Tetra Burd

Barusan dapat berita sedih. Kucingnya Jen, Tetra, meninggal minggu lalu. Ah jadi sedih juga. Bukan hanya karena saya pencinta kucing, tapi karena saya pernah tinggal bareng sama si Tetra, jadi kenal betul sama kucing satu ini.

Jadi ceritanya waktu di LA saya tinggal serumah sama Jen. Jen punya dua kucing, Tetra sama Bella. Mereka jenis kucing yang berbulu panjang. Waktu pertama kali melihat mereka saya takjub, wow, bulunya banyak betul! Tadinya saya pikir kelihatannya kok aneh ya bulunya kemana-mana gitu. Tapi setelah terbiasa malah pas liat kucing yang bulunya pendek saya jadi bingung, lho…. bulu-bulunya pada kemana? hehe..

Tetra warnanya coklat tua hampir hitam. Pada waktu itu umurnya sudah sekitar 12 tahun. Jadi gerakannya sudah tidak segesit Bella yang masih bocah. Kalau Bella badannya berwarna coklat muda dengan kaki coklat tua. Lucu dan sangat menggemaskan. Tetra sukanya bobo. Bella sukanya lulumpatan kemana-mana. Sering Tetra diganggu dan digoda sama Bella. Nanti kalau Tetra sudah kesal, Bella dikejar-kejar keliling rumah. Heboh deh pokonya mereka berdua itu.

Kalau Jen pulkam, saya yang mengurus kucing-kucingnya. Diberi makan, minum, bak pupnya diganti pasirnya, main-main dan nonton tipi bareng sama Bella dan Tetra. Mereka bobonya sama ibunya, tapi kadang-kadang Tetra bobo juga di kamar saya. Biasanya dia suka mendekam di bawah tempat tidur yang adem dan dingin. Suprise aja pagi-pagi bangun, buka pintu eh ada yang ikutan keluar kamar juga Meskipun biasanya bobonya di kolong, kadang-kadang Tetra suka naik dan bobo di atas. Jarang sih, tapi pernah. Rasanya nyaman aja ada bundelan hangat di kaki, cuma ya bulu-bulunya yang nempel itu… weh… bikin bersin-bersin.

Saya ingat suatu waktu saya sakit. Ih rasanya menderita banget deh. Panas, sendirian, wah.. sangat-sangat nggak nyaman. Eh sama Tetra saya ditemani! Malam itu Tetra bobonya di kamar saya. Nggak di kolong, nggak di atas tapi tepat disamping tempat tidur seolah-olah menjaga saya. Dan begitu saya sembuh, Tetra balik lagi bobo di kamarnya. Menurut Jen, Tetra memang punya insting begitu, dulu dirumahnya kalau kakaknya atau ibunya sakit Tetra juga suka menemani mereka sampai sembuh. Ah Tetra, kamu sungguh kucing yang penyayang.

Sepeninggal Tetra, Bella jadi bingung. Meski sepertinya Bella mengerti bahwa ada masalah dengan Tetra, toh dia kaget juga waktu Tetra meninggal. Saat ini, kalau Jen pulang kantor, Bella mengikutinya kemana-mana bahkan sampai ke kamar mandi. Kasihan Bella.

Kata Jen, Tetra menderita gagal ginjal dan kemungkinan terkena kanker tulang juga. Diakhir hayatnya Tetra jadi semakin pendiam, susah ke belakang, serta malas makan dan minum. Tetra akhirnya berpulang minggu lalu diumur 18.5 tahun. Cukup tua untuk seekor kucing. Ah Tetra, begitu banyak kenangan manis bersamamu. Kami semua merindukanmu. Semoga kamu mendapat tempat nyaman di surga kucing.

PS: Tetra, maaf ya, saya nggak punya foto kamu yang versi digital. Ini fotonya sodara kamu yang saya comot dari web. Iya nggak secantik kamu memang tapi lumayan mirip kan untuk menghias halaman ini. Baik-baik disana ya sayang

Advertisements

4 thoughts on “Tetra Burd

  1. Huaaaa Mbak… jadi inget Jabrig (kucingku tercinta!!! kucing kampung berbulu lebat hehe) Ikut sedih bacanya. Kadang mereka (binatang peliharaan) lebi mengerti, menurutku, dan memahami kita dibanding manusia heheh walau ga ngomong dr tatapan dan tingkah laku mrk saya malah tenang, spt Mbak ditemenin pas lg sakit tu? hehehe Smoga ya Mbak Tetra dan Jabrig istirahat dgn tenang Di Sana….Amiinn :((

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s