Berita-berita tidak menyenangkan

Bangun pagi setel CNN kok beritanya enggak banget ya? Mumbai diserang teroris yang konon menamakan dirinya para ‘Mujahideen’. Enggak banget gitu lho.

Kemaren baru baca soal sekelompok anak perempuan Afganistan yang disiram acid sebagai bentuk hukuman. Salah apa anak-anak itu? Kesalahannya adalah… Pergi ke sekolah! Ya, anak-anak perempuan itu sedang berjalan kaki ke sekolah ketika mereka diserang.

Konon atas nama… Ah gak tega nulisnya. Saya yakin tidak ada yang mengajarkan kekerasan. Siapa yang sedemikian sakit jiwa sehingga anak perempuan tidak boleh sekolah? Yang sakit jiwa menyerang kota-kota, membunuhi orang-orang tak bersalah? Yang konon membela suatu kepercayaan tertentu sampai bikin razia-razia gak jelas, mukul-mukulin anak kecil dan perempuan karena ‘diprovokasi sih, ada yang bawa senjata’? Yang bawa senjata sapa yang babak belur siapa.

Pagi-pagi dah lieur…

Advertisements

Ketemu Helen lagi!

Sejak saya ngeh sama google, seringkali saya mencoba mencari teman-teman lama saya dengan menguggling mereka. Lebih sering nggak dapet sih 😀 temen-temen saya pada underground kali yak?

Neng Helen ini termasuk yang rajin saya gugle karena dia adalah ‘penyelamat’ saya di Leeds. Agak sulit bagi saya untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan kampus dan kultur Inggris. Saya sempat merasa depresi, nggak ada teman, aktifitas sosialnya gak nyambung, bla bla bla, sampai saya ketemu Helen. Kita ditemukan di sebuah tugas kelompok, kayaknya waktu itu pemilihannya rada2 kayak arisan deh, dosennya mengacak kita semua dan saya dapatnya Helen, trus sapa lagi gitu lupa. And she matched my chemistry! Rada2 gilingan, suka jalan2, suka dugem juga, relatif suka jajan, pokoke enak deh maen ama neng Helen. Sejak itu Leeds Uni yang kelabu berasa lebih ceria. Uhuy!

Kita sobatan, kalau libur telpon-telponan, bahkan saling mengunjungi rumah masing2. Dia di Lake District, saya di Amsterdam.

Setelah lulus, kita pun berpisah. Saya ke Boston, dia ke Dublin dan kami kehilangan kontak. Helen rada2 alergi ama teknologi, emelnya akhirnya mati dan alamat ortunya entah ada dimana dalam tumpukan barang pindahan.

Google, friendster, facebook, semua saya gunakan untuk mencari Helen. Nihil. Sampai saya jalan2 di fb, nemu fotonya Peter di Lyddon Hall, yang kembali mengingatkan saya akan masa kuliah dulu. Surfing ke situs alumni, tak ada hasil. Saya jadi penasaran, masa sih saya tidak bisa menemukan satupun teman dari jaman kuliah??? Buka lagi fb, ketik lagi neng Helen dan… There is her lovely face staring back at me. Akhirnya, join juga dia sama fb!

Sudah 10 tahun, pasti kami juga sudah banyak berubah tapi saya senang, setidaknya tali silaturahim yang sempat terputus bisa terjalin lagi. Who knows, kali2 ada rejeki bisa jalan2 ke Dublin ketemu sobat lama lagi 😉

Ke JCC Book Fair

Gara-gara ngobrol soal buku hardcover ama Bhai jadi tau deh kalau minggu ini ada book fair di JCC. Bhai wanti-wanti kalau mau buku impor kudu datang di hari pertama kalo nggak yang bagus-bagus bakalan abis.

