Sufi vs Tifi

Bukan, ini bukan tentang aliran kepercayaan, meski mungkin ada yang mengganggap demikian. Ini adalah singkatan yang baru saya temui: SUka FIlm vs anTI FIlm (kenapa gak anfi ya? kurang yahud kali). Gara-garanya? Yah film Ayat-Ayat Cinta yang heboh itulah. Konon seorang tifi sampai2 menyatakan bahwa menonton film AAC lebih berbahaya dari menonton film maksiat. Weleh2… sampai segitunya. Pengetahuan agama saya emang belum begitu banyak tapi masa iya sih nonton AAC lebih parah dari nonton film porno? Dimana logikanya? Pasti gak nonton deh, main cablak aja mencela-cela karya orang lain… uups konon kita juga nggak boleh bilang kita berkarya/mencipta ya karena kan itu hanya hak… ah sudahlah. Yang pasti tanggapan ustad di eramuslim.com cukup bagus. Ini kalau mau baca :

http://www.eramuslim.com/ustadz/fqk/8301223809-film-ayat-ayat-cinta-lebih-berbahaya-film-maksiat.htm

Duh… kadang saya mikir para tifi/anfi ini apa pada kurang kerjaan? Film AAC diprotes. Aneka film yang gak jelas, kalau judulnya biasa2 aja didiemin. Hmm.. jadi kalau mau bikin film ‘maksiat’ asal judulnya biasa-biasa aja, “Tasnya Anya Hindmarch” misalnya, atau “Sekaleng Cat Dinding” pasti nggak diprotes deh, mo isinya menghujat-hujat agama sambil beradegan mesra sekalipun. Sedangkan kalau judul vulgar, hmm… apa ya contoh judul vulgar boongan? meski ternyata isinya gak ada ciuman atau bugil2an sedikitpun pasti diprotes, ribut, demo etc. Tapi ya nggak logis juga sih, masa iya ada film judulnya “Gejolak Hasrat Tak Terkendali” isinya tentang makan Gudheg sambil pakai abaya bercadar? Ya bisa aja sih, kalo yang bikinnya orang yang lagi diet mati2an pasti film yang gambarnya makanan -apalagi yang enak2 menurut dia- thok bisa jadi ‘porno’ buat dia.

Dengan sejuta problem di negeri ini rasanya masih banyaaaak hal-hal yang lebih patut diributi dari sekedar memutuskan film itu halal atau haram. Kenapa nggak jadi anti child trafficking, misalnya. Jelas-jelas ini amat sangat berbahaya. Anak-anak kecil yang seharusnya menikmati masa kecil dengan belajar dan bermain malah dijual dan disuruh kerja. Dan pasti mereka kerjanya bakalan kerjaan sadis, jadi pelacur misalnya.

Ada perantau yang ingin menjual ginjalnya karena istrinya koma setelah melahirkan anaknya secara caesar. Bayinya meninggal pula. Hutangnya sudah menumpuk menjadi Rp 34 jt. Suatu angka yang sangat fantastis untuk seorang pekerja serabutan (baca Koran Tempo hari kamis, 6 Maret 2008) Dan kita meributkan soal film atau menonton film itu halal atau haram?

Advertisements

2 thoughts on “Sufi vs Tifi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s