Untuk Apa Memilih?

Yep, beberapa teman saya ada yang berpendapat demikian. Kakak saya sendiri sudah beberapa kali memutuskan untuk bergolput. Hmmm… Yah mungkin waktu zamannya dia kala itu mau milih mau enggak gak ada bedanya. Tapi, insya Allah, kali ini berbeda. Mungkin saya yang kelewat naif, tapi saya tetap punya harapan dan saya tidak mau menjadi apatis.

Kenapa? Karena menjadi apatis adalah trik penguasa untuk melenggangkan kekuasaannya. Ah buat apa milih? Toh keadaan tidak berubah, jalanan masih tetap kacau balau, pendidikan masih mahal, dll.
Ok, lalu perubahan apa yang diharapkan dengan tidak memilih? Tidak memilih berarti membiarkan status quo. Membiarkan status quo berarti dengan sengaja kita menelantarkan diri sendiri. Dengan tidak berusaha bertindak maka kita melegitimasi yang berkuasa untuk tetap tidak membetulkan jalan, tetap tidak memberikan pendidikan, tetap mebiarkan asap rokok mengepul dimana-mana.

Emang ada garansi perubahan kalau memilih? Memang tidak ada. Apalagi kalau pilihan kita kalah. Tapi kalau menang?
Kalau menang dan pilihan kita memegang teguh amanah yang diberikan padanya pastilah perubahan akan terjadi. Tidak mungkin instan dan sekejab tapi pasti adalah perubahan dan mudah-mudahan perubahan yang menuju arah kebaikan.

Jangan sampai deh pilihan kita kerjanya menjual-jual aset strategis bangsa – satelit komunikasi misalnya – ke negara asing pulak sehingga rahasia kita bisa dengan mudah diintip orang lain, menelantarkan daerah ujung sehingga secara moral bisa diembat negara lain. Atau membiarkan pengurukan pasir sehingga negara lain tambah luas sementara kita tambah kecil.

Ah itu kan global. Efeknya buat saya yg kecil apa? Yah, kalau yang global aja sudah gak perdulian, apalagi untuk urusan kecil?

Well, tentu saja tidak memilih merupakan hak juga dan saya tidak akan memaksa. Tapi coba deh betul2 perhatikan dan pikirkan sebelum mengambil keputusan untuk tidak memilih. Apa iya negara kita dah sedemikian oknya sehingga kita bisa lepas tangan tidak memilih?

*bukan jurkam dan tidak terafiliasi dengan partai apapun*

Advertisements

8 thoughts on “Untuk Apa Memilih?

  1. untuk membenahi negeri ini.Mba Sita, bilang ke teman Mba itu.dulu waktu milih, hanya milih atau jadi pemilih yg cerdas dengan memantau parati yg dipilih dan vokal lapor ketika ada hal2 yg bisa diadvokasi via parlemen.intinya sih pemantauan dan komunikasi dua arah.

  2. niwanda said: Jawaban-jawaban yang tangkas, Mbak. Saya belum bisa menjawab cerdas begitu kalau ada yang koar-koar soal golput…

    Sampai sekarang kalau argumennya sama kakak saya pun masih belum bisa ‘menang’ atau mungkin kali abang saya ngeyel aja kali ya mba soale yang ngoceh adiknya šŸ˜€

  3. jsattaubah said: intinya sih pemantauan dan komunikasi dua arah.

    Bener mas. Memang sebaiknya cek n ricek šŸ™‚ btw, maaf ya kemaren saya panggilnya Isa. Lieur J jadi kebaca I.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s