Berbekal wasiat Bhai maka pergilah daku kemarin siang. Sasaran pertama, Periplus! Eh tapi ada stand Aksara jadi mlenceng dulu kesana. Hmmm…. Bukunya kok masih mahal-mahal yaks? Eits ada juga yang mursindang, Anita Shreve 20rb. Wah menarik! Trus ada hardcover tapi berat euy. Kuputuskan ke Periplus dulu baru mikirin soal si hardcover. Ternyata itu keputusan yang benar!! Di Periplus paperbacknya dah harganya beneran turun jadi 30-50rb, masih dapet diskon lagi! Wah kalap deh,mana honor baru turun. Spbnya yang tadinya terkantuk-kantuk melihat tumpukan buku di tanganku langsung semangat lagi. Sejenak serasa di itc,”Ayo bu, dipilih dipilih semua diskon!!!”

Walhasil jadi dapat banyak buku bagus, beberapa malah dah aku incer dari lama kayak John Grisham, Charles Frazier (padahal Cold Mountainnya belon dibaca ampe skarang 😉 dapat Anita Shreve lagi, dan beberapa buku dari pengarang lainnya. Sayang gak dapat buku anak-anak. Masih diatas cepe semua.

Perburuan diteruskan ke dalam, ke buku-buku lokal. Target seperti biasa Mizan dan Gramedia group. Tapi bawaan mereka gak gitu banyak. Serial Wooly sama serial anak Clara Ng gak ada, adanya yg buat anak gedean. Di Mizan Girls of Riyadh juga gak ada padahal itu buku buat book club. Akhirnya dapat buku lain deh, buku sesame street sama Astrid Lindgren. Dapat buku resep veggie juga yang udah liat di c4 di stand Femina. Sebetulnya masih ada buku-buku lain yang kutaksir tapi belanjaan dah berat euy. Jadi didaftar aja dalam hati.

Sementara itu sebetulnya dah janjian buat ketemuan ama penulis top, Dita dan Patrick. Tapi kok ya hp mereka gak bisa dikontak. Ya sudah mungkin gak jodoh. Tapi ternyata begitu memutuskan mau pulang…
“Mbak Sita!!” Lhaaa itu dia Dita si jelita 😀 kemudian gak lama muncul juga Patrick si brownies. Bertiga kita ke pameran komputer di sebelah. Dasar jalan-jalan ama penulis, gak lama mereka langsung tenggelam dalam lautan laptop baru. Mau yang kecil, sedang, besar? Warna biru, pink, putih? 80gb, 120gb, 180gb? Ketika ditanya, kan kalian dah punya laptop? Dengan entengnya mereka menjawab, ya kan buat cadangan 😀
Hehehe… Bikin ngiri aja 😉 apalagi pas liat ada mininote yg warnanya merah.Kata neng Dita,”Wah, cocok tuh mba ama hpnya!” Hehehe… Tau aje.

Tak terasa waktu terus bergerak. Ah aku harus pulang. Dengan berat hati daku berpisah dengan Dita dan Patrick.

Di mobil kaki rasanya pegel banget, mana gak ada tukang bottle tea lagi, adanya di seberamg jalan. Tapi hati puas dan senang. Rasanya perburuan kali ini cukup sukses meski tidak dapat semua buku yang diincar. Sayang si babeh lagi sibuk kalo nggak kan bisa kesana lagi yah. Hehehe….

*pas bongkar belanjaan, wah, kayaknya perlu rak buku baru nih!

“But your English is so good!”

Gara-gara di beberapa milis lagi pada ngobrolin soal pandangan orang luar terhadap Indonesia jadi inget ntu kalimat yang menyebalkan. Dulu banget waktu masih jadi pelajar sih seneng ya kalau abis ngobrol ama orang asing dia trus bilang gitu. Maklum belajarnya aja jatuh bangun, setahun cuma bisa duduk diem di kelas berharap bisa mengerti gurunya ngomong apa. Paling sial kalo dapat guru yang aksennya tebel alias sulit dimengerti. Untung punya temen2 baek yang bisa dipinjam catatannya dan ditanya-tanya.

