Baik Hati Atau Lugu?

Entah kenapa saya ini sering dihampiri peminta-minta. Maksudnya kalau ada segerombolan orang trus ada peminta-minta biasanya saya suka ditargetkan duluan baru orang lain. Tadi siang lagi mengawasi anak-anak main di AW tiba-tiba ada yang mengaku orang bisu dan jualan overpriced prentilan. Sebetulnya rada males tapi entah gak bisa bilang enggak.

Jadi ingat kejadian-kejadian lain misalnya, waktu di Istanbul lagi jalan-jalan di taman dari sekian banyak orang kok ya saya gitu yang didatangi oleh Gipsy dan beruangnya. And like an idiot, mau lagi ‘diajak’ pose sama beruang trus diminta ‘sedekah’ cuma-cuma. Atau di London, di tengah-tengah Oxford Street lagi asyik-asyik liat toko eh didekati ‘penjual’ bunga. Namun yang ini saya tolak soalnya dah sering dapat peringatan dari pemerintah Inggris soal mereka ini.

Yang cukup top waktu di Boston. Kali ini emang lagi sendirian pulang dari kelas malam, entah darimana ada cewek nangis-nangis katanya abis kecopetan trus gak punya ongkos pulang jadi minta duit. Dikasih lagi. Pas sampai rumah saya langsung cerita ama temen serumah. Dia senyum trus bilang bahwa saya baru aja ketipu. Menurut dia kalau emang bener dia abis kecopetan seharusnya langsung ke polisi pasti ditolong. Ooo… Begono…

Apa saya punya tampang lugu sehingga gampang ketipu atau memang sedang ditegur untuk lebih banyak bersedekah ya? Kadang emang suka karunya sih.
Yah entahlah. Mungkin saya kurang banyak sedekah. Saya cuma berharap mudah-mudahan mereka memang butuh dan itu jadi berkah untuk mereka.
Yah entahlah

Yang Penting Ikhlas!

Break dulu ah dari cari caleg. Puyeng. Belum yang DPD. Halaah…. hese pisan.

So eniwe, pagi ini seperti biasa mengaji dulu lah kita, recharge baterei sekalian nambah ilmu. Malu dong dah jadi emak2 masa baca Qurannya masih belepotan nah hari ini meneruskan baca surat Gunung atau Hijr, lagi yang bagian percakapan Allah dengan Iblis. (Btw, baru tau kalau Jin lagi diem2 aje namanya Iblis tapi kalau sedang melakukan kejahatan baru namanya Setan. Setan itu nama profesi toh.) Jadi jin terbuat dari api, manusia dari tanah trus malaikat disuruh sujud pada manusia (Adam). Malaikat mau memberi hormat sama manusia tapi si Jin ini ogah karena terbuat api kerenan gw dong… kali gitu ye kalo si Jin anak gaul. Singkat cerita Iblis kan nego minta waktu sampai hari pembalasan supaya bisa menggoda manusia kecuali yang hamba-hambaMu yang ikhlas!

Nah tuh. Makanya, kata guruku lagi, kita bisa menemukan aneka kriminalitas dilakukan oleh orang yang konon kiai, ustadz, guru agama, dll. Itu karena mereka menjadikan itu sebagai profesi dan bukan atas keihklasan hatinya kepada Allah. Kalau dia ikhlas niscaya dia tidak akan tergoda. Iblisnya dah bilang sendiri kok. Whew. Lagi-lagi kita kembali ke ilmu Ikhlas. Kiamat Sudah Dekat, ikhlas! (kapan itu serial di dvdkan yaks? SCTV, ayolah… tega benar dikau Citra Sinema nggak boleh menDvdkan serialnya sendiri :p )

Mulailah dari yang kecil seperti membiasakan membaca Quran meski hanya satu ayat sehari. “Jangan jadikan rumahmu kuburan” maksudnya rumah yang sering dibacakan ayat Quran akan dijauhi Setan. Buat si Setan rumahnya akan terasa panas dan dia gak akan tahan untuk berlama-lama di rumah kita. Kalo dipikir-pikir padahal kan dia terbuat dari api kok gak tahan panas yaks? Hiii…

On another note, si jin jadi kagak ade matinyeee…. dia hidup terus sampai hari akhir. Karena itu menurut yang bisa liat, suka ada jin yang udah tuiiiir banget. Udah loyo, dieeem aja di atas puun beringin nggak bisa ngapa2in lagi. Ih kalo dipikir-pikir apa enaknya ya jadi tua ngadeprok aja gak bisa kemana-mana tapi juga gak mati2? Plus itu juga kenapa hidup makin banyak godaan ya. Setannya makin banyak dimana-mana. Lha kagak mati2 sementara terus berkembang biak.

