sudah tertulis …. ”

*terima kasih kak Moenk atas sharing ceritanya*

Lila the Beautiful

Kakak & Lila, BFF

This is kakak’s cat, Lila the beautiful. Yes I am biased. I think my cat(s) are just the most wonderful thing after sliced bread. I do realise that some people don’t like cats. Some are even scared of them so much so that they can’t bear looking at pictures of cat.I can understand it. I don’t like all animals, just cats. I don’t fancy snakes, I would be scared too to see a close up of a snake’s head.

However, as a fellow pet owner I do realise people love their pets very much. My position is that of,”If you have nothing nice to say then don’t say anything at all!” Back when I still don’t like dogs (I think some dogs are cute now) I’d just smile and nod when the owner start bragging about their dogs. But I guess that’s a little too much to ask of someone who’s scared of all animals.

At first I was annoyed. I get that this person don’t like cats, but to actually said that Lila is scary looking right to me, well that’s just a little too much to hear. But you know, now I feel sorry for the person. Pets bring so much joy to the owner, something he’ll never experienced, not as long as he still has his phobia. So I’ll just refrain. I won’t let it get to me. I know Lila is beautiful, people who like cats thinks she’s beautiful, why should I care about what some cat-phobia person thinks?

Lovely Lila

Have Fun in Singapore Gals!

About 6 months ago a friend wanted to go to Singapore for her birthday and would like to bring some friends along. After checking with babeh, permission granted, I was excited at the prospect of a girls only trip. Already I’m imagining how fun it would be to traipse around Orchard, hanging out, marvelling at this little neatness of Singapore for the tourists. Yay!

As fate would have it, when my friend was booking the ticket, my reservation and that of another friend didn’t come through. There were some panicky moments where we tried to salvage the situation but in the end I couldn’t go. Drat. Foiled!

I was disappointed because I really wanted to go but I guess it just wasn’t meant to be. I got busy with life, forgot about it, until the holiday party sent some pics of them in the airport. It would’ve been fun. But I had other things to occupy me. My class, work (tons of marking to do, my daughter school play, etc. So its not like I’m sitting home doing nothing. Babeh also has to go on a business trip so if I go, my children would need to stay somewhere – not sure with who as everyone else is also busy. My mom is cool for couple hours of babysitting but not for couple of days since she has her own work too. On the financial side I couldn’t really afford it since we’re moving thus need to focus our budget on decorating our house. Fixing the living room takes priority to holidays. This is just as fun so yay to that too!

I’m a big believer in nothing happens without a reason. I might not see it immediately but at some point it will became clear. So all in all, Allah do knows best. Looking at their pictures I do feel a twinge of jealousy but that’s ok. I know here at home is where I’m supposed to be right now. But the Guy upstairs is not without a sense of humour. You know where He sends my hubby to? Yep, my hubby’s business trip is indeed in Singapore! 😀

Of Street Lights at Night

The Lovely Monas

Some time ago I had lunch with Dita, one of my dearest friend. We noticed how we have changed. We still feel young as ever and yet there were little things that says, you’re aging babe!

We were reminiscing how in our 20’s, still flush with excitement of that first job we’re able to go out after work to dinner then continue partying till whenever and still be fresh enough to go to brunch the next day. Now, the spirit is there but if push comes to shove, I’d rather go to sleep especially now I have this wonderfully comfy bed to sleep on. I sound like an old fogey don’t I?

But seriously I don’t miss Ebony, Fire, Musro, B.. what was the number? B-something, all that much. Yes sometime I do feel like dancing but the smoke and the drunks I can do without. I really don’t fancy smelling like a walking ashtray anymore. None of my dancing partner live over here anyway, so really no reason to go anymore (I mean the whole point is to dance, on the table preferably, not standing around in heels looking like immobile beings).

