Kartu Setan?

Belakangan ini saya membaca entah blog atau sekedar postingan milis tentang kartu kredit. Rata2 menyatakan bahwa mereka tidak sudi memiliki kartu kredit karena tidak ingin hidup dalam hutang. Ternyata anggapan ini masih subur dan berlaku toh?

Tsk tsk tsk…. punya kartu kredit tidak otomatis mendapat vonis hidup dalam hutang lah yaw… sama seperti semua teknologi, kartu kredit itu semata-mata untuk memudahkan transaksi tanpa harus membawa uang tunai dalam jumlah banyak. Kalau pernah mengalami kecopetan atau kehilangan dompet seperti saya baru terasa kalau punya kartu kredit cukup menolong. Telpon, blok semua kartu, apply baru. Selesai. Kehilangan diminimalisir. Tapi coba kalau kita pas lagi mau belanja jadi sedang membawa uang tunai agak banyak. Gak bakal balik tu duit. ABCDE gak seh….

Yang harus kita sadari adalah, JANGAN MEMBELI DILUAR KEMAMPUAN!!! Semua yang kita gesek itu harus dibayar. Sebelum digesek coba pikir, tanpa kartu kredit bisa nggak kita membayar ini tunai? Kalau tidak bisa, jangan gesek!

Ketika tagihan datang, langsung bayar full jadi kita tidak kena tagihan tambahan. Kartu kredit nggak akan menagih lebih dari harga kok. Kalau kita beli barang seharga 100rb, ya dia menagihnya 100rb juga asal kita bayarnya sebelum tenggat waktu. Kalau kita telat bayar baru kita kena denda atau kena bunga. Wajarlah karena berarti pembelian kita dibayarkan terlebih dahulu. Ini baru kita ngutang beneran. Makanya, kembali lagi ke poin semula, kalau pada akhir bulan nggak bisa dibayar, ya jangan beli!!!

Ada yang bilang kan udah ada kartu debit, ngapain lagi punya kartu kredit? Ya itu memang pilihan masing2 ya. Tapi beberapa kartu kredit memberi servis tambahan seperti aneka diskon di tempat makan, bioskop, buku, dll. Trus biasanya ada program point reward atau cashback yang nantinya bisa dibelanjakan kembali.

Kalau buat saya juga penting kalau harus ke rumah sakit. Asuransi kesehatan kami menerapkan sistem reimburse, yang berarti bayar dimuka, diganti belakangan. Padahal tau sendiri biaya kesehatan pan cihuy juga. Nah setidaknya kartu kredit menjamin kita bisa masuk dan dirawat. Syukur2 pas tagihan datang reimbursenya juga dah keluar. Kalau belum ya bayar saja semampu kita. Kan trus kena denda? Lha ya namanya juga sakit, siapa sih yang minta? Toh ketika asuransi mengganti tagihan yang tersisa trus lunas.

Betul, saya juga suka baca kadang ada penerbit kartu kredit yang error yang salah biling, suka meneror klien, dll. Well, itu kan pegawainya yang ngaco. Nyebelin sih kalau bulak-balik terima lelepon dari tukang tagih. Udah dibilangin ntu orang dah gak tinggal disini n gw kagak tau dia ada dimana masih aja pada nilpun. Ih mbok ya kamu tu sebelum ciao dari rumah ini bayar dulu lho utang2nya… ah curcol deh 😀

Jadi ngaca liat diri sendiri, dah bisa mengontrol nafsu belanja belum? Kalau belum jangan salahkan kartunya. Okeh!