Reuni efek FB :)

Semalem dinner bareng teman-teman SD soalnya yang lagi ambil s3 di Jerman lagi pulkam jadi tentu dong langsung ditangkap dan disergap untuk makan bareng.

Lucu ya ketemu lagi setelah yaaa… lama deh pokoknya nggak ketemu. Kalau mereka sih masih suka crosspath entah di SMP, SMA atau universitas tapi dakyu bener2 lost contact sama mereka semua setelah lulus SD. Sebetulnya pas akhirnya balik lagi 2001 kemaren kan ikutan friendster dan reconnect lagi sih tapi entah kenapa waktu itu cuma emel2an ama chatting aja di YM tapi gak pernah bener2 ketemuan di darat. Setelah kita semua migrasi ke FB, mungkin karena suka liat foto masing2 atau tuker2an drop kick, punch, drinks, etc malah jadi semangat ketemuan. So we met πŸ™‚

Maybe because of the shared childhood experience, we easily reconnect with each other. Conversations flows punctuated with nostalgic moments but also with current events. Jadi nggak cuma, “Eh inget gak lo…”

We had such good times that we plan to meet again for lunch next week before she returns to Germany. Dan bikin plan buat wisata kuliner Kemang karena ada preman Kemangnya. Insya Allah πŸ™‚

Advertisements

Hari Ibu?

Tanpa mengecilkan peran ibu, apalagi setelah merasakan sendiri asyiknya ngeden dan melahirkan saya jadi suka sedih deh kalau hari ibu di Indonesia ini. Soalnya seperti biasa jadi hari salah kaprah. Hari yang sebetulnya dijadikan hari nasional untuk memperingati gerakan perempuan di Indonesia ie. untuk memperingati pendidikan perempuan, kesetaraan jender, akses kesehatan, dll yang penting untuk perempuan Indonesia, sekarang jadi direduksi menjadi hari bunda atau mother’s day.

Apa salah? Tentu kita boleh saja memperingati ibu kita namun dengan mengubah fokus ke ibu kita masing2 kita jadi tidak memikirkan nasib perempuan2 di negara ini. Kita sibuk memuliakan ibu kita sendiri – yang seharusnya jadi kewajiban kita setiap hari – tapi tidak ada atau hampir tidak ada yang memikirkan atau mendedikasikan puisi, cerita, dll untuk nasib saudari-saudari kita di tanah air ini.

Apakah ada yang memikirkan nasib perempuan yang terpaksa putus sekolah, dijual paksa oleh keluarganya, yang bayinya lahir dengan kekurangan ini itu yang semestinya bisa terdeteksi pada saat kehamilan kalau saja ibunya bisa dapat akses kesehatan secara reguler? Apakah kita sudah peduli masih ada asuransi kesehatan yang tidak menanggung biaya persalinan dan KB? Ada yang tau kalau kita sial dapat suami yang ternyata suka gebukin kita sampai babak belur ketika kita minta keadilan dapatnya ternyata masih perlu perjuangan? Atau kalau ada perubahan hukum yang menyangkut tatanan sosial perempuan biasanya pihak paling apes? Jam malam buat perempuan? Ada yang masih ingat? Perempuan tidak boleh keliaran setelah jam tertentu atau anda akan langsung disangka pelacur dan dibawa ke polisi! Perempuan harus bertutup-tutup dan tidak boleh merokok atau… yak… lagi-lagi dianggap perempuan bejat dan tidak bermoral.

Well helloo…. itu koruptor kebanyakan laki-laki atau perempuan yaaa???

Itu yang demen banget bawa kabur duit negara sampai operasi plastiklah, sok sakit di luar negeri lah, ngumpet di negara yang gak ada perjanjian ekstradisi sehingga gak bisa ditangkap buat dirajam, eh salah, buat diadili disini, rata-rata perempuan atau laki-laki ya?

Anggota dewan yang konon kerjanya untuk kesejahteraan rakyat sehingga harus merapatkan budget ini itu, meloloskan undang-undang ini itu, mayoritas laki-laki atau perempuan?

Apa memang kebiasaan kita ya? Hari Kartini juga masih suka melenceng jauh tuh dari intinya, dirayakan dengan lomba berbusana daerah dan masak! Apa hubungannya sama perjuangan ibu Kartini yang menginginkan pendidikan untuk kaumnnya? Tentunya lomba pidato, menggambar, atau puisi jauh lebih tepat dari lomba berkebaya. Lomba berbusana daerah seyogianya untuk merayakan 17 Agustus atau Sumpah Pemuda – satu nusa satu bangsa Indonesia, anyone?