Having said all that, there is one thing I quite miss from those dancing days. The drive home.

a rare sight

Jakarta in the wee hours is actually very pretty, certain parts are just downright gorgeous. There is something about the almost empty street with the lights on. The busy capital is taking a break, relaxing for awhile before the hordes of workers come trampling back in the morning. It is a time to appreciate the wonder that is Sudirman, our major CBD. With the large roads, wide sidewalks, plenty of greens and gleaming skyscrapers, Jakarta looks like any major cities in the world. It looks rich, modern, cosmopolitan; power dealers, movers shakers, they’re all here. Resting behind or even on those tall glass buildings.

roti bakar, bubur ayam, internet, teh botol? Semua aya....

The wonderful thing about Jakarta is that it is never completely without people. You just need to know where to look and then you see then. Food stalls selling toast bread, chicken porridge there, the ubiquitous Internet or noodles, egg and corned beef. Sometimes we stop to eat. All those dancing makes one rather hungry. And when we do, nobody bats an eyelid. Fellow revellers. Under the harsh neon the true you emerged. Who are the true beauty, who’s cute, whose phone number worth keeping, etc. Sometimes we just go straight home. The need for pillow over-rides the wants of the tummy.

The drive home. The one thing I truly miss from those days though even then don’t actually go out all that often. So when I do I always make sure I drink up the scene that unfolds before my eyes because I never know when the next time I’ll be able to witness it again.

good night, sleep tight...

Cerita Jum’at: Sekilas tentang Ja’far bin Abi Thalib

Ja’far bin Abi Thalib, kakak Ali bin Abi Thalib,  adalah salah satu sahabat Nabi saw yang ganteng, pemberani, dan cerdas. Meski baru memeluk Islam, Allah sudah memuliakannya. Kenapa? Karena sejak masih belum memeluk agama Islam dia sudah menolak 3 perkara yaitu, berbohong, berzina dan minum-minuman keras. Allah pun sampai memuji kejujuran Ja’far dan memberinya sayap atas keteguhannya dlm menolak 3 perkara tsb. SubhaanAllah.

Ketika Rasululloh bertanya, kenapa dia sudah menolak 3 perkara tersebut sejak masih kafir? Jawaban Ja’far:

1. Jika berbohong, dia takkan dipercayai lagi oleh orang lain, dan merasa tidak dipercaya, adalah hal yang memalukan baginya.

2. Dengan berzina, Ja’far membayangkan bagaimana jika istri, anak perempuan atau saudaranya yang dizinahi? Tak seorangpun di dunia ini yang mau menanggung noda.

3. Dengan bermabuk-mabukkan orang akan kehilangan akal, mulutnya selalu ngomel sehingga akan ditertawai orang banyak, aku sangat malu ditertawai oleh orang-orang.

Ja’far bin Abi Thalib termasuk salah satu sahabat Nabi yang gugur dalam perang. Sebagai pemegang bendera, kedua tangannya ditebas pedang musuh sebelum akhirnya tombak musuh menusuk tepat di jantungnya.

Dan Malaikat Jibril berkata :

“Allah memuji kejujuran Ja’far dan memberinya sayap atas keteguhannya menolak 3 perkara tersebut. Dua sayap mutiara dan batu permata yang terbentang itulah yang digunakan Ja’far terbang bersama malaikat ketika dia terbunuh dalam peperangan membela Islam.”

*Diceritakan oleh kak Moenk berdasarkan HIKAYATUS SHOHABAH, kitab Bukhori (Manakib) terima kasih kak, atas berbagi ilmunya 🙂 *

Gym Babe or Gym Rats? The 9 Type of Gymgoers. Find out yours!

After going somewhat regularly to the gym, based on my power of observation, totally without scientific base I believe most gym goers fall into these categories:

1. Gym Rats
Mostly male over 30’s, mr. Universe wannabes or has been. Goes in packs. Likes to huddle in the weights area, egging each other to lift weights heavier than they actually can. Often this means 2 people are lifting at the same time since he can’t lift it on his own. Sometimes venture into the weights machines.

2. Cardio Lover
These are usually efficient people. They go in, put their stuff in the locker, go out, pick the cardio machine of choice -usually the treadmill- turn on their iPods, then off they go between 30 minutes- 1 hour. Afterwards they do some stretching exercises, may be tempted to go on a weight machine or two, but generally just go straight back to the locker, shower, get dressed, get out. Mostly exercise in the morning.

