Earthquake in Jogjakarta

Early Saturday Jogjakarta was hit by an earthquake which register at 5.9 richter scale according to the local news and 6.2 richter scale according to CNN and BBC. Which is right I don’t know but even so 5.9 is a high number and devastation sure follows.

The quake took place early in the morning so a lot of people was still at home getting ready for the day or still fast asleep even. Thus, casualties are high as houses were flattened down burying those underneath. Until now the toll count register about 4000 dead. Elsewhere roads were cracked, buildings torn, even the royal palace was not spared. The interesting thing about the Royal Palace is that the Justice Hall was flattened down. Of course this could be a total coincidence, the Justice Hall just happened to be in the path of the quake, but as a half-Javanese, I can’t help but wonder is this nature’s way of telling us that there’s no justice in this country anymore? and that mother nature is getting sick of us? Can’t really blame her for feeling this way.

To make matters even more interesting, the threat of Mount Merapi volcanic eruption is still looming in the distance. This one is bound to happen, we just don’t know when but the signs are all there. Oh joy. Isn’t life here just interesting?

Since I can’t go there, my donation will go instead. My job is to choose which aid service to give my donation to. To make sure it goes to those that really needs it.

I really hope the government wakes up and realise the problems we are having and act on in instead of lip service per usual. Life goes on. Do not lose faith. Each shall receive its own reward in due time.

Mengenang Haji 1

Kota Jeddah itu biasanya sunyi senyap. Angin gurun yang panas pun berhembus perlahan. Jarang sekali ia menampakkan kekuatannya yang garang. Namun setahun sekali bahkan kota Jeddah pun menjadi ramai. Aneka bahasa, logat dan aroma memenuhi udara Balad. Di setiap toko emas kalkulator sibuk mondar-mandir antara penjual dan pembeli. Sampai kemudian keramaian itu pun lenyap dan Jeddah kembali sunyi senyap.
Namun keramaian di Jeddah belum seberapa dibanding keramaian kota Mekkah, Mina dan padang Arafah. Dari 365 hari dalam setahun, 3 hari diantaranya jutaan umat manusia tumpah ruah menjadi satu disana. Menjalankan kewajiban, mengikuti sunnah dan menunaikan impian, meskipun terkadang mengundang petaka.
Sebagai penduduk Jeddah, kami bisa saja menggelar tenda sendiri di Arafah dan Mina, namun agar tidak direpotkan oleh urusan logistik kami memilih untuk ikut dengan travel. Maka bersiaplah kami sekeluarga di sore hari, menggunakan mini bus untuk menempuh perjalanan ke Arafah yang sebetulnya tidak jauh namun menjadi lama karena banyaknya jemaah. Mungkin karena waktu itu saya masih SMP saya kesal harus mengalami kemacetan yang lama. Jadilah belum sampai di padang Arafah saya sudah cemberut. Mana begitu sampai, ac di tenda kami mengalami masalah, tambah kesal saja saya. Betul-betul awal yang sempurna.
Saya berusaha untuk masuk ke semangat haji, mencoba berdzikir dan membaca doa sesuai buku tuntunan haji. Namun rasanya susah, doanya panjang banget. Saya mencoba membaca buku “Haji” karangan Ali Syariati, namun tidak bisa juga menghayati isinya. Lalu saya teringat dengan cerita Eyang saya. Dulu ketika Eyang berhaji, jemaah yang datang belumlah sebanyak sekarang. Di padang Arafah, Eyang masih bisa berjalan-jalan bertemu dan bertukar pengalaman dengan sesama Muslim dan Muslimah dari berbagai benua dan negara. Sekarang, menemukan tenda saja sudah susah, sehingga kebanyakan jemaah memilih untuk tidak jalan-jalan terlalu jauh. Saya ingin jalan-jalan, namun keluarga saya tidak ada yang mau menemani. Ah sudahlah, mungkin memang ini salah satu ujiannya untuk bersabar memikirkan kehidupan. Akhirnya saya pun berdzikir, mengucap Alhamdulillah, bersyukur atas segala rezeki yang telah dilimpahkan-Nya. Tanpa terasa waktu wukuf selesai. Sudah saatnya berkemas untuk mengumpulkan batu Jumrah dan mabit di Mina.
Pengumpulan batu berjalan dengan lancar. Melempar Jumrah berjalan dengan sedikit heboh, dengan sedemikian banyak orang kami tidak bisa benar-benar dekat dengan tiangnya namun rasanya semua batu kena. Untuk berjaga-jaga saya tetap melepar sedikit lebih banyak dari seharusnya. Karena penginapan kami terletak sedikit diluar kota maka kita harus mencari tempat dipinggir jalan untuk bisa melewatkan waktu di Mina. Tikar digelar, ibu-ibu memilih untuk duduk, sementara banyak bapak-bapak yang memutuskan untuk berjalan-jalan. Saya yang sudah capek memilih untuk tinggal bersama ibu saya, menikmati udara malam dibuai alunan suara ibu-ibu yang membaca Al-Quran sampai waktunya untuk kembali ke penginapan dan tidur.
Kemudian pergilah kami ke Mekkah, menuju Masjidil Haram untuk tawaf dan sai. Meskipun harus berdesakan namun kami bisa bertawaf di dekat Ka’bah, bahkan masih sempat mencium Hajar Aswad. Sai juga lancar. Cukur rambut dan selesailah sudah rangkaian ibadah haji. Pulang ke Jeddah, berendam air hangat dan tidur. Untuk kemudian besoknya menderita pilek berat dan ketika ke dokter, baru saja duduk dokternya langsung bilang, “Let me guess, you did Hajj and now you have flu?” ternyata dari pagi sang dokter menangani keluhan yang sama. Penyebabnya? Bermalam dipinggir jalan di Mina!
Sitaresmi – mengenang 90/91

