Jodoh ke 2

Mencari jodoh untuk menikah kadangkala susahnya minta ampun. Sudah dicari kesana kemari kadang tak kunjung muncul juga itu jodoh.Untuk yang pertama kali aja susah, apalagi kalau untuk kedua kalinya. Tidak, bukan untuk beristri dua, tapi karena pernikahan pertama sudah bubar dan yang bersangkutan merasa perlu untuk menikah lagi. Tak bisa dibayangkan betapa repotnya mencari jodoh yang kedua.

Pertama, si dia harus mengobati lukanya setelah ternyata seseorang yang diharapkan bisa bersama sampai maut memisahkan ternyata menunjukkan kenyataan lain. Meski sudah dengan segala daya dan upaya, ketidak cocokan itu bukannya makin mengecil malah makin mendalam. Sehingga akhirnya dengan berat hati, terpaksalah dia menerima kenyataan bahwa tali pernikahannya sudah terurai. Talak pun dijatuhkan.

Luka hatinya harus dikesampingkan dulu karena sekarang tanggung jawabnya menjadi berlipat. Ada tiga mahluk mungil tak bersalah yang harus dia jaga hatinya. Menjadi orang tua tunggal sungguh tidak ringan. Apalagi ketika sang mantan, mungkin karena masih sakit hati, tidak mau bekerja sama dan malah mengacaukan jadwal yang sudah disusun. Terpaksalah bisnisnya dikesampingkan. Usaha yang seharusnya bisa maju menjadi mandek karena perhatiannya terfokus untuk mengurus ketiga anak-anaknya. Untung masih ada Bunda tercinta yang terkadang membantu mengurus cucu-cucunya. Namun tetap saja, waktunya dan tenaganya seringkali habis terpakai, hanya menyisakan waktu untuk terkapar sendirian tanpa ada teman untuk berbagi.

Ketika trauma mulai mereda, dia mulai mencoba taaruf lagi. Ah, ternyata sulit ya. Jauh lebih sukar. Lebih banyak yang harus dipertimbangkan. Ada anaknya, ada pula anak dari sebelah, belum lagi bila nanti punya anak lagi. Wah, jadi banyak sekali anak-anak! Yang ini gagal. Tidak putus asa, coba lagi. Namun kali ini ternyata sang calon masih sangat bersemangat untuk mengejar karir. Rasanya tidak akan jalan juga. Kecewa dua kali gagal, dia memutuskan untuk tenang-tenang saja dulu dan menikmati hari-harinya bersama anak-anaknya . Toh rumahnya tidak pernah sepi dengan kegaduhan tiga anak berebutan kamar mandi, acara tivi, main PS dan perang-perang lainnya layaknya kakak beradik.

Perlahan tapi pasti anak-anaknya membesar. Satu-persatu mereka lulus SD, menjadi anak SMP kemudian mengenakan seragam putih-abu dan kini yang terbesar sudah tinggal menunggu bulan untuk menjadi mahasiswa. Hmm… mungkin saatnya untuk mencoba ‘peruntungan jodoh’ lagi. Belum lagi desakan Bunda yang tidak pernah putus mengkhawatirkan dirinya.

Cari punya cari, bertemulah. Namun, keragu-raguan itu tetap ada. Bagaimanapun pasti tidak akan mudah untuk yang satunya lagi untuk menyesuaikan diri dengan dia dan anak-anaknya setelah mereka terbiasa hidup hanya berempat sekian lama. Belum lagi memikirkan kemungkinan mengurus bayi kecil lagi. Lagi? Setelah si sulung bercelana panjang berwarna abu-abu? Oh!

Bunda sudah gemas saja, berulang kali menanyakan kapan, kapan, dan kapan. Dia tersenyum. Terbersit kekhawatiran di matanya. Tapi dia tentu tak bisa hanya diam ditempat. Dia harus berusaha dulu kecuali dia ingin sendiri terus dan nampaknya opsi itu tidak terlalu menyenangkan ketika anak-anak sudah lepas dari rumah nanti. Namun, ah, nampaknya jodoh masih belum mau berlabuh. Setelah sekian lama berdoa dan menanti lampu masih belum hijau. Mungkin belum mencari yang cocok, mungkin hati masih belum teguh, mungkin mungkin mungkin… Seribu mungkin tentang taarufnya yang gagal maning gagal maning. Masihkah ada jodoh untuknya? Jodoh memang tak kan lari bila dikejar, tapi dimanakah kau agar bisa dikejar?

Mantapkan hati, ubah cara pandang. Ikhtiar, istikarah. Ikhitar, istikarah. Ikhtiar, istikaran. Mudah-mudahan ya Allah, mudahkanlah jalannya.

Cilandak, 8 Mei 2008

Advertisements

3 thoughts on “Jodoh ke 2

  1. aku tahu nih yang dimaksud…. hehehehe…. jadi udah bertemu toch? alhamdulillaah dunks…. tapi kok masih belum tahu? karena ga mau punya anak ke-empat? konon, katanya, kalo emang mo nikah, jangan mikir yang rumit-rumit… mikir yang prinsip2nya aja… hehehehe….. eh, tadi aku ketemu dewi adeknya ichwan di pasfes :p

  2. ijulsz said: jadi udah bertemu toch? alhamdulillaah dunks…. tapi kok masih belum tahu?

    Sekarang sudah tau jeng, justru yang sononya yang berubah pikiran. Tapi menurut gw cara menolaknya nggak elegan banget. Bikin nyokap gw bete abis. So, doain yah biar cepet dapet 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s