Kalau Faris yang pakai piyama Laras

Waktu Laras masih bayi, bapaknya pernah membelikan piyama motif garis-garis warna abu-abu putih. Ketika dipakai, Laras jadi imuuut banget. Super cute baby! Kata emaknye.

Nah, sekarang Faris kan udah ganti nih baju-bajunya, berhubung sudah hampir 4 bulan jadi baju awalnya dah sempit n pendek semua. Jadi masuklah piyama garis-garis itu ke koleksi baju Faris yang sekarang. Teringatlah emaknya betapa lucunya si Laras waktu pakai piyama tersebut, jadi malamnya dipakaikanlah piyama itu ke Faris sambil berharap anaknya yang ini akan jadi seimut kakaknya. Ternyata……

Weleh… dasar anak laki, nggak ada imut2nya sama sekali bo! Lucu sih, tapi ya itu, laki, buled, gagah n ganteng. Jadi geli sendiri. Ya sudahlah memang anak laki-laki dan anak perempuan beda.

Advertisements

The Most Disgusting Show

Ok, Indonesian TV ain’t the best, some of it makes me wonder about the sanity of the people involved in the production, but it never really made me sick, just raised an eyebrow and change the channel. But yesterday I saw a top notch disgusting tv show. It was an episode of infotainmentm yes that jewel of Indonesian TV show, starirng the recently disgraced member of parliament, his family, his former mistress cum porn producer, and the usual rat-bag of supporting cast members.

Kagak tau dapet wangsit darimane, gw nonton siaran sore itu. Ih amit-amit. And I am not talking about the video clips. I am talking about the statements these delightfully honest people makes. The soundbites, the catfight, the bitching, the blaming. Gw kagak tau lagi mana yang jujur mana yang ngibul. Menjijaikanlah tuduh2annya. Si anu bilang begini, trus cut ke si itu ngebalas bilang begitu. Semuanya begitu kampungan. Begitu crass. Begitu bangganya menjual aib diri. Lah, pegimane mo maju orang2 gendheng kayak gitu dikasih airtime dan ditayangin berulang-ulang. Cut the crap will you guys? Yes, that’s you mr teevee people, stop airing manure please.

In the first place, kenapa atuh sedemikian bodohnya sampai melakukan hal tersebut? Udah gitu ditambah dengan direkam lagi. Masa sih sedemikian naifnya nggak mikir potensi negatif yang bisa ditimbulkan kelak? Naive or plain stupid?

Ah sudahlah. Bikin bete kalo dipikirin terus.

Media dan Tanggung Jawab Ortu

Sebagai anak bungsu, gw beruntung bisa belajar tentang parenting dari kakak2 terutaman gw banyak belajar dari abang yang single parent dengan 3 anak. Abangku ini, dengan segala keterbatasannya sebagai ortu tunggal, selalu berusaha memantau apa yang anak2nya baca, nonton, dan mainkan.

Bacaan, terutama komik2 Jepang yang anaknya pingin baca, selalu dia baca duluan, dia cek dulu apakah isinya sesuai dengan umur anaknya atau tidak. Kalau lolos baru anaknya baca, kalau enggak komiknya disimpan dikamarnya.

Tivi, hanya ada di kamarnya dan di ruang keluarga. Meskipun ruang keluarga anaknya ada diatas, tapi ditaronya sedemikian rupa sehingga dia bisa dengar apa yang mereka tonton. Pembantu dia kasih tipi sendiri jadi mereka nggak gabung nontonnya. Dia juga menyensor apa yang anak2nya bisa tonton. meski abangku sedikit lebih longgar dari kakakku yang cewek. kalau kakakku nggak ngebolehin nonton Crayon Sinchan, kalau abangku masih boleh. Tapi in general dia tau acara favorit anak2nya apa dan kalau aku lihat sih keponakan2ku emang nggak terlalu hobi nonton sinetron, mereka sukanya Extravaganza ama acara musik atau ya video.

Film juga dia sensor. Kalau dvd/vcd dia tonton dulu, kalau bioskop dia cari dulu resensinya, syukur2 ada kenalannya yang judgmentnya dia percaya yang udah duluan nonton film tersebut. kayaknya yang nggak dia sensor cuma kartun keluaran pixar dan sebangsanya. Pernah dia melarang anaknya nonton ada 1 horror asia, eh mereka trus nonton di rumah ibunya (abang gw duda cerai) untungnya mereka cerita kalau mereka nonton dengan komentar, “pak, adegan telanjangnya kan cuma sebentar dan nggak ada apa-apa..” (maksudnya bener2 cuma gambar orang telanjang sendirian) trus abang gw bilang, “meskipun bapak nggak suka kalian liat adegan itu, sebetulnya yang lebih bapak larang itu adalah ide bahwa menyiksa perempuan tu gpp…” jadi basis sensor abangku bukan semata-mata ada gambar ce bugil, tapi lebih kepada ide yang disodorkan film tersebut. (Anak2nya bengong mendengarkan penjelasan babenya, agak nggak mudeng)

Games – baik PS, X-box atau PC juga dia pantau, dengan dia ikutan main atau dengan menonton anaknya main game tersebut. Dia juga memberi jadwal ketat main games, hanya boleh pas weekend atau liburan.