3. IFC – Instructor Fan Club
Usually female, they are loyal to a certain instructor but not the actual gym itself. Travelling in packs, they follow and catch his (it is almost always a male instructor) classes wherever they might be. Though good looking, his preference remains a mystery. Before and after class the IFC members flock to him and hang on to his every word. He usually teach yoga though he can also be found teaching cardio or dance classes.

4. Exercise Mania
In contrast to the IFCs, the EMs are loyal to the club taking classes after classes nearly everyday. They take at least 2 classes, know the schedules by heart and are not afraid to demand certain instructor for certain class. They are on first name basis with all gym workers and employees. Has their own ‘areas’ in the locker room.

5. Athletes
Almost like the Cardio Lovers except they do routines with the weights as well. They usually have the best bodies as the emphasis is on health and toning the muscle. Subtle definition not vulgar testosterones. Sometimes in twos but mostly on their own.

6. Wannabes
Perhaps too cheap to use a personal trainer, but too intimidated to hang out with the Gym Rats, the Wannabes are skinny, scrawny males trying to bulk up without really knowing how. They can be found staring at the Gym Rats or the Athletes when they’re doing their sets, then immediately copying whatever it is they did. Without proper training and supervision the wannabes could hurt themselves as they don’t know how to do the movements correctly. They can be quite amusing to watch though.

7. Gym Babes
Usually consisted of former M/A/Ws (Model, Actor, Whatever) but not limited to. Their uniform is to wear super tight fitness clothes they can find. They leave little to the imagination even when covered up. Like to cruise around near the Gym Rats. The male version don’t always wear skin tight clothes but they do their fair share of prancing around with an expression that says,”Look at me, I’m so cute!”

8. Equipment Hoarder
How to spot one? They’ll be the ones with their hands attached to the smartphones. They’d go on a machine, put the minimal weight, do half a set, stop, then get on the phone. Forever. They don’t sweat. Have no clue about gym etiquette.

9. PT Posse
They’re usually a variation of these; the super dedicated who’ll only exchange brief hellos with their trainer, concentrating solely on their reps and sets. Those who spent more time attached to the cellular rather than doing what the trainer told them to. Those who looks like they rather be working something out with the trainer. Then finally, there are those who yakked with the trainer whining about their weight the whole time. Their similarities? They always look like they’re in pain with the PT as the whip master whipping their butts into shape. Rarely seen without their trainers.

Thus conclude my highly unscientific classification.

Which group do you belong to?

Tips Pernikahan dari Ustad Yuke

Dulu, biasanya ulang tahun pernikahan orang tua saya hanya dirayakan diantara kita saja, isinya paling doa bersama dan makan-makan. Kecuali kalau ulang tahunnya yang agak besar misalnya 25 tahun, 30, baru agak ramai. Namun setelah mencapai 45th perkawinan, ibu saya jadi senang mengadakan acara apalagi kebetulan hari pernikahan kami juga tanggal 5 Mei jadilah dirayakan bersama-sama. Acaranya sih gak aneh-aneh, hanya mengundang ustad atau ustadzah untuk memberikan kajian, shalat berjamaah dan makan bersama. Kata ibu saya, mumpung bisa dan masih ada umur kenapa tidak?

Jadi begini hadirin sekalian...

Tahun ini pengisi acara jatuh kepada Ustadz Yuke. Lulusan PTIQ, beliau salah satu favorit ayah saya karena gaya membawakannya santai, mudah dipahami, suka bercanda, tapi dalam. Kali ini beliau memberikan pesan-pesan berikut:

Untuk membina pernikahan, seyogianya kita tidak hanya membaca tapi memahami Al-Quran, yang disediakan bagi mereka yang berpikir.

Kunci pernikahan yang langgeng sebetulnya sederhana saja:

1. Sakinah.
Maknanya apabila ada masalah, cepat selesaikan. Tidak ada pernikahan yang tanpa masalah, tinggal bagaimana mengurusnya. Apabila masalah sudah beres jangan diungkit-ungkit lagi. Ingat, Allah Maha Mengetahui dan Allah bersama orang yg sabar.