Mengenang Haji 2

Berbekal pengalaman sebelumnya, pada tahun berikutnya kami menggunakan travel lain. Yang ini menjanjikan bahwa rumahnya ada tepat di kota Mina sehingga kami tidak perlu bermalam di jalanan. Ibu saya tidak mau kami semua terkapar lagi sesudah haji seperti tahun lalu. Tahun ini juga sepertinya akan lebih menyenangkan karena tahun ini abang saya ikut. Tahun lalu yang ikut hanya kakak-kakak perempuan saja. Sekarang satu kakak perempuan dan abang saya juga. Abang saya ini yang pengetahuan agamanya paling banyak diantara kami, dia juga senang bercanda sehingga rasanya perjalanan kali ini akan berbeda.
Entah karena travel yang sekarang pengurusnya lebih canggih atau mungkin juga karena saya sekarang sudah tau apa yang akan terjadi sehingga secara mental saya sudah siap menjalani haji rasanya semuanya berjalan lebih lancar. Meskipun jalanan macet, tapi tak ada hambatan yang berarti. Tenda cepat ditemukan, acnya langsung jalan, berdoa rasanya juga lebih khusyuk dibanding tahun lalu. Mungkin juga karena pembimbing haji tahun ini ceramah dan doanya lebih bagus daripada tahun lalu. Ada satu saat dimana banyak yang merasa capai sehinga mereka tidur dulu di tenda. Melihat jejeran manusia berbalut ihram bebaring tenang saya mendadak merasa takut. Mungkin bukan takut tapi seperti peringatan bahwa beginilah nanti kita pulang. Tidak akan membawa apa-apa kecuali secarik kain dan amalan. Setelah perasaan takut itu hilang, muncul perasaan damai dan tenang. Seperti tahun lalu, saya mengucap banyak syukur atas segala rezeki-Nya, saya tidak pernah mempertanyakan, namun sekarang muncul keyakinan yang amat sangat atas Allah. Apapun yang terjadi, selalu ada Allah yang menemani.
Sesuai dengan janji, penginapan betul-betul berada di kota Mina. Kali ini kita melewatkan mabit dengan nyaman di dalam rumah. Saya sedikit merindukan suasa malam tapi saya tidak merindukan flu yang mengikuti kita pulang ke Jeddah. Saya agak lupa apakah musibah terowongan Mina terjadi pada tahun yang lalu atau pada tahun ini, namun yang pasti karena musibah itu Ibu saya melarang saya melempar Jumrah disaat ramai. Saya melempar Jumrah baru besok paginya ditemani abang saya. Dan jauh betul bedanya. Kalau tahun lalu saya harus berjuang dengan jemaah lainnya, kini jalanan lengang dan saya bisa berdiri tepat di depan tiang Jumrah. Namun namanya juga melawan Setan, sudah dekat begitu masa tetap saja ada lemparan yang tidak kena. Sehingga abang saya langsung tertawa, “Ah payah kamu, udah di depan mata masa masih nggak kena?” Ya sudah, konsentrasi lagi lebih kuat. Acara jumrah selesai, kami berjalan pulang sambil bercanda, apalagi kalau bukan tentang ‘kemahiran’ saya melempar jumrah.
Baru di tahun ini saya bisa meresapi menjalankan ibadah Haji. Memang sungguh sangat menyenangkan. Ada suatu perasaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Melihat dan merasakan jutaan orang berkumpul di satu tempat, bersama-sama menjalankan perintah Allah. Tidak ada yang dipikirkan selain memohon agar ibadahnya mabrur namun disaat yang sama, sifat-sifat buruk manusia tetap tidak bisa hilang. Ya, apalagi yang bisa menjelaskan mengapa kecelakaan terowongan Mina bisa terjadi, atau di penginapan kita masih ada orang-orang yang merasa pejabat penting dirumahnya memaksa meminta kamar dilantai bawah, mengusir jemaah yang sudah beristirahat disana untuk pindah keatas. Atau ceramah Ustadz yang tiba-tiba menjelek-jelekan Indonesia dan menghimbau ibu-ibu agar menjauhi pasar karena disanalah tempat setan berkumpul. Yang langsung membuat teman ibu saya menggerutu, “Lho kalau saya nggak ke pasar suami saya mau dikasih makan apa? Angin?” Ah, baru saja kita memohon ampun…
Terlepas dari segala keburukan manusia yang tetap muncul, masih lebih banyak kebaikan yang tampak. Sungguh suatu pengalaman yang amat sulit dilupakan dan amat dirindukan. Saya tidak tahu apakah saya masih bisa berhaji lagi, mengingat saya sudah 2 kali naik haji, mungkin lebih baik kesempatan itu diberikan untuk mereka yang belum sama sekali. Tapi saya tidak bisa memungkiri bahwa setiap Idul Adha rasanya ingin sekali pergi lagi kesana, bersama suami dan anak sendiri menikmati lagi suasana wukuf, mencium Hajar Aswad, makan kurma nabi, melihat kemilau emas di pasar dan kalau sempat, mengunjungi Madinah dan bertamu ke masjid-masjidnya yang cantik.
Mungkinkah?
Sitaresmi – mengenang 90/91