Tentang Memasak

Memasak, menurut saya bukanlah hal yang sulit. Tidak perlu suatu bakat khusus untuk bisa memasak. Tentunya kalau kita ingin menjadi tukang masak di hotel internasional atau sejenisnya kita perlu sekolah tata boga terlebih dahulu. Kalau kita ingin menjadi ahli kuliner seperti Wiliam Wongso atau Suryatini Ganie maka diperlukan juga kesukaan atau passion untuk makanan. Tapi kalau hanya sekedar masak untuk menyambung hidup maka yang diperlukan hanyalah kemauan. Itu saja. Kalau kita nggak kepingin masak, mau yang ngajarnya Jamie Oliver langsung ya tetep aja apalagi disini harga makanan jadi relatif masih murah – meski pelan-pelan mulai mahal – jadi nggak masak pun masih bisa makan.

Tapi kalau kita sudah punya kemauan, maka kita sudah punya modal awal yang besar.

Hal lain yang kita perlukan adalah ketelitian dan kesabaran. Ketelitian diperlukan dalam membaca resep agar ketika kita mulai memasak kita pas mengukur semua bahan baku yang diperlukan, dan tahapan-tahapannya tidak terlewati karena tidak dibaca.

‘Bahan baku’ terakhir adalah kesabaran. Ya, perlu kesabaran dalam memasak karena mengolah bahan mentah menjadi matang perlu waktu. Hanya merebus air saja perlu waktu. Kalau kita nggak sabar bisa-bisa airnya belum matang sudah kita pakai atau kita tinggal dan akhirnya hilang menguap semua di panci.

Kalau kita sudah punya ketiga hal tersebut baru deh kita main-main dengan mencari resep yang mudah, yang kelihatannya menarik, atau yang gambar pengarangnya keren. Trus belajar deh mengenali aneka bumbu dapur, sayuran, potongan-potongan daging, ayam, ikan, belajar mana yang enak untuk sop, tumis, atau panggang. Merasa-rasa kombinasi apa yang asik antara sayur dan daging. Dan dimana tempat terbaik untuk membeli semuanya.

Kalau sudah adem dengan bahan mentah, lirik deh temannya alias peralatan masak. Apa saja yang masih kuramg dari dapurku? Penggorengan dari Teflon, dari baja, panci presto, panggangan roti? Dan kalau sudah serius soal mengisi dapur, merek! Apakah Maxim, Pyrex, Vision, Corelle, Le Creuset?

Tapi yah, kembali lagi ke soal memasak, bukan merek pancinya yang membuat sop buntut ibu saya aduhai enaknya, tetapi kemauan, ketelitian dan kesabaran. Khusus untuk sop buntut ibu saya ditambah juga dengan bumbu cinta yang membuatnya sop buntut paling enak sedunia. Oh, dan pisau yang tajam juga akan sangat menolong dalam mempersiapkan apa saja.

Jadi, mari memasak. Kalau mau. 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s