Tentang Salma

Salma datang
Dari pulau seberang
dengan tas kecil dan segenggam harapan

Salma datang
Lewat telepon tetangga
Mengatakan, “Ambillah anak ini, aku tak mau menganiaya,”

Salma datang
Dengan daya pas-pasan
Menguji iman dan kesabaran

Dia jujur
Meski bebal
Dia lugu
Sehingga mudah tertipu

Pelan-pelan,
Salma mulai terprogram
Layaknya robot
Mengerjakan tugas-tugasnya
Meski berkala
Harus didefrag
Agar tidak melenceng

Lebaran demi lebaran
Salma endud pulang
Salma kurus datang

Salma yang sederhana
Bermimpi menjadi penjaga toko
Mengenakan kemeja putih
Celana panjang hitam
Dan sepatu hitam

Sampai hadir seorang pria
Memberinya mimpi yang berbeda
Disambut dengan sukacita

Salma pulang
Dengan senyum cemerlang
Tas di tangan kiri, kekasih di tangan kanan

Salma pulang
Dengan sejuta harapan
Disertai haru dan doa

***

Lebaran datang
Lebaran selesai
Mendadak ada Salma
Kurus dan hitam
Memohon tuk kembali
Tuk kelangsungan janinnya

Salma bekerja extra keras
Untuk membuktikan ia pantas
Bergabung kembali

Tapi,
ada yang merengek memerlukan istri
Dengan berat hati
ditarik kembali

Salma pulang
Dalam bimbang
Tas kecil di kiri, suami di kanan, dan bayi berkembang

***

Salma pulang
Lewat ketokan tetangga,
“Pendarahan, bayi sungsang, tak ada pertolongan…”

Ah Salma!

Salma pulang
Membawa kenangan
Tertawanya yang sederhana
Masakannya yang (akhirnya) enak
Suka membuat deg-degan
kalau ke pasar naik angkot sendirian

Salma pulang
Kalah berjuang
Di pulau seberang

Terima kasih Salma
Apabila…
Kalau saja…
Seandainya saja…

Terima kasih Salma
Dari pulau seberang
Damailah sekarang

61209 lb bulus – happy women’s day

Advertisements

Joyyo si Ogo

Mama Bella dan Stella

Waktu Bella lahiran, 3 anak yang pertama dia lahirkan sendiri. Tapi karena melihat dia kok sepertinya masih rada gimana gitu, sepertinya masih ada anak lagi. Daku jadi bidan dadakan deh, ngelus2 perutnya trus kasih semangat supaya si Bella punya tenaga buat mendorong. Dan benar… keluarlah sebundelan kucing kecil yang diberi nama Stella.

Mungkin karena lahirannya aku bantu, jadi sama si Stella ini ada rasa sayang yang agak lebih dikit gitu. Dibanding sodara2nya, si Stella ini yang paling kalem tapi ‘ganas’. Klo udah bercokol mimi sama emaknya pasti nggak bisa diganggu gugat ama yang lain. Gak heran dia paling ndud dibanding sodara2nya, the Little Lempers.

Menjadi Stello

Seiring dengan membesarnya the little lempers, lama2 jelaslah klo si Stella itu…. Stello! Dah, ganti nama. Eh, pas babenya anak2 pulang haji, melihat si Stello matanya kayak pake topeng item gitu berkomentarlah, “Stello kok kayak Zorro ya?” Wah si kakak girang banget berubah lagilah namanya jadi Zorro.

Trus biasalah sama kakak kan dimanja-manja jadi ada nama kecilnya misal Bella jadi Bebel, so Zorro jadi Joyyo. Tapi si ade nggak mau kalah, emang kakak doang yang bisa ganti2 nama kucing? Menurut Ade, daripada Joyyo lebih bagus…. Jokko!!!

Zorro kemudian Jokko

Tapi sejak diganti jadi Jokko emang dia jadi lebih kolokan. Lari sana lari sini, ganggu Lila, ganggu Bella, sampai sekarang hobinya yang terbaru adalah… gigit kaki! Semua dah pernah jadi ‘korban’, kaki kakak, ade, babeh, aku… Jiaah… Selain gigit kaki, dia juga demen ngintil. Kek pagi ini aku diintilin kemana-mana sampai ke kamar mandi. Waktu mau ngaji aja masih itu kaki mau digigit-gigit.

Kucing cowok kali ya? Jadi jail bin konyol gitu. Emang si Joyyo ini menggemaskan sih, patut untuk di kremus. Mungkin juga karena sering dikremus ya jadi kolokan? Entahlah yang pasti kita semua sayaaang sama Joyyo si Ogo ๐Ÿ˜€ ย (kecuali babeh)

Joyyo si Ogo

Kartu Setan?

Belakangan ini saya membaca entah blog atau sekedar postingan milis tentang kartu kredit. Rata2 menyatakan bahwa mereka tidak sudi memiliki kartu kredit karena tidak ingin hidup dalam hutang. Ternyata anggapan ini masih subur dan berlaku toh?

