Tribute to Mom

Acaranya sendiri sih sudah agak lama lewat, tapi foto dan covernya baru didownload sekarang Jadi ceritanya essay saya terpilih untuk masuk buku Tribute To Mom dari lini Femmeline, Syaamil. Girang? Jelas dong. Apalagi ternyata teman-teman satu bukunya antara lain adalah Zaenal Radar T, Gola Gong, Leyla Imtichanah, pengarang-pengarang yang jam terbangnya sudah jauh lebih tinggi dan karyanya jauh lebih banyak (dan terkenal) dibanding saya. Sehingga ketika diundang ke launching bukunya tentu dengan senang hati saya datang. Apalagi kata Nanik pembicaranya Zae dan Shahnaz Haque, sip dong acaranya.

Jadilah di suatu Minggu sore saya pergi ke Depok, kota yang sangat akrab untuk suami dan beberapa kawan-kawan saya mengingat mereka dulu bagian dari penguasa Depok alias mahasiswa UI. (Kalau saya mah taunya cuma Margonda Raya ama Rumah Tua gara2 pernah shooting disana tapi kok kemaren nggak keliatan ya ntu Rumah Tua?)

Senang deh ketemu lagi ama Nanik setelah sekian lama ‘diteror’ lewat sms dan telepon, mana nelponnya pasti ke hp nggak pernah ke rumah. Mungkin bagian dari taktik terrornya yak arena kalau ke hp kan ketauan ada telp dari Bandung J Trus ada Zae yang masih lucu seperti biasa. Sementara mba Shahnaz ternyata ramah, energetic dan murah senyum, mirip seperti kakaknya, Marissa. Mungkin karena gennya sama?

Sayang akustik lobby Margo City sangat buruk sehingga saya tidak terlalu menangkap apa yang dibicarakan di panggung padahal sepintas lalu pembicaraannya menarik. Lagi asyik-asyik makan snack tiba-tiba dipanggil Nanik ke panggung! Weleh, sebagai penonton mah enak bisa sambil ngelamun lah pas diatas pan kudu konsentrasi dong apa yang ditanyakan dan respons dari jawaban yang diberikan. Demam dan budek panggung jadi satu. Mudah-mudahan jawaban saya nyambung dan berarti

Akhirnya trus saling minta tanda-tangan dan foto bareng deh. Jadi seperti ini nih rasanya kalau jadi penulis. Asyik juga ya ternyata…

Oh ya, beli bukunya ya, kado yang tepat untuk ibu tercinta atau para ibunda lainnya

Tentang Cadar dan Keamanan

Beberapa waktu lalu tersiar kabar bahwa di Belanda, mereka akan melarang pemakaian jilbab di tempat umum. Tentu saya termasuk yang kaget. Masa iya sih Belanda yang rada cuek dan toleran itu akan menentang jilbab? Rasanya kurang masuk akal.

Kemudian ada berita susulan, kalau tidak salah dari Kedutaan Belanda bahwa yang akan dipertimbangkan dilarang adalah pemakaian cadar yang menutup muka, bukan jilbab yang hanya menutup rambut. Nah, kalau ini baru lebih masuk akal. Kalau cadarnya sampai menutupi muka, ini nggak ada bedanya dengan larangan memakai helm ketika di ATM. Lagipula setau saya tidak ada suruhan untuk menutup muka, jadi – paling tidak bagi saya – tidak ada dasar keagamaannya.

Saya jadi teringat ketika di Saudi Arabia, dimana pemakaian cadar muka merupakan kebiasaan adat, saya suka bete kalau mau masuk masjid atau airport. Karena sudah ada petugas wanita yang menanti untuk memeriksa apakah yang masuk ini betul-betul perempuan atau laki-laki yang menyamar. Karena kami tidak mengenakan cadar maka biasanya petugasnya hanya pro forma saja. Tapi kadang-kadang tetap teraba, meski petugasnya minta maaf tetap rasanya nggak enak.

Memang kadang-kadang sulit melepaskan kebiasaan adat, sedang tawaf pun masih ada saja yang tetap memakai cadar meski sudah ditegur keras oleh asykar, bahkan kalau sampai terlihat asykar yang menjaga batu hitam kadang-kadang mereka dipukul, meski tidak keras, oleh tongkat mereka. Pemerintah Saudi tidak mungkin melarang para perempuannya memakai cadar, namun keamanan tetap harus terjaga, sehingga pemeriksaan itulah salah satu solusinya. Tapi terus terang saja kalau saya sih nggak suka diperiksa seperti itu, sehingga bisa dimengerti kalau kemudian Pemerintah Belanda mengusulkan pelarangan pemakaian cadar di tempat umum dan riskan lainnya.