Tentang Feminisme

Disclaimer: ini adalah hutang tulisan pendapat, bukan dicanangkan sebagai tulisan ilmiah sehingga tidak mencantumkan referensi layaknya sebuah tulisan Opini untuk media.

Bismillah,

Sependek yang saya mengerti, gerakan feminisme adalah mencari kesetaraan gender yang intinya adalah persamaan hak untuk perempuan dan laki-laki sementara feminis adalah orang yang menganut pahamnya. Gerakan ini memang dimulai dari Barat dari sekitar abad 18an. Sekarang feminisme seringkali mendapat konotasi buruk, seolah-olah seorang yang mengaku feminis artinya melarikan diri dari kodratnya sebagai perempuan, seolah-olah emansipasi itu menjadi jawaban bagi para pria untuk juga lari dari kodratnya. Padahal bukan itu maksud awalnya.

Membaca ulang beberapa artikel tentang feminisme dan dengan pemahaman saya sekarang ini maka tidak heran kalau gerakan ini adalah dari Barat karena disana tidak ada tokoh/panutan yang secara jelas dan gamblang membela kaum perempuan. Tidak ada definisi yang jelas kalau mengacu pada gereja. Gereja hanya punya 10 Commandments (perintah) yang menjabarkan peraturan hidup secara garis besar (tidak boleh membunuh, mencuri, menyeleweng, dll) namun tidak ada keterangan yang detail tentang hak dan kewajiban ayah, suami, istri, ibu, anak, dll. Gereja tertentu bahkan melarang perceraian apapun alasan dan situasinya. Jadi nggak heran kalau para perempuan Barat itu akhirnya harus berteriak meminta persamaan hak mereka. Hak untuk belajar, untuk memilih, untuk hidup tanpa bergantung pada pria karena pada kenyataannya perempuan kadang harus hidup sendiri. Tidak selamanya ada laki-laki yang bisa menopang dan melindungi mereka. Ini, hemat saya, adalah inti dari gerakan feminisme.

Bandingkan dengan panutan kita, Nabi Muhammad SAW. Dengan minimnya pengetahuan agama saya, yang lebih pandai bisa menjelaskan bahwa sebelum Islam tiba, status perempuan di Jazirah Arab sama atau malah mungkin lebih rendah dari unta. Bayi perempuan dianggap aib, dikubur hidup-hidup. Tidak punya hak waris, bisa dialih tangan sesuka hati, tidak bisa memilih jodohnya, singkat kata tidak ada perlindungan sama sekali terhadap perempuan. Datanglah Nabi Muhammad SAW dan Islam dimana perempuan dan laki-laki mempunyai hak dan kewajiban masing-masing yang apabila dikerjakan dan dilakukan sebagaimana mestinya niscaya perempuan tidak merasakan apa-apa selain kedamaian dan ketentraman. Islam, sebagaimana yang diajarkan kepada saya, sangat memperhatikan dan membela perempuan. Islam tidak misoginis. Dalam hal keimanan, laki-laki dan perempuan adalah setara. Dari ayat pertama yang turun saja, sudah jelas ini agama yang egaliter. “Iqra!” Bacalah! siapa? semua penganut Islam harus membaca. Bukan, bacalah hai laki-laki atau hanya laki-laki yang harus membaca. Hanya satu kata yang berlaku untuk semua, “Iqra!”

Perintah membaca ini bagi saya maknanya sangat luas. Kita, lelaki dan perempuan Muslim, haruslah belajar, harus membaca, harus terus mengasah otak, menimba ilmu sampai ajal menjelang. Belum lagi ajaran, anjuran dan perintah-perintah yang datang belakangan mengenai perempuan a.l. berhak atas hak waris, berhak menolak jodoh, dan berhak menggugat cerai. Memang mereka yang suka mencela sering mencibir dan berkata, lah warisannya kan 2:1, cowok dapat 2, cewek dapat 1. Betul, tapi 1 yang didapat perempuan benar-benar milik dia untuk dipakai sesuka hatinya. Mau dia beli es krim, emas, eye shadow atau mau dia bakar semua kek itu hak dia. Sementara dengan 2 yang didapat laki-laki dia masih harus menghidupi anaknya, istrinya, ibunya dan juga membantu saudara-saudaranya termasuk saudara perempuannya yang dapat 1 itu. Ada hak mereka dalam 2 yang didapat.

