Zeina, how are you?

Zeina adalah salah satu sobat saya ketika SMP. Anaknya ramah, rajin, pintar dan murah senyum. Dia juga senang membaca buku dan sering meminjamkan koleksi bukunya. Zeina adalah seorang gadis Libanon.
Ketika kami sudah lebih akrab Zeina kadang-kadang suka bercerita tentang Beirut dan Libanon, betapa – menurut orang tua dan saudara-saudaranya yang lebih tua – Beirut adalah kota yang indah dan kosmopolitan dengan pantainya yang putih sementara Libanon adalah negara yang relatif makmur sehingga banyak turis dari manca negara yang datang berkunjung. Kehidupan disana tak ubahnya dengan kota-kota lain.
Namun bagi Zeina sendiri, hal-hal seperti itu merupakan dongeng karena Lebanon yang dia kenal sudah dijajah oleh Israel dan Syria. Zeina kecil tumbuh dengan mendengarkan suara perang. Suara senapan, bom dan roket menemani Zeina tidur dipelukan ibunya sampai akhirnya ayah Zeina memutuskan untuk pindah dari Libanon. Meski demikian, bukan berarti Libanon juga lepas dari hati dan pikiran mereka. Setiap ada kesempatan mereka, paling tidak ibu atau ayahnya, kembali lagi kesana. Selain untuk melihat perkembangan negaranya, juga untuk mengunjungi sanak saudara yang masih ada disana.
Di bulan Ramadhan, Zeina suka mengundang teman-temannya untuk iftar atau buka puasa dirumahnya. Sambil menunggu waktu berbuka, Zeina kadang menceritakan bagaimana sepupunya sekarang sudah besar-besar lalu menunjukkan foto-foto liburannya. Untuk tajilnya kami menikmati samosa keju buatan ibunya yang nikmatnya luar biasa. Sampai sekarang menurut saya, tak ada samosa keju seenak buatan ibu Zeina.
Suatu pagi, Zeina datang ke sekolah dengan senyum super lebar. Sebelum saya sempat bertanya Zeina langsung berkata, “Sita, we are free now!” Perang di Libanon akhirnya usai sudah! Keluarga Zeina sangat optimis mereka akan bisa membangun kembali negara mereka yang kacau balau karena perang yang berkepanjangan. Ayahnya mulai berspekulasi siapa yang akan memimpin negara mereka, apa yang akan mereka lakukan dan Zeina mulai membicarakan tentang tinggal di Beirut tanpa suara perang.
Tak lama kemudian kami lulus SMP. Kami pun berpencar dan berpisah. Kabar terakhir yang saya dengar Zeina pindah ke Inggris untuk melanjutkan sekolahnya namun karena waktu itu masih zaman B.E. (Before E-mail) saya akhirnya kehilangan kontak dengannya. Kecerobohan remaja.
Ah Zeina, dimana kamu sekarang? Aku masih ingat senyum bahagiamu, kehangatan suaramu ketika kamu berbicara tentang saudara-saudaramu dan Libanon, kampung halamanmu. Sekarang negaramu kembali diserang musuh lamamu, apakah engkau kembali tidur dengan musik perang ditelingamu? Mungkin sambil memeluk anakmu sekarang? Bagaimana dengan ibu dan ayahmu? Dan adik-adikmu? Apakah kalian semua aman?
I hope you and your family are well, wherever you are.
Missing you very much.
Love,
sita
Advertisements