Tapi setelah menjadi mantan pelajar mulai deh kalimat itu berubah dari kalimat pujian menjadi kalimat menyebalkan. Masalahnya adalah…. yap, biasanya ketemu, ngobrol kiri-kanan, trus tanya asalnya darimana, kasih tau dari Indonesia, dan… biasanya matanya langsung jadi takjub gitu ngomongnya. Seolah-olah kita tu negeri apaan gitu. Apaan emangnya? Ya iya sih emang negeri amburadul tapi ya nggak terbelakang amat gituh. Belum lagi pemerintah kita masih suka dagang manusia kan – itu lho pengiriman prt ke LN – dan tau sendirilah kualitas prt kita seperti apa jadi makin2 lah mereka pikir kita kualitasnya cuma sekelas itu thok. Pernah nih waktu di Jeddah, bapakku ngobrol ama penjaga toko, trus biasa dia tanya kita asalnya darimana. Sama bapakku disuruh tebak. Duh…. dia nebak kali seluruh negara asia tenggara except Indonesia! Dia nggak percaya sama sekali bahwa orang Indonesia bisa menjadi pekerja profesional yang punya anak yang sekolah di Continental School. Ih, masa sih musti kasih liat paspor item kita biar percaya? Huhuhu… sedihnya….

Sialnya, cap itu nggak cuma di negara nun jauh saja, sama negara tetangga pun mereka suka kejang2 reseh gitu. Inget banget sekali-sekalinya jalan2 ke Singapur trus ketangkep sama marketer di Orchard Rd, setelah dia tanya kiri-kanan keluar deh kalimat sakti itu. Mana waktu itu lagi hamil, cape, laper, bt abis, Trus terakhir pas stopover di KL, lagi maenan kalkulator ama penjaganya, basa-basilah dia tanya darimana… eh, ngomong gitu lagi. Kalo nggak karena harganya beneran murah nggak jadi beli deh.

Duh Indonesiaku sayang… mbok ya pendidikan kita tu loooo….
Plis deh, segala pahlawan aja kudu milik golongan tertentu. Baru tau ada pahlawan nasional yang hanya memperjuangkan golongannya sendiri bukan bangsanya secara keseluruhan.

Sementara belum semua anak Indonesia mampu duduk manis untuk belajar sejarah, mempelajari pahlawan-pahlawan dan hal-hal lainnya di tempat yang baik dan layak.

From Emmet to Obama

Back in Boston, I once interned in Northern Light Production. At that time, they were discussing a project about Civil Rights Movement and as an intern I get to sit in at the meetings. Now, I do know who Rosa Parks and Martin Luther King Jr was and about segregation but I don’t know a lot about it, I have no idea who Selma was and what the Freedom Riders are all about, etc, so pretty soon I was lost in that meeting.

During lunch, I asked the consultant – bless her, I forgot her name – a black woman, about stuff they were talking about. She smiled and gave me some materials to read. It was heavy stuff. One story in particular, the Emmett Till incident, stuck with me. How could anyone be so cruel to a 14 year old child? Just for looking at a white woman! How could anyone commit such horrific crimes based on the colour of their skin? I had a lot of questions and the wise lady patiently answered my questions and gave me a crash course on the history of America’s Civil Rights Movement. Selma is not a person but the name of a place where they marched for their voting rights and Freedom Riders are volunteers, black and white, who tested the new anti-segregation law in public rides. On both occasion they got attacked, the former by the police and the later by angry mobs.

Those ‘lunch lectures’ stayed with me and so, as I watched Obama gave his speech at a Chicago Park, it reminds me of those lunch lectures. Yes, I know, he is voted in not solely based on his colour, it is more because of his vision, ideas and attitude. Just listen at his acceptance speech. Instead of being all out jubilant, he reminds his people that they are facing hard times ahead and that they will be met with hardship and difficulties but if they stick together they can change things – for the better, I hope – to which the crowd just burst into “Yes We Can!” chant.

Still, it is amazing how America can move in 40odd yearts from a nation whose people can beat a young boy senseless – and got away with it – into a nation who truly seeks a leader with qualities that would lead them out of their troubles and not merely looking at how they look. Of course racism don’t die away that easily, the Secret Service admits that they now work harder to ensure the safety of the president elect and his family so he doesn’t met with the same fate as JFK and 3 others.

I hope next year, when we elect our own president, we can take a leaf out of this book and choose a president truly based on his or her qualities. Cross fingers!