Pada akhirnya hidup ini memang masalah. Mereka yang masih hidup pasti akan menemui masalah. Hidup ini juga pilihan. Tentukan pilihanmu dengan baik. (aih ini kenapa masih aja nyelip semangat ‘kampanye’?) Mulai dari mensyukuri segala nikmat yang kecil-kecil agar bisa menikmati nikmat yang besar. Selalu memohon ampun dan meminta bantuanNya agar hidayah ini tidak hilang. Amin.

Caleg, Dimanakah Kau Berada?

“You have to practice what you preach.”
Jadilah kemarin malam saya duduk manis di depan pc siap untuk meminta pertolongan mbah gugel tentang info caleg. Abis ama tante KPU diwanti-wanti harus pilih caleg biar efektif. Saking semangatnya sampai lagi ngomongin apa sama si tante disamber soal milih caleg yang terpercaya. Iya deh tante, eike gak golput

Ok, so, pertama buka situs partai. Gampang, sekejap juga ketemu sama si mbah. Sempet YMan ama temen, mana ini daftarnya te aya. Aya, cari aja lagi, kata temen. Yeuh… Mbok ya font sizenya yg gede trus kelap-kelip “iki daftar calegnyo!!!” Ben, klik daftar. Cari Jakarta. Weks! Banyak amat! Tiap kategori ada skitar 7 calon. 7×3=21. Ampyuuun… Musti cari profil 21 orang??? Untung sama si eyang udah dibisikin, ssst… Liat yang nomer 1-3 ajah atau yang perempuan. Lumayan, jadi berarti tinggal 9-12 nama aja. Pas dah tenang, dibaca lagi satu-satu namanya. Ah, ternyata ada yang udah tau, dah sering denger dia waktu kampanye kemaren yang sayangnya kalah. Okelah pilih dia ajah. Harusnya sih beliau gak berubah jauh dari kemaren. Insya Allah.

Lumayan 1 kategori dah ketemu, tinggal 2, jadi kalau mau milih yang perempuan tinggal 2 nama, tapi kalau penasaran tinggal 6-8 nama ajah. Kirain bakalan segampang yang tadi ternyata… Aih pak, bu… Kalian teh saha? Mana search function di situsnya nggak jalan. Apa profilnya ngumpet sama kayak daftarnya? Cari-cari nemu daftar jabatan di partai. Oh good, anda ketua bagian ini dan itu but who are you really? Cari lagi, nemu artikel aja soal kunjungan ke pasar. Coba cari bareng si mbah, aih ternyata ya, ada yang ketemu ada yang tidak. Bagaimana sih ini? Belum selesai pencarian si kakak dah merengek-rengek minta main kompi. Yo wis ngalah… Pencarian calegnya stop dulu, main puzzle dulu sama kakak.

Yah, pantes aja tetap banyak yang pesimis dan ngeles,”Gw gak kenal tuh… Sape elu yee?” Kita digiring untuk milih caleg, tapi informasinya gak rata. Idealnya nih di daftarnya namanya bisa langsung diklik trus link deh ke halaman profil yang isinya data mereka seperti nama, pengalaman, jabatan, ikutan cause apa aja trus ya itu dia, visi dan misi ybs. Not too much to ask is it?

