Makaroni ala Nini

Gara-gara adik yang tinggal di negeri bawah sana minta resep makaroni, jadilah ditulis. Pikir-pikir sekalian aja sharing disini. Siapa tau bisa jadi alternatif kalau dah bosen ama ketupat

Bahan:

  • daging ayam, potong kecil2/bite size
  • keju kesukaan, parut
  • cream of chicken soup
  • susu putih
  • lada
  • bawang putih
  • garam
  • makaroni
  • telor secukupnya
  • minyak untuk menggoreng

Cara Membuat:

  • panaskan oven skitar 180-200c
  • tumis bawang putih, goreng ayam dengan sedikit garam. awas gosong 😉
  • rebus makaroni
  • di panci lain, buat sup, ganti air dengan susu. masukan sedikit/separuh keju kalau mau rasa keju lebih tajam
  • oleskan loyang dengan mentega/margarin biar tdk lengket.
  • susun makaroni, ayam, keju, tuang sup sampai menutupi, lalu ulang sampai bahan habis.
  • sebelum menabur keju terakhir, kocok lepas telor dan tuangkan ke loyang untuk mengikat makaroni. Penggunan telur bisa sampai 6 butir tergantung besar loyang
  • tabur keju terakhir.
  • panggang sampai keju meleleh/matang kecoklatan.

untuk variasi separo ayam bisa diganti jamur.
makaroni daging pada prinsipnya sama hanya ganti sup dengan campuran susu dan telor. daging boleh cincang atau kornet.

Kapan2 kalau bikin ntar tak pasang fotonya.

Teman Kerja

Bekerja tanpa musik, rasanya kurang asyik. Apalagi kalau pekerjaannya
hanya duduk di depan komputer. Rasanya hambar. Biasanya saya ditemani
musik pop dan rock biar semangat, tapi kali ini saya mencoba untuk
ditemani oleh musik yang bernuansa religi, tepatnya liriknya karena
kalau aransemen musiknya masih yang agak genjreng-genjreng 😀

Saya termasuk baru mengoleksi musik-musik religi. Dimulai dari Gigi
dan Opick, ternyata benar juga apa yang sudah diketahui teman kita
yang beragama lain; bahwa kalau dikemasnya dengan apik dan menarik
pasti orang akan tertarik. Gigi misalnya, tanpa meninggalkan akar pop
rock mereka, telah mampu mengemas ulang lagu-lagu klasik di album
Pintu Sorga seperti Kota Santri atau Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya –
yang membuat salah satu teman saya kesal bukan main karena usahanya
meledek saya gagal, ternyata saya bisa menjawab pertanyaannya tentang
lagu nasyid – dan mempopulerkannya ke penggemar musik pop. Opick
liriknya sederhana dengan aransemen yang juga sederhana tapi kena.
Tombo Ati layak disebut album yang wajib punya.

Hanya mendengarkan mereka berdua lama-lama penasaran juga ingin tau
kalau dari musisi lain seperti apa jadinya. Tahun lalu saya hanya
menambah satu, album kompilasi berjudul Pop Religius – Damai
Bersamamu. Saya memilih album ini karena salah satu penyanyinya
Chrisye. Dan memang, lagu-lagunya Chrisye adalah yang terbaik di album
ini; Thala’al Badru Alaina, Shalawat Badar, dan Ketika Tangan dan Kaki
Berkata. Ketika perpaduan antara musik, lirik dan vokal Chrisye
diresapi, tak terasa pipi menjadi hangat. Konon untuk lagu Ketika
Tangan dan Kaki Berkata direkam hanya dengan 2 take karena beliau
larut dalam liriknya sehingga tidak mampu untuk menyanyikannya lebih
sering. Rasanya tak sabar menanti Chrisye mengeluarkan albumnya
sendiri yang bertema religi. Namun apa daya, tak lama kemudian Chrisye
berpulang. Ketika Tangan dan Kaki Berkata, syiar Chrisye, menjadi
warisannya yang terakhir untuk kita semua.

Tahun ini saya ingin menambah koleksi album religi yang bisa dihitung
dengan tangan sebelah. Dibantu pegawai Disc Tarra yang aktif
menyodorkan album demi album religi dalam koleksi mereka akhirnya saya
memilih album-album berikut: Semoga Jalan Dilapangkan Tuhan oleh
Bimbo, aku dan Tuhanku oleh Ungu, Kembali Pada-Nya Gito Rollies, dan
Takbir & Shalawat Sambasunda.

Bimbo, ah, siapa yang belum pernah mendengar Bimbo? Suara mereka masih
semerdu ketika hanya ada TVRI di layar kaca. Musiknya, seperti kata
pengantarnya, “Semoga… dapat berperan sebagai penyejuk dan peneguh
hati.” Bagi saya mendengar Bimbo seperti kembali ke masa kecil yang
aman dan damai, tepat dengan harapan mereka. Ungu saya ambil lebih
karena pesan sponsor, tapi ternyata bagus juga. Seperti Gigi, musiknya
tetap pop sepintas lalu seperti lagu-lagu top 40. Meski buat saya
kualitas liriknya seperti copas dari buku pelajaran agama, didukung
dengan gaya musik popnya jadi lumayan deh, pesannya masuk.

Gito Rollies. Ah, mendengarkan albumnya sama seperti mendengarkan
lagunya Chrisye. Salah satu lagunya, Thank You Allah, termasuk yang
diajarkan ke Laras di kelas Iqra. Kalau Laras dan teman-temannya yang
nyanyi membuat saya tersenyum namun penghayatannya yang dalam atas apa
yang Bang Gito lantunkan membuat saya merinding mendengarnya.
Alhamdulillah beliau masih sempat merekam album ini. Thank you abang,
semoga warisan ini menjadi ibadah yang tidak terputus.

Takbir & Shalawat oleh Sambasunda saya pilih karena yang membuat urang
Sunda. Dukung barayanya si Mamah! Sepertinya album ini album lama
karena keterangannya direkam tahun 2000, hanya saya saja yang baru
lihatnya sekarang. Jadi lantunan indah takbir dan shalawat ditemani
perkusi Sunda antara lain kendang, suling, kohkol dan toleat. Dipadu
dengan beberapa instrumen ‘biasa’ seperti bedug dan biola, hasilnya
seperti world music bumbu lokal. Tidak seperti gambus, kecapi suling,
ataupun house. Pokoknya tidak seperti sedang di lesehan makan ikan
bakar dan leunca, juga tidak nyasar dunia gemerlap. Jadinya seperti
apa? Ya seperti urang Sunda bershalawat lah. Kalau urang Sundanya
bergabung di grup Sambasunda tentunya. Rasanya perlu dimiliki buat
yang tertarik dengan budaya Sunda. Pastinya akan saya belikan buat
Mamah.

Keempat album tersebut telah diimport ke iTunes dan bersama
teman-temannya yang lalu masuk dalam playlist baru berjudul Nasyid.
Total ada 48 lagu dalam daftar tersebut yang dimainkan secara acak.
Yang kurang tinggal album Gigi yang baru dan rasanya lengkap sudah
soundtrack Ramadhan tahun ini. Semoga pekerjaan saya jadi lebih cepat
selesai karenanya.