Soal Ibu Depresi

Hari ini Ibuku datang ke rumah menjenguk cucunya yang agak sakit plus ngobrol-ngobrol sama anaknya. Ngobrol kiri-kanan akhirnya sampai juga kita ke masalah ibu yang di Bandung itu. Saya tanya, kenapa ya padahal ibu itu berpendidikan kok dia nggak bisa mengutarakan problem yang dia hadapi?
 
Menurut Ibuku, kalau terkena depresi itu bukan masalah apakah kita berpendidikan atau tidak, melainkan karakter kita. Setinggi atau serendah apapun pendidikan kita, kalau karakter kita adalah orang yang terbuka maka kita akan bisa sharing masalah yang kita hadapi. Sementara kalau kita tertutup, akan susah untuk menceritakan problema kita apalagi kalau misalnya kita punya image tentang diri kita yang ingin kita pertahankan alias Jaim. Jaim bagaimana? Ya mungkin mereka merasa mereka adalah ibu yang cekatan dalam mengurus keluarganya sehingga ketika pada kenyataannya mereka tidak mampu/tidak kuat, mereka tidak bisa/mau mengakui hal tersebut.
 
Trus saya tanya lagi, kenapa para suami mereka tidak menyadari kalau istrinya depresi? Yah, kata Ibu saya lagi, kalau kita tidak cerita, bagaimana dia bisa tau? Yang para suami rasakan, mereka sudah kerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, trus mungkin dia lihat anak2nya tumbuh baik, istrinya nggak ngeluh, ya sudah dia pikir nggak ada masalah.
 
Saya jadi teringat salah satu episode Desperate Housewife, ketika Lynette, ibu dengan 3 putra yang bandel-bandel itu minum obat ADHD anaknya supaya dia bisa jadi “Super Mom” sehingga ketika obat anaknya habis dia ‘terpaksa’ mencuri obat dari teman-teman anaknya. Sampai akhirnya dia putus asa dan kabur ke taman. Untung Lynette punya sahabat-sahabat baik yang mencari dia dan menceritakan bahwa mereka pun pernah frustrasi ketika anak-anak mereka masih kecil. Bree yang tampaknya a “perfect mom” mengaku bahwa dulu ketika anak-anaknya tidur siang dia sering menangis karena merasa nggak kuat mengurus 2 anak kecil sendirian. Yang saya ingat adalah komentar Lynette ketika mendengar pengakuan sobat-sobatnya, “Why didn’t you tell me?” Kenapa kamu nggak bilang?
 
Saya pikir memang nggak sehat ya memendam masalah sendirian. Meski bukan berarti kita harus sharing semua masalah kita, tapi saya pikir kita harus bisa memilah masalah apa yang harus dibagi dan kepada siapa kita berbagi. Apalagi di jaman internet seperti sekarang, paling enggak buat kita yang punya akses internet sebetulnya makin mudah mencari outlet curhat. Ada aneka milis yang bisa kita ikuti, aneka blog-blog pribadi dan situs-situs tentang masalah Setidaknya kita bisa membaca curhatan orang lain dan mengetahui kalau kita nggak sendirian dalam menghadapi masalah baik tentang anak, suami, kerjaan, keluarga besar, tetangga, dsb dll…
 
Akhirnya saya pikir, saya harus lebih banyak lagi bersyukur kepada Allah bahwa saya punya tempat berbagi di dunia nyata dan maya. Saya harap saya juga bisa menjadi teman yang baik sehingga kalau ada teman yang kesulitan mereka tidak segan-segan untuk berbagi.
Advertisements

2 thoughts on “Soal Ibu Depresi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s