Soale terus terang saya malas kalau harus ikutan ke lapangan dengerin pidato. Buatlah mudah untuk pemilih untuk mengetahui siapa yang dia pilih. Saat ini jadinya kita diharapkan untuk percaya pada partai dan percaya bahwa apabila terpilih menjadi leg dia akan tunduk padahaluan partai. Padahal terkadang hal2 kecil tu perlu lho misalnya, merokok apa tidak, istrinya satu apa empat. Emang masalah? Ya sebenarnya terserah sih mau istrinya berapa, cuma rasanya masih gak rela deh kalau uang rakyat dipakai untuk membiayai keluarga besar karena beberapa perkawinan. Tau deh, masih idealistis kali ane ye… keluarga satu aja pasti ada masalah apalagi kalau keluarganya banyak, kapan mau mikirin rakyatnya? Info2 prentilan macam gini kan suka gak keliatan kecuali si calegnya bikin blog pribadi dimana sang caleg menyatakan anti rokok. Ya logikanya kalau dah berkata demikian di blog rasanya aneh kalau pas ketemu ternyata calegnya sedang ngepul Capri Menthol. Gak lucu kali yeee….

Jadi kepikiran, kalau si calon pemilih tidak dari keluarga yang tertarik pada politik, trus temen2nya juga sesama apatis, plus gak hobi nonton acara debat politik. Nah apa dan siapa yang mau dia pilih? Ideologi aja mungkin dia nggak tau apa nasionalis, sosialis, kapitalis, dll. Milih partai juga kali dia bingung. Partai apa yaaa? Belum suruh pilih caleg. Weleh… Bisa2 ntar pilihnya kayak saya dulu, berdasarkan rupa bukan isi. Hieee!

So eniwe, saya sih nggak jera. Malam ini atau besok lanjut lagi surfing for calegnya sampai puas. Masih ada seminggu kan?

Untuk Apa Memilih?

Yep, beberapa teman saya ada yang berpendapat demikian. Kakak saya sendiri sudah beberapa kali memutuskan untuk bergolput. Hmmm… Yah mungkin waktu zamannya dia kala itu mau milih mau enggak gak ada bedanya. Tapi, insya Allah, kali ini berbeda. Mungkin saya yang kelewat naif, tapi saya tetap punya harapan dan saya tidak mau menjadi apatis.

Kenapa? Karena menjadi apatis adalah trik penguasa untuk melenggangkan kekuasaannya. Ah buat apa milih? Toh keadaan tidak berubah, jalanan masih tetap kacau balau, pendidikan masih mahal, dll.
Ok, lalu perubahan apa yang diharapkan dengan tidak memilih? Tidak memilih berarti membiarkan status quo. Membiarkan status quo berarti dengan sengaja kita menelantarkan diri sendiri. Dengan tidak berusaha bertindak maka kita melegitimasi yang berkuasa untuk tetap tidak membetulkan jalan, tetap tidak memberikan pendidikan, tetap mebiarkan asap rokok mengepul dimana-mana.

Emang ada garansi perubahan kalau memilih? Memang tidak ada. Apalagi kalau pilihan kita kalah. Tapi kalau menang?
Kalau menang dan pilihan kita memegang teguh amanah yang diberikan padanya pastilah perubahan akan terjadi. Tidak mungkin instan dan sekejab tapi pasti adalah perubahan dan mudah-mudahan perubahan yang menuju arah kebaikan.

Jangan sampai deh pilihan kita kerjanya menjual-jual aset strategis bangsa – satelit komunikasi misalnya – ke negara asing pulak sehingga rahasia kita bisa dengan mudah diintip orang lain, menelantarkan daerah ujung sehingga secara moral bisa diembat negara lain. Atau membiarkan pengurukan pasir sehingga negara lain tambah luas sementara kita tambah kecil.

Ah itu kan global. Efeknya buat saya yg kecil apa? Yah, kalau yang global aja sudah gak perdulian, apalagi untuk urusan kecil?

Well, tentu saja tidak memilih merupakan hak juga dan saya tidak akan memaksa. Tapi coba deh betul2 perhatikan dan pikirkan sebelum mengambil keputusan untuk tidak memilih. Apa iya negara kita dah sedemikian oknya sehingga kita bisa lepas tangan tidak memilih?

*bukan jurkam dan tidak terafiliasi dengan partai apapun*

Lha Namanya Kok Mirip? or Demi Tidak Golput bg 2

Jadi nih sejak tau bahwa lebih efektif mencontreng caleg ketimbang partai sebagai warga negara yang baik harus cari tau dong calegnya siapa. Ya iyalah abis sampai sekarang blum ada caleg yg ngajak kopdar she 😉

So eniwe, partainya sih udah adalah condongnya kemana so bukalah situsnya liat daftarnya siapa. Hmm… Ternyata ada beberapa berarti kudu ke mbah gugel dunks buat tau masing2 tu kayak apa, paling enggak biar gak ada manifestonya kalau ada situs pribadinya kan bisa dilihat pemikirannya seperti apa, cucok tak kira2, misalnya kalau calegnya nggak merokok paling enggak dah sehati tuh ama saya 😉

Yo wis, trus scroll down lah liat2 daftar dapil yang lain. Aiih itu caleg2 Jabar namanya Sunda pisan!!! Padahal ya gak anehlah, caleg Sumatera juga namanya Batak2 cuma kayaknya Cecep Gorbacep teh kumaha kitu 😀

Nah lagi asik-asik scrolling tiba-tiba… Lho kok ada caleg yang namanya mirip banget!!! Sitaresmi S, Hj! Huaaaa…. Untung gelarnya beda, beliau Dra M Psi sementara daku BA (Hons), MS. Sayang gak ada potona jadi gak bisa liat apakah kita juga mirip atau tidaks.

Hwarakadah… Jangan2 yang pada minta add di FB mengira saya ibu psikolog itu lagi. Soale ada tuh yang nyapa, “Mba, saya X waktu itu wawancara mba di publikasi Y, masih inget gak?” Haaa…???
Ack! Tertipuuu…

Buat Ibu Sitaresmi yang caleg, semoga sukses ya bu dan apabila ibu terpilih, semogga ibu menjadi anggota dewan yang tidak lupa pada rakyatnya.

Ternyata Harus Contreng Calegnya…

Jadi cerita gara-gara nonton Bukan Empat Mata episode Contreng baru tau deh caranya memilih di Pemilu sekarang. Hihihi… Oon yaks.

Eniwe, ibu KPUnya bilang contrenglah Partai ATAU nomor caleg ATAU nama caleg. Hayoo dah pada tau belum? Trus jangan lupa kita hanya bisa milih 1 per posisi, DPR, DPRD dan DPD.

Nah, tadinya nih dakyu pan rada males cari2 caleg, tapi taulah kira2 partainya yg mana jadi mau pilih partai sajah. Eh pas konsultasi ama ibu KPU yang lain beliau wanti2 jangan contreng partai, contreng calegnya biar pasti suaranya dapat. Rupanya kalau kita contreng partainya saja nanti hasilnya dibagi ke seluruh caleg partai tersebut plus suara individual yg dia dapat. Bisa2 malah gak menang. Wehleh… Berarti kudu riset atawa colek2 si Papah lagi dong 😉

Ada yang punya unggulan buat Dapil Jakarta? Padahal baca manifesto politik tuh suka bikin lieur 😉 Mbok ya caleg tuh jangan pasang foto doang tapi bikin kopdar keq biar bisa tanya2. Ada gak ya caleg yang mau kopdar di Citos? Hehehe…

Demi tidak golput 😀

Le Mort

As a Muslim, I do believe in mortality. I do know and realise we all have a finite amount of time, whether it is a day, a month or 10 years, we would kick the bucket eventually.

I’ve reconcile with that and taking steps to live a meaningful and worthwhile life but I’ve yet to reconcile that about others, especially my parents.Somehow you always think that your parents are going to be around forever. That they are gonna be there for you till the very end of days when an overwhelming statistic says otherwise. And you also always think that your parents are forever young. Somehow at most your mom is 50 yr old and that your dad is 60. But of course recent advancement in medicine and better lifestyle enables our parents to live much longer than that. Yet, there’s this little part of me that refuse to recognise that.

I am in denial about my parents getting older even as I am accepting the fact that I am. How is it I get older but my parents don’t? I still want my dad to be back in in his glory days where he could work for hours on end without any repercussion. I still want my mother to be as young as when I was a teen so we can go on trips for hours on end. But they are not. My father’s body can’t burn the midnight oil as past and he’s paying for it now. My mother walks slower and can only manage at most a 2 hour trip to the mall in which half of it is spent sitting on a cafe sipping teas and biting into cakes while pondering about life.

The truth is, I don’t have much time left with them. I already have longer than others. My husband don’t have any left. And I am dreading the day when it would be my turn. Given their current state, I probably have about 10 odd years left with them. But I have to accept that my children probably won’t have their grandparents when they are older, that they won’t see the bebes graduating or going to college or even got married!

In Biology class we once discussed how human, out of all the other animals are whose young are most dependent on their parents. That is so true. I may be independent, but I am forever mentally tied to them. Check my phone records. The same number would pop up nearly everyday. Sometimes even more than once in a day. I truly cherish the time I have left with my mother and father. I look forward to our weekly coffee time. I hug my dad everytime I see him and whisper my thanks for raising me. Never knowing whether this week would be my last or not. Of course I include them in my daily prayers. After all that they did for me it would be highly ungrateful to not pray for them!

Just love them. Hug them. Cherish them. Since really, that is all that you can do.

Pertanyaan ‘Itu’

Di rata-rata milis, kalau pertanyaan ‘itu’ keluar biasanya milis akan jadi heboh sekejab. Bahkan saya pernah keluar dari salah satu milis gara-gara bete baca jawaban mayoritas penghuninya mengenai ‘itu’. Apaan sih?

Itu tuh, masalah poligini alias menikah lagi 😉

Dulu memang sayapun termasuk yang berapi-api suka es mosi kalau membicarakan mas alah ini. Tapi lama-lama akhirnya saya mengerti sendiri bahwa mas alah ini bukanlah masalah yang perlu dibesar-besarkan apalagi ditanggapi dengan emosian. Mendingan juga Es Teler atau Mochabella.

Kenapa? Apa saya sudah tidak membela perempuan lagi? Ooo… Tidak. Saya tetap tidak suka kalau ada ketidak adilan terhadap perempuan dengan dalih agama. Tapi dari pengertian saya yang sedikit ini saya tau bahwa yang namanya poligini, tidak akan mungkin bisa sampai dengan perasaan. Sampai kapanpun, kalau pendekatannya perasaan dan emosi, tidak akan ketemu. Tidak ada perempuan yang mau diduakan.

Tapi, saya juga percaya pada Allah, percaya bahwa Dia tidak akan menyesatkan ummatnya. Pemahaman ini tentu melalui proses. Saya baru benar-benar dong ketika melihat apa yang menimpa seorang tante non-muslim. Dalam agama tante NM tidak ada poligini. Saya tidak mau berpanjang atas urusan mereka singkat cerita om NM tidak punya pilihan selain menceraikan tante. Tidak mengatakan bahwa kalau mereka muslim tante NM tidak akan minta cerai atas perlakuan om NM tapi setidaknya mereka akan punya PILIHAN, bisa memilih tetap bertahan atau keluar. Tentu semua dengan konsekuensi masing-masing namun opsi itu tidak ada untuk tante. Mau tidak mau ya harus bercerai. Tidak ada jalan lain bagi mereka.

Karena itu tepatlah analogi poligini seperti pintu darurat. Pintu itu perlu, tapi sebaiknya tidak pernah digunakan. Jika ada kerusakan pesawat pilot akan berusaha memperbaiki dulu mesinnya semaksimal mungkin – pernah kan penerbangannya di delay karena kerusakan mesin? Bagaimanapun caranya, pilot akan berusaha dulu supaya pesawat bisa mendarat dengan aman dan selamat – seperti Miracle on Hudson River – baru menggunakan pintu darurat, kalau nggak penumpangnya tidak bisa keluar dong. Dan kalau pintu ini ditiadakan? Tenggelamlah semua penumpangnya. Alternatif yang nggak lucu juga kan?

Demikian pula dengan perkawinan. Perbaiki dulu apa yang salah didalam sebelum mencari tambahan masalah diluar. Dan, sebagaimana pilot harus menguasai pesawatnya, adalah tanggung jawab kepala keluarga i.e. Suami, untuk memperbaikinya.Jangan sombong!
Jangan menyalahkan orang lain atas kesalah yang dibuat-buat sendiri. Jangan anggap enteng kewajiban yang jatuh ke pundakmu sebagai suami dan kepala keluarga.