Renungan Ramadhan : Pernikahan

Ada 3 hal yang menarik perhatian saya ketika sambil lalu mendengarkan infotainment kemarin yaitu: 20 tahun, 4 anak, bulan puasa. Biasanya saya tidak menghiraukan hal2 seperti ini, namun tak urung saya akhirnya duduk dan menonton segmen infotainment tersebut.
Sungguh sangat menyedihkan, di bulan puasa yang penuh rakhmat ini seorang istri justru menggugat cerai suaminya yang menurut suaminya karena ada perbedaan prinsip diantara keduanya. Padahal 20 tahun bukanlah waktu yang sedikit dalam membina rumah tangga dan melihat dari bahasa tubuh mereka berdua sepertinya masih ada sayang diantaranya apalagi mereka mempunyai 4 anak sementara yang terkecil tampaknya masih batita. Apabila mereka berbeda prinsip bukankah 20 tahun waktu yang cukup lama untuk mencoba menyamakan perbedaan tersebut atau setidaknya menemukan titik temu diantara keduanya? Konon mereka sudah mencoba berbagai macam cara namun tidak berhasil. Entahlah, sejujurnya itu bukan urusan saya sehingga saya tidak mengikuti perkembangannya.
Selepas tayangan tersebut, saya teringat salah satu nasihat ibu saya tentang pernikahan. Ibu saya pernah berkata, “Wah, kalau mengikuti nafsu sih mungkin mamah sudah berkali-kali cerai dengan papah!” sambil tersenyum lebar. Tentu saja kemudian saya bertanya ya kenapa dong sampai sekarang masih bareng. Lanjut ibu saya lagi, “Pertama, tidak ada yang memaksa mamah menikah dengan papah, itu adalah pilihan mamah sendiri. Kemudian mamah pikir kalian perlu ayah dan pada dasarnya ayah kalian itu adalah orang yang sangat baik, makanya mamah mau dengan papah.”
Meskipun kadang2 kita melihat orang tua kita sebagai sosok yang sempurna namun mereka berdua tetaplah manusia biasa yang mempunyai kelemahan dan kekurangan. Hal inilah yang ibu saya hendak katakan. Bahwa nanti akan ada masanya suami istri berbeda pendapat dan bertengkar tentang apa saja, tentang anak, pekerjaan, harta, keluarga, dll. Ini adalah hal yang wajar karena 2 orang tidak mungkin mempunyai pendapat yang sama tentang segala hal namun yang perlu diingat juga adalah bagaimana mengatasi perbedaan tersebut. Caranya? Salah satunya adalah dengan mendinginkan kepala setelah bertengkar. Ingat kan ibu saya bilang, “kalau menuruti nafsu” nah tentunya pada saat kita marah rasanya segala yang buruk2 ingin dilontarkan, namun setelah kita istirahat, pikir ulang lagi apa dan mengapanya. Setelah hati dan pikiran tenang, mulai bicara lagi baik-baik dan biasanya akan tercapai kesepakatan.
Namun kalau dalam pertengkaran tersebut terjadi kekerasan fisik maka tak perlu banyak pikir langsung pergi dari rumah. Ini karena biasanya sekali suami memukul, dia akan terus memukul. Amat sangat jarang suami yang bisa betul2 insyaf dan berhenti memukul, yang lebih sering terjadi pukulannya malah menjadi semakin dasyat. Kalau untuk yang satu ini kata ibu saya sebelum kami (saya dan kakak) menikah bahwa tidak perduli anak kami 1 atau 10 begitu kami dipukul, langsung berkemas dan pulang ke rumah mamah! Juga kalau yang terjadi kekerasan mental, pokoknya tidak ada toleransi untuk segala macam bentuk KDRT.
Ibu saya mengingatkan bahwa untuk mendapat keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah perlu usaha. Usaha itu perlu dilakukan terus-menerus karena seiring dengan waktu kita sebagai manusia juga berubah. Umur bertambah, situasi berganti, sehingga kita harus saling membantu menyikapi perubahan tersebut. Juga jangan lupa untuk terus berdoa kepada Allah agar kita menjadi manusia yang lebih baik. Mungkin ini sebabnya bulan Mei kemarin orang tua saya merayakan hari pernikahannya yang ke 43 dan Insya Allah tahun depan untuk yang ke 44.
Yah, mudah-mudahan pernikahan saya sendiri bisa selanggeng pernikahan orang tua saya. Untuk pasangan seleb di paragraf awal, semoga Allah memberikan yang terbaik untuk mereka berdua.
Advertisements