Tsk tsk tsk…. punya kartu kredit tidak otomatis mendapat vonis hidup dalam hutang lah yaw… sama seperti semua teknologi, kartu kredit itu semata-mata untuk memudahkan transaksi tanpa harus membawa uang tunai dalam jumlah banyak. Kalau pernah mengalami kecopetan atau kehilangan dompet seperti saya baru terasa kalau punya kartu kredit cukup menolong. Telpon, blok semua kartu, apply baru. Selesai. Kehilangan diminimalisir. Tapi coba kalau kita pas lagi mau belanja jadi sedang membawa uang tunai agak banyak. Gak bakal balik tu duit. ABCDE gak seh….

Yang harus kita sadari adalah, JANGAN MEMBELI DILUAR KEMAMPUAN!!! Semua yang kita gesek itu harus dibayar. Sebelum digesek coba pikir, tanpa kartu kredit bisa nggak kita membayar ini tunai? Kalau tidak bisa, jangan gesek!

Ketika tagihan datang, langsung bayar full jadi kita tidak kena tagihan tambahan. Kartu kredit nggak akan menagih lebih dari harga kok. Kalau kita beli barang seharga 100rb, ya dia menagihnya 100rb juga asal kita bayarnya sebelum tenggat waktu. Kalau kita telat bayar baru kita kena denda atau kena bunga. Wajarlah karena berarti pembelian kita dibayarkan terlebih dahulu. Ini baru kita ngutang beneran. Makanya, kembali lagi ke poin semula, kalau pada akhir bulan nggak bisa dibayar, ya jangan beli!!!

Ada yang bilang kan udah ada kartu debit, ngapain lagi punya kartu kredit? Ya itu memang pilihan masing2 ya. Tapi beberapa kartu kredit memberi servis tambahan seperti aneka diskon di tempat makan, bioskop, buku, dll. Trus biasanya ada program point reward atau cashback yang nantinya bisa dibelanjakan kembali.

Kalau buat saya juga penting kalau harus ke rumah sakit. Asuransi kesehatan kami menerapkan sistem reimburse, yang berarti bayar dimuka, diganti belakangan. Padahal tau sendiri biaya kesehatan pan cihuy juga. Nah setidaknya kartu kredit menjamin kita bisa masuk dan dirawat. Syukur2 pas tagihan datang reimbursenya juga dah keluar. Kalau belum ya bayar saja semampu kita. Kan trus kena denda? Lha ya namanya juga sakit, siapa sih yang minta? Toh ketika asuransi mengganti tagihan yang tersisa trus lunas.

Betul, saya juga suka baca kadang ada penerbit kartu kredit yang error yang salah biling, suka meneror klien, dll. Well, itu kan pegawainya yang ngaco. Nyebelin sih kalau bulak-balik terima lelepon dari tukang tagih. Udah dibilangin ntu orang dah gak tinggal disini n gw kagak tau dia ada dimana masih aja pada nilpun. Ih mbok ya kamu tu sebelum ciao dari rumah ini bayar dulu lho utang2nya… ah curcol deh ๐Ÿ˜€

Jadi ngaca liat diri sendiri, dah bisa mengontrol nafsu belanja belum? Kalau belum jangan salahkan kartunya. Okeh!

originally posted on March 2010

Bukan Bayi Lagi

Waktu kakak bayi, kalau sakit sering saya timang-timang. Apalagi kalau dia panas, saya dekap, beri asi, timang-timang lagi, sampai panasnya turun.

Hari ini kakak panas lagi. Jadi sekolahnya kakak ikut suatu pagelaran bersama sekolah2 lain, nah latihan gabungannya diadakan pada malam hari. Sebetulnya pihak sekolah sudah mengantisipasi dengan memulai sekolah siang hari supaya anak2 punya waktu istirahat. Kakak juga sudah dapat vitamin, buah, susu namun sepertinya kakak nggak kuat menghadapi latihan bersama sampai malam hari. Akhirnya kakak malah gak bisa ikut pentas. Padahal udah semangat banget mau pentas lagi ๐Ÿ˜ฆ

Tapi ya sudahlah, yang mau saya ceritakan, di perjalanan ke dokter kakak kan mau bermanja-manja, namanya juga lagi atit. Ya sudah saya pangku dengan pikiran masih kayak jaman dulu. Ternyata… Aih berat bow! Begitu kakak duduk dipangkuan langsung emaknya susah napas. Kudu atur posisi biar gak megap2.

Duh kak, emang mamah nih suka ‘in denial’ ya kalau kamu tu pelan-pelan tambah besar. Rasanya masih kayak dulu aja kamu tuh. Akhirnya kakak ngglesor bobo, cuma kepalanya aja yang muat. Tepok2 pantatnya deh kayak dulu sambil elus2 rambutnya.

Ah kakak, sampai kapanpun kamu tetap bayinya mamah. Cepat sembuh ya kakak sayang. Kiss kiss.

Post a Week Challenge!

Iโ€™m Posting every week in 2011!

