Dekatilah Anakmu…

baca status temen pagi ini yang ngasih link ke suatu berita kok ya ngenes to, lagi-lagi bukannya introspeksi tapi menyalahkan faktor luar sebagai penyebabnya. Biasalah masih masalah pornografi dan anak. Iya bener, dengan adanya internet sekarang akses memang lebih mudah dan gampang tapi ya jangan melulu salahkan internet dong. Pemblokiran juga menurut saya bukan jawabannya meski banyak yang ngotot demikian dengan memberikan Cina sebagai contoh. Iya, tapi di Cina juga… ah sudahlah… saya nggak pengen membandingkan negara.

Bagi saya, adalah tugas kita sebagai orang tua untuk mendekati anak, mengajarkan yang baik dan menjauhi yang salah. Tidak bisa kita limpahkan ke sekolah, tidak bisa menyalahkan kerjaan, teman, tetangga, warnet, dll. Anak sudah dikasih perhatian cukup belum? Sudah membuat rambu2 yang disepakati bersama belum? Misalnya nih:

1. Aduuh gimana ya sekarang gampang bener akses video pake hp.
Lha, anaknya kenapa dikasih hape yang canggih? Ya abis kan sekarang semua hp gprs.
Nah, emang udah perlu pake hp? SD anak saya termasuk yang ketat soal hape, aih jangankan SD, SMP keponakan saya aja masih nggak membolehkan hp. Orang tua kalau perlu apa2 telpon ke sekolah! Titip pesan ke wali kelas nanti diteruskan. Secara gitu rata2 anak2 ini masih sd dan smp. Seberapa perlunya mereka ber hape ria? apalagi ber bb?

2. Abis mereka kerjanya main internet/nonton video/nonton tipik terus.
Udah dikasih batasan belum? Tivi misalnya. Kontrol dong berapa jam anak boleh nonton tivi atau apa yang mereka boleh tonton. Libatkan orang rumah dalam proses kontrol ini.
Saya memang termasuk orang tua yang membolehkan anak nonton tivi. Tapi saya berulang kali menegaskan channel apa saja yang boleh mereka lihat. Kalau mereka ingin nonton sama mbaknya, hanya beberapa program yang mereka bisa nonton bareng – musik dan kuis. Selainnya nggak boleh.
Secara nih ya, saya nggak punya duit buat bikin program tivi sendiri, gak punya akses ke yang punya saluran tipik, dan belum ada waktu untuk jadi aktifis tipik, ya saya pragmatis aja. Saya nggak mungkin menonton sama anak setiap saat, jadi saat punya rezeki lebih, ambil tivi langganan yang jauuuh lebih aman.

Tapi tivi berbayar kan mahal? Konsekuensinya? ya harus nonton bareng anak. Percayalah, sebelum tivi berbayar masuk rumah entah berapa jam saya habiskan menonton Dora, Spongebob dan teman2. Spongebob? kan kasar? lho justru, saat yang tepat untuk mengajari anak jangan berperilaku seperti itu yaaa itu nakal, nggak baik :p hehehe… aye mantan anak tipik siy

3. Ya elu enak di rumah, gw kan kerja cape…
emang ibu bekerja hanya dikau seorang? Tuh temen aye singel fighter! Kagak ade lakinya. Malah suka bikin aku malu karena doi lebih canggih ngurus anak ketimbang aku yang ibu rt.

Kalau kayak gini saya jadi ingat masa SMA dimana rata2 ibu temen2ku tu ibu rt, hampir nggak ada yang ibu bekerja tapi toh hasilnya variatif. Ada yang anaknya tetap nge-drugs, ada yang enggak. Jadi nggak efek apakah ibunya kerja atau tidak. Karena dalam semua situasi ada yang anaknya baik-baik saja, ada yang anaknya kacau balau. Semua kembali pada orang tuanya masing2.

So pada intinya, dan ini sebenernya jari nunjuk diri sendiri juga, dekatilah anakmu. Kenali dan sayangi mereka. Practice what you preach – nah ini gw banget nih, kadang2 masih bersalah do as I say not as I do. Bad mom.

Saya nggak bilang ini gampang. Buat saya juga susah. Setiap hari harus ingat untuk ikhlas dan sabar, supaya nggak cepet marah, nggak cepet ngambek. Setiap hari harus ingat bahwa anak itu mahluk individu. Kadang kan suka loncer membandingan adik dan kakak, padahal yaa mereka kan beda. Ya emang gak ada yang bilang jadi ortu itu gampang kok. Tapi ini kan konsekuensi dari perbuatan diri sendiri. Sapa suruh menikah dan punya anak?

But, here they are now. Saya sudah menjadi orang terpilih, terpilih untuk menjadi ibu. Mau nggak mau, suka nggak suka harus bertanggung jawab. Klo jatuh, ya bangun lagi. Klo marah ya minta maaf. Peluk anak. Percayalah, I’m far from being an ideal mom, bukan materi Ummi Award, paling enggak saat ini. hehe…

Jadi orang tua, jangan salahkan ini itu yaa. Dekati anaknya. Memang nggak ada jaminan, tapi insya Allah, orang tua yang dekat dengan anaknya akan membuat anaknya lebih sayang dan menghargai dirinya sendiri. Semoga.

Advertisements

4 thoughts on “Dekatilah Anakmu…

  1. tfs remindernya, Sita, suka liat Sita berbalas komen di twitternya Ika :-)salam kenal dari Miaiya, deketin anak dan ajak ngobrol, kalau udah terbuka sama ortunya, insya Allah anak akan lebih mudah diajak dialog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s