Masalah jodoh, adalah hak perempuan untuk menolak seorang pria yang diajukan padanya apabila dirasa pria itu tidak cocok baginya. Perempuan berhak mendapat seorang suami yang menghargai dan menghormati dia apa adanya. Soal cerai, tentu saya tidak menganjurkan perceraian, ini adalah hal yang sangat dibenci Allah, tapi, lagi-lagi Allah membuktikan bahwa dalam perjalanan hidup manusia bisa berubah, yang tadinya baik menjadi jahat. Yang tadinya mimi lan mintuna tiba-tiba merasa sangat asing dan tidak bisa memahami lagi pasangannya. Tentu yang paling baik adalah berusaha memperbaiki, tapi ada kalanya situasi sedemikian rupa sehingga bertahan menikah mungkin lebih banyak mudharatnya ketimbang berpisah. Misalnya, suami menjadi pelaku KDRT. Hidup dalam kecemasan, ketakutan, hari ini digebukin gak ya? tentunya bukan merupakan kehidupan yang sehat nan waras. Belum lagi kalau ada anak dalam pernikahan itu. Ayah yang seharusnya melindungi malah mengajari kekerasan. Bukan itu yang dimaksud dengan kehidupan pernikahan! Lagi-lagi para pencibir dan pencela itu kadang berkata, ah perempuan Islam tidak boleh menikah dengan non-Muslim, menghalangi cinta, atau, cowok Islam mah kerjanya kawin melulu. Tapi ya sudahlah itu kita bahas kapan-kapan saja, nanti melencengnya kejauhan.

Waktu kecil, saya tidak merasakan perlunya punya ‘faham feminisme’ karena Islam yang pada dasarnya sudah feminis ini diterapkan di keluarga saya. Ayah saya bertanggung jawab atas keluarganya, menyekolahkan semua anaknya, menyanyangi kami, tidak melakukan KDRT, meloloskan hampir semua permintaan yang berkaitan dengan pendidikan misalnya sering membelikan buku, membolehkan ikut les ini-itu, dll. Tidak perlu saya sebagai anak perempuan menuntut persamaan hak dengan abang saya karena orangtua saya sudah memperlakukan kami dengan adil. Kami tidak merasa dibedakan, semua diberi kesempatan yang sama, tinggal bagaimana kita menyikapi hal ini. Tidak ada standar ganda. Semua anak tidak boleh merokok. Semua anak tidak boleh naik motor. Semua anak hanya boleh menyetir setelah ada SIM. Semua anak boleh bersekolah dimana saja selama terjangkau. Bahwa kemudian abang saya lebih sering memakai mobil daripada kakak perempuan saya itu hal lain lagi. Itu masalah kecakapan negosiasi dan penjadwalan ๐Ÿ˜‰

Setelah besar dan berjalan-jalan, baru saya ngeh bahwa tidak semua anak perempuan tumbuh besar dengan situasi seperti itu, apapun agamanya. Ada yang orangtuanya suka melarang dengan alasan, “Kamu anak perempuan!” sementara saudara laki-lakinya melenggang santai karena yaa dia kan anak laki-laki. Jujur saya kaget ada yang berpendapat bahwa perempuan tidak boleh sekolah, perempuan tidak boleh bekerja, tidak boleh ini-itu, pokoke harus dirumah! Iya klo ada ayah atau suami. Lha klo janda gimana? Emang segampang itu menikah lagi? Klo janda anak tunggal nggak ada abang, paman, sepupu laki2 trus gimana? Suruh ikutan dikubur bareng suami? Atau yatim-piatu anak tunggal? Ikutan dikubur bareng ortu? Atau ‘favorit’ saya, “Cowok itu ibarat teko, isinya boleh berceceran dimana-mana asal tekonya balik ke rumah. Cewek mah terima ajalah.” Halaah… Jijay bajaj! Ini terjadi dimana-mana, agama apa saja, negara mana saja. Belum lagi distorsi-distorsi yang dilakukan lelaki atas nama agama demi mempertahankan kekuasaan. “Perempuan tidak boleh keliaran diatas jam sekian, yang masih di jalan pasti pelacur!” Dyeileee… gigi lu gendut! Suudzon amat sih!!!

