dari novel ke film

Ini topik basi kali ya. Cuma gemes aja yang belum keluar. Kenapa ya disini kita tu suka sibuk banget mikirin hal-hal yang sebetulnya, diskala yang luas tidak terlalu penting. Memfilmkan novel Islami misalnya. Di satu sisi orang ribut soal pemain, harus yang beginilah harus yang begitulah sementara stok pemain yang begini dan begitu praktis nggak ada. Lha piye tha?

Dalam film, yang penting pemain yang dipilih mampu mendalami karakternya serta berperan meyakinkan sebagai karakter itu. Kalau tidak, pasti filmnya bakalan basi banget. Sebagai medium visual, film tidak memberikan ruang imaginasi seluas novel. Kita hanya mendapatkan apa yang kita lihat saja. Karena itu kemampuan beraktinglah yang seharusnya menjadi pilihan utama dalam menentukan pemeran. Ketika ada beberapa calon kuat untuk satu peran, barulah hal-hal yang lain menentukan.

Kemudian, kalau cerita asalnya itu memang melodrama, mau dibalut bagaimanapun, kemungkinan besar tetap akan menjadi melodrama. Nggak mungkin tiba2 berubah jadi film thriller misalnya. Jadi ya kalem ajalah. Begitu nonton dan ternyata pelemnya nyinetron, ya mau bagaimana lagi wong dari awal emang dasar ceritanya nyinetron gitu kok.

Trus yang juga bikin gemes adalah soal detail film. Betul sih memang detail itu penting dan bisa merubah sesuatu dari sangat meyakinkan menjadi sangat tidak masuk akal, misalnya karakternya baru bangun tidur tapi rambutnya sudah rapi bersasak dan full makeup seperti pengantin jelas sangat tidak masuk akal. Namun tatacara kecil, misalnya makan pakai tangan kiri, memang mengganggu dan untuk sebagian orang mungkin sangat penting, tapi apabila yang penting di adegan itu adalah dialognya dan bukan cara makannya, janganlah detail kecil itu dipermasalahkan sedemikian rupa sehingga menganggap film itu film jelek.

Padahal buat orang lain itu film bisa jadi sangat mencerahkan, ada hal2 yang tadinya dia tidak tau sekarang jadi tahu. Bagus kan? Jadi daripada sibuk meributi hal2 kecil, mengapa tidak fokus ke hal yang lebih positif saja, bukankah yang demikian itu lebih baik?

Advertisements

7 thoughts on “dari novel ke film

  1. Lebih mudah ngritik, apalagi kalau ngga tau gimana ribetnya bikin film (blm termasuk ngitung ribetnya adaptasi dari naskah novel ke naskah film). Kecenderungan orang juga kalau dapet barang pinginnya yang sempurna, ada kurangnya dikiiit aja dikomplain. Padahal dapetnya jg blm tentu legal ya Mba… (Lho, kok jadi ngelantur ^_^ ) Aku salut deh, Mba Sita berani menyuarakan pendapat yg kontroversif begini, mesti byk belajar deh dr Mba. Belajar jujur pada pemikiran sendiri.

  2. Cuma takutnya hal-hal kecil itu dijadikan pedoman juga, Mbak… Misalnya “Oh, ternyata boleh ya begitu”. Tapi memang sih, sebagai pemicu keingintahuan menuju sikap hidup yang lebih baik memang patut diacungi jempol. Mengenai pemeran, kalau mau nyari yang sempurna persis plek susah juga ya…

  3. invisiblescenery said: Spakat sama Mba Sita, Niwanda, dan Intan..tapi…Kow ga da yang nawarin aku maen pelem yah mba…???!ckckckckckck!

    sama, kok nggak ada yang nyari pemain ibu2 endud ya.. hihihi….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s