Mengenang Haji 2

Berbekal pengalaman sebelumnya, pada tahun berikutnya kami menggunakan travel lain. Yang ini menjanjikan bahwa rumahnya ada tepat di kota Mina sehingga kami tidak perlu bermalam di jalanan. Ibu saya tidak mau kami semua terkapar lagi sesudah haji seperti tahun lalu. Tahun ini juga sepertinya akan lebih menyenangkan karena tahun ini abang saya ikut. Tahun lalu yang ikut hanya kakak-kakak perempuan saja. Sekarang satu kakak perempuan dan abang saya juga. Abang saya ini yang pengetahuan agamanya paling banyak diantara kami, dia juga senang bercanda sehingga rasanya perjalanan kali ini akan berbeda.
Entah karena travel yang sekarang pengurusnya lebih canggih atau mungkin juga karena saya sekarang sudah tau apa yang akan terjadi sehingga secara mental saya sudah siap menjalani haji rasanya semuanya berjalan lebih lancar. Meskipun jalanan macet, tapi tak ada hambatan yang berarti. Tenda cepat ditemukan, acnya langsung jalan, berdoa rasanya juga lebih khusyuk dibanding tahun lalu. Mungkin juga karena pembimbing haji tahun ini ceramah dan doanya lebih bagus daripada tahun lalu. Ada satu saat dimana banyak yang merasa capai sehinga mereka tidur dulu di tenda. Melihat jejeran manusia berbalut ihram bebaring tenang saya mendadak merasa takut. Mungkin bukan takut tapi seperti peringatan bahwa beginilah nanti kita pulang. Tidak akan membawa apa-apa kecuali secarik kain dan amalan. Setelah perasaan takut itu hilang, muncul perasaan damai dan tenang. Seperti tahun lalu, saya mengucap banyak syukur atas segala rezeki-Nya, saya tidak pernah mempertanyakan, namun sekarang muncul keyakinan yang amat sangat atas Allah. Apapun yang terjadi, selalu ada Allah yang menemani.
Sesuai dengan janji, penginapan betul-betul berada di kota Mina. Kali ini kita melewatkan mabit dengan nyaman di dalam rumah. Saya sedikit merindukan suasa malam tapi saya tidak merindukan flu yang mengikuti kita pulang ke Jeddah. Saya agak lupa apakah musibah terowongan Mina terjadi pada tahun yang lalu atau pada tahun ini, namun yang pasti karena musibah itu Ibu saya melarang saya melempar Jumrah disaat ramai. Saya melempar Jumrah baru besok paginya ditemani abang saya. Dan jauh betul bedanya. Kalau tahun lalu saya harus berjuang dengan jemaah lainnya, kini jalanan lengang dan saya bisa berdiri tepat di depan tiang Jumrah. Namun namanya juga melawan Setan, sudah dekat begitu masa tetap saja ada lemparan yang tidak kena. Sehingga abang saya langsung tertawa, “Ah payah kamu, udah di depan mata masa masih nggak kena?” Ya sudah, konsentrasi lagi lebih kuat. Acara jumrah selesai, kami berjalan pulang sambil bercanda, apalagi kalau bukan tentang ‘kemahiran’ saya melempar jumrah.
Baru di tahun ini saya bisa meresapi menjalankan ibadah Haji. Memang sungguh sangat menyenangkan. Ada suatu perasaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Melihat dan merasakan jutaan orang berkumpul di satu tempat, bersama-sama menjalankan perintah Allah. Tidak ada yang dipikirkan selain memohon agar ibadahnya mabrur namun disaat yang sama, sifat-sifat buruk manusia tetap tidak bisa hilang. Ya, apalagi yang bisa menjelaskan mengapa kecelakaan terowongan Mina bisa terjadi, atau di penginapan kita masih ada orang-orang yang merasa pejabat penting dirumahnya memaksa meminta kamar dilantai bawah, mengusir jemaah yang sudah beristirahat disana untuk pindah keatas. Atau ceramah Ustadz yang tiba-tiba menjelek-jelekan Indonesia dan menghimbau ibu-ibu agar menjauhi pasar karena disanalah tempat setan berkumpul. Yang langsung membuat teman ibu saya menggerutu, “Lho kalau saya nggak ke pasar suami saya mau dikasih makan apa? Angin?” Ah, baru saja kita memohon ampun…
Terlepas dari segala keburukan manusia yang tetap muncul, masih lebih banyak kebaikan yang tampak. Sungguh suatu pengalaman yang amat sulit dilupakan dan amat dirindukan. Saya tidak tahu apakah saya masih bisa berhaji lagi, mengingat saya sudah 2 kali naik haji, mungkin lebih baik kesempatan itu diberikan untuk mereka yang belum sama sekali. Tapi saya tidak bisa memungkiri bahwa setiap Idul Adha rasanya ingin sekali pergi lagi kesana, bersama suami dan anak sendiri menikmati lagi suasana wukuf, mencium Hajar Aswad, makan kurma nabi, melihat kemilau emas di pasar dan kalau sempat, mengunjungi Madinah dan bertamu ke masjid-masjidnya yang cantik.
Mungkinkah?
Sitaresmi – mengenang 90/91


Advertisements

2 thoughts on “Mengenang Haji 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s