Just saw this challenge in WordPress and frankly I’m intrigued so here goes: I will be posting on this blog at least once a week for all of 2011.

Yes I know February is almost over but there’s still 10 months left of this year and so why not join in right? So apparently I need to make use ofย The DailyPost, and the community of other bloggers with similar goals, to help me along the way, including asking for help when I need it and encouraging others when I can.

If you already read my blog, I hope youโ€™ll encourage me with comments and likes, and good will along the way.

Signed,

Metro Kitmom aka Sita ๐Ÿ˜€

 

Tips Parenting dari Kakak-kakakku

Sebagai anak bungsu, kadang enaknya sudah banyak contoh di depan pas giliran saya tinggal pilah pilih mana yang bagus mana yang tidak dan inilah beberapa tips yang saya dapat dari kakak2 saya:

1) Waktu kecil antar jemput anak setiap hari.

Di perjalanan adalah saat tempat mengutarakan segala macam keluh-kesah tentang keseharian anak-anak. Bahkan untuk anak perempuannya sampai SMA masih diantar ke sekolah, pulang baru dikasih pakai kendaraan umum (kata anaknya, “Asiikk… bisa ke Blok-M dulu…”)

2) Baca apa yang anak baca.

Kakak saya turut membaca dulu semua bacaan anak2nya. Sebetulnya mereka dibebaskan untuk membaca apa saja tapi khusus komik Jepang dia sensor. Yang sekiranya patut untuk umur mereka baru mereka boleh baca.

3) Dengar apa yang mereka dengar.

Musik keponakan dengan musik kakak saya nggak sama tapi dengan turut menaruh perhatian akan kesukaan mereka obrolan tetap nyambung. Anak merasa benar2 diperhatikan. Mereka kan sering mencari infonya di internet, meski nggak surfing bareng paling enggak kakak saya aware situs apa aja yang anaknya suka datangi.

4) Tonton apa yang mereka tonton.

Sama seperti bacaan, kadang2 kakak saya bergadang demi melihat dulu film2 pilihan anaknya. Mereka juga suka ke bioskop bareng. Waktu masih kecil kakak-kakak saya juga selektif dalam memilih tontonan di televisi. Sebisa mungkin mereka selalu menonton bersama. Kalau tidak bisa, sudah dipilih dulu apa yang bisa mereka tonton dan apa yang tidak boleh.

5) Terlibat dalam POMG/PTA/Komite sekolah.

Sebenarnya sih nggak ada pilihan wong soalnya salah satu kakak saya ortu tunggal. Tapi dengan terlibat jadi dia gak hanya tau teman2 anaknya tapi juga kenal ortu2nya. Saling jagalah gitu.

6) Menerima anak apa adanya dan memaksimalkan kemampuan anak.

Salah satu ponakan saya berkebutuhan khusus (dyslexia) jadi dia sempat masuk sekolah khusus sewaktu SD. Setelah lulus, dicarikan sekolah yang bisa dan mau menerima anak dengan kebutuhan khusus. Kemudian kakak saya memperhatikan kemampuan/hobi anaknya itu apa dan diarahkan kesana. Dia hobi gambar jadi dikasih les gambar dan dibebaskan dari tuntutan harus jadi sarjana (klo kakak sama adiknya yang normal tetap dituntut demikian). Alhamdulillah dengan demikian justru ponakan saya lebih semangat belajar dan tertantang untuk mencoba universitas. Alhamdulillah dia berhasil masuk salah satu universitas yang bagus disini dan sangat menikmati hari-harinya sebagai mahasiswa.

7) Makanlah bersama.

Setidaknya sekali dalam sehari kakak2nya makan bareng sama anak2nya. Biasanya saat makan malam. Ini juga menjadi ajang diskusi terbuka dan saling catch-up dengan berita masing2 jadi semua anggota keluarga tau pada ngapain aja mereka.

Hasilnya sejauh ini (sekarang mereka dah sma dan kuliah) anak2nya blum ada yang pacaran, sekolahnya bener, punya kegiatan mendukung, sayang banget sama Ayahnya (kakak saya) dan satu sama lain.

Soal antar sekolah ini sudah dibuktikan sama kakak saya yang lain. Tiap pagi diantar ayahnya dan memang menjadi ajang bonding ayah dan anak. Hal2 yang tidak diceritakan ke kakak saya (ibunya) dia ceritakan ke ayahnya. Untuk kemudian nanti ayahnya laporan ke ibunya lagi. hehehe…
Anak2 saya juga gitu, karena si abah harus siap ngalong di kantor sebisa mungkin kalau pagi dia yang mengantar sekolah.

Sebetulnya beberapa hal sih turunan dari kebiasaan keluarga kami. Hal seperti makan bareng atau baca buku itu kebiasaan yang ditularkan oleh orang tua kami yang disesuaikan dengan jaman. Tentunya ini semua ditambah dengan banyak berdoa minta perlindungan kepada Allah agar kita semua selalu sehat,selamat dan dalam lindungannya. Aaamiin.