Dakwah vs bisnis?

Lagi-lagi di salah satu milis yang saya ikuti ada ‘perdebatan abadi’ soal dakwah vs bisnis. Awalnya dari masalah hak cipta vs pembajakan trus lama-lama larinya ya ke situ-situ lagilah, mo dakwah ato mo bisnis?

Saya memang tidak ikutan di arena perdebatan itu karena saya sendiri masih berstandar ganda soal menggunakan barang bajakan jadi rasanya kok seperti memercik air ke muka sendiri. Tapi yang soal dakwah vs bisnis duuh… mo menanggapi ilmunya masih belum seberapa. Mungkin saya memang harus sekolah lagi ya, biar pinteran dikit gitu.

But anyway, kenapa sih harus ada pemisahan absolut antara berdakwah dan berbisnis? Mengapa begitu dibilang ini kan untuk dakwah maka nggak boleh berpamrih dong, hanya bisa mengharapkan ridha Allah? Lho? Padahal untuk bisa berdakwah, orang kan harus belajar dulu, berusaha dulu, jatuh bangun dulu, dan segala macam. Masa nggak dihargai usahanya barang secuil pun? Lha kalau begitu ngapain amat jadi pendakwah? Saya terpikir guru mengaji saya. Dari saya sd sampai sekarang masih saja mengajari saya mengaji. Masa saya bilang, pak, ini kan dakwah, jadi bapak mengajarnya gratis aja ya? Aduh mikirnya aja saya nggak tega salah satu anaknya sampai menolak untuk dikirim ke pesantren karena dia merasa masa depan kurang terjamin. Nah, kalau begini bagaimana?

Bagaimanapun kita toh tidak bisa menafikkan bahwa hidup di dunia ini butuh uang dan bahwa kalau hidup kita lebih mudah kalau kita punya uang. Guru saya yang lain menolak anggapan bahwa yang penting itu mendapatkan ridha Allah, bukan materi. Beliau mengingatkan, “Bagaimana kamu bisa mengharapkan mereka shalat 5 waktu kalau untuk makan sehari sekali saja belum tentu? Lagipula kalau kamu tidak punya uang, bagaimana kamu bisa bayar zakat dan naik haji? Itu adalah tugas kamu yang lebih utama!” Justru bagus dong kalau dengan berdakwah bisa mendatangkan keuntungan, tentu saja selama dakwahnya juga masih dikoridor yang benar dan tidak jadi melenceng sehingga nama dakwah segala dihalalkan.

Ada yang dengan tegas menyatakan bahwa dia tidak kasihan kalau karya seseorang yang menurutnya dakwah dibajak dengan bebas. Alasannya, lho katanya niatnya untuk dakwah, (lagi-lagi) mau cari keuntungan materi apa ridho Allah? Hah basi amat sih. Emang nggak mikir apa ya kalau keuntungan dari menjual karya tersebut tidak murni masuk ke kantung pengarangnya? Lagipula, pengarang yang satu ini, berkat royaltinya bisa mendirikan sebuah pesantren. Coba, gimana gak berkah banget tuh? Saya saja belum bisa, paling baru mampunya menjadi orang tua asuh, itupun belum sebanyak yang saya inginkan. Coba kalau karya pengarang tersebut dibajak habis sehingga beliau tidak mendapat royalti sepeserpun, mau dikemanakan pesantrennya? Mau belajar dimana santri2nya? Atau penerbit buku-buku dakwah, kalau mereka tidak boleh mengambil keuntungan dari produk-produknya, mau dibayar dengan apa karyawannya? Alih-alih berdakwah yang ada malah gulung tikar! Dalam skala personal, saya senantiasa bersyukur guru saya masih mau dan bersedia mengajar saya sehingga saya selalu berusaha membantu guru saya semampunya. Kalau guru saya berpaling mengerjakan hal lain yang membayar jauh lebih bagus daripada yang bisa saya berikan, bagaimana saya bisa membaca Al-Quran? (mencari guru tu nggak gampang lho)

Kalau kita harus jadi kaya dulu, kapan mau dakwahnya? Kenapa kita tidak berpikir bahwa semakin besar pendapatan kita berarti semakin besar zakat yang kita keluarkan dan karenanya semakin banyak orang yang bisa kita tolong? Coba buka mata, minggu ini sudah ada 2 berita yang membuat saya amat sangat miris, seorang ibu hamil dan balitanya meninggal karena kemiskinan membuat mereka tidak punya makanan. Kemana suaminya? Well, ini yang bikin saya pengen bawa golok, sudah penghasilan tak seberapa, dihabiskannya pula untuk miras! Gemez banget nggak sih? Trus satu lagi yang istrinya koma itu sehingga mau menjual ginjalnya. Itupun, untuk mengiklankan ginjalnya dia harus pinjam uang untuk memasang iklan tersebut. Dan, jangan lupa ‘dagelan’ teranyar, Lumpur Lapindo adalah bencana alam! (mother, may I swear using ridiculously rude words?)