2. Mawadah.
Semangat. Adalah penting untuk bermesraan bersama pasangan kita.

3. Rahmah.
Adalah mudah untuk bersemangat sebagai pasangan muda. Namun bagaimana 9, 16 atau 48 tahun kedepan? Disinilah perlunya kasih sayang. Tidak ada manusia sempurna, namun ketika melihat pasangan lihatlah kebaikannya maka dia akan selalu indah dimata kita.

Untuk mendapatkan kunci-kunci tersebut maka kita perlu hidayah. Yang perlu kita ingat, hidayah itu aktif, bukan pasif. Kita harus minta kepada Allah untuk diberikan hidayah. Siapa yang diberikan hidayah oleh Allah? Mereka yang mencoba dan berusaha!

Bagaimana usahanya? Jadikan Allah prioritas! Caranya:
1. Segerakan shalat (dan fokus).
2. Sediakan waktu untuk membaca Quran beserta artinya.
3. Berkata benar.
4. Sedekah dengan rutin.
Kerjakan dan tingkatkan ibadah kita. Jangan kalau sempat! Allah tidak mau dinomor duakan.

Ayat rujukan 2:186, dimana dikatakan antara lain; penuhi perintah dan beriman kepadaKu. Ingat, ketaatan kita padaNya yang menentukan.

Kemudian Ustad Yuke menerangkan bahwa menjadi istri shalihah itu mudah. Lakukan diantaranya:
1.Jangan memotong ucapan suami.
2. Jangan mengeraskan suara pada suami.
3. Bermuka manis setiap saat dan bersyukur atas penghasilan suami, berapapun itu.

Mana tips suami shalehnya nih?

Kayaknya asyik amat ya kita melulu yang kudu nurut. Tapi sebelum ngambek, ingatlah bahwa suami bertanggung jawab atas kita, sementara istri tidak. Sebagai pemimpin, suami yang akan ditanya mengapa istri dan anak-anaknya begini atau begitu. Sementara kalau suami kita -amit-amit- berlaku aneh-aneh, kita sebagai istri tidak akan ditanyakan. Tentunya kita perlu percaya dulu bahwa nantinya kita akan dihisab 😉

Wah tapi ternyata dulunya saya begana-begini gimana dong? Ya gak masalah. Selama kita mau bertobat (tobat nasuha) dan serius kembali ke jalan yang benar maka tidak ada kata terlambat bagi Allah.

Biasanya istri kan demen marah-marah, nah salah satu cara menangkalnya, sebelum marah sama suami coba pikirkan 11 alasan mengapa dia berbuat demikian. Bukan berarti kalau ada masalah tidak dibahas, tapi tunggu reda dulu agar ketika dibahas moodnya sudah enakan.

Ayat rujukan:
16:99 – Syetan tidak akan berpengaruh pada orang yang beriman dan tawakal. Iman padaNya harus yakin dan mantap.
Tawakal adalah berusaha di jalan Allah dan menerima apapun hasilnya.

33: 70-71 untuk orang-orang yang beriman, bertaqwalah pada Allah, berkata yg benar.

Sekali lagi, untuk memperbaiki diri:
-baca quran
-shalat
-tidak bohong
-sodaqoh

Meski demikian, ada 3 bohong yg dibolehkan:
1. Untuk mendamaikan pasangan yang bertengkar
2. Sedang berperang
3. Untuk menyenangkan pasangan.

Tips shalat dari ust. Yuke:
1. Fokus. Jangan tergoda.
2. Pahami. Doa diantara kedua sujud itu sudah mencakup semua permintaan kita.
3. Perbanyak rakaat Tahajud. Itu lebih baik ketimbang shalat 2 rakaat tapi doanya sampai subuh.

Sebetulnya masih banyak hal lain yang disampaikan beserta ayat rujukannya. Namun karena diselingi tugas sebagai tuan rumah beberapa hal saya kelewatan. Oleh karena itu kebenaran adalah milik Allah semata dan kesalahan sepenuhnya ada pada saya. Kalau ada diantara catatan ini yg salah/saya salah mengerti, mohon koreksi ya 🙂

Makasih yaa sudah datang 🙂