Internet hanya di komputer yang di ruang tengah, yang dikamar anak2nya nggak disambungkan. Sekarang anak2nya dah mulai gede dan kadang2 main games di warnet biar bisa pake hi-speed comp, ya dia cuma bisa pesan agar hati2 kalau chatting dan memberi tau bahaya dunia maya.

Hal-hal ini masih terus abang gw jalankan meski anak2nya dah menginjak
SMP dan SMA. Dia bilang emang sih nggak ada jaminan anak2nya nggak
bakalan nonton atau baca hal2 yang dia larang, kan bisa aja pas mereka
lagi dirumah temen atau di tempat ibunya, makanya banyak2 ngobrol ama
anak2, dengan begitu mereka bisa ngerti kenapa ortunya melarang mereka
nonton film x atau baca buku y.

Kesimpulan…

Kalau kata:

My husband: Selama syaratnya adalah harus berlaku adil maka akan sangat sulit untuk bisa dijalankan. Emangnya kamu (istri – red) aja yang pengen masuk surga?

My girfriends : Kenapa sih harus pake menyakiti hati perempuan? Kenapa harus istri yang belajar ikhlas? Kenapa nggak suaminya yang belajar menahan diri?

My mom: Ya udah, kita cari ustad tipi yang lain aja…

My dad: He sometimes jokes about it but when push comes to shove I don’t think he thinks it’s such a great idea, he said something like this one time, “Lah, nyekolahin kalian ber-4 aja udah susah, mo nambah lagi?”

My sisters: huh, ngumpet dibalik istri. Kenapa harus istrinya yang kasih press conference? Takut? Belum kalau entar anak-anaknya curhat ke ibunya, lagi-lagi jadi bumper, anak2 (maksudnya teman2 -red) kan suka jahat, suka ngeledekin….. (masih panjang lebar lagi sih… tapi udah ah segini ajah – red)

My brother: Dalam soal nikah lagi, yang perlu dikasih pemahaman itu para suami bukan para istri karena yang bisa menjamin surga hanyalah Allah, bukan manusia biasa. Kalau para pria itu benar2 mempelajari arti menjadi suami dan ayah, menjadi kepala keluarga seperti ajaran Islam serta konsekuensinya kalau kita gagal… waduh…

Myself : Menikah lagi memang boleh, tapi yang sebenarnya dianjurkan adalah monogami. Keadilan bukan hanya menyangkut materi, tapi juga hati, waktu dan anak-anak beserta masa depan mereka.

It’s really none of my business but…

It is really none of my business and normally I don’t care what people do privately. So there I was, checking the news in detik.com as usual when I stumble upon this piece of info, a famous Dai whose name reminds me of a chain of fitness center got married again. And I feel a little heartbroken. Why should I feel that? After all I am not his wife, I am not even remotely related to the guy, I don’t know him personally, and it really didn’t make a difference to my own life (well, at least I hope it won’t inspire someone to copy him).

I called my mom immediately, of course, to digest it over. Mom being somewhat a luddite hasn’t heard the news. It just so happen Mom just recently discussed this matter with the computer repair guy (of all people πŸ˜‰ so she has some insight of why people might do these things. I relayed to her all that I read – cuz she ain’t gonna open detik.com to read it herself – and we came to the conclusion that it is probably true then, he got married again, he has 2 wives now. As for the heartbroken bit, it is because we feel we know him. We’ve listened to his sermons, we read his interviews, I even have some of his book, and also because for me, he feels like one of us. When he talks, he doesn’t do so atop a pedestal looking down on us. He’s just better at stating the home truth, like change must occur within oneself, before we point our fingers to others look in the mirror first, etc etc etc. and he remind us every now and again. He feels our pain! He’s been down and he manage to fight back up (aw laurdy..I’ve been ready way too much O Magazine… he feels our pain indeed…)

I guess he always seem like the ultimate guy, handsome, rich, lots of kids, and yet only 1 wife! Gals, this guy is different! This guy understand women! Yo hubby, be like him! Just not the bit about the lotsa kids ok, we’re not rolling in the Benjamin’s. And now that illusion is shattered. He is just a mortal like us. He’s not perfect although he was damn near it. Unless we’re close to the person, we never really know what’s going in behind closed doors. Only them and God. Maybe his wife really don’t mind, maybe she’s the one who choose.. (heck I can hear a chorus of the skeptics singing “Yeah right!) Point it we don’t know. I don’t know. So there’s not much more to say is there. Like I said earlier, it is really none of my business…