Kalau saja saya punya uang sebanyak royalti pengarang tersebut, mungkin saya bisa menolong bapak itu sehingga dia tidak perlu menjual ginjalnya. Heck, kalau tau lebih awal, mungkin istrinya bisa dibantu ke dokter secara rutin, sehingga kehamilannya sehat dan anaknya selamat. Meski, Gus saya juga bilang sih bahwa kita tidak akan bisa menolong semua orang yang kesusahan sehingga konsentrasi saja dengan apa yang bisa kita lakukan dan kerjakanlah hal itu dengan baik.

Jadi, masih ngotot bahwa dakwah dan bisnis tidak bisa sejalan?

Advertisements

Sufi vs Tifi

Bukan, ini bukan tentang aliran kepercayaan, meski mungkin ada yang mengganggap demikian. Ini adalah singkatan yang baru saya temui: SUka FIlm vs anTI FIlm (kenapa gak anfi ya? kurang yahud kali). Gara-garanya? Yah film Ayat-Ayat Cinta yang heboh itulah. Konon seorang tifi sampai2 menyatakan bahwa menonton film AAC lebih berbahaya dari menonton film maksiat. Weleh2… sampai segitunya. Pengetahuan agama saya emang belum begitu banyak tapi masa iya sih nonton AAC lebih parah dari nonton film porno? Dimana logikanya? Pasti gak nonton deh, main cablak aja mencela-cela karya orang lain… uups konon kita juga nggak boleh bilang kita berkarya/mencipta ya karena kan itu hanya hak… ah sudahlah. Yang pasti tanggapan ustad di eramuslim.com cukup bagus. Ini kalau mau baca :

http://www.eramuslim.com/ustadz/fqk/8301223809-film-ayat-ayat-cinta-lebih-berbahaya-film-maksiat.htm

Duh… kadang saya mikir para tifi/anfi ini apa pada kurang kerjaan? Film AAC diprotes. Aneka film yang gak jelas, kalau judulnya biasa2 aja didiemin. Hmm.. jadi kalau mau bikin film ‘maksiat’ asal judulnya biasa-biasa aja, “Tasnya Anya Hindmarch” misalnya, atau “Sekaleng Cat Dinding” pasti nggak diprotes deh, mo isinya menghujat-hujat agama sambil beradegan mesra sekalipun. Sedangkan kalau judul vulgar, hmm… apa ya contoh judul vulgar boongan? meski ternyata isinya gak ada ciuman atau bugil2an sedikitpun pasti diprotes, ribut, demo etc. Tapi ya nggak logis juga sih, masa iya ada film judulnya “Gejolak Hasrat Tak Terkendali” isinya tentang makan Gudheg sambil pakai abaya bercadar? Ya bisa aja sih, kalo yang bikinnya orang yang lagi diet mati2an pasti film yang gambarnya makanan -apalagi yang enak2 menurut dia- thok bisa jadi ‘porno’ buat dia.

Dengan sejuta problem di negeri ini rasanya masih banyaaaak hal-hal yang lebih patut diributi dari sekedar memutuskan film itu halal atau haram. Kenapa nggak jadi anti child trafficking, misalnya. Jelas-jelas ini amat sangat berbahaya. Anak-anak kecil yang seharusnya menikmati masa kecil dengan belajar dan bermain malah dijual dan disuruh kerja. Dan pasti mereka kerjanya bakalan kerjaan sadis, jadi pelacur misalnya.

Ada perantau yang ingin menjual ginjalnya karena istrinya koma setelah melahirkan anaknya secara caesar. Bayinya meninggal pula. Hutangnya sudah menumpuk menjadi Rp 34 jt. Suatu angka yang sangat fantastis untuk seorang pekerja serabutan (baca Koran Tempo hari kamis, 6 Maret 2008) Dan kita meributkan soal film atau menonton film itu halal atau haram?