Saya yang tadinya nyaman dan cuek menjadi peduli. Nurani saya terusik sementara saya enak-enak kuliah ada saudara saya yang sedang diperdagangkan untuk menjadi entah apa dimana tanpa tau haknya apa, tanpa tau apakah akan kembali lagi secara utuh atau tinggal nama. Ketika belum semua perempuan disini mendapatkan pendidikan sampai setidaknya SMP seperti yang dicanangkan Diknas? Ketika perempuan bekerja belum mendapat jatah cuti hamil selama 6 bulan atau tempat yang layak untuk menyusui/memompa ASI di tempat kerjanya? Ketika seorang perempuan mengeluh ingin berhenti bekerja tapi tidak ingin dilecehkan suaminya karena hanya ‘diam di rumah’? Ingat, tidak semua perempuan bekerja karena lari dari kodrat. Banyak yang harus dan banyak pula profesi yang membutukan perempuan sebagai profesional. Atau di ranah pribadi, ketika perempuan yang menjadi korban KDRT belum mendapat perlindungan dan dilindungi sebagaimana mestinya tanpa harus takut dikucilkan atau malah dicemooh oleh polisi dan masyarakat, bagaimana saya bisa nyaman mengatakan saya bukan feminis? Butuh lebih dari 1 dekade untuk korps kepolisian Amerika untuk merubah sikap dan pendekatan mereka terhadap KDRT, bahwa ini adalah tindakan kriminal.

Apakah hal-hal diatas bertentangan dengan agama? Bertentangan dengan contoh Nabi? Bagaimana kita bisa bilang bahwa feminisme bertentangan dengan Islam ketika jelas-jelas Islam mempromosikan kesetaraan gender dengan jelas dan tegas? Bahwa pelaku-pelakunya kemudian memelintirkan ayat untuk kepentingan mereka, yah itulah kehidupan. Orangnya yang gendheng agamanya yang kena. Dus, tabayyun. Cari guru lebih dari satu. Baca tafsir lebih dari satu. Iqra.

Selama perempuan masih merasakan ketimpangan dan ketidakadilan, sebetulnya justru mendorong perempuan menjadi radikal. Apalagi kalau pelintiran-pelintiran itu dilestarikan, tidak usah heran. Siapa yang nyaman hidup dalam ketidak-adilan? Selama ketimpangan itu masih terjadi, bagaimana saya bisa tidak merangkul paham feminisme dan mendeklarasi diri seorang feminis?

Advertisements

6 thoughts on “Tentang Feminisme

  1. agatogata said: Perempuan tidak boleh keliaran diatas jam sekian,

    islam pun tidak membolehkan perempuan berkeliaran tanpa muhrim kan, kalau di masyarakat kita peraturannya terdiskon sehingga tinggal tidak boleh berkeliaran sampaijam sekian, yaaaaaaa begitulah masyarakat kita,anyway emang perempuan gak baik kok keliaran setelah maghrib, maksimal isya. apapun alasannya, lebih syar’i kalau jam2 sgitu udah dirumah/tempat tinggal.maksud dasarnya baik, cuman karena ada imbuhan belakanya “berarti……..” itu sehingga maksud baiknya jadi tidak terasa.

  2. siapa juga sih mba yang lewat magrib masih pengen ada di jalan? Realitanya tapi kan tidak demikian. kalau memang niatnya bai, cari tau dulu dong apa dan kenapa trus kasih solusi, jangan langsung prejudis.

  3. “Cowok itu ibarat teko, isinya boleh berceceran dimana-mana…” <– tanda bukan lelaki shalih. buang aja ke laut :)”… asal tekonya balik ke rumah. Cewek mah terima ajalah.” <– seorang istri berkewajiban mengingatkan suami. jika suami tidak mau diingatkan dan istri tak tahan, bisa mengambil sikap tegas, karena suami yg tidak shalih tidak layak jadi imam.Siapa yang nyaman hidup dalam ketidak-adilan? Selama ketimpangan itu masih terjadi, bagaimana saya bisa tidak merangkul paham feminisme dan mendeklarasi diri seorang feminis? <— tidak ada yg mau dizalimi. semoga kita terhindar dari menzalimi dan dizalimi orang, terhindar dari membodohi dan dibodohi orang, terhindar dari memperdaya dan diperdayai orang. amin. feminisme mengacu pada wacana dan latar budaya tertentu. semoga kita dapat mempelajari agama Islam dengan kaffah, melaksanakannya dg kaffah, dan menyebarkannya dengan baik, sesuai sumber aslinya yg jernih dan sempurna. amin.:)

  4. orinkeren said: yg mana?solusinya jelas kok, masa ga tau?

    yang bikin dan ingin menerapkan peraturan itulah mba, yang melarang perempuan berada di luar rumah malam-malam….. kayaknya sih sudah dihapus. Solusi apa lagi nih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s