Sekarang hari untuk perempuan Indonesia menjadi hari untuk bunda-bunda Indonesia…

Jangan salah, saya juga cinta sama ibu saya dan tidak mungkin saya bisa membalas semua jasa-jasa beliau, pekerjaan terberat di dunia ini ya menjadi Ibu, tapi saya harap saya akan selalu mengingat dan mendoakan ibu saya setiap hari.

Semoga dibalik segala puja-puji kita untuk bunda tercinta terdapat selintas doa untuk saudari-saudari yang belum seberuntung kita.

just my two cents

Bahwa manusia itu bisa menjadi mahluk jahat, sebetulnya sudah bukan pengetahuan baru. Buktinya masih ada perang dimana-mana. Tapi kadang ada saja perilaku jahat yang tetap membuat saya tertegun.

Kemarin saya pergi ke MP Bookpoint, ceritanya sih mau ke book launchingnya mba Ita Sikrit tapi karena salah liat jam jadinya telat, sesi mba Ita dah lewat malah dapatnya sesi KDRT. Saya pernah sih sebentar mengedit naskah tentang KDRT jadi ya sudah pernahlah membaca kekejaman manusia atas sesama, tapi mendengar kesaksian para survivor KDRT, mendengar mereka mengutarakannya, cara-cara mereka bertahan untuk mengatasinya, kekesalan mereka atas perlakuan yang mereka dapati dari pihak-pihak yang seharusnya melindungi mereka seperti mafia peradilan, polisi yang tidak bisa berempati, dll sungguh membuat saya terpana.

Jalan kita ternyata masih panjang. Masih banyak yang perlu kita lakukan agar KDRT tidak menimpa keluarga kita dan anak2 kita. Salah satunya adalah dengan memutus mata rantai tersebut. Jangan ‘lestarikan’ KDRT.

Ingat, Islam tidak mengajarkan KDRT dalam rumah tangga. Islam mengajarkan kebahagiaan, toleransi dan kasih sayang. Bukan rasa takut, penderitaan dan penghinaan. Jangan rusak anak-anak kita dengan bertahan dalam KDRT.

My Idul Adha

For the first time in years I was able to do shalat eid at the nearby mosque. It felt good to be out in the open air, looking at my fellow muslim brothers and sisters all answering God’s call with bleating of the sheeps in between the takbir. My neighbourhood mosque was given 30 sheeps and 2 bulls. Not bad I thought.

We walked back home, had a light breakfast, in anticipation for the feast to come, and first went to the kids’ school. We donated a sheep under our children’ name so we want to see the qurban. It would be good for the kids too. After some waiting the procession starts. Because we were the first one there, Laras’ sheep got slaughtered first. I kept some distance between her and the sheep, close enough to see what’s going on but not too close that she sees the actual action. The knife that been sharpened for ages proves its worth. With one quick clean swipe the sheep is dead. Then off to the hanging line where it got skinned, etc. It was fascinating. I’ve been to qurban of course but I never really stay to watch the whole process. The skinning process looks so easy, slowly but surely the skin parted with the body starting with the hind legs all the way down to the neck. Then the intestines were gutted. My, such plenty material, no wonder sop kambing is made almost entirely of intestines. There’s just so many of it it will be shameful to waste. I can just about taste the soup at the tip of my tongue πŸ˜‰ then one of the leg is cut and presented to Laras. She accepted somewhat confused. So then its time to tell her about the qurban albeit a 4 year old version so I skipped the whole prophet Ibrahim-Ismail bit and just go for the confirmation of our faith and sharing the welfare/bounty with others. I think she got it because she didn’t ask too many follow-up questions.

Then time to visit my parents. Some cousins were there so we catch up on family gossip while eating the spread my mom had organised. Her gulai kambing is excellent, as always. I didn’t want to leave but it is time to go to my husband’s family home. Off we go there, updated the family gossip then my husband stated cooking the leg of lamb. Parts of it go to soup, others to barbecue. I got the joyful task of peeling and slicing shallots and garlics. Oh fun. He cooked using a pressure cooker and the soup was ready in record time. It was delicious but has too much pepper. Not his best result but still good. Then came the sate kambing so we had some of that too. Yum!

Once you’re fed, what do you do? Nap time! Well, that’s in theory. What actually happened was Laras decided to watch a video of Dora, so I took out a novel and read a book next to her, then Faris was with his dad tinkering with the car and whatever else the boys did.

Usually we stayed until dinner but since my husband had some work to do we went home in the late afternoon. And that’s how my Idul Adha goes